Valerian menatap ke arah Alaric yang berjalan di sampingnya. Baru sekarang ia sadar, pakaian pelayannya sudah mulai robek di bagian lengan dan penuh tambalan. Bajunya sendiri pun sudah lusuh dan memudar warnanya, bahkan pakaian pelayan istana yang biasa saja masih jauh lebih layak daripada milik mereka.
“Alaric, ayo kita beli beberapa pakaian,” ujar Valerian pelan, tapi tegas.
Alaric menoleh cepat.
“Tapi, Valerian… apakah uang kita cukup? Kita masih perlu membeli bahan makanan.”
Valerian hanya tersenyum tipis.
“Tentu saja cukup. Kalau habis, kita tinggal menjual ramuan lagi, kan?”
Nada ringan Valerian membuat Alaric terdiam. Ia tahu, pangerannya itu tak pernah kehilangan ketenangan, bahkan dalam kondisi sesulit apa pun.
Tanpa menunggu jawaban, Valerian menarik tangan Alaric, membawanya ke arah toko pakaian di seberang jalan. Pelayan muda itu hanya bisa pasrah, wajahnya memerah karena malu ditarik di tengah keramaian pasar.
Begitu mereka masuk ke dalam toko, suasana langsung berubah. Beberapa pelayan toko memandang mereka dari ujung kepala hingga kaki, penuh jijik dan penghinaan. Bau kain baru bercampur dengan aroma parfum mahal, tapi yang terasa menusuk hanyalah tatapan merendahkan itu.
“Kalau kalian tidak punya uang, lebih baik keluar saja dari toko ini,” ucap salah satu pelayan dengan nada sinis.
Valerian menatap pelayan itu datar. Tatapan mata emasnya dingin, seperti menyayat.
“Panggil pemilik tokonya ke sini,” ucapnya tenang, tapi suaranya mengandung tekanan halus yang sulit dijelaskan.
Pelayan itu mendengus kasar.
“Rakyat miskin sepertimu mau apa memanggil pemilik toko? Dasar pengemis.”
Sekeliling mulai memperhatikan. Beberapa pengunjung lain melirik ke arah mereka dengan tatapan penasaran.
Pelayan itu semakin kesal karena Valerian tetap diam, hanya menatap tanpa gentar. Akhirnya, pelayan itu maju dan mendorong Valerian dengan kasar.
“Keluar dari sini, dasar bocah—”
Belum sempat kalimat itu selesai, Alaric sudah bergerak lebih cepat.
Ia menarik tubuh Valerian ke belakang dan menahan tangan pelayan itu. Mata Alaric memancarkan amarah yang jarang terlihat.
“Berani sekali kau menyentuh panger—”
Kalimat itu tertahan di tenggorokannya. Ia hampir saja menyebut “pangeran”, tapi segera menggigit bibirnya agar tidak terpancing emosi.
Suasana di toko mendadak tegang. Para pembeli yang tadinya berbisik kini diam, hanya suara kain yang terhempas pelan terdengar di udara.
Valerian menatap tajam pelayan itu — kali ini tatapannya cukup untuk membuat udara di sekitar mereka terasa berat.
Ada sesuatu dalam diri anak berwajah lembut itu, sesuatu yang membuat pelayan itu tanpa sadar mundur setapak, dadanya berdebar tanpa sebab.
“Aku bilang, panggil pemilikmu. Sekarang.”
Suara Valerian datar, tapi setiap katanya seperti perintah dari seseorang yang jauh lebih tinggi dari bangsawan biasa.
Pintu toko terbuka perlahan, dan suara lonceng kecil bergema lembut.
Semua orang di ruangan itu sontak menoleh. Pelayan yang tadi bersikap kasar langsung membungkuk panik.
“S–Salam, Tuan Duke!”
Suasana yang tadinya gaduh seketika menjadi hening.
Langkah berat Duke terdengar jelas di lantai kayu, setiap langkahnya membawa tekanan yang membuat semua orang menunduk dalam diam.
Valerian menoleh ke belakang. Wajahnya datar, tapi matanya sedikit membulat saat mengenali pria itu.
Itu adalah orang yang ia selamatkan di pasar — Duke yang pingsan karena racun.
“Saya sudah melihat bagaimana kalian memperlakukan anak ini,” ujar Duke datar, suaranya tenang tapi dingin seperti baja.
Pelayan yang tadi mendorong Valerian gemetar. Wajahnya memucat, lututnya hampir goyah.
Duke melangkah maju dan berhenti tepat di depan Valerian. Tatapannya lembut, sangat berbeda dari cara pandang orang-orang lain di toko itu.
Ada sesuatu di mata Duke saat menatap Valerian — seolah dia tahu siapa sebenarnya anak itu, tapi memilih berpura-pura tidak tahu.
“Pesanlah pakaian yang kamu inginkan,” ucapnya dengan nada lembut.
“Pelayan ini… akan saya urus.”
Valerian terdiam sesaat, lalu menunduk memberi hormat.
“Terima kasih banyak atas bantuan Anda, Tuan Duke.”
Duke tersenyum tipis, lalu menepuk pelan kepala Valerian — gerakannya penuh wibawa tapi terasa hangat.
“Tak perlu berterima kasih. Dunia ini memang kejam terhadap orang yang tak mengenakan mahkota.”
Tepat saat itu, seorang wanita paruh baya dengan pakaian elegan muncul dari belakang.
“Maaf, Tuan Duke, saya mendengar keributan. Ada apa di sini?”
Duke menoleh, ekspresinya datar tapi tajam.
“Ajarkan pelayanmu sopan santun, dan jangan pernah menilai seseorang dari pakaiannya saja.”
Nada suaranya berat, membuat wanita itu langsung membungkuk panik.
“Ampun, Tuan Duke… saya benar-benar minta maaf. Maafkan kami, anak muda.”
Valerian mengangguk pelan.
“Tidak apa. Saya hanya ingin membeli pakaian, bukan menimbulkan masalah.”
Wanita itu segera memerintahkan pelayannya menyiapkan semua yang diperlukan.
Valerian berjalan perlahan menyusuri rak kain, matanya memeriksa satu per satu bahan dan model.
Ia memilih beberapa setelan sederhana tapi nyaman untuk dirinya, dan beberapa pakaian untuk Alaric.
Duke memperhatikan dari kejauhan, ekspresinya sulit dibaca.
Tatapannya sesekali terarah pada rambut perak Valerian yang sedikit keluar dari tudungnya, berkilau saat terkena cahaya matahari yang menembus jendela.
“...mata itu,” gumam Duke nyaris tak terdengar,
“emas seperti sang ratu terdahulu.”
Valerian tak menyadari tatapan itu. Ia hanya menatap pakaian yang baru dipesannya, dengan senyum samar di wajahnya.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, hatinya terasa sedikit ringan.
Valerian menatap ke arah Alaric yang berjalan di sampingnya. Baru sekarang ia sadar, pakaian pelayannya sudah mulai robek di bagian lengan dan penuh tambalan. Bajunya sendiri pun sudah lusuh dan memudar warnanya, bahkan pakaian pelayan istana yang biasa saja masih jauh lebih layak daripada milik mereka.
“Alaric, ayo kita beli beberapa pakaian,” ujar Valerian pelan, tapi tegas.
Alaric menoleh cepat.
“Tapi, Valerian… apakah uang kita cukup? Kita masih perlu membeli bahan makanan.”
Valerian hanya tersenyum tipis.
“Tentu saja cukup. Kalau habis, kita tinggal menjual ramuan lagi, kan?”
Nada ringan Valerian membuat Alaric terdiam. Ia tahu, pangerannya itu tak pernah kehilangan ketenangan, bahkan dalam kondisi sesulit apa pun.
Tanpa menunggu jawaban, Valerian menarik tangan Alaric, membawanya ke arah toko pakaian di seberang jalan. Pelayan muda itu hanya bisa pasrah, wajahnya memerah karena malu ditarik di tengah keramaian pasar.
Begitu mereka masuk ke dalam toko, suasana langsung berubah. Beberapa pelayan toko memandang mereka dari ujung kepala hingga kaki, penuh jijik dan penghinaan. Bau kain baru bercampur dengan aroma parfum mahal, tapi yang terasa menusuk hanyalah tatapan merendahkan itu.
“Kalau kalian tidak punya uang, lebih baik keluar saja dari toko ini,” ucap salah satu pelayan dengan nada sinis.
Valerian menatap pelayan itu datar. Tatapan mata emasnya dingin, seperti menyayat.
“Panggil pemilik tokonya ke sini,” ucapnya tenang, tapi suaranya mengandung tekanan halus yang sulit dijelaskan.
Pelayan itu mendengus kasar.
“Rakyat miskin sepertimu mau apa memanggil pemilik toko? Dasar pengemis.”
Sekeliling mulai memperhatikan. Beberapa pengunjung lain melirik ke arah mereka dengan tatapan penasaran.
Pelayan itu semakin kesal karena Valerian tetap diam, hanya menatap tanpa gentar. Akhirnya, pelayan itu maju dan mendorong Valerian dengan kasar.
“Keluar dari sini, dasar bocah—”
Belum sempat kalimat itu selesai, Alaric sudah bergerak lebih cepat.
Ia menarik tubuh Valerian ke belakang dan menahan tangan pelayan itu. Mata Alaric memancarkan amarah yang jarang terlihat.
“Berani sekali kau menyentuh panger—”
Kalimat itu tertahan di tenggorokannya. Ia hampir saja menyebut “pangeran”, tapi segera menggigit bibirnya agar tidak terpancing emosi.
Suasana di toko mendadak tegang. Para pembeli yang tadinya berbisik kini diam, hanya suara kain yang terhempas pelan terdengar di udara.
Valerian menatap tajam pelayan itu — kali ini tatapannya cukup untuk membuat udara di sekitar mereka terasa berat.
Ada sesuatu dalam diri anak berwajah lembut itu, sesuatu yang membuat pelayan itu tanpa sadar mundur setapak, dadanya berdebar tanpa sebab.
“Aku bilang, panggil pemilikmu. Sekarang.”
Suara Valerian datar, tapi setiap katanya seperti perintah dari seseorang yang jauh lebih tinggi dari bangsawan biasa.
“Alaric, apa istana sering mengadakan pesta?”
tanya Valerian sambil memeriksa kain yang baru dipilihnya.
Alaric menatap ke arah pangerannya.
“Tentu, Pangeran. Setiap bulan ada pesta kerajaan. Tapi… Anda tidak memiliki pakaian untuk acara semacam itu.”
Valerian tersenyum tipis, matanya menatap jauh.
“Aku tidak butuh itu.”
Jawabannya terdengar ringan, tapi di baliknya ada nada getir yang sulit dijelaskan.
Setelah selesai memilih pakaian, Valerian menyerahkan beberapa koin emas kepada pelayan toko. Duke yang masih berdiri di sana sempat menawarkan diri untuk membayarnya, namun Valerian menolak dengan sopan tapi tegas.
“Terima kasih, Tuan Duke, tapi aku ingin membayar dengan uangku sendiri.”
Duke menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil.
“Baiklah. Dunia akan jauh lebih adil jika semua bangsawan sepertimu.”
Setelah semua urusan selesai, Valerian dan Alaric meninggalkan toko dan kembali menuju Istana Utara. Jalanan mulai sepi, matahari perlahan turun di ufuk barat.
Valerian menatap langit senja yang perlahan berubah oranye keunguan. Pikirannya dipenuhi rencana — ramuan baru yang ingin ia buat, tanaman obat yang akan ia budidayakan di taman istana, dan… kemungkinan besar, langkah besar yang harus ia ambil suatu hari nanti.
Malam tiba.
Langit berubah gelap, dan hanya suara jangkrik terdengar samar dari luar.
Valerian berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar yang penuh bayangan.
“Rasanya membosankan tanpa ponsel,” gumamnya pelan, senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
Suara langkah kaki lembut terdengar mendekat.
“Pangeran, air mandinya sudah saya siapkan,” ujar Alaric lembut.
Valerian bangkit perlahan.
“Baiklah, terima kasih, Alaric.”
Ia berjalan santai menuju kamar mandi. Di dalam, uap hangat mulai memenuhi ruangan, aroma herbal dari tanaman yang dikeringkan Alaric membuat udara terasa menenangkan.
Valerian melepas jubah hitamnya dan menatap pantulan dirinya di permukaan air yang tenang.
Rambut perak, mata emas — dua ciri yang tak mungkin dimiliki rakyat biasa.
Ia menatap bayangannya lama, seolah sedang melihat seseorang lain yang bersembunyi di balik dirinya.
“Aku tak butuh pesta…” bisiknya pelan.
“...karena suatu hari nanti, seluruh istana akan menunduk dengan sendirinya.”
Valerian merilekskan tubuhnya, membiarkan air hangat menyentuh kulitnya perlahan.
Uap tipis memenuhi ruangan, menenangkan otot-ototnya yang tegang setelah seharian berjalan di pasar.
Ia memejamkan mata, menikmati sensasi damai yang sudah lama tak ia rasakan — seolah semua kebisingan dunia menghilang bersama riak air yang lembut menyentuh kulitnya.
“Air hangat… memang pilihan terbaik,” gumamnya pelan.
Beberapa menit kemudian, ia selesai mandi. Valerian keluar dari kamar mandi dengan handuk tipis yang menutupi tubuh mungilnya. Butiran air menetes dari rambut peraknya, menelusuri lehernya dan jatuh ke lantai batu yang dingin.
Alaric, yang sudah menunggu di dekat meja, segera menghampiri.
Tanpa banyak bicara, ia membantu Valerian mengenakan pakaian — kemeja putih sederhana dan celana longgar berwarna abu pudar.
Meski warnanya lusuh dan tak semewah pakaian para bangsawan, di tubuh Valerian pakaian itu terlihat berbeda; bersih, rapi, dan entah kenapa justru berwibawa.
Setelahnya, Alaric mengambil sisir kayu kecil dan perlahan menyisir rambut perak pangerannya.
Setiap helai rambut yang jatuh mengikuti gerakan sisir itu berkilau samar terkena cahaya lilin.
“Rambut Anda selalu tampak indah, Pangeran,” ucap Alaric dengan senyum kecil.
Valerian hanya menatap pantulan dirinya di cermin kecil di meja.
Tatapan mata emas itu tenang — tapi di balik ketenangan itu, tersimpan sesuatu yang lebih dalam: kehampaan, dan tekad.
“Mungkin karena rambut ini satu-satunya warisan yang tersisa darinya,” jawab Valerian pelan, hampir seperti berbicara pada diri sendiri.
Alaric berhenti sejenak, lalu menunduk dengan hormat.
Kamar itu kembali sunyi, hanya suara angin malam yang berembus melewati jendela.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Argantara Shien
bagian ini berulang ya kak
2026-04-19
0