Langit yang tadi suram kini berpendar lembut oleh cahaya ungu keperakan dari rambut Libra yang berkilau di setiap helaian anginnya.
Ia berdiri di tengah Colosseum raksasa itu. Berdiri di atas lantai marmer putih yang memantulkan siluetnya seperti refleksi dari langit itu sendiri. Timbangan emas di tangannya berputar pelan, memancarkan cahaya lembut yang menyelimuti seluruh arena.
Libra mengangkat pandangannya ke dua sosok yang duduk di singgasana tinggi. Sang Presiden, dan di sebelahnya The Ancient One dengan zirah emasnya yang berkilauan.
Matanya yang berwarna lembayung menatap dalam.
Lembut.
Namun tajam.
Seperti bisa menembus lapisan jiwa mereka berdua.
“Aku datang dari jauh, dari tempat di mana waktu tidak berjalan seperti di dunia kalian. Aku merasakan panggilan dari saudaraku Matahari. Yang gelisah menatap ke arah planet biru ini. Maka, sebelum aku menimbang, aku ingin tahu. Apa sebenarnya yang terjadi di sini?”
Suara itu mengalun lembut. Setiap nada menggetarkan udara seperti denting harpa.
The Ancient One perlahan berdiri dari singgasananya. Sayapnya terbuka lebar. Menebarkan debu cahaya emas yang jatuh seperti serpihan cahaya.
Suaranya berat dan dalam. Bagaikan berasal dari dasar bumi.
“Wahai Libra, pengadil dari antara bintang. Yang kau lihat ini, hanyalah kesalahan dari dua dunia yang sama-sama buta."
Ia menatap ke arah manusia di tribun seberang.
“Kaum manusia dengan akal dan keberaniannya, membuka celah di antara dimensi demi kekuasaan atas energi yang tak terbatas. Tapi tanpa mereka sadari, celah itu menembus tabir dunia kami. Dunia yang telah lama terpisah di balik keseimbangan.
"Kami para makhluk mitologi, mengira itu adalah serangan. Dan maka kami pun membalas." Suara The Ancient One mulai serak penuh sesal.
“Pertumpahan darah tak terhindarkan. Dunia kami dan dunia mereka kini berbaur dalam kekacauan. Hingga masing-masing dari kami telah kehilangan banyak.” Cakar emasnya mengepal setelah mengucapkan kalimat terakhir.
Libra mendengarkan dengan tenang. Angin berputar lembut di sekelilingnya. Mengangkat debu dan cahaya.
Ia akhirnya menatap keduanya dengan senyum lembut. Senyum yang membuat seluruh Colosseum terasa hangat, meski mendung masih menggantung.
“Jadi begitu? Dua dunia yang sama-sama ingin hidup, tapi tak tahu bagaimana caranya berdamai.”
Ia menatap ke langit. Di mana cahaya Matahari menyorot dan menembus awan seperti memperhatikan balik tanpa beranjak dari tahta langitnya.
“Aku bersyukur datang ke sini. Ternyata dia memanggilku bukan tanpa alasan.”
Ia menurunkan pandangan. Langkahnya ringan saat ia berjalan. Setiap pijakannya memunculkan riak cahaya seperti lingkaran air di permukaan danau.
“Maka dengarlah,” ucapnya tegas.
“Aku, Libra, anak langit dan saudara bintang, akan menjadi pengadil bagi kalian. Aku tidak berpihak pada manusia, tidak pula pada mitologi. Aku berpihak pada keseimbangan itu sendiri.”
Cahaya dari timbangan emasnya meledak lembut membentuk lingkaran raksasa di udara seperti halo surgawi.
“Mulai hari ini, aku akan menimbang setiap tindakan, setiap niat, setiap jiwa yang bertarung di bawah langit ini. Dan siapa pun yang condong pada keserakahan, akan kehilangan tempatnya di dunia baru yang akan lahir dari pertarungan ini.”
Presiden menatapnya dengan takjub. “Kau? Akan mengadili kami semua?” tanyanya perlahan.
Libra menatapnya dan tersenyum.
“Bukan mengadili untuk menghukum, Tuan Presiden. Aku akan mengadili untuk menemukan kebenaran yang tertinggal di antara darah dan debu.”
The Ancient One mengangguk hormat. Tanpa mencondongkan tubuhnya terlalu dalam.
“Maka dunia ini kini berada di tanganmu, wahai Sang Libra dari bintang-bintang.”
Gemuruh sorakan mulai terdengar dari beberapa bangku tribun. Sebagian terdiam dengan helaan napas lega. Seolah harapan benar-benar ada.
Dan di atas mereka, awan yang semula gelap kini terbuka perlahan dan menampakkan Matahari yang bersinar lembut, seolah ikut tersenyum menyambut sang pengadil dari langit.
Langit di atas Colosseum perlahan berubah. Mendung ungu yang lembut kini bercampur dengan sinar keemasan yang menembus celah awan. Udara terasa bergetar halus, pertanda sesuatu yang besar akan dimulai.
Tiba-tiba, suara dengungan halus terdengar dari segala arah.
Di beberapa sudut tribun, tiba-tiba atap tribun terbuka. Lalu memunculkan layar holografik yang dipenuhi rune menggantung di setiap langit-langit tribun. Bagaikan mata raksasa yang terbangun.
Dua layar raksasa berdiri di setiap tribun barisan manusia dan mitologi dengan posisi saling berhadapan. Seakan ingin beradu siapa yang lebih baik dalam menampilkan tayangan.
Seluruh penonton menatapnya dengan campuran takjub dan waspada.
Libra yang berdiri di tengah arena, memandangnya dengan kening berkerut.
“Jadi? Itu alat yang diciptakan manusia?” Nada suaranya lembut, tapi penuh rasa ingin tahu.
Presiden yang duduk di singgasana di sebelah The Ancient One menatap layar itu dengan sorot mata khawatir.
“Benar, Nona Libra,” jawabnya perlahan.
“Mekanisme pemanggilan petarung. Alat yang kami gunakan untuk mencantumkan nama peserta yang akan hadir untuk mewakili setiap ras.”
Lalu, terdengar suara gong raksasa bergema dari dalam Colosseum.
Tanah bergetar. Awan bergolak. Dari bawah tribun barisan mitologi, sebuah lingkaran sihir berwarna merah keemasan muncul. Berputar pelan dan memancarkan angin yang harum seperti kelopak bunga melati di musim semi.
Dari sana, muncul sosok wanita jelita berwajah halus. Bermata tajam berwarna kuning madu. Dengan rambut panjang berwarna sama dengan bola matanya yang bergelombang indah.
Tubuhnya diselimuti kimono tipis dengan gabungan warna merah dan putih yang berkilau seperti cahaya bulan di atas danau. Namun yang paling mencolok adalah sembilan ekor panjang di belakangnya, bergerak lembut seolah hidup dengan pikirannya sendiri.
Seluruh arena langsung menahan napas.
“Huli Jing…” bisik seseorang di tribun makhluk mitologi.
“Penipu ilusi dari Timur…” sambung yang lain dengan nada kagum bercampur takut.
Huli Jing melangkah pelan, setiap langkahnya meninggalkan jejak cahaya samar di udara.
Ia berhenti di hadapan The Ancient One, lalu menundukkan kepala anggun.
“Paduka,” ucapnya lembut, suaranya seperti denting seruling yang dibelai angin.
“Jika langit menginginkan pertunjukan. Maka aku akan menari di atas panggungnya.”
The Ancient One menatapnya lama, kemudian mengangguk pelan.
“Majulah, Huli Jing. Tunjukkan kebijaksanaan dan kekuatan bangsamu.”
Melihatnya sudah berada ditengah arena, Huli Jing itu pun berjalan menghampiri Sang Libra.
Ia berdiri di depannya. Merendahkan tubuhnya singkat. Dengan senyum simpul yang terlalu manis untuk dianggap sopan.
“Sang Pengadil dari antara bintang. Kehormatan besar bagiku dapat berada di bawah tatapanmu.”
Libra menatap lembut, senyumnya kecil namun sarat makna.
“Bangkitlah, Huli Jing. Keadilan tidak melihat siapa yang menunduk. Tapi siapa yang berani berdiri dengan hati bersih.”
Alis Huli Jing berkerut. Namun senyumnya masih bertahan di wajahnya yang ayu. Ekor-ekornya berayun perlahan, memantulkan kilau pelangi halus di udara.
Tepat pada saat itu, monitor raksasa di atas tribun mulai bergerak acak. Tulisan-tulisan aneh menari di layar membentuk huruf berwarna merah menyala
[PERWAKILAN DARI KUBU MITOLOGI : HULI JING — THE ILLUSION FOX]
Penonton dari kubu mitologi bersorak meriah, suara mereka bergema hingga ke langit. Nama itu membawa kebanggaan bagi mereka. Legenda penipu yang mampu memperdaya bahkan naga sekalipun.
Namun, di sisi tribun manusia, terutama bagi mereka yang mengenal legenda Asia Timur, wajah-wajah mereka tampak tegang. Beberapa saling berbisik dengan nada gugup. Karena mereka tahu, Huli Jing bukan makhluk biasa.
Ia adalah legenda yang dalam kisah manusia sering diibaratkan iblis yang menawan. Makhluk yang bisa membuat seseorang tersesat antara mimpi dan kenyataan tanpa pernah kembali.
Libra memperhatikan reaksi dari manusia. Lalu kembali ke arah Huli Jing yang kini nampak sedang menikmati sorakan yang sedang menggaungkan namanya.
Matanya yang berwarna ungu lembut memantulkan cahaya dari monitor.
“Sungguh aura yang memesona. Namun seperti sedang menyimpan kabut di balik kilaunya,” ujarnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.
Ia kemudian menatap layar yang kini mulai berputar kembali, seolah bersiap menampilkan nama lawan dari Huli Jing.
Udara menjadi tegang, seolah seluruh langit menahan napas menunggu siapa yang akan maju dari kubu manusia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
Mingyu gf😘
wahh kayak mau nimbang dosa dan pahala ya🙏😄
2025-11-04
1
PrettyDuck
masih bingung kenapa TAO bisa ngomong sebijak ini tapi gak bisa nurunin ego untuk berdamai aja.
mereka udah tau missed nya di mana tapi tetep mau perang tuh kenapa??
bukannya akan lebih banyak nyawa jadi korban kalo gak damai?
makanya yang mimpin tuh cewek aja kata aku teh. lebih chill pasti /Slight/
2026-02-01
0
Nadinta
Aku mau komen, konsep ruang persidangan ini cemerlang banget si. Kaya ada Libra yang menengahi dua konflik..
Tapi aku juga penasaran sama komen kak Ris di atas wkwkwk
2026-01-04
0