episode 5

Valerian berbaring di atas kasurnya yang keras. Ia mengerutkan kening pelan — pinggangnya mulai terasa nyeri.

“Kasur ini benar-benar menyiksa…” gumamnya lirih.

Setelah beberapa saat berguling tanpa hasil, ia akhirnya duduk dan menghela napas panjang.

Udara malam cukup sejuk, jadi ia memutuskan untuk keluar mencari angin.

Langkahnya perlahan membawa dia ke luar kamar.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, Valerian benar-benar memperhatikan sekeliling istana utara.

Bangunan tua itu dipenuhi lumut dan tanaman merambat, sebagian dindingnya mulai retak, dan beberapa pilar bahkan hampir roboh.

“Benar-benar buruk,” katanya pelan sambil menatap reruntuhan di sudut taman.

Ia terus berjalan tanpa arah. Langkah kecilnya bergema di antara lorong-lorong sepi, sampai akhirnya ia sadar — ia tersesat.

Namun di balik pepohonan dan dinding tua, mata emasnya menangkap cahaya yang berbeda.

Sebuah bangunan besar tampak berdiri megah di kejauhan, diterangi cahaya obor dan kristal sihir. Dindingnya berkilau, jendelanya dipenuhi kaca berwarna, dan atapnya menjulang tinggi dengan lambang phoenix kerajaan.

“Istana ini…” Valerian menatap kagum, suaranya nyaris tak terdengar.

“...sangat indah.”

Rasa takjubnya membuatnya mendekat tanpa sadar.

Namun langkahnya terhenti ketika melihat dua sosok berpakaian mewah berjalan ke arah pintu utama. Salah satunya bermahkota kecil di dada — tanda tangan kanan Raja.

Valerian segera mundur dan bersembunyi di balik dinding batu.

Dari tempatnya berdiri, ia bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.

“Yang Mulia Raja, besok adalah ulang tahun Putra Mahkota yang ke–19. Semua persiapan sudah selesai,” ujar pria itu — Eryx, tangan kanan Raja.

Suara berat Raja Maelrick terdengar pelan tapi tegas.

“Pastikan semuanya sempurna.”

“Tapi Yang Mulia,” lanjut Eryx ragu, “bagaimana dengan Pangeran Ketiga?”

Hening sesaat. Lalu suara Raja terdengar dingin, tanpa sedikit pun emosi.

“Biarkan saja. Jangan membahas anak itu lagi.”

Dada Valerian terasa sesak.

Ia tidak marah, tidak juga terkejut — hanya diam.

Senyum tipis muncul di bibirnya, tapi senyum itu kosong.

“Begitu rupanya…” bisiknya pelan.

Ia berbalik perlahan, meninggalkan istana megah itu tanpa suara.

Langkah kakinya terasa berat, tapi wajahnya tetap datar.

Begitu sampai kembali di Istana Utara, Valerian langsung menuju kamarnya.

Tubuhnya lelah, tapi bukan karena berjalan jauh — melainkan karena kata-kata yang baru saja ia dengar.

Ia berbaring di kasur keras itu lagi, menatap langit-langit kamar yang gelap.

Untuk sesaat, ia merasa dunia ini benar-benar sunyi.

“Raja, huh…” gumamnya pelan sebelum menutup mata.

“Baiklah. Kalau itu maumu, aku akan hidup tanpa restumu.”

Dan malam pun berlalu dalam diam.

Cahaya matahari pagi menembus celah jendela yang retak, memantulkan debu yang menari di udara.

Burung-burung kecil berkicau di kejauhan, sementara embun masih menempel di rumput liar di halaman belakang istana utara.

Valerian membuka matanya perlahan. Malam tadi terasa panjang, tapi pikirannya kini jauh lebih tenang.

Ia duduk di tempat tidur keras itu, mengusap wajahnya pelan sebelum berdiri dan mengenakan pakaian sederhana yang sudah disiapkan Alaric.

Beberapa menit kemudian, Alaric masuk dengan membawa nampan.

“Selamat pagi, Pangeran. Ini sarapan Anda.”

Valerian hanya mengangguk pelan. Di atas meja ada roti hangat, sedikit keju, dan teh herbal yang masih mengepul.

Meski sederhana, aroma teh itu cukup menenangkan.

“Terima kasih, Alaric.”

Alaric tersenyum kecil, lalu menyingkir dengan tenang.

Valerian menikmati sarapannya tanpa banyak bicara. Setiap gerakannya pelan dan teratur — kebiasaan yang ia bawa dari kehidupannya dulu sebagai pembunuh bayaran. Tidak ada gerakan yang sia-sia, tidak ada waktu yang terbuang.

Selesai makan, ia mengambil jubah hitamnya dan melangkah keluar kamar menuju taman belakang.

Udara pagi masih dingin, embun membasahi alas kakinya, tapi Valerian tidak peduli.

Ia berdiri di tengah taman yang sepi, menutup matanya, dan mulai memusatkan kekuatannya.

Bayangan di bawah kakinya bergerak pelan mengikuti arah tangannya. Uap sihir hitam samar muncul di udara — lembut tapi padat.

“Kendalikan, jangan lawan,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Sihir kegelapan merespons perintahnya. Meski belum stabil, kekuatan itu mulai membentuk pola. Kali ini tak ada rasa sakit, hanya sensasi dingin yang menjalar di ujung jari.

Setelah beberapa menit, Valerian menghentikan latihannya dan menarik napas panjang.

“Lebih baik dari kemarin,” ujarnya singkat, lalu tersenyum tipis.

Ia kembali ke dalam istana, mengambil handuk dan menuju kamar mandi.

Air hangat menyambut tubuhnya yang lelah. Setelah mandi, Valerian mengenakan pakaian bersih dan mengeringkan rambut peraknya dengan perlahan.

Selesai berpakaian, ia menuju ruang baca kecil di ujung koridor.

Ruangan itu dipenuhi buku-buku lama yang sudah berdebu. Beberapa halaman bahkan mulai rapuh dimakan usia.

Namun, mata Valerian berbinar ketika melihat rak berisi catatan kuno tentang sihir kuno dan ramuan langka.

“Sepertinya istana tua ini masih punya harta yang belum ditemukan,” gumamnya sambil membuka salah satu buku.

Ia duduk di kursi kayu tua, membuka halaman demi halaman. Tulisan kuno dan simbol sihir terpampang jelas, membuat pikirannya langsung fokus.

Bagi Valerian, pagi yang sederhana seperti ini justru memberi ketenangan — sarapan, latihan, mandi, membaca.

Semuanya terasa damai…

…tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu, ketenangan ini tidak akan bertahan lama.

Episodes
1 episode 1
2 episode 2
3 episode 3
4 episode 4
5 episode 5
6 episode 6
7 episode 7
8 episode 8
9 episode 9
10 episode 10
11 episode 11
12 episode 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 latihan bersama sir ezekiel
32 tubuh ku terasa remuk
33 pembunuh bayaran
34 berita besar
35 anda hebat pangeran!
36 berpisah
37 kebenaran
38 aneh tapi itulah pangeran valerian
39 pesta jagung
40 menuju akademi
41 majikan berbeda dari yang lain
42 ujian
43 rencana pangeran ke dua
44 murid terbaik
45 rencana pangeran valerian
46 haruskah aku memilih kelas?
47 bukit perburuan
48 permainan catur
49 teman atau bidak
50 Antara percaya dan luka
51 pengetahuan yang di larang
52 Senyum di balik papan catur
53 kucing perak dan serigala
54 Rumor yang lebih berbahaya
55 Serigala di kelas pedang
56 kepercayaan setelah pengkhianatan
57 satu bidak telah gugur
58 merindukan dunia lama
59 permainan telah di mulai
60 bidak mulai bergerak
61 jebakan sang pangeran
62 memancing kesempatan
63 strategi di balik secangkir teh
64 strategi di balik secangkir teh
65 satu bidak di atas catur
66 topeng seorang pangeran
67 mencuri cahaya sang pahlawan
68 langkah di balik layar
69 pangeran yang menghilang
70 air mata sang pangeran
71 membiarkan musuh bersinar
72 menuju jantung wabah
73 hutan yang menyimpan rahasia
74 rahasia di balik mata emas
75 rahasia di balik sungai hitam
76 wajah di balik sang tabib
77 fondasi yang mulai retak
78 kabar sang putra mahkota
79 mahkota yang jatuh pada valerian
80 bayangan di balik akademi
81 Hari Baru, Masalah Baru
Episodes

Updated 81 Episodes

1
episode 1
2
episode 2
3
episode 3
4
episode 4
5
episode 5
6
episode 6
7
episode 7
8
episode 8
9
episode 9
10
episode 10
11
episode 11
12
episode 12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
latihan bersama sir ezekiel
32
tubuh ku terasa remuk
33
pembunuh bayaran
34
berita besar
35
anda hebat pangeran!
36
berpisah
37
kebenaran
38
aneh tapi itulah pangeran valerian
39
pesta jagung
40
menuju akademi
41
majikan berbeda dari yang lain
42
ujian
43
rencana pangeran ke dua
44
murid terbaik
45
rencana pangeran valerian
46
haruskah aku memilih kelas?
47
bukit perburuan
48
permainan catur
49
teman atau bidak
50
Antara percaya dan luka
51
pengetahuan yang di larang
52
Senyum di balik papan catur
53
kucing perak dan serigala
54
Rumor yang lebih berbahaya
55
Serigala di kelas pedang
56
kepercayaan setelah pengkhianatan
57
satu bidak telah gugur
58
merindukan dunia lama
59
permainan telah di mulai
60
bidak mulai bergerak
61
jebakan sang pangeran
62
memancing kesempatan
63
strategi di balik secangkir teh
64
strategi di balik secangkir teh
65
satu bidak di atas catur
66
topeng seorang pangeran
67
mencuri cahaya sang pahlawan
68
langkah di balik layar
69
pangeran yang menghilang
70
air mata sang pangeran
71
membiarkan musuh bersinar
72
menuju jantung wabah
73
hutan yang menyimpan rahasia
74
rahasia di balik mata emas
75
rahasia di balik sungai hitam
76
wajah di balik sang tabib
77
fondasi yang mulai retak
78
kabar sang putra mahkota
79
mahkota yang jatuh pada valerian
80
bayangan di balik akademi
81
Hari Baru, Masalah Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!