Tahun demi tahun telah berlalu, namun jejak wanita yang mengandung benihnya masih menjadi misteri yang menyesakkan dada Diego. Setiap kali ingatan itu menyeruak, amarahnya membara tak terkendali.
Di ruang kerjanya yang bernuansa dingin, Diego berdiri mematung di hadapan jendela kaca raksasa, memandang hujan yang mengguyur kota Milan. Jemarinya terkepal erat, rahangnya mengeras, mencerminkan gejolak batin yang tak tertahankan.
"Sudah tujuh tahun," gumamnya. "Benihku raib selama itu dan tak seorang pun mampu mengungkap keberadaannya?"
Alana, sepupunya yang kini berprofesi sebagai dokter ternama, hanya bisa menatap Diego dengan raut pasrah dari kursi di seberang meja.
"Diego, sudah berulang kali kukatakan. Data lama di laboratorium itu telah terhapus. Kau tak bisa terus menerus menyalahkan dunia atas satu kesalahan sistem," ujar Alana dengan nada lembut.
"Kesalahan sistem?" Diego berbalik dengan tatapan setajam elang. "Ini bukan sekadar kesalahan sistem, Alana. Ini adalah sebuah kejahatan. Seseorang telah mencuri benihku, dan jika wanita itu berhasil melahirkan... anak itu kini telah berusia enam tahun."
Sorot mata dingin Diego mampu membuat Alana menghela napas panjang.
"Lantas, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Alana, menyerah pada keras kepala sepupunya. "Kau telah mengerahkan semua orang untuk mencarinya. Kau bahkan mengintimidasi direktur laboratorium hingga nyaris membunuhnya. Namun, hasilnya nihil."
Diego melangkah mondar-mandir dengan gelisah, kemudian berhenti di depan meja kerjanya.
"Aku tak akan menyerah. Aku ingin kau menelusuri kembali data tujuh tahun lalu. Siapa pun yang memiliki akses ke ruang penyimpanan saat itu, aku ingin mengetahui identitasnya," perintah Diego dengan nada tak terbantahkan.
Alana memijat pelipisnya, mencoba meredakan denyutan yang mulai terasa. "Kau tahu, akan lebih mudah jika kau mengeluarkan benih baru dan menyimpannya kembali. Setidaknya, ada jaminan untuk masa depanmu."
"Kau pikir aku sama dengan pria biasa lainnya?!" seru Diego.
Alana menatap Diego dengan rasa prihatin yang mendalam. Ia tahu betul, sepupunya itu menyimpan trauma yang mengakar kuat.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diego tak mampu bersentuhan dengan wanita mana pun. Luka batin akibat masa lalunya terlalu dalam, membuatnya menjauhi segala bentuk kedekatan fisik.
"Aku tak akan melakukannya lagi," ucap Diego datar. "Satu kali sudah cukup. Benih itu adalah satu-satunya milikku. Dan aku akan menemukannya. Kecuali jika aku menemukan wanita yang bisa kusentuh dan kunikmati sepuas hati."
"Baiklah. Tapi, jangan biarkan obsesi ini menghancurkanmu, Diego." Alana mengangkat kedua tangannya, tanda ia menyerah.
Pria itu tak menjawab. Ia hanya kembali menatap ke luar jendela dengan mata menyipit tajam.
*
*
Sementara itu, di sebuah rumah kontrakan sederhana di pinggiran kota sedang terjadi keributan ringan. Tentu saja itu rutinitas setiap pagi mereka.
"Alex! Tolong, jangan gunakan panci mama untuk memasak air lagi!" teriak Elise dari ruang tamu.
Suara dentingan sendok dan aroma bawang goreng menyeruak dari dapur sempit. Bocah berusia enam tahun itu berdiri di atas kursi kecil, mengaduk nasi di wajan dengan ekspresi serius layaknya seorang koki profesional.
"Jika Mama bisa memasak, aku tak perlu melakukan ini," balas Alex tanpa menoleh.
Elise mendengus. "Mama sibuk bekerja. Lagipula, mie instan juga makanan, kan?"
Alex menghentikan aktivitasnya, lalu menatap ibunya yang berdiri di ambang pintu dapur dengan tangan bersedekap.
"Makanan cepat saji tidak mengandung nutrisi, Mama. Kau tahu itu. Kau bahkan tak mengonsumsi sayuran selama tiga hari terakhir. Itu sebabnya kulit Mama terlihat pucat," ujar Alex dengan nada prihatin.
Elise memutar bola matanya. "Apa kau seorang dokter? Cerewet sekali!"
"Anak dari seseorang yang tampaknya sangat cerdas," balas Alex santai, membuat Elise terdiam sesaat.
Hatinya bergetar, bercampur antara rasa bangga dan takut. Terkadang, ucapan Alex terlalu tajam untuk ukuran anak seusianya.
"Sudah, Mama duduk saja. Aku hampir selesai," ucap Alex kemudian, kembali sibuk menyalakan api kecil.
Beberapa menit kemudian, aroma nasi goreng yang menggugah selera memenuhi seisi dapur. Elise menatapnya dengan takjub.
"Kau belajar memasak seperti ini dari mana?"
"Dari internet. Aku menggunakan resep paling sederhana, tapi aku memodifikasinya sedikit agar rasanya lebih kompleks."
Elise mendengus pelan. "Dengar itu... kompleks. Bocah enam tahun berbicara seperti seorang chef."
Alex menatap ibunya tanpa ekspresi. "Aku tak ingin Mama terus makan sembarangan. Jika Mama sakit, siapa yang akan menjagaku?"
Elise terdiam. Kalimat sederhana itu menusuk relung hatinya. Ia menatap anaknya yang kini meletakkan piring di meja makan, wajahnya dingin namun matanya menyimpan kasih sayang yang mendalam.
"Alex..." panggil Elise lirih.
Anak itu menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis, senyum langka yang hanya Elise yang tahu maknanya.
"Makanlah sebelum dingin, Mama. Rasanya tak seburuk mie instan, aku janji."
Elise tersenyum, mencoba menahan air mata yang tiba-tiba menyesak di dada.
"Jangan menangis. Mama jelek kalau menangis," ucap Alex seraya menghapus air mata ibunya.
"Siapa yang menangis! Mama kelilipan, tahu!" elak Elise, membuat Alex memutar bola matanya dengan malas.
"Ck ck ck! Lihatlah, wanita memang pandai berbohong," maki bocah itu dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Eva Wahyuni
lanjut Thor..
semangat menulis nya Thor 💪💪💪
2025-10-05
2
🇦 🇵 🇷 🇾👎
kpn mrk di tmkn... gk sbr mu💪🤣
2025-10-05
1
C2nunik987
alex sayang bgt ma mama nya smoga kelak bisa temukan Daddy nya dan Diego bisa jatuh cinta ma mama Alex bisa melahirkan lagi adik Alex yg byk 😍😍
2026-02-13
0