First Love

First Love

Prolog

Nayna masih terpaku menatap pada satu titik, bahkan dia tak mengindahkan kata-kata pak Sapto yang tengah memberikan wejangan untuk anak didiknya.

"Nay, dipanggil tuh ... Nay, hei, halo, Nayna!" Yuli menyikut temannya karena kesal tak mendapat respons sejak tadi, sementara yang ditanya menoleh kaget dengan wajah kebingungan.

"Apaan, Yul?" bisiknya, lalu mengikuti gerakan mata Yuli ke arah seseorang. Nayna menunjuk dirinya sendiri, "saya?"

Dia mengangguk lalu beranjak mengikuti seorang guru yang memanggilnya. Dia dibawa ke ruang guru dan kembali keluar dengan sebuah map hijau di tangan.

Saat itulah, dia berpapasan dengan seorang siswa yang telah lama muncul dalam bunga tidurnya. Nayna melempar senyum ramah, namun siswa itu tetap dingin tanpa ekspresi apa pun. Bukannya menyerah, Nayna justru melupakan tugas yang seharusnya cepat disampaikan, dia justru memilih untuk mengejar dan menyapa pujaan hatinya.

"Hai, Aksa. Selamat ya atas prestasinya. Kamu hebat, keren," ucap Nayna sembari mengulurkan tangannya dengan malu-malu. Sedangkan Aksara hanya berdiri diam lalu pergi begitu saja meninggalkan Nayna dan uluran tangannya yang kosong tanpa balasan.

Sadar akan situasi, Nayna cepat menarik kembali lengannya dan berbalik, menatap pintu toilet pria, lalu tersenyum kecil.

Oh, mungkin Aksa lagi kebelet ya, makanya nggak sempet respons aku. Ya udah deh, masih ada waktu kok.

Nayna melenggang pergi dengan senyum masih terlukis di bibir. Namun, senyum itu lenyap saat pak Sapto dan beberapa guru menatapnya kesal.

"Kamu ke mana aja, Nayna? Ruang guru udah pindah? Atau kamu tadi jalannya muterin gedung sekolah dulu?" ucap pak Sapto tegas. Nayna hanya mengangguk pelan sembari mengucap maaf. Setelahnya dia pergi untuk bergabung dengan teman-teman yang bersiap pulang.

"Nay, jangan lupa, nanti malem ya. Syukuran di rumahnya Faiz. Aku jemput jam tujuh, acara mulai jam delapan." Yuli menahan lengan temannya yang bersiap lari saat melihat seseorang melambai di depan gerbang. Dia menoleh, "jam tujuh? Oke. Baju bebas, kan?"

Yuli mengangguk lalu menatap punggung Nayna yang berlarian kecil ke arah gerbang.

Nayna memasang helm di kepala, lalu duduk di belakang laki-laki dengan jaket kebanggaannya.

"Siap, Nona? Pegangan dong," ucap pria itu sambil melirik ke arah spion.

"Siap! Let's go! ... eh iya, Yah. Beliin es krim ya." Dia melingkarkan lengannya di pinggang sang ayah yang mulai melajukan sepeda motornya, menembus jalanan yang tetap padat di siang hari.

Rahmat tersenyum senang menatap spion, melihat putri semata wayangnya aktif bercerita, meski dia sendiri tak sepenuhnya mendengar.

"Ya nggak, Yah?" Nayna menepuk perut ayahnya, membuat Rahmat spontan menjawab, "hah? Apa?"

Nayna menghela napas, lalu mengusap perut ayahnya yang buncit sambil tertawa. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di rumah.

***

Azan maghrib terdengar dari musala terdekat. Rahmat dan Siti bersiap jamaah, tak lupa mengajak serta buah hatinya. "Ayo, Nak. Selagi belum iqamah," ajak Siti setelah membuka pintu kamar Nayna. Tanpa menunggu lama, gadis itu segera beranjak, mengikuti kedua orang tuanya.

Sepulang dari musala, Nayna mendapati Yuli tengah duduk bermain ponsel di beranda rumah.

"Bentar ya, aku ganti dulu," ucap gadis itu sambil berlalu masuk, meninggalkan Yuli yang kini berbincang dengan ayah dan ibunya.

"Ayah, Ibu, Nayna pergi dulu ya, ada acara syukuran di tempat temen." Nayna mencium punggung tangan orang tuanya, lalu melirik sang ayah sambil memberi kode dengan ibu jari dan telunjuk.

"Sarangbeoo!" Rahmat menaikkan kedua lengan membentuk hati di atas kepala, sambil menggoyangkan pinggulnya.

"Ish, duit, Yah. Fulus, bukan saranghae. Kecentilan deh." Nayna menggerutu kesal. Lalu pergi dengan wajah cerah setelah mendapat apa yang diharapkan.

Di rumah Faiz, sudah banyak yang berkumpul dari teman sekelasnya. Dia mengedarkan pandangan mencari seseorang, lalu tersenyum senang saat melihat seorang pemuda dengan kemeja hitam dipadu celana berwarna abu-abu, memberi kesan elegan namun tetap misterius di matanya.

Satu per satu acara terlewati sudah. Kini mereka tengah menikmati hidangan yang telah disediakan tuan rumah. Nayna mengikuti Aksa yang keluar menuju halaman seorang diri.

Dia melihat Aksara tengah duduk diam di sebuah bangku, menghadap kolam ikan kecil di dekat pohon mangga. Nayna berdehem pelan, lalu duduk di samping pria itu yang melirik sekilas ke arahnya.

"Hai, Aksa. Habis ini, kamu mau lanjut ke mana?"

Hening tak ada balasan, sementara Nayna tak putus asa, dia menghadap Aksara yang masih menatap lurus ke depan.

Duh, kenapa malah disko ni jantung?

Ayo, Nay. Kamu pasti bisa. Selagi ada kesempatan, jangan sampai lolos lagi.

Nayna mengangguk pelan, lalu membuka suara.

"Aksa, boleh aku ngomong?"

Tetap hening, hanya gemericik air yang terdengar syahdu di telinga. Gadis itu kembali berkata, "maaf sebelumnya, aku mau jujur sama kamu. Aksa, aku ... aku, a-aku suka sama kamu. Ya, aku udah lama suka sama kamu, bahkan dari awal kita ketemu di hari pertama masuk kelas tujuh. Mungkin kesannya gimana gitu, cewek nembak duluan, tapi aku mau kamu tahu perasaanku dan ... aku harap, kamu mau jadi pacarku."

Nayna menghela napas pelan, menunggu jawaban dari pujaan hati. Dia tersenyum saat Aksara mulai mengubah posisi menghadap dirinya.

"Aku nggak suka kamu, nggak pernah suka cewek sepertimu, dulu, sekarang bahkan selamanya."

Dingin, namun menusuk. Membuat Nayna terdiam beberapa saat, lalu mengangguk pelan, berlari ke luar gerbang untuk pulang.

Kata demi kata yang dia dengar, terasa terus menghujani hatinya dengan ribuan jarum juga sayatan belati. Nayna menahan air mata sampai dirinya tiba di rumah, dia membayar ojek lalu berlari masuk.

Rahmat yang melihat Nayna datang, segera menahan dan melihat sepasang mata dengan tanggul yang siap jebol.

"Nak, kamu kenapa? Ada apa?" Rahmat membawa putrinya masuk ke dalam pelukan, detik itu juga, Nayna tak lagi mampu menahan tangis. Dia semakin terisak saat sang ayah mengusap lembut kepalanya.

"Nak, apa pun yang membuat hatimu sakit di luar sana, Ayah akan tetap ada di sini, untuk terus menjadi tempatmu pulang. Sudah, jangan nangis, anak Ayah kuat, anak Ayah perempuan hebat, tangguh dan sabar. Udah ya, sayang air matanya, nanti abis lho," bujuk Rahmat masih dengan gerakan membelai kepala sang anak.

Setelah tenang, Nayna pamit masuk kamar, lalu melanjutkan tangisnya di sana. Rasa sakit itu menjalar tanpa permisi. Membuat gadis itu memukul tempat tidurnya dengan batin yang terus menjerit. Dia menarik selembar foto dari bawah bantal, mengamatinya lalu meremas potret itu dengan rasa kesal.

"Ak-sa-ra. Semoga harimu baik-baik saja dan ... menyenangkan," lirihnya sembari tersenyum getir.

***

Terpopuler

Comments

🔥Cherry_15❄️

🔥Cherry_15❄️

aku penasaran... gimana caranya bikin seting tempat dan berbagai adegan yang berbeda, dalam satu chapter? soalnya aku bikin satu hari dalam naskah aja, bisa 6 chapter habis. banyak adegan dan percakapan yang ga bisa selesai dalam satu chapter. 😅

2025-08-17

0

Sunardy Pemalang

Sunardy Pemalang

Pasti hancur baget tuh hati Nayna/Sob/

2025-08-06

1

ig: kekeutami2829

ig: kekeutami2829

bisu kli si aksa /Drowsy/

2025-10-05

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Suasana baru
3 Hadiah anak baru
4 Musibah datang
5 Sosial media
6 Full effort?
7 Saudara kok gitu?
8 Rumah
9 Bertemu masa lalu
10 Jadian?
11 Takdir
12 Kencan
13 M3sum
14 Gagal
15 Persami
16 Pesta
17 Pelukan ternyaman
18 Gue suka Nayna
19 Tertakar tak tertukar
20 Glow up
21 Penyesalan
22 Tawaran dari orang kaya
23 Pertemuan tak terduga
24 Aula
25 Ikan koi
26 Sebuah janji
27 Minggu
28 Kesepakatan
29 Second account
30 Wedang jahe
31 Sepotong roti
32 Drama pagi hari
33 Padma
34 Kakak kelas
35 Mata-mata
36 Ketakutan seorang ayah
37 Kafe Moi
38 Dikejar bukan mengejar
39 Salah orang
40 BK lagi. Lagi-lagi BK.
41 Kabar terbaru
42 Momen menyakitkan
43 Berita tak sedap
44 Dilema
45 Dia
46 Bertemu rival
47 Tamu jauh
48 Calon mantu
49 Gila
50 Amplop coklat
51 Tak masuk logika
52 Terima kasih dan maaf
53 Resah
54 Nekat
55 Kabur aja dulu
56 Mampir ke Alana ya.
57 Semua punya masalah
58 Retak yang terobati
59 Anakku bukan anakku
60 I'm with you
61 Pertemuan tak terduga
62 Gadis kecil
63 Dia datang
64 Pertengkaran
65 Kakak
66 Penguntit
67 Luka
68 Mereka pergi
69 Hilang tak kembali
70 Ikhlas?
71 Ujian
72 Mulut tak bermoral
73 Keputusan
74 Hiling bikin pening
75 Kelas baru
76 Tugas baru
77 Pak Satya
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Prolog
2
Suasana baru
3
Hadiah anak baru
4
Musibah datang
5
Sosial media
6
Full effort?
7
Saudara kok gitu?
8
Rumah
9
Bertemu masa lalu
10
Jadian?
11
Takdir
12
Kencan
13
M3sum
14
Gagal
15
Persami
16
Pesta
17
Pelukan ternyaman
18
Gue suka Nayna
19
Tertakar tak tertukar
20
Glow up
21
Penyesalan
22
Tawaran dari orang kaya
23
Pertemuan tak terduga
24
Aula
25
Ikan koi
26
Sebuah janji
27
Minggu
28
Kesepakatan
29
Second account
30
Wedang jahe
31
Sepotong roti
32
Drama pagi hari
33
Padma
34
Kakak kelas
35
Mata-mata
36
Ketakutan seorang ayah
37
Kafe Moi
38
Dikejar bukan mengejar
39
Salah orang
40
BK lagi. Lagi-lagi BK.
41
Kabar terbaru
42
Momen menyakitkan
43
Berita tak sedap
44
Dilema
45
Dia
46
Bertemu rival
47
Tamu jauh
48
Calon mantu
49
Gila
50
Amplop coklat
51
Tak masuk logika
52
Terima kasih dan maaf
53
Resah
54
Nekat
55
Kabur aja dulu
56
Mampir ke Alana ya.
57
Semua punya masalah
58
Retak yang terobati
59
Anakku bukan anakku
60
I'm with you
61
Pertemuan tak terduga
62
Gadis kecil
63
Dia datang
64
Pertengkaran
65
Kakak
66
Penguntit
67
Luka
68
Mereka pergi
69
Hilang tak kembali
70
Ikhlas?
71
Ujian
72
Mulut tak bermoral
73
Keputusan
74
Hiling bikin pening
75
Kelas baru
76
Tugas baru
77
Pak Satya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!