The Halycone Code

The Halycone Code

THC 01

"Aku harus cepat mengirimkan file ini," ucap Anita Rainer, perempuan berusia 33 tahun itu adalah seorang jurnalis investigasi. 

Malam itu, ketika hujan turun dengan deras mengguyur apartemen kecil di Brooklyn. Anita Rainer tengah sibuk mengetik sebuah laporan khusus. Jari-jarinya begitu lincah menari di atas tuts keyboard. 

Anita Rainer tengah diburu waktu, sesekali tatapannya tertuju pada seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang asyik bermain lego. Sesekali, Anita menatap ke arah pintu. Takut jika seseorang bisa menerobos masuk dari sana. 

Ketika akhirnya Anita hampir selesai mengerjakan pekerjaannya, pintu apartemennya diketuk dengan cukup keras. Anita terlonjak kaget, begitu pun dengan Elias yang asyik bermain. 

Elias langsung berlari ke arah ibunya, meminta perlindungan. Anak kecil itu memeluk kaki sang ibu erat-erat, Elias adalah tipe anak yang penakut.

Tetapi, Anita mencoba meyakinkannya. Ia beranjak dari duduknya, kemudian berjongkok dan menatap wajah putranya lekat. Seolah-olah, tatapan itu adalah tatapan terakhirnya. 

"Elias, dengarkan Ibu baik-baik, ya." Anita menarik nafas dalam, ia menyempatkan diri untuk mengecup pucuk kepala putranya dan memeluk tubuh kecil itu ke dalam dekapannya. 

"Ada apa, Ibu? Elias takut," ucap anak kecil itu, menatap Anita dengan sorot mata ketakutan. 

Anita menggeleng. "Tidak, kau anak yang kuat, Elias. Kau anak yang hebat! Percayalah. Kau pasti akan tumbuh menjadi anak yang luar bisa," puji Anita. 

Sementara di luar, gedoran pintu semakin terdengar nyaring. Saat itulah Anita tahu bahwa waktunya tidak banyak. 

"Dengarkan Ibu, Elias. Ibu ingin kau bersembunyi di ruangan kecil tempat di mana kita sering bermain petak umpat, hubungi seseorang bernama Marry Anne di telepon Ibu, apa kau mengerti?" 

Elias mengangguk meski tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Tapi kenapa, Ibu? Siapa yang datang? Kenapa Ibu tidak membuka pintu?" 

Gedoran di pintu apartemen mereka terdengar lebih keras. Saling bersahutan dengan suara hujan yang deras dan petir yang menggelegar. 

"Waktu Ibu tidak banyak, Elias. Apa pun yang kau dengar nanti, tutup telingamu, oke? Lakukan perintah Ibu, hubungi seseorang bernama Marry Anne, dia yang akan menjagamu selanjutnya. Kemudian, Ibu ingin kau—" 

"Rainer!" teriak seseorang dari luar. 

Keduanya terlonjak kaget saat tahu seseorang berhasil masuk ke apartemen mereka. Anita Refleks mendorong Elias untuk pergi ke sebuah ruangan kecil dibalik rak buku, memberi anak kecil itu kunci, telepon genggam dan sebuah hard disk berwarna hitam. 

"Tutup telingamu, oke?" Anita memberi putranya isyarat sebelum mengunci ruangan kecil itu dari luar dan menyembunyikan kuncinya. 

"Kau mengkhianati kami, Rainer!" teriak seseorang itu. Menatap Anita tajam, wajahnya ditutupi topeng yang sangat mengerikan.

Anita berdiri dengan kaki gemetar, tatapannya tertuju kepada sosok di hadapannya. Sosok itu tinggi tegap, memakai jubah yang seluruhnya sudah basah. Air dari jubahnya bahkan menetes, membasahi lantai.

"Aku tidak berkhianat! Sudah kukatakan, aku akan menunjukkan kebenaran itu ke hadapan publik!" seru Anita berani, menantang sosok di hadapannya. 

Sosok bertopeng itu mengepalkan kedua tangannya kuat. Berjalan mendekati Anita dengan tangan terkepal, seolah siap menghajar perempuan itu. Jarak mereka makin terkikis, pria itu mendesak Anita hingga terpojok ke dinding. 

Dengan satu gerakan cepat, sosok bertopeng itu mencekik leher Anita dan mengangkat tubuhnya ke udara dengan mudah. Di balik topengnya, ia menggeram.

Anita tercekik dan memekik kesulitan bernapas, matanya mulai berair. Ia meronta-ronta meminta diturunkan sambil menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. 

Si pria bertopeng itu tampak mulai kesal, lantaran sudah didesak pun, Anita tetap kukuh pada pendiriannya. 

"Kau perempuan sialan! Kau akan mati malam ini juga!" bentak si pria bertopeng, menghempaskan tubuh Anita ke bawah hingga perempuan yang tak berdaya itu tersungkur. 

Si pria bertopeng merogoh bagian belakang bajunya, mengambil sebuah pistol yang ia sembunyikan dan mengacungkannya tepat ke kepala Anita. 

"Pilihan terakhirmu, Anita." Si pria bertopeng mulai menarik pelatuknya. Ujung jari telunjuknya siap kapan saja untuk menarik pistol itu. 

Satu tembakan saja sudah cukup untuk membuat nyawa Anita tiada untuk selamanya. 

Namun, alih-alih gentar, Anita justru menatap pria bertopeng itu dengan berani. "Aku tidak sudi tunduk pada orang-orang keji seperti kalian," desis Anita. 

Dor! 

Satu tembakan melesat tepat mengenai bahu Anita hingga tubuh perempuan itu tersungkur. Cairan merah langsung merembes keluar dengan derasnya. 

Sementara Anita memekik kesakitan, si pria bertopeng itu tersenyum sinis, meletakkan pistolnya di tangan Anita lalu berjalan meninggalkan tubuhnya yang terkulai lemah begitu saja. 

"Kau akan menerima akibat dari semua perbuatanmu, jurnalis konyol!" makinya, menginjak tubuh Anita dengan sepatu boot kotornya hingga perempuan itu memekik. 

Kemudian, si pria bertopeng itu berjalan menyusuri apartemen Anita. Membuka ruangannya satu persatu, memeriksa dengan seksama. Ia berusia mencari-cari sebuah benda yang sangat berharga. 

Hidup dan matinya bergantung pada benda itu. Jika ia tidak menemukannya malam ini, hidupnya pasti akan berakhir sama seperti Anita Rainer. Mengenaskan. 

"Sialan! Di mana perempuan itu menyembunyikannya?!" teriaknya frustasi, ia sudah mencari ke penjuru rumah, bahkan mengacak-acak arsip-arsip penting milik jurnalis itu. Tetapi, benda yang dicarinya tetap tak ketemu. 

Merasa kesal, pria bertopeng itu lantas membanting meja kaca, meninggalkan bunyi memekak dan pecahan beling yang berhamburan di lantai. 

"Kau tidak akan menemukannya!"

Ia sepenuhnya mengabaikan gumaman perempuan yang sekarat itu lalu mengedarkan pandangannya sekali lagi, mencari-cari benda itu untuk yang terakhir kalinya. Namun, upayanya tetap sia-sia. Sekeras apapun ia mencari, benda itu benar-benar tidak ada. 

"Apa mungkin dia telah menghancurkannya?" gumam pria itu bingung. "Jangan-jangan … dia masih menyimpan file itu di laptopnya!" 

Pria bertopeng itu langsung mencari-cari laptop Anita, tanpa pikir panjang, ia langsung membanting laptop itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Menginjak-injaknya sampai laptop itu tak berbentuk lagi. 

Setelah merasa tak ada lagi yang bisa ia lakukan lagi, si pria bertopeng itu akhirnya pergi meninggalkan apartemen mereka. Membaur ke dalam gelapnya malam dan derasnya hujan. 

Elias yang sedari tadi bersembunyi, melihat semuanya dengan jelas dari tempatnya berada. Ketika merasa pria bertopeng itu sudah pergi keluar, Elias berusaha membuka kunci ruangan itu dan langsung berlari dan menghambur memeluk sang ibu. 

"Ibu! Ibu, bangunlah! Aku di sini, Bu!" raung Elias keras. 

Air matanya menetes tanpa bisa dicegah. Elias berpikir bahwa ibunya sudah tiada. Tetapi, ketika ia menggenggam tangan sang ibu, jemarinya masih bergerak pelan. 

"El-Lias," panggil Anita lirih. "Ha-ly-co-ne," katanya hampir menyerupai seperti sebuah bisikan. Matanya menatap Elias sayu, kemudian, tangannya jatuh lunglai ke lantai. 

Melihat itu, Elias meraung makin keras, tangisnya tak dapat lagi dibendung, tubuh kecilnya memeluk raga sang ibu yang ia tahu tak lagi bernyawa. 

"Ah!" Elias tersentak bangun dengan keringat yang membanjiri dahinya. "Mimpi itu lagi." 

Selama beberapa detik, Elias mencoba menenangkan debaran jantungnya. Tiap kali ia bermimpi kejadian 20 tahun lalu, jantungnya akan berdetak sangat cepat. 

Elias mengusap dahi dan wajahnya yang berkeringat. "Sudah 20 tahun, tapi aku masih saja memimpikan kejadian itu," lirihnya menarik nafas dalam-dalam. 

Ia melirik jam yang ada di atas nakas. Masih terlalu pagi untuk memulai hari. Elias kemudian beranjak dari tidurnya dan membasuh muka. 

Kegelisahannya, serta mimpi berulang yang terus menghantuinya, membuat hidup Elias benar-benar tidak tenang. Bergerak ke meja kerjanya, Elias menyentuh sebuah flashdisk berwarna hitam. 

Elias menimbang-nimbang benda kecil itu, sejenak ragu untuk menyalakan komputernya. Rasa takutnya yang membuat Elias bimbang. 

"Tidak bisa, Elias. Kau sudah mempersiapkan hal ini sejak lama. Kau harus bisa menemukan pembunuh ibumu," monolog Elias, menyemangati dirinya sendiri. 

Terpopuler

Comments

ㅤ

Suatu instansi gak semua nya jujur, tapi bagus deh ada yg berani menyuarakan kebenaran. Taruhan nyawa sudah pasti mengintai, kelak hal yang kamu perjuangkan akan dicapai dari bagian diri kamu, Elias. Sama persoalan +62 ya dimana² gak jauh dari hukum tajam ke atas tumpul ke bawah.

2025-09-05

1

❤️⃟Wᵃf🤎𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ ☘𝓡𝓳🏡⃟ªʸ

❤️⃟Wᵃf🤎𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ ☘𝓡𝓳🏡⃟ªʸ

elias kecil harus menyaksikan kejadian yang mengerikan😔

2025-07-15

1

ㅤ

Apa itu Halycone?

2025-09-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!