Bab 3 First Mission

Dua Tahun Kemudian.....

Seorang pria dengan tubuhnya yang kokoh dan kilatan tajam yang tersorot oleh sinar lampu diatas panggung, tampak menarik perhatian dari setiap pasang mata yang berada disana. Setiap kata yang terucap seperti memiliki daya magis yang membuat semua orang merasa takjub seketika. Bait-bait romantis membawa syahdu dan gelora baru yang menggebu.

"Sebelumnya saya ingin menyampaikan terimakasih atas kehadiran rekan-rekan, teman, sahabat, dan keluarga kami disini. Terimakasih telah berkenan menjadi saksi dalam persatuan cinta kami---saya dan Farah Putri Diharja---gadis yang teramat saya kasihi dan selalu saya harapkan menjadi pendamping saya hingga tua nanti. Saya sangat bersyukur akhirnya pertunangan yang sebelumnya telah tertunda, dapat dilaksanakan kembali. Dua tahun ini saya harus memulihkan kondisi saya terlebih dahulu pasca kecelakaan yang saya alami. Saya bersyukur karena perempuan disamping saya ini, dengan keikhlasannya mau menunggu, bahkan turut mendukung dan merawat saya hingga sembuh."

Pidatonya ia hentikan sejenak, sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk memfokuskan diri---menghadap penuh kepada sang pujaan hati. Tunangan yang hari ini memakai gaun panjang nan cantik, dengan dihiasi permata biru yang indah dan memanjakan hati.

"Farah, cintaku. Terimakasih ya sudah selalu ada bersama Mas. Hari ini adalah bukti dari keseriusan mas selama ini. Mas ingin, Farah menjadi satu-satunya perempuan yang menemani mas, menjadi ratu, dan kelak menjadi ibu dari anak-anak kita nanti. I love you for now, tomorrow, and forever," lanjutnya dengan tulus, hingga membuat Farah kian tersenyum dan meneteskan air mata.

Mendengar perkataan dari sang pujangga tadi, membuat semua tamu undangan disana bersorak dan bertepuk tangan dengan meriah. Mereka yang ada disana turut merasakan atmosfer kebahagiaan dan janji cinta yang luar biasa. Beberapa orang tampak terharu hingga menyeka air mata yang tumpah, ada juga yang merasa iri karena ingin pula mendapatkan lelaki sebaik calon suami Farah Putri Diharja. Tidak sedikit pula yang menaruh harap dan turut memanjatkan doa, agar pasangan yang baru saja mengikrarkan sumpah setia dalam ikatan pertunangan ini, senantiasa diberi kemudahan dan terhindar dari segala gangguan.

Sayangnya, mereka lupa, bahwa untuk mencapai sebuah bahagia tanpa bahaya, diperlukan pula usaha dan sikap waspada, karena diantara ratusan manusia yang menjunjung harapan terbaik untuk sang pasangan utama hari ini, ada pula satu manusia yang kini sedang menahan rasa benci dan kesalnya sembari menyusun rencana apik untuk menghancurkan impian mereka. Impian yang dipalsukan dan telah mengorbankan satu hati, hingga berujung kepada pesakitan tak berkesudahan.

"Cuiihh, najis sekali. Cintaku? Kasihku? Semua palsu Mas! Fuckin' amnesia. Dua tahun aku menunggu, bukannya mencoba untuk memulihkan memori yang hilang, kamu malah menikmati waktu dengan mantan terindahmu itu," keluh seorang wanita dengan pakaian pelayan berwarna hitam putihnya.

Kedua tangan yang sedang memegang nampan hitam dengan beberapa minuman diatasnya itu pun meremat kuat, melampiaskan gundah dan amarah yang tertahan. Andai saja ia punya kuasa, sudah habis mereka berdua. Ingin rasanya ia maju---melangkah ke atas panggung dan menyiramkan selusin gelas berisi minuman berwarna merah yang ada dalam genggamannya itu kepada dua manusia kejam yang sedang tersenyum diatas sana. Seorang pria yang merupakan mantan suaminya dan sosok perempuan yang sedari kecil ia kenal sebagai saudara satu ayahnya.

"Rai-mu itu loh Mbak, dah kaya Hulk aja ihh. Inget toh mbak, masih misi penyamaran ini, harus kuat-kuatin hati."

Seruan tiba-tiba hadir dari arah belakangnya, sehingga ia kini perlahan mulai kembali ke mode tenangnya. Untung saja gadis berambut ikal itu selalu ada bersamanya, bahkan repot-repot mau membantunya hingga sejauh ini.

"Huhh, rileks Sarah, rilekss," tekannya pada dirinya sendiri.

"Nah iya mbak, rileks, tarik napas dulu. Selow aja mbak, lagian kan kita dah susun rencana toh, tinggal tunggu tanggal mainnya saja hahaha," celetuk gadis yang juga memakai baju pelayan sama sepertinya.

"Ck, tetep aja loh Ran, aku bawaannya kesel mulu. Mana harus liat keluarga dia pula, apalagi tuh si nenek lampir, mantan ibu mertua-ku dulu. Sumpah mukanya ngeselin banget."

Ya, sang penjahat utama juga berada disana, tampak ia sedang tertawa bangga. Suratih, wanita paruh baya yang dulu mengusirnya dengan kejam itu, tentu memilih tempat paling depan untuk menyaksikan hasil kerja kerasnya yang berhasil menyatukan kembali sang putra yakni Bagas Aryanaka dengan calon menantu idamannya, Farah Putri Diharja.

"Ah elah mbak, dah biarin aja. Toh nenek peyot itu nanti yang bakalan kita singkirin pertama, aman dehh, haha."

"Oh iya ya, tapi aku salut loh sama kamu Rania. Rencana kamu tuh keren banget tau, apalagi tentang nyingkirin si nenek lampir itu haha, jadi gak sabar pengin segera eksekusi," balas Sarah dengan puas.

"Kecil-kecil gini, otak-ku gede mba. Banyak taktik ini."

Keduanya pun tertawa lirih, sudah merasa puas, padahal disini mereka baru membayangkan rencana yang sebelumnya mereka susun. Ya, malam ini, di acara pertunangan megah Bagas Aryanaka---seorang jaksa terkenal dengan seorang dokter bedah nan cantik jelita yaitu Farah Putri Diharja, Sarah bersama partner in crime-nya yakni Rania Diajeng Cempaka, akan membuat kehebohan dengan menculik sang nyonya rumah, Suratih Aryanaka.

Memang cukup beresiko, mereka hanya dua orang wanita yang bermodalkan nekat. Namun, disini Sarah mencoba percaya dengan akal cerdik dari Rania. Kesempatan emas tidak boleh mereka sia-siakan. Karena kunci dari jalannya rencana mereka selanjutnya adalah dengan hilangnya Suratih. Suratih bagaikan tameng berlumur racun yang harus Sarah basmi terlebih dahulu, agar ia bisa menembus keluarga Aryanaka lagi.

"Ya udah, ayok mbak kita siap-siap aja dulu, let's go to the party hahaha."

"Hahaha, let's go baby!!"

Sayangnya, tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan interaksi mereka cukup lama, seperti merasa curiga dengan tingkah laku aneh dari mereka berdua.

...****************...

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, para tamu masih tampak mengobrol santai sembari menikmati hidangan yang tersedia. Sejoli yang menjadi bintang hari ini pun terlihat sibuk menghampiri para tamu undangan. Tidak jauh berbeda pula dengan para orang tua yang tiada bosannya bercakap-cakap ria.

"Wahh jeng Suratih akhirnya ya, jujur aku lebih setuju sama yang ini sih daripada yang dulu itu. Yang ini lebih berbobot, jelas pula karirnya. Aku sampe iri loh, kamu berhasil dapet menantu dokter. Dokter bedah pula, berkelas banget."

"Iya ih, andai saja anakku itu seperti Bagas. Sayangnya, matanya udah ketutup sama istrinya yang cuma guru TK itu."

"Ah, jeng-jeng ini terlalu memuji saya. Saya juga sebenarnya gak menyangka loh. Tapi ya syukurlah, kuasa tuhan itu memang ada, sehingga anak saya dijauhkan sama si perempuan gak jelas itu," ucap Suratih sambil menyesap pelan wine ditangannya.

Walau tampak merendah, namun didalam hati, Suratih sungguh merasa jumawa dan sangat senang. Dulu, ketika Sarah yang menjadi menantunya, semua temannya mengolok-olok dirinya. Tetapi, sekarang ketika Farah yang akan menjadi istri dari Bagas, mereka semua berbalik bersikap baik, bahkan memuji-muji dirinya. Ya, memang yang sedari dulu salah adalah Sarah, menantu jalang yang tidak pernah ia harapkan.

Mereka pun semakin larut dalam perbincangan yang kian bergonta-ganti topik. Hingga, tak lama, tiba-tiba Suratih merasakan perutnya tidak enak, lebih tepatnya ia merasakan mulas yang teramat kuat.

"Aduh jeng, perut saya tiba-tiba sakit nih, saya ke belakang sebentar ya. Silahkan bersenang-senang dulu di pesta anak saya."

Setelah berpamitan, Suratih pun lekas menuju ke kamar mandi. Ia kira hanya masalah perut biasa, namun ternyata ia harus bolak-balik sampai tiga kali. Hingga disaat ia baru saja selesai yang ke-empat kalinya, dengan wajah pucat dan tubuhnya yang sudah amat lemas, ia tidak menyadari bahwa ada sosok dibelakangnya. Mulutnya tiba-tiba saja disumpal, ia berusaha melawan, sayangnya bius telah mematikan seluruh organ tubuhnya, akhirnya ia pun jatuh pingsan.

"Yes, berhasil Ran! Lanjut next part!

"Siap mbak," sahut Rania dari seberang telfon.

Kemudian para tamu dikejutkan dengan matinya seluruh lampu yang berada diruangan. Gelap seketika membuat orang-orang disana terkejut dan bertanya-tanya. MC acara pun dengan sigap mencoba mengatasi suasana yang makin riuh.

"Tenang! tenang semua. Mungkin ada masalah sistem disini, tim EO sedang mengecek dan memperbaiki. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya."

Mereka pun akhirnya terdiam, mencoba sabar dan menunggu terang datang kembali. Begitupula dengan Bagas dan Farah yang masih duduk sambil terus bergenggam tangan di kursi mereka saat ini.

"Sayang, kok dari tadi aku gak denger suara bunda ya? Kalo kejadian seperti ini harusnya dia yang paling heboh," tanya Bagas dalam obrolannya dengan sang tunangan.

"Nah iya mas, aku juga heran. Tapi kayaknya tadi aku sempet liat bunda ke toilet deh. Masa belum balik ya?"

Merasa ada yang tidak beres, Bagas pun memilih untuk menyusul sang ibunda. Gelap yang menyelimuti cukup membuat Bagas kesulitan, karena arah pandangnya menjadi terbatas. Namun, pendengarannya menangkap suara-suara aneh. Ia pun bergegas menuju ke arah suara, ternyata berasal dari lorong dekat toilet wanita. Dadanya pun berdegup kencang, takut terjadi sesuatu kepada Bundanya.

Disisi lain, tampak dua wanita yang tengah berusaha keras menyeret tawanan mereka.

"Aduh mba, iki ibu-ibu berat poll sih, kebanyakan dosa iki mesti," keluh Rania yang napasnya telah tidak beraturan.

"Huhh, semangat Ran, sebentar lagi yukk. Kita harus bisa bawa dia sampe ke parkiran sebelum listriknya nyala. Katanya kamu dulu atlet gulat, harusnya gampang ini mah," balas Sarah dengan terkekeh kecil karena melihat Rania yang sedari tadi tidak berhenti misah-misuh yang malah membuatnya tampak semakin menggemaskan.

"Ah mbak, iku wes suwe. Aku kan dah pensiun, ini tulang-tulang udah pada keropos gini. Tapi yo mbak aku tuh ya dulu sering juara loh. Juara di Jepang, Cina, bahkan sampe Jer---

"Hai kalian, sedang apa disana?!"

Belum selesai Rania menyombongkan prestasinya, tiba-tiba mereka dikejutkan akan kehadiran Bagas Aryanaka yang kini tengah menunjuk dan berjalan cepat kearah mereka.

"Waduhh, mbak gimana ini mbak?!"

Mereka pun langsung panik. Sialnya, mereka tidak memiliki rencana cadangan. Mereka tidak menduga bahwa Bagas akan kesini, mungkin lelaki itu curiga karena ibunya tidak terlihat lagi di ballroom acara.

"Ran, aku ada ide. Gambling sih ini. Tapi semoga manjur ya. Sekarang pake kekuatan kamu, angkat ini nenek lampir ke parkiran. Biar aku yang handle Bagas."

Entah apa yang Sarah akhirnya akan lakukan, Rania pun bergegas mengikuti arahannya. Dengan sekuat tenaga ia membawa tubuh wanita paruh baya itu dipundaknya. Kemudian ia lanjut berlari ke arah depan dan menyeruduk Bagas yang juga tengah menuju kearah mereka.

Dasar Rania, tulang keropos katanya? tapi larinya udah sekenceng kelinci yang lagi balapan sama kura-kura, batin Sarah geli.

Bagas yang mendapat serangan tidak terduga itu pun, sontak kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Namun, tidak lama ia kembali berdiri dan berniat mengejar orang yang telah menabraknya tadi.

Belum sempat melangkah, tiba-tiba tangannya ditarik dari belakang, dan tubuhnya dihimpitkan ke arah tembok. Masih dengan keterkejutannya, kini ia malah dibuat tertegun ketika ada benda hangat nan lembab yang menempel di bibirnya. Seorang perempuan asing mengungkung dirinya, dada empuknya menekan---mambawa gairah nan panas hingga ia tidak bisa berkutik. Lumatan demi lumatan, hingga gigitan-gigitan kecil kian terasa di bibirnya. Sebagai lelaki yang sudah memiliki pasangan, ia pun mencoba melepaskannya.

Ini salah, ya ini salah, tapi mengapa rasanya sangat manis dan sayang untuk dilewatkan. Ah, bermain-main sebentar, tidak apa bukan? Lagipula perempuan ini yang terlebih dahulu mulai.

Bagas kemudian membalik keadaan, memposisikan dirinya sebagai dominan. Membelit, membelai, hingga meremat segala bagian yang telah wanita itu tawarkan. Sungguh ini gila! dimalam pertunangannya sendiri, ia malah bermain api dengan sosok asing yang langsung membuatnya kecanduan dan kehilangan kewarasannya dalam sekejap.

GILAA!

Episodes
1 Bab 1 Hancur Lebur
2 Bab 2 Karma
3 Bab 3 First Mission
4 Bab 4 Bau Pandan
5 Bab 5 Kesepakatan
6 Bab 6 Thalia
7 Bab 7 Jadi Pembantu Baru
8 Bab 8 Hari Pertama Sudah Basah
9 Bab 9 Interogasi Panas
10 Bab 10 Rencana Selanjutnya
11 Bab 11 Mie Instan
12 Bab 12 Suratih Pergi
13 Bab 13 Tiga Belas Daftar Kenangan
14 Bab 14 Lepas Landas
15 Bab 15 Playing in The Car
16 Bab 16 Taman Bunga Peony
17 Bab 17 Kepingan Masa Lalu
18 Bab 18 Ada Apa dengan Raska?
19 Bab 19 Obat Perangsang
20 Bab 20 RUN!
21 Bab 21 Malam Panas
22 Bab 22 Tumpah Ruah
23 Bab 23 Tanggung Jawab
24 Bab 24 Mandi Bersama?
25 Bab 25 Gundik
26 Bab 26 Pagi Yang Basah
27 Bab 27 Susu
28 Bab 28 O, Oh, Kamu Ketahuan!
29 Bab 29 Mati Aku!
30 Bab 30 Gundik Premium
31 Bab 31 Makan Malam
32 Bab 32 Mabuk dan Gairah
33 Bab 33 Siapa Sarah?
34 Bab 34 Terungkap
35 Bab 35 Ternyata, Kamu
36 Bab 36 Satu Bulan
37 Bab 37 Ada Apa dengan Si Mesum? (Part 1)
38 Bab 38 Ada Apa dengan Si Mesum? (Part 2)
39 Bab 39 Hamil?!
40 Bab 40 Aku Kotor!
41 Bercinta di Mobil
42 Bab 42 Sekali Lagi, Sayang
43 Bab 43 Call Me, "Mas"
44 Bab 44 Permainan Apa Ini?
45 Bab 45 Hilang Kendali
46 Bab 46 Membara di Kamar Aryanaka
47 Bab 47 Gempur di Dapur
48 Bab 48 Tikus Kawin
49 Bab 49 Menghindar
50 Bab 50 Tidak Bisa Lepas
51 Bab 51 Pertarungan Intim di Kantor
52 Bab 52 Tenggelam dalam Pusaran
53 Bab 53 Jangan-jangan?
54 Bab 54 Testpack
55 Bab 55 Semua Karena Napsu
56 BAB 56 Shock dan Cemburu
57 Bab 57 Jatuh Cinta, Memang Pahit
58 Bab 58 Siapa Thalia?
59 Bab 59 Masa Lalu, Biarlah Masa Lalu
60 Bab 60 Duta Sakit Perut
61 BAB 61 I Miss You
62 Bab 62 Tidak Bisa Lepas
63 Bab 63 Cara Membuat Bayi
64 Bab 64 Resep Jitu
65 BAB 65 Hah, Gimana?
66 BAB 66 Kesurupan
67 BAB 67 Amarah Farah
68 BAB 68 Kamboja
69 BAB 69 Rumah Tersembunyi
70 BAB 70 69
71 BAB 71 Bercinta di Hutan
72 BAB 72 Rangsangan di Perpustakaan
73 BAB 73 BOM!
74 BAB 74 Demi Kamu
75 BAB 75 Rahasia Bagas Aryanaka
76 Bab 76 Cerai Saja
77 BAB 77 Membara di Udara
78 BAB 78 Pulang
79 BAB 79 Siasat & Obsesi
80 BAB 80 Kecolongan
81 BAB 81 Akhirnya
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1 Hancur Lebur
2
Bab 2 Karma
3
Bab 3 First Mission
4
Bab 4 Bau Pandan
5
Bab 5 Kesepakatan
6
Bab 6 Thalia
7
Bab 7 Jadi Pembantu Baru
8
Bab 8 Hari Pertama Sudah Basah
9
Bab 9 Interogasi Panas
10
Bab 10 Rencana Selanjutnya
11
Bab 11 Mie Instan
12
Bab 12 Suratih Pergi
13
Bab 13 Tiga Belas Daftar Kenangan
14
Bab 14 Lepas Landas
15
Bab 15 Playing in The Car
16
Bab 16 Taman Bunga Peony
17
Bab 17 Kepingan Masa Lalu
18
Bab 18 Ada Apa dengan Raska?
19
Bab 19 Obat Perangsang
20
Bab 20 RUN!
21
Bab 21 Malam Panas
22
Bab 22 Tumpah Ruah
23
Bab 23 Tanggung Jawab
24
Bab 24 Mandi Bersama?
25
Bab 25 Gundik
26
Bab 26 Pagi Yang Basah
27
Bab 27 Susu
28
Bab 28 O, Oh, Kamu Ketahuan!
29
Bab 29 Mati Aku!
30
Bab 30 Gundik Premium
31
Bab 31 Makan Malam
32
Bab 32 Mabuk dan Gairah
33
Bab 33 Siapa Sarah?
34
Bab 34 Terungkap
35
Bab 35 Ternyata, Kamu
36
Bab 36 Satu Bulan
37
Bab 37 Ada Apa dengan Si Mesum? (Part 1)
38
Bab 38 Ada Apa dengan Si Mesum? (Part 2)
39
Bab 39 Hamil?!
40
Bab 40 Aku Kotor!
41
Bercinta di Mobil
42
Bab 42 Sekali Lagi, Sayang
43
Bab 43 Call Me, "Mas"
44
Bab 44 Permainan Apa Ini?
45
Bab 45 Hilang Kendali
46
Bab 46 Membara di Kamar Aryanaka
47
Bab 47 Gempur di Dapur
48
Bab 48 Tikus Kawin
49
Bab 49 Menghindar
50
Bab 50 Tidak Bisa Lepas
51
Bab 51 Pertarungan Intim di Kantor
52
Bab 52 Tenggelam dalam Pusaran
53
Bab 53 Jangan-jangan?
54
Bab 54 Testpack
55
Bab 55 Semua Karena Napsu
56
BAB 56 Shock dan Cemburu
57
Bab 57 Jatuh Cinta, Memang Pahit
58
Bab 58 Siapa Thalia?
59
Bab 59 Masa Lalu, Biarlah Masa Lalu
60
Bab 60 Duta Sakit Perut
61
BAB 61 I Miss You
62
Bab 62 Tidak Bisa Lepas
63
Bab 63 Cara Membuat Bayi
64
Bab 64 Resep Jitu
65
BAB 65 Hah, Gimana?
66
BAB 66 Kesurupan
67
BAB 67 Amarah Farah
68
BAB 68 Kamboja
69
BAB 69 Rumah Tersembunyi
70
BAB 70 69
71
BAB 71 Bercinta di Hutan
72
BAB 72 Rangsangan di Perpustakaan
73
BAB 73 BOM!
74
BAB 74 Demi Kamu
75
BAB 75 Rahasia Bagas Aryanaka
76
Bab 76 Cerai Saja
77
BAB 77 Membara di Udara
78
BAB 78 Pulang
79
BAB 79 Siasat & Obsesi
80
BAB 80 Kecolongan
81
BAB 81 Akhirnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!