SELAMAT MEMBACA EPISODE KALI INI. JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE SEBAGAI TANDA DUKUNGAN KAMU TERHADAP AUTHOR
*****
Jasmin sudah menyelesaikan presentasinya dengan baik. Dan pandangan Jasmin teralihkan pada sosok Gio yang duduk dengan gagah yang berada di hadapannya. Hal itu membuat jantungnya berdebar begitu kencang. Udara di sekitar ruang meeting terasa panas bagi Jasmin. Pikiran Jasmin menjadi kalut. Apakah ini yang dinamakan penyesalan selalu datang diakhir. Bagaimana dia tidak tahu kalau Gio adalah anak dari seorang konglomerat Asia. Padahal dia selalu menjadi tempat Gio berkeluh kesah saat berpacaran dulu.
"Kalau presentasimu sudah selesai, kembali duduk," tegas Gio yang seakan-akan menyuruh Jasmin agar menyingkir dari hadapannya.
Jasmin tersentak dan sampai terdiam beberapa saat, ketika suara keras Gio bergema di ruangan. Dengan cepat Jasmin langsung kembali duduk di kursinya. Lalu giliran Okka yang melakukan presentasi. Saat Okka melakukan presentasi, dia diam-diam mengamati Jasmin dari kejauhan.
Jasmin duduk dengan posisi yang baik namun terlihat gelisah. Kedua lututnya terus bergerak saling berbenturan. Napasnya terlihat memburu dan dia sesekali melirik ke arah Gio.
"Wah presentasi yang sangat bagus," puji Wiliam setelah Okka sudah selesai presentasi.
"Sekertaris anda juga melakukannya dengan baik, Tuan," balas Okka hanya untuk formalitas saja.
"Tentu saja. Dia ini lulusan Harvard dengan predikat yang bagus. Apalagi ayahnya adalah mantan rektor di universitasnya sendiri," jelas Wiliam yang membanggakan Jasmin.
Okka memutar bola matanya jengah seakan-akan dia muak dengan pujian Wiliam untuk Jasmin. Pria tua ini tidak tahu saja, bahwa gadis yang dia banggakan adalah gadis yang jahat dan tidak tahu diri.
"Jadi, bagaimana kita akan memulai kerja sama ini Tuan Wiliam?" sela Gio.
Wiliam merubah posisi kursi yang dia duduki yang sebelumnya menghadap ke arah Okka, sekarang Wiliam ubah agar menghadap ke arah Gio.
"Saya sudah tertarik sejak lama untuk bekerja sama dengan perusahaan anda. Namun sangat sulit mengambil hati ayah anda, Tuan Gio. Sesuai yang sudah dijelaskan oleh sekertaris saya, seperti itulah penawaran kerja sama kami. Karena saya rasa ini akan menjadi kerja sama yang luar biasa," tandas Wiliam penuh semangat.
"Saya harus mempertimbangkan banyak hal. Apakah kerja sama ini memiliki jangka waktu lama atau tidak," tegas Gio.
"Tentu. Tapi saya sangat berharap jika anda bersedia menerima kerja sama ini," balas Wiliam penuh harap.
"Dila, temani Tuan Wiliam untuk menuju restoran kantor kita. Pastikan makanan yang dipersiapkan untuk Tuan Wiliam adalah yang terbaik," perintah Gio.
"Baik, Pak," sahut Dila.
Dila mengajak Wiliam beserta Jasmin keluar dari ruang meeting. Keduanya diajak oleh Dila menuju restoran yang berada di gedung Herms Group. Restoran ini sengaja disediakan agar mempermudah para karyawan agar tidak perlu keluar kantor untuk sekedar makan siang. Setelah Wiliam dan Jasmin keluar dari ruang meeting, Gio seketika langsung melongggarkan dasinya yang terasa terlalu kencang. Dia bahkan sampai menghela napas sangat kuat seperti sedang melepaskan beban berat.
"Kenapa dia harus muncul sih?" teriak Gio dengan perasaan penuh kekesalan.
Okka menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bahkan dia sendiri saja masih belum percaya, kalau dia bertemu dengan mantan kekasih dari sahabatnya setelah sekian lama.
"Gue juga nggak nyangka, Yo. Ini kayak sebuah takdir, bahwa Jasmin ketemu lo lagi setelah sekian lama buat memperlihatkan bahwa lo bukan orang biasa aja. Mungkin lebih kepada penyesalan?" kata Okka.
"Kalau dia menjadi sekertaris Tuan Wiliam, lalu ayahnya ke mana? Dan laki-laki itu juga?" sela Gio yang merasa sedikit penasaran.
Okka menatap Gio dengan tatapan serius lalu berkata, "Kok lo jadi penasaran tentang Jasmin sih? Atau jangan-jangan lo masih punya rasa sama dia?" timpal Okka dengan nada bicara yang menusuk.
"What? Gue? Apa lo pikir kalau gue anak remaja yang masih labil sama hidupnya sendiri gitu? Gue udah nikah, Ka. Menikah dengan perempuan yang amat sangat gue cintai dan dia adalah harta paling berharga dalam hidup gue," tegas Gio yang tak mau kalah.
"Terus, kalau udah kayak gini, kan nggak mungkin lo main petak umpet?" potong Okka.
Gio mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Okka. Dia nampak kebingungan dengan maksud dari perkataan Okka.
"Maksud lo?" tanya Gio.
"Kalau kita menerima kerja sama dengan Tuan Wiliam, otomatis, kita bakal ketemu sama Jasmin terus kan? Apa lo nggak bakal cerita ke istri lo tentang masalah ini? Dia berhak tahu masa lalu lo, Yo. Padahal lo sendiri udah tahu segalanya tentang Sofia. Tapi rasanya nggak adil kalau Sofia nggak tahu apapun mengenai lo. Dan pasti suatu hari nanti Jasmin bakal ketemu sama istri lo juga," jelas Okka yang mencoba menasihati Gio.
"Gue bakal coba bicarain ini sama Sofia," tandas Gio.
*****
Hari sudah semakin sore, Sofia sudah menyelesaikan photoshootnya hari ini. Setelah dia berganti pakaian dan menghapus make up di wajahnya, dia dan Alin akan segera meninggalkan kantor Majalah Kartini. Dia bergegas meninggalkan ruang pemotretan. Dan saat Sofia hendak keluar dari ruangan tiba-tiba Johan menarik tangan Sofia hingga membuat langkah Sofia terhenti.
"Sofia tunggu," ucap Johan yang membuat Sofia menoleh ke belakang.
Sofia menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Johan sambil berkata, "Apa aku menderita iritasi telinga, sampai kamu harus memegang tanganku hanya untuk memanggil namaku?" ucap Sofia dengan sindiran keras.
"Sofia kenapa setelah menikah kamu menjadi sangat kasar dan angkuh?" tanya Johan yang ingin menjatuhkan mental Sofia.
Sofia melototkan matanya dan mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan dari Johan. Saat Sofia baru membuka mulutnya untuk berbicara, tiba-tiba ada yang berbicara mendahului dirinya.
"Dan ternyata ada manusia yang lebih bodoh daripada seekor kalkun." Dan yang mengatakan itu adalah Gio. Dia yang baru memasuki ruang pemotretan untuk menjemput Sofia langsung diperdengarkan dengan perkataan yang menghina istrinya. Dia berjalan memasuki ruang pwmotretan dengan aura dingin dan mengintimidasi. Gio memposisikan diri berdiri di samping Sofia dan langsung berhadapan dengan Johan. Alin hanya melongo saat melihat drama yang akan dimulai ini.
Gio merangkul pinggang Sofia untuk memaerkan kemesraannya dengan Sofia di depan mata Johan, lalu Gio berkata, "Sayang, apa kamu lelah hari ini?" tanya Gio dengan nada mesra.
Johan yang melihat Gio sengaja memarkan kemesraannya langsung terlihat marah karena wajahnya memerah dan tangannya mengepal.
"Ya tentu," jawab Sofia dengan nada manja.
"Kalau begitu kita pulang se…
Bodyguardku Ternyata Seorang CEO
Bab 82
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 101 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
LO MGKIN TIDAK, TPI TDK DGN JASMIN, STELH TAU LO SULTAN, PSTI DIA REBUT HATI LO KMBALI, DN PSTI AKN GUNAKN BRBAGAI MCAM CARA, BAIK HALUS ATAUPN KASAR
2023-07-25
0
Sulaiman Efendy
BENARKN KOMENKU DIATAS. SUATU SAAT PSTI MUNCUL LAGI WANITA2 MASA LALU GIO, INI JASMIN, BLM LGI YG HNY MNFAATKN KPINTARAN GIO.. GK TAU YG TLH HAMIL DLUAN
2023-07-25
0
Sulaiman Efendy
YAA BERANILH, HNY SUAMI BODOH DN DUNGU SERTA PNGECUT KTIKA LIAT ISTRINYA DIGANGGU ORG HNY BISA DIAM..
2023-07-25
0