Twelves Trials Of Fate (Myth Vs Human)
Angin gurun berhembus kencang, membawa butiran pasir yang menusuk kulit seperti jarum halus. Matahari menggantung rendah, memancarkan cahaya merah keemasan yang menyelimuti hamparan pasir tanpa ujung.
Di tengah lautan pasir itu, deru mesin terdengar meraung. Beberapa jeep militer melaju kencang, bannya menghantam permukaan gurun, meninggalkan jejak panjang yang segera tertelan angin.
Empat prajurit di setiap kendaraan menggenggam senjata mereka erat. Keringat bercampur debu menempel di wajah yang terbungkus di balik sorban putih yang menutup wajah. Namun mata mereka tetap tajam, menatap ke depan.
“Terdapat pergerakan dari bawah pasir!”
Tiba-tiba—
Pasir di hadapan mereka bergejolak.
Seperti sesuatu yang mendidih di bawah permukaan, butiran pasir bergetar, lalu meledak ke atas. Dari dalamnya, tangan-tangan kering muncul: kulit membusuk, tulang terlihat jelas, kain pembungkus tubuh yang lapuk terurai diterpa angin.
Satu.
Dua.
Lalu puluhan.
Dalam hitungan detik, ratusan mumi bangkit dari dalam tanah, mata kosong mereka menghadap ke arah para prajurit. Gerakan mereka kaku, namun tak terhentikan.
"Graghh!"
“Tembak!!”
Rentetan peluru memecah keheningan gurun. Kilatan senjata otomatis menyambar, menghantam tubuh-tubuh kering itu. Beberapa mumi hancur, dan terlempar kembali ke pasir.
Beberapa berhasil ditumbangkan. Tubuh mereka yang ambruk, lekas menguap bagaikan tetesan air di padang gurun.
Namun, seperti pepatah mati satu tumbuh seribu, pasir kembali bergejolak. Diikuti mumi lain muncul satu persatu.
Jeep berputar mencoba menjaga jarak. Salah satu prajurit berdiri di belakang kendaraan, menembakkan senapan berat tanpa henti. Selongsong peluru berjatuhan, berdenting panas di atas logam kendaraan.
“Jumlah mereka terus bertambah! Kita tak bisa terus-terusan membuang amunisi!”
Angin semakin kencang. Badai pasir mulai terbentuk hingga mengaburkan pandangan.
Dan di balik badai itu, siluet besar mulai terlihat.
Di kejauhan, berdiri sosok yang tak bergerak.
Tubuhnya megah, setengah terkubur oleh pasir yang berputar di sekelilingnya. Wajahnya tenang, namun mata itu—mata itu memandang seluruh kekacauan seperti seorang raja yang mengawasi pasukannya.
Sphinx.
Makhluk kuno itu tidak menyerang. Tidak pula bergerak.
Namun setiap kali angin berhembus, setiap kali pasir bergeser, memunculkan lebih banyak mumi bangkit. Seolah gurun itu sendiri adalah perintahnya.
Seorang prajurit menatap ke arah sosok itu dengan napas tertahan.
“Itu? Itu apa?”
Rentetan peluru dengan tangan gemetar kembali menggema. Jeep terus melaju, berusaha keluar dari uluran tangan-tangan mumi yang terus muncul dari bawah pasir.
Gurun itu kini bukan lagi tanah kosong.
Ia telah menjadi makam yang menolak untuk tetap diam.
---
Di belahan dunia lain, hanya ada hamparan putih yang terlalu kontras dengan warna emas pasir gurun.
Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan salju yang membungkus hutan pinus dengan keheningan yang menekan. Angin berdesir pelan, membawa butiran es yang berkilau seperti serpihan kaca.
Di tengah lanskap beku itu, satu peleton pasukan bergerak perlahan.
Seragam putih mereka menyatu sempurna dengan lingkungan, nyaris tak terlihat jika bukan karena bayangan samar yang bergeser di antara pepohonan.
Di kepala mereka, night vision menyala redup—lensa hijau yang memindai setiap gerakan sekecil apa pun. Nafas mereka membentuk uap tipis, langsung menghilang ditelan udara dingin.
"Whoshhh!"
Suara napas dingin beriringan dengan langkah yang hati-hati.
“Regu serigala kutub mencoba menyisir area selatan. Pemindaian area akan terus kami perbarui tiap beberapa menit,” bisik salah satu komandan melalui radio.
"Dimengerti."
Moncong senjata bergerak mengikuti arah pandang. Mata mereka menyisir setiap celah di antara batang pinus yang tinggi dan gelap.
Karena mereka tahu, yang mereka hadapi tidak terlihat sampai terlambat.
Di kejauhan, suara ranting patah tiba-tiba terdengar. Membuat sepuluh anggota itu refleks semua berhenti.
Jari-jari mengencang di pelatuk.
Night vision berputar ke arah suara. Tidak ada apa-apa. Hanya pepohonan. Salju. Bayangan.
Lalu—
Bayangan itu bergerak Cepat.
Terlalu cepat.
Salah satu prajurit menoleh, tapi hanya sempat melihat sesuatu melintas di antara pohon—tinggi, kurus, dengan gerakan yang tidak wajar. Seperti tubuh yang dipaksa bergerak oleh kelaparan.
“Serangan! Di selat—!”
Kalimat itu terputus. Regu lain menoleh ke arah area yang belum sempat diucapkan secara sempurna.
Sosok itu sudah tidak ada.
Hanya jejak kaki panjang yang tertanam dalam salju, dan bekas cakar yang menggores tubuh anggota paling belakang.
Detak jantung mulai tak teratur. Nafas mereka semakin berat.
“Wendigo…” gumam seseorang, hampir tak terdengar.
Angin tiba-tiba berubah arah. Lebih dingin. Lebih tajam.
Suhu pun ikut turun drastis.
Dari balik pepohonan, dari atas cabang, dari belakang bayangan, mereka mulai mengelilingi regu itu.
Siluet-siluet tinggi dengan tulang mencuat, mata redup yang memantulkan cahaya night vision, dan gerakan yang patah namun cepat.
Membuat rentetan peluru langsung dilepaskan. Kilatan senjata memecah kegelapan bagaikan kembang api di padang salju.
Makhluk itu ikut beradaptasi.
Mereka meloncat. Berlari di antara batang pohon. Menghilang. Lalu muncul lagi di sudut yang berbeda. Seperti sedang mempermainkan ketakutan.
Sebuah suara dari radio memotong kekacauan dan menghentikan peluru yang sebelumnya menggema.
Hening langsung merayap. Memperdengarkan alunan desis kematian yang hadir bersama desir angin.
Suara lain masuk dengan nada ebih tenang. Tetapi juga lebih jauh.
Sniper.
“Ini Eagle-1. Saya punya visual dari ketinggian.”
Semua pasukan menahan napas.
“Target bukan hanya makhluk-makhluk itu, Komandan!”
Ada jeda. Beberapa anggota refleks siaga dan menyisir pandangan diantara semak yang bergoyang.
“Ada sesuatu yang membantu penyerangan di belakang mereka.”
Lensa sniper memperbesar. Menembus badai salju yang mulai terbentuk.
Di kejauhan sana, berdiri sosok wanita berdiri diam.
Gaunnya menyatu dengan salju, rambutnya tergerai mengikuti angin yang tidak menyentuh yang lain. Tangannya terangkat perlahan dan setiap gerakannya membuat salju di sekitarnya bergerak seperti hidup.
“Dia penyihir pengendali salju!”
Telunjuk sang sniper menekan pelatuk. Peluru melesat menembus kabut salju bagaikan meteor kecil yang menyibak atmosfer.
Namun di tengah lintasan, butiran es mulai terbentuk di sekelilingnya. Yang membuat peluru itu membeku dalam hitungan detik.
Peluru jatuh dan tenggelam diantara selimut salju. Tak pernah mencapai target.
Sunyi.
Radio kembali berbunyi, kali ini dengan nada yang berbeda.
Lebih berat.
“Ini bukan target biasa…”
Jeda panjang.
“Kita butuh dukungan penuh dari pusat. Ulangi—kita butuh bantuan skala militer penuh.”
Di bawah sana, di antara pepohonan beku, para prajurit mulai menyadari satu hal:
Mereka bukan sedang berburu.
Mereka sedang diburu.
---
Langit di atas negara kepulauan menggelap.
Bukan karena malam. .elainkan karena sesuatu yang bergerak di bawah permukaan laut.
Ombak yang biasanya berirama kini berguncang tak beraturan. Air laut naik turun seperti dada yang terengah, menandakan sesuatu yang terlalu besar sedang bangkit dari kedalaman.
Sirine bahaya meraung di sepanjang garis pantai.
Warga sipil berlarian, sebagian menoleh ke belakang dengan wajah memucat, menyaksikan laut yang mulai menggila. Anak-anak menangis, orang dewasa menggenggam tangan keluarga mereka erat-erat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menahan dunia agar tidak runtuh.
Di kejauhan, permukaan laut mulai terbelah.
Sebuah bayangan raksasa muncul perlahan, diikuti suara gemuruh yang tidak berasal dari langit. Air laut terangkat seperti ditolak oleh sesuatu dari bawah.
Lalu ia muncul.
Leviathan dengan tinggi puluhan meter.
Tubuhnya menjulang, diselimuti air yang jatuh seperti hujan deras dari sisiknya. Setiap gerakan membuat ombak menggulung tinggi, menghantam kapal-kapal yang terlalu dekat. Raungannya menggema: dalam, berat, dan cukup untuk membuat dada siapa pun bergetar tanpa sadar.
“Target visual terkonfirmasi!”
Di daratan, barisan militer sudah bersiaga atas laporan sebelumnya. Kendaraan tempur berjajar, radar berputar, dan moncong peluncur mengarah ke laut.
“Kunci target!”
Lampu indikator menyala.
Dalam hitungan detik, rudal diluncurkan.
Suara ledakan memecah udara, garis api melesat menuju makhluk itu. Langit seakan dipenuhi cahaya yang mengarah ke satu titik yang sama.
Ledakan menghantam tubuh monster itu. Air dan asap membumbung tinggi, menciptakan kabut panas di atas laut.
Makhluk itu meraung bagaikan terompet yang menggema di antara awan. Mengguncang kaca-kaca bangunan di sepanjang pesisir.
Byurrr!!
Makhluk itu tumbang hingga menghasilkan ombak tsunami yang menghantam daratan. Lalu menyapu apa saja yang berada di jalurnya.
Di garis evakuasi, seorang tentara berlutut di depan seorang anak kecil yang menangis. Tangannya gemetar, tapi ia tetap memaksakan senyum.
“Tidak apa-apa… kami di sini. Kamu akan baik-baik saja.”
Di belakangnya, langit kembali menyala oleh peluncuran rudal berikutnya.
Di sisi lain, seorang komandan menatap layar radar dengan rahang mengeras.
“Terus tembak! Jangan beri celah meski target terdeteksi melemah!”
Namun di dalam dirinya, ia tahu.
Ini bukan musuh yang bisa dijatuhkan hanya dengan kekuatan api.
Sirine terus meraung. Raungan monster terus menggema dari bawah permukaan laut.
Samudera Pasifik yang luas tiba-tiba bergetar.
Gelombang berubah liar, berputar membentuk pusaran raksasa. Langit di atasnya retak oleh cahaya yang tak wajar. Menghasilkan sebuah lingkaran energi yang terbuka perlahan, membelah cakrawala antara laut dan langit.
Portal dari kesalahan proyek Helios itu pun muncul.
Cahaya dari dalamnya berdenyut, memancarkan energi yang membuat ombak menjauh seolah takut mendekat. Kamera satelit, drone militer, hingga siaran langsung dari berbagai negara, serempak mengarah ke satu titik yang sama. Dunia seakan ikut menahan napas.
Lalu…
Sosok itu melangkah keluar.
Besar.
Tubuhnya menyerupai manusia, kekar dan berotot. Namun kepalanya berparuh tajam, dan pergelangan tangannya berupa cakar yang mematikan—bagaikan Garuda yang menjelma dalam wujud hidup.
Zirah emas di dadanya berkilau, memantulkan cahaya pagi yang mulai merekah di ufuk timur. Di punggungnya, sayap emas terbentang luas—begitu besar hingga membentuk bayangan seperti gerhana yang menelan cakrawala. Setiap kepakan sayapnya membuat laut bergetar.
Di ruang siaran berita, suara pembawa acara bergetar menahan ketakutan.
Di markas militer, para jenderal berdiri kaku menatap layar.
Di dalam bunker, warga sipil berkumpul di sekitar radio, mendengarkan dengan napas tertahan.
Dan di tengah samudera itu, sosok tersebut membuka mulutnya.
Suaranya menggema—bukan hanya di udara, tapi seolah langsung terdengar di dalam benak setiap manusia di bumi.
“Aku adalah… The Ancient One.”
Hening. Tak ada yang berani menyela.
“Dunia ini… tidak semestinya diisi oleh dua peradaban.”
Ombak bergulung pelan, seakan laut pun mendengarkan.
“Pengetahuan kuno dan kemajuan teknologi. Sebelumnya telah mencapai keseimbangan.
“Namun... meserakahan pengetahuan kalian telah merobek tabir antara dunia manusia dan dunia kami.”
Bayangan sayapnya menutup sebagian cahaya matahari.
“Puluhan tahun, peperangan bahkan tak menunjukkan tanda-tanda salah satu pihak ingin menyerah.”
Suara itu tidak marah. Tidak pula lembut.
Ia hanya mutlak.
“Jika terus dibiarkan, peperangan yang tidak akan pernah berakhir ini dapat menghancurkan bumi yang terlalu indah untuk lenyap hanya karena ambisi sia-sia."
Seluruh dunia terdiam.
Dan untuk pertama kalinya sejak kekacauan ini dimulai, harapan—atau mungkin ketakutan baru—muncul di antara manusia.
The Ancient One mengangkat kepalanya sedikit, seolah menatap seluruh bumi sekaligus.
“Kirimkan perwakilan dari kalian. Lalu temui aku untuk penawaran yang mungkin akan bisa menyelematkan kalian. Bumi kalian”
Angin berhenti. Laut kembali sunyi.
Namun dunia tahu.
Setelah ini…
Tak akan ada yang sama lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
alisha ♛ ⃟$𝑅࿐☙
dah lah🗿, ternyata novel🗿
2025-11-01
0
☠️⃝🖌️Deep ⃟🌴
/Determined/ Kak, jujur, aku baca mulai dari sini berhenti sebentar dulu. Setelah aku pikir2. Diksi kamu kaya banget. Pokoknya kalau di asah terus, pasti bagus banget tulisan kamu kedepannya. 🫂
2026-01-16
0
Mizuki
pagi-pagi banget udah high-telling kek gini. Yang kek gini biasanya di showing di tengah atau di akhir, dan itu lewat plot, atau prespektif sisi satunya, potensi kehilangan hook gede banget
2025-10-26
1