Tuan Alpha, Sang Bayangan
Pintu kayu jati setinggi empat meter itu adalah simbol kebohongan.
Ia menjulang mewah di hadapan Arga, memisahkan dunia luar yang bising dan kejam dengan dunia di dalamnya yang, ironisnya, jauh lebih sepi dan kejam. Rumah megah milik keluarga Adhiyatma Karya—perusahaan properti yang membangun resort di setiap sudut terbaik pulau—adalah penjara pribadi Arga.
Arga (18 tahun) menarik napas dingin, menenangkan detak jantung yang terasa meredam di dalam rusuknya. Di tangannya, ia memegang map biru lusuh, isinya adalah selembar kertas sakral: Penerimaan beasiswa penuh untuk jurusan Software Engineering di Universitas Teknologi Kyoto.
Ini adalah tiketnya. Satu-satunya jalan keluar dari rumah yang terasa seperti kuburan dingin.
Ia mendorong pintu itu dengan hati-hati. Keheningan langsung menyambutnya, sebelum akhirnya suara tawa mengambang dari ruang keluarga, menciptakan kontras yang menyakitkan.
Di ruang tengah, di bawah cahaya lampu kristal yang mahal, Ayahnya, Rendra Satya Wardhana, duduk di kursi kepala meja makan, wajahnya berseri-seri—sesuatu yang jarang Arga lihat dalam lima tahun terakhir.
Di sampingnya, Binar Larasati, Ibu tiri Arga, tampak anggun dalam gaun sutra, matanya bersinar penuh kasih saat menatap putranya, Vino Adhiyatma.
"Bagus sekali, Nak," ucap Rendra sambil menepuk bahu Vino. "Manajer Pemasaran. Itu langkah yang luar biasa untuk lulusan muda sepertimu. Networking dan skill bisnismu benar-benar tidak tertandingi."
Vino, dengan senyum lebar yang selalu Arga benci—senyum yang penuh kemenangan tanpa usaha—menyesap anggurnya. "Tentu saja, Ayah. Aku 'kan tidak hanya mengandalkan nilai akademik. Aku ini anak muda yang tahu cara bergaul."
Arga berdiri di ambang pintu, menunggu. Mereka tidak menyadari kehadirannya.
Ia berdeham pelan. Tiga pasang mata itu akhirnya menoleh, dan cahaya di wajah Rendra langsung padam, digantikan oleh ekspresi lelah dan jengkel yang biasa ia gunakan hanya untuk Arga.
"Ada apa? Kenapa kau masih di sana? Kenapa tidak di kebun?" tanya Rendra, nadanya dingin.
Kebun. Itulah tugas Arga sekarang. Sejak Binar mengambil alih manajemen rumah, Arga—anak kandung Rendra—ditugaskan sebagai tukang kebun dan asisten domestik, pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh puluhan pelayan. Ini adalah penghinaan yang disamarkan sebagai "pelatihan kemandirian."
"Ayah," Arga melangkah maju, membiarkan map biru itu terlihat. "Aku ingin bicara sebentar."
"Cepat, kami sedang merayakan pencapaian besar Vino," sela Binar, senyum palsunya tidak pernah luntur, tapi matanya memancarkan rasa tidak sabar.
Arga mengabaikan Binar. Ia hanya menatap Ayahnya. "Aku diterima di Universitas Teknologi Kyoto. Beasiswa penuh. Aku akan berangkat lusa. Ini suratnya."
Arga meletakkan map itu di atas meja marmer, tepat di samping piring perak Vino.
Hening.
Vino mengambil map itu dengan dua jari, seolah itu adalah benda kotor, lalu membacanya sekilas. Tawa mengejek langsung meledak dari mulutnya.
"Beasiswa? Cih. Kau pikir kau siapa? Siapa yang akan mengizinkanmu pergi ke Jepang hanya karena selembar kertas murahan ini?" ejek Vino. "Kau hanya akan jadi beban di sana. Kau bahkan tidak bisa lulus dari sekolah lokal tanpa masalah."
"Aku diterima. Nilai dan potensiku diakui," balas Arga datar.
"Potensi? Ya, potensi untuk menanam bunga, Arga!" Vino membanting map itu kembali. "Kalau kau mau pergi, ya pergi saja. Tapi kau tidak perlu uang saku darinya, 'kan? Lagipula, kau meninggalkan tanggung jawabmu di sini. Siapa yang akan mengurus kebun belakang dan merawatku kalau kau pergi?"
Arga menahan napas. Ia memandang Rendra. Ayahnya. Pria yang dulu ia panggil pelindung.
"Ayah," Arga mencoba sekali lagi, "Ini kesempatanku. Aku bisa menjadi..."
"Arga, kau harus tahu diri," Binar memotong dengan suara lembut yang mematikan. Dia menyentuh lengan Rendra dengan gestur penuh perhatian. "Ayahmu sedang kesulitan di kantor, banyak proyek bermasalah. Siapa yang akan membantu Ayahmu menenangkan pikiran di rumah? Kewajiban anak kandung adalah membantu Ayahnya, bukan melarikan diri."
Rendra menghela napas, seolah Arga adalah masalah terbesarnya.
"Dengar, Arga," kata Rendra, suaranya lelah. "Kau tidak bisa pergi. Aku butuh ketenangan di rumah. Lagipula, beasiswa itu tidak menjamin apa-apa. Kau pikir kau akan sukses dengan coding bodohmu itu? Kenyataannya, Vino sudah menjadi Manajer di perusahaan propertiku. Itu masa depan yang pasti."
"Tapi, Yah, beasiswa itu gratis! Ini impianku!" Arga tidak bisa menyembunyikan getaran dalam suaranya.
Rendra menggerakkan tangannya ke saku, mengeluarkan buku cek. Ia menuliskan nominal kecil di sana—nominal yang hanya cukup untuk biaya hidup satu bulan bagi Vino.
"Urus saja kebun. Aku sudah bayar biaya kuliah Vino tahun ini. Jika kau ingin pergi," Rendra bahkan tidak repot-repot menatap Arga, matanya fokus pada angka di cek, "kau hanya akan kuanggap sudah mati dari keluarga ini. Ambil ini."
Rendra merobek cek itu dan meletakkannya di atas meja, di samping map beasiswa Arga.
"Ambil ini. Dan jangan pernah muncul lagi dengan urusan beasiswa bodoh."
Arga menatap cek itu. Nominalnya bahkan lebih kecil dari upah tukang kebun mingguan di resort Ayahnya.
Ini bukan masalah uang. Ini masalah nilai dirinya. Ini adalah penolakan mutlak. Ini adalah deklarasi bahwa ia tidak lebih berharga dari rumput liar di pekarangan belakang.
Arga perlahan mengangkat tangannya. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena sakit, tapi karena amarah dingin yang baru pertama kali ia rasakan. Amarah yang membersihkan semua kesedihan dan rasa bersalah yang ia bawa selama ini.
Ia tidak mengambil cek itu. Ia mengambil map beasiswa miliknya.
CRRSSHH!
Arga meremas cek kecil itu hingga hancur, meredam suaranya dengan suara gemuruh yang ia rasakan di telinganya.
Vino, Binar, dan Rendra terkejut. Tawa Vino terhenti.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Binar.
Arga tidak menjawab. Ia hanya menatap Rendra. Mata Rendra yang dingin kini terlihat terkejut.
"Aku tidak butuh uangmu, Ayah," suara Arga serak, tetapi jelas. "Aku tidak butuh restu."
Ia kemudian mengambil map beasiswanya yang sempat diremas Vino.
"Kalian ingin aku mati dari keluarga ini?" Arga melirik ke arah Binar dan Vino yang memasang wajah jijik. "Baik."
Arga memutar tubuhnya. Ia berjalan menuju pintu utama, tanpa menoleh ke belakang, tanpa salam, tanpa pamit.
"Arga! Mau kemana kau?! Kau belum selesai bekerja!" teriak Rendra.
Arga hanya mendorong pintu jati itu dan menghilang ke dalam kegelapan malam.
Mulai hari ini, aku adalah bayangan yang mati. Aku sudah dikubur oleh tangan ayahku sendiri.
Tapi aku bersumpah, bayangan ini akan kembali suatu hari nanti.
Bukan untuk meminta maaf.
Bukan untuk memohon cinta.
Tapi untuk mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku, termasuk kehormatan nama Ibuku.
Arga berjalan tanpa arah di jalanan kompleks perumahan Ayahnya yang sepi. Udara malam terasa segar, membersihkan sisa debu hinaan dari dirinya.
Ia tahu, jika ia benar-benar pergi ke Kyoto, ia akan selamat. Tapi, jika ia pergi, ia akan melarikan diri dari kebenaran. Ia akan membiarkan Rendra, Binar, dan Vino memenangkan segalanya, termasuk membiarkan nama Ibunya terlupakan.
Arga sampai di sebuah toko kopi kecil yang buka 24 jam. Ia mengeluarkan ponsel lamanya dan membuka sebuah folder tersembunyi. Itu adalah satu-satunya warisan nyata dari Ibu kandungnya yang meninggal saat ia masih kecil: sebuah flash drive tua berisi file-file aneh yang dienkripsi dengan sangat rumit.
Ayah selalu mengatakan Ibunya meninggal karena kecelakaan. Ayah selalu mengatakan Ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa. Tapi kenapa flash drive ini ada?
Selama berbulan-bulan, Arga telah mencoba meretas enkripsi file itu, menggunakan semua pengetahuan otodidaknya. Setelah malam penghinaan itu, ia mendapatkan kejelasan dan fokus yang ia butuhkan.
Ia mencolokkan flash drive itu ke laptop toko kopi (meminjamnya dengan alasan mengerjakan tugas). Jemarinya menari di atas keyboard. Kode demi kode ia masukkan, didorong oleh amarah yang membara.
BEEP!
Sebuah jendela baru muncul di layar. Tulisan "ENKRIPSI TERBUKA" muncul.
Arga menahan napas. Ini bukan hanya file keluarga. Ini adalah folder yang diberi nama: "PROYEK TITAN".
Di dalamnya, Arga menemukan puluhan dokumen.
Dokumen paten perangkat lunak canggih.
Email-email dengan CEO perusahaan teknologi besar.
Dan sebuah surat.
Ia membuka surat itu. Itu adalah surat yang ditulis tangan oleh Ibunya, ditujukan kepadanya.
Untuk Arga-ku tersayang,
Jika kau membaca ini, berarti keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Aku ingin kau tahu, Nak, kekuatanmu bukanlah pada uang, tapi pada logikamu. Aku tahu kau akan menjadi anak yang cerdas. Yang Ayahmu tidak tahu, aku bukan hanya ibu rumah tangga. Aku adalah software engineer yang mendirikan perusahaan yang sekarang dikenal sebagai...
TITAN LABS.
Arga terkejut. Titan Labs? Itu adalah perusahaan teknologi raksasa yang bergerak di bidang keamanan siber dan database properti. Perusahaan yang baru-baru ini menjadi partner besar PT. Adhiyatma Karya!
Surat itu berlanjut:
...Aku mendirikan Titan Labs diam-diam sebelum aku menikah dengan Ayahmu. Saat kami menikah, aku menjualnya kepada rekan kerjaku, Tuan Dharma, dengan perjanjian rahasia bahwa sebagian besar saham pendiri akan menjadi warisanmu saat kau berusia 18 tahun, tanpa sepengetahuan Ayahmu atau pihak manapun. Ayahmu terlalu fokus pada properti. Dia tidak akan pernah tahu tentang Titan.
Rendra tidak tahu. Vino tidak tahu. Binar tidak tahu.
Arga tidak hanya memiliki beasiswa. Ia memiliki warisan yang jauh lebih besar dan jauh lebih berbahaya. Arga adalah pewaris rahasia TITAN LABS.
Ia mengambil ponselnya, mencari nomor kontak Tuan Dharma yang tercantum dalam dokumen itu. Ia harus segera menghubungi orang ini.
Sebelum Arga menekan panggil, ia membaca satu baris terakhir dari surat Ibunya, yang seolah menjadi sumpah untuk membalas dendam:
Gunakan kecerdasanmu, Nak. Jangan pernah kembali ke rumah itu sebagai Arga yang lemah. Kembalilah sebagai bayangan yang tidak pernah mereka lihat datang. Aku mencintaimu.
Arga menekan tombol panggil.
Di layar ponsel, nomor yang ia panggil terhubung. Sebelum sempat Tuan Dharma menjawab, Arga sudah memiliki identitas barunya.
"Halo, Tuan Dharma? Saya Arga. Saya menelepon mengenai Titan Labs dan warisan..."
Arga berhenti. Ia memejamkan mata. Ia sudah mati sebagai Arga, anak yang lemah. Kini, ia harus menjadi orang lain.
"Maaf. Saya ralat. Nama saya Tuan Alpha," ujar Arga dengan suara dingin, meniru nada bicara profesional yang ia dengar dari Ayahnya. "Saya telepon mengenai perjanjian Titan Labs. Permainan telah dimulai."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Rabi'ah
ceritanya lumayan bagus loh, kok gak rame
2025-11-05
0