Dua Tahun Kemudian.....
Seorang pria dengan tubuhnya yang kokoh dan kilatan tajam yang tersorot oleh sinar lampu diatas panggung, tampak menarik perhatian dari setiap pasang mata yang berada disana. Setiap kata yang terucap seperti memiliki daya magis yang membuat semua orang merasa takjub seketika. Bait-bait romantis membawa syahdu dan gelora baru yang menggebu.
"Sebelumnya saya ingin menyampaikan terimakasih atas kehadiran rekan-rekan, teman, sahabat, dan keluarga kami disini. Terimakasih telah berkenan menjadi saksi dalam persatuan cinta kami---saya dan Farah Putri Diharja---gadis yang teramat saya kasihi dan selalu saya harapkan menjadi pendamping saya hingga tua nanti. Saya sangat bersyukur akhirnya pertunangan yang sebelumnya telah tertunda, dapat dilaksanakan kembali. Dua tahun ini saya harus memulihkan kondisi saya terlebih dahulu pasca kecelakaan yang saya alami. Saya bersyukur karena perempuan disamping saya ini, dengan keikhlasannya mau menunggu, bahkan turut mendukung dan merawat saya hingga sembuh."
Pidatonya ia hentikan sejenak, sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk memfokuskan diri---menghadap penuh kepada sang pujaan hati. Tunangan yang hari ini memakai gaun panjang nan cantik, dengan dihiasi permata biru yang indah dan memanjakan hati.
"Farah, cintaku. Terimakasih ya sudah selalu ada bersama Mas. Hari ini adalah bukti dari keseriusan mas selama ini. Mas ingin, Farah menjadi satu-satunya perempuan yang menemani mas, menjadi ratu, dan kelak menjadi ibu dari anak-anak kita nanti. I love you for now, tomorrow, and forever," lanjutnya dengan tulus, hingga membuat Farah kian tersenyum dan meneteskan air mata.
Mendengar perkataan dari sang pujangga tadi, membuat semua tamu undangan disana bersorak dan bertepuk tangan dengan meriah. Mereka yang ada disana turut merasakan atmosfer kebahagiaan dan janji cinta yang luar biasa. Beberapa orang tampak terharu hingga menyeka air mata yang tumpah, ada juga yang merasa iri karena ingin pula mendapatkan lelaki sebaik calon suami Farah Putri Diharja. Tidak sedikit pula yang menaruh harap dan turut memanjatkan doa, agar pasangan yang baru saja mengikrarkan sumpah setia dalam ikatan pertunangan ini, senantiasa diberi kemudahan dan terhindar dari segala gangguan.
Sayangnya, mereka lupa, bahwa untuk mencapai sebuah bahagia tanpa bahaya, diperlukan pula usaha dan sikap waspada, karena diantara ratusan manusia yang menjunjung harapan terbaik untuk sang pasangan utama hari ini, ada pula satu manusia yang kini sedang menahan rasa benci dan kesalnya sembari menyusun rencana apik untuk menghancurkan impian mereka. Impian yang dipalsukan dan telah mengorbankan satu hati, hingga berujung kepada pesakitan tak berkesudahan.
"Cuiihh, najis sekali. Cintaku? Kasihku? Semua palsu Mas! Fuckin' amnesia. Dua tahun aku menunggu, bukannya mencoba untuk memulihkan memori yang hilang, kamu malah menikmati waktu dengan mantan terindahmu itu," keluh seorang wanita dengan pakaian pelayan berwarna hitam putihnya.
Kedua tangan yang sedang memegang nampan hitam dengan beberapa minuman diatasnya itu pun meremat kuat, melampiaskan gundah dan amarah yang tertahan. Andai saja ia punya kuasa, sudah habis mereka berdua. Ingin rasanya ia maju---melangkah ke atas panggung dan menyiramkan selusin gelas berisi minuman berwarna merah yang ada dalam genggamannya itu kepada dua manusia kejam yang sedang tersenyum diatas sana. Seorang pria yang merupakan mantan suaminya dan sosok perempuan yang sedari kecil ia kenal sebagai saudara satu ayahnya.
"Rai-mu itu loh Mbak, dah kaya Hulk aja ihh. Inget toh mbak, masih misi penyamaran ini, harus kuat-kuatin hati."
Seruan tiba-tiba hadir dari arah belakangnya, sehingga ia kini perlahan mulai kembali ke mode tenangnya. Untung saja gadis berambut ikal itu selalu ada bersamanya, bahkan repot-repot mau membantunya hingga sejauh ini.
"Huhh, rileks Sarah, rilekss," tekannya pada dirinya sendiri.
"Nah iya mbak, rileks, tarik napas dulu. Selow aja mbak, lagian kan kita dah susun rencana toh, tinggal tunggu tanggal mainnya saja hahaha," celetuk gadis yang juga memakai baju pelayan sama sepertinya.
"Ck, tetep aja loh Ran, aku bawaannya kesel mulu. Mana harus liat keluarga dia pula, apalagi tuh si nenek lampir, mantan ibu mertua-ku dulu. Sumpah mukanya ngeselin banget."
Ya, sang penjahat utama juga berada disana, tampak ia sedang tertawa bangga. Suratih, wanita paruh baya yang dulu mengusirnya dengan kejam itu, tentu memilih tempat paling depan untuk menyaksikan hasil kerja kerasnya yang berhasil menyatukan kembali sang putra yakni Bagas Aryanaka dengan calon menantu idamannya, Farah Putri Diharja.
"Ah elah mbak, dah biarin aja. Toh nenek peyot itu nanti yang bakalan kita singkirin pertama, aman dehh, haha."
"Oh iya ya, tapi aku salut loh sama kamu Rania. Rencana kamu tuh keren banget tau, apalagi tentang nyingkirin si nenek lampir itu haha, jadi gak sabar pengin segera eksekusi," balas Sarah dengan puas.
"Kecil-kecil gini, otak-ku gede mba. Banyak taktik ini."
Keduanya pun tertawa lirih, sudah merasa puas, padahal disini mereka baru membayangkan rencana yang sebelumnya mereka susun. Ya, malam ini, di acara pertunangan megah Bagas Aryanaka---seorang jaksa terkenal dengan seorang dokter bedah nan cantik jelita yaitu Farah Putri Diharja, Sarah bersama partner in crime-nya yakni Rania Diajeng Cempaka, akan membuat kehebohan dengan menculik sang nyonya rumah, Suratih Aryanaka.
Memang cukup beresiko, mereka hanya dua orang wanita yang bermodalkan nekat. Namun, disini Sarah mencoba percaya dengan akal cerdik dari Rania. Kesempatan emas tidak boleh mereka sia-siakan. Karena kunci dari jalannya rencana mereka selanjutnya adalah dengan hilangnya Suratih. Suratih bagaikan tameng berlumur racun yang harus Sarah basmi terlebih dahulu, agar ia bisa menembus keluarga Aryanaka lagi.
"Ya udah, ayok mbak kita siap-siap aja dulu, let's go to the party hahaha."
"Hahaha, let's go baby!!"
Sayangnya, tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan interaksi mereka cukup lama, seperti merasa curiga dengan tingkah laku aneh dari mereka berdua.
...****************...
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, para tamu masih tampak mengobrol santai sembari menikmati hidangan yang tersedia. Sejoli yang menjadi bintang hari ini pun terlihat sibuk menghampiri para tamu undangan. Tidak jauh berbeda pula dengan para orang tua yang tiada bosannya bercakap-cakap ria.
"Wahh jeng Suratih akhirnya ya, jujur aku lebih setuju sama yang ini sih daripada yang dulu itu. Yang ini lebih berbobot, jelas pula karirnya. Aku sampe iri loh, kamu berhasil dapet menantu dokter. Dokter bedah pula, berkelas banget."
"Iya ih, andai saja anakku itu seperti Bagas. Sayangnya, matanya udah ketutup sama istrinya yang cuma guru TK itu."
"Ah, jeng-jeng ini terlalu memuji saya. Saya juga sebenarnya gak menyangka loh. Tapi ya syukurlah, kuasa tuhan itu memang ada, sehingga anak saya dijauhkan sama si perempuan gak jelas itu," ucap Suratih sambil menyesap pelan wine ditangannya.
Walau tampak merendah, namun didalam hati, Suratih sungguh merasa jumawa dan sangat senang. Dulu, ketika Sarah yang menjadi menantunya, semua temannya mengolok-olok dirinya. Tetapi, sekarang ketika Farah yang akan menjadi istri dari Bagas, mereka semua berbalik bersikap baik, bahkan memuji-muji dirinya. Ya, memang yang sedari dulu salah adalah Sarah, menantu jalang yang tidak pernah ia harapkan.
Mereka pun semakin larut dalam perbincangan yang kian bergonta-ganti topik. Hingga, tak lama, tiba-tiba Suratih merasakan perutnya tidak enak, lebih tepatnya ia merasakan mulas yang teramat kuat.
"Aduh jeng, perut saya tiba-tiba sakit nih, saya ke belakang sebentar ya. Silahkan bersenang-senang dulu di pesta anak saya."
Setelah berpamitan, Suratih pun lekas menuju ke kamar mandi. Ia kira hanya masalah perut biasa, namun ternyata ia harus bolak-balik sampai tiga kali. Hingga disaat ia baru saja selesai yang ke-empat kalinya, dengan wajah pucat dan tubuhnya yang sudah amat lemas, ia tidak menyadari bahwa ada sosok dibelakangnya. Mulutnya tiba-tiba saja disumpal, ia berusaha melawan, sayangnya bius telah mematikan seluruh organ tubuhnya, akhirnya ia pun jatuh pingsan.
"Yes, berhasil Ran! Lanjut next part!
"Siap mbak," sahut Rania dari seberang telfon.
Kemudian para tamu dikejutkan dengan matinya seluruh lampu yang berada diruangan. Gelap seketika membuat orang-orang disana terkejut dan bertanya-tanya. MC acara pun dengan sigap mencoba mengatasi suasana yang makin riuh.
"Tenang! tenang semua. Mungkin ada masalah sistem disini, tim EO sedang mengecek dan memperbaiki. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya."
Mereka pun akhirnya terdiam, mencoba sabar dan menunggu terang datang kembali. Begitupula dengan Bagas dan Farah yang masih duduk sambil terus bergenggam tangan di kursi mereka saat ini.
"Sayang, kok dari tadi aku gak denger suara bunda ya? Kalo kejadian seperti ini harusnya dia yang paling heboh," tanya Bagas dalam obrolannya dengan sang tunangan.
"Nah iya mas, aku juga heran. Tapi kayaknya tadi aku sempet liat bunda ke toilet deh. Masa belum balik ya?"
Merasa ada yang tidak beres, Bagas pun memilih untuk menyusul sang ibunda. Gelap yang menyelimuti cukup membuat Bagas kesulitan, karena arah pandangnya menjadi terbatas. Namun, pendengarannya menangkap suara-suara aneh. Ia pun bergegas menuju ke arah suara, ternyata berasal dari lorong dekat toilet wanita. Dadanya pun berdegup kencang, takut terjadi sesuatu kepada Bundanya.
Disisi lain, tampak dua wanita yang tengah berusaha keras menyeret tawanan mereka.
"Aduh mba, iki ibu-ibu berat poll sih, kebanyakan dosa iki mesti," keluh Rania yang napasnya telah tidak beraturan.
"Huhh, semangat Ran, sebentar lagi yukk. Kita harus bisa bawa dia sampe ke parkiran sebelum listriknya nyala. Katanya kamu dulu atlet gulat, harusnya gampang ini mah," balas Sarah dengan terkekeh kecil karena melihat Rania yang sedari tadi tidak berhenti misah-misuh yang malah membuatnya tampak semakin menggemaskan.
"Ah mbak, iku wes suwe. Aku kan dah pensiun, ini tulang-tulang udah pada keropos gini. Tapi yo mbak aku tuh ya dulu sering juara loh. Juara di Jepang, Cina, bahkan sampe Jer---
"Hai kalian, sedang apa disana?!"
Belum selesai Rania menyombongkan prestasinya, tiba-tiba mereka dikejutkan akan kehadiran Bagas Aryanaka yang kini tengah menunjuk dan berjalan cepat kearah mereka.
"Waduhh, mbak gimana ini mbak?!"
Mereka pun langsung panik. Sialnya, mereka tidak memiliki rencana cadangan. Mereka tidak menduga bahwa Bagas akan kesini, mungkin lelaki itu curiga karena ibunya tidak terlihat lagi di ballroom acara.
"Ran, aku ada ide. Gambling sih ini. Tapi semoga manjur ya. Sekarang pake kekuatan kamu, angkat ini nenek lampir ke parkiran. Biar aku yang handle Bagas."
Entah apa yang Sarah akhirnya akan lakukan, Rania pun bergegas mengikuti arahannya. Dengan sekuat tenaga ia membawa tubuh wanita paruh baya itu dipundaknya. Kemudian ia lanjut berlari ke arah depan dan menyeruduk Bagas yang juga tengah menuju kearah mereka.
Dasar Rania, tulang keropos katanya? tapi larinya udah sekenceng kelinci yang lagi balapan sama kura-kura, batin Sarah geli.
Bagas yang mendapat serangan tidak terduga itu pun, sontak kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Namun, tidak lama ia kembali berdiri dan berniat mengejar orang yang telah menabraknya tadi.
Belum sempat melangkah, tiba-tiba tangannya ditarik dari belakang, dan tubuhnya dihimpitkan ke arah tembok. Masih dengan keterkejutannya, kini ia malah dibuat tertegun ketika ada benda hangat nan lembab yang menempel di bibirnya. Seorang perempuan asing mengungkung dirinya, dada empuknya menekan---mambawa gairah nan panas hingga ia tidak bisa berkutik. Lumatan demi lumatan, hingga gigitan-gigitan kecil kian terasa di bibirnya. Sebagai lelaki yang sudah memiliki pasangan, ia pun mencoba melepaskannya.
Ini salah, ya ini salah, tapi mengapa rasanya sangat manis dan sayang untuk dilewatkan. Ah, bermain-main sebentar, tidak apa bukan? Lagipula perempuan ini yang terlebih dahulu mulai.
Bagas kemudian membalik keadaan, memposisikan dirinya sebagai dominan. Membelit, membelai, hingga meremat segala bagian yang telah wanita itu tawarkan. Sungguh ini gila! dimalam pertunangannya sendiri, ia malah bermain api dengan sosok asing yang langsung membuatnya kecanduan dan kehilangan kewarasannya dalam sekejap.
GILAA!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments