Senin, pukul 7.00..
Kediaman Immanuel..
Dario bersama istri dan keempat anaknya kini di ruang tengah. Mereka sudah dalam keadaan rapi dengan pakaian kantor, seragam sekolah dan seragam Kampus. Mereka disana mengobrol sebentar sembari menunggu sarapan pagi disiapkan oleh pelayan.
Dario melihat kearah putra ketiganya yaitu Axel. Sejak semalam, putranya itu banyak diam. Lebih tepatnya, sejak pulang dari Cafe bersama putri bungsunya.
Bukan hanya Dario saja yang sejak tadi memperhatikan Axel, Celsea dan kedua putra tertuanya juga memperhatikan putra ketiganya, adiknya itu.
Salsa seketika berdiri dari duduknya. Kemudian dia mendekati kakak kesayangannya itu.
Kini Salsa telah duduk di samping kakaknya. Detik kemudian, Salsa memeluk tubuh kakaknya itu.
"Kakak, maafkan Salsa ya. Seharusnya Salsa bisa mengontrol emosi Salsa sehingga kakak nggak melakukan hal itu," ucap Salsa.
Mendengar ucapan dari Salsa membuat Dario, Celsea dan kedua putra tertuanya terkejut.
"Salsa sayang. Ada apa, Nak? Katakan pada Papa."
Mendengar suara sekaligus ucapan ayahnya, Salsa langsung melihat kearah ayahnya tanpa melepaskan pelukannya.
"Sayang," ucap Celsea lembut.
"Ada yang ganggu aku saat di Cafe semalam."
"Siapa dia?" tanya Radeva.
"Mereka nenek dan cucu."
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Anshel.
"Mereka meminta aku pindah tempat duduk. Saat itu aku sedang menunggu pesanan karena pesanannya akan dibawa pulang untuk kita makan malam bersama. Aku nggak mau pindah, tapi cucunya itu maksa aku pindah."
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Dario.
"Singkat cerita, cucunya itu merampas ponselku, lalu membantingnya. Aku nggak terima, aku balas dengan menendang perutnya. Neneknya marah dan ingin menamparku. Saat dia hendak menamparku, kak Axel datang."
"Jadi kamu saat itu tidak bersama kakakmu?" tanya Celsea.
"Aku masuk duluan, sementara kak Axel sedang menerima telepon. Sepertinya dari rekan kerjanya."
"Awalnya kak Axel berusaha bersikap tenang dan sabar, karena bagaimana pun wanita itu adalah orang tua. Saat kak Axel mengetahui kejadian yang sebenarnya, kak Axel berusaha menegur dengan kata-kata lembut kepada wanita itu. Tapi wanita itu tidak terima, melainkan membentak kak Axel. Dia menyalahkan aku karena sudah menyakiti cucunya, dan menyalahkan kak Axel karena telah membelaku."
Radeva dan Anshel seketika mengepal kuat tangannya ketika mendengar cerita dari adik perempuannya.
"Brengsek!"
"Wanita itu semakin menjadi-jadi memarahi dan membentakku dan kak Axel, bahkan dia mengatakan keluarga kita adalah keluarga rendahan. Dia juga... Hiks... Dia mengatakan kalau Mama adalah wanita murahan. Mama sibuk dengan laki-laki diluar sana sehingga tidak ada waktu untuk mendidik kami."
"Wanita itu mengatakan itu padamu dan kakakmu?" tanya Dario yang terkejut akan cerita dari putrinya.
"Iya. Itulah kenapa kak Axel mencekik leher wanita itu. Kak Axel mencekik leher wanita itu begitu kuat sehingga tidak bisa bernafas. Melihat apa yang dilakukan kak Axel, aku berteriak. Aku meminta kak Axel membunuh wanita itu. Dia tidak pantas hidup di dunia ini."
Air mata Salsa mengalir membasahi pipinya ketika dia menceritakan kejadian di Cafe semalam bersama kakaknya.
"Bertepatan itu, kak Qenan dan kak Willy datang. Mungkin mereka memang sudah disana duluan, dan mau pulang. Kak Qenan berusaha membujuk kak Axel, tapi lagi-lagi aku meminta kak Axel untuk membunuh wanita itu. Aku bahkan melarang kak Axel untuk tidak ikut campur."
"Terus apa yang terjadi? Apa wanita itu....?" ucapan Radeva seketika terhenti.
"Wanita itu masih hidup, walau keadaannya tak baik-baik saja. Kak Qenan menghubungi Papa, dan kak Willy menghubungi Mama. Namun kalian tidak menjawabnya. Mereka ingin menghubungi kak Radeva dan kak Anshel, tapi tidak mereka lakukan karena takut kalian juga tidak menjawabnya. Akhirnya, kak Qenan menghubungi kak Darren melalui video call."
"Kak Darren lah yang berhasil menenangkan kak Axel dan meminta kak Axel melepaskan wanita itu dengan memberikan ancaman kepada kak Axel. Kak Darren mengancam kak Axel dengan ancaman tidak akan mau bicara dengan kak Axel selama satu bulan penuh jika kak Axel tetap membunuh wanita itu, bahkan kak Darren memarahiku karena aku tidak menjadi penengah dan penghibur saat kak Axel emosi."
Seketika suasana menjadi hening. Tidak ada yang bersuara setelah Salsa menceritakan kejadian semalam.
"Apa yang dilakukan oleh Darren sudah benar. Jika tidak seperti itu, maka Axel akan kalap membunuh wanita tersebut," ucap Anshel seketika.
"Dan untuk kamu, Sayang! Lain…
Suara Hati DARREN
Kejutan Bahaya Darren Dan Sahabat-sahabatnya
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 465 Episodes
Comments
Desyi Alawiyah
Aduh.. itu Darren sadar ngga sih bakal dijebak sama Helena.. kok aku khawatir yah?
Ternyata Helena ngga kapok juga yah... udah ditampar bolak balik sama bapaknya, terus diancam Darren juga... tapi kok tetep nekad...
Kak Author, itu si Helena enaknya di apain.. 🤧
2026-01-15
0
whiteblack✴️
ren plis fokus ama sie hel ciwi jahat tuw...loe harus tau rencananya ...mencelakai loe ren...urusan tuw biar kawan" mu ...
2026-01-15
0
sri wahyu
wah ternyata nyali Helena besar juga masih berniat buat nyelakain darren
2026-01-15
0