Twelves Trials Of Fate (Myth Vs Human)

Twelves Trials Of Fate (Myth Vs Human)

Invasi Makhluk Mitologi

Angin gurun berhembus kencang, membawa butiran pasir yang menusuk kulit seperti jarum halus. Matahari menggantung rendah, memancarkan cahaya merah keemasan yang menyelimuti hamparan pasir tanpa ujung.

Di tengah lautan pasir itu, deru mesin terdengar meraung. Beberapa jeep militer melaju kencang, bannya menghantam permukaan gurun, meninggalkan jejak panjang yang segera tertelan angin.

Empat prajurit di setiap kendaraan menggenggam senjata mereka erat. Keringat bercampur debu menempel di wajah yang terbungkus di balik sorban putih yang menutup wajah. Namun mata mereka tetap tajam, menatap ke depan.

“Terdapat pergerakan dari bawah pasir!”

Tiba-tiba—

Pasir di hadapan mereka bergejolak.

Seperti sesuatu yang mendidih di bawah permukaan, butiran pasir bergetar, lalu meledak ke atas. Dari dalamnya, tangan-tangan kering muncul: kulit membusuk, tulang terlihat jelas, kain pembungkus tubuh yang lapuk terurai diterpa angin.

Satu.

Dua.

Lalu puluhan.

Dalam hitungan detik, ratusan mumi bangkit dari dalam tanah, mata kosong mereka menghadap ke arah para prajurit. Gerakan mereka kaku, namun tak terhentikan.

"Graghh!"

“Tembak!!”

Rentetan peluru memecah keheningan gurun. Kilatan senjata otomatis menyambar, menghantam tubuh-tubuh kering itu. Beberapa mumi hancur, dan terlempar kembali ke pasir.

Beberapa berhasil ditumbangkan. Tubuh mereka yang ambruk, lekas menguap bagaikan tetesan air di padang gurun.

Namun, seperti pepatah mati satu tumbuh seribu, pasir kembali bergejolak. Diikuti mumi lain muncul satu persatu.

Jeep berputar mencoba menjaga jarak. Salah satu prajurit berdiri di belakang kendaraan, menembakkan senapan berat tanpa henti. Selongsong peluru berjatuhan, berdenting panas di atas logam kendaraan.

“Jumlah mereka terus bertambah! Kita tak bisa terus-terusan membuang amunisi!”

Angin semakin kencang. Badai pasir mulai terbentuk hingga mengaburkan pandangan.

Dan di balik badai itu, siluet besar mulai terlihat.

Di kejauhan, berdiri sosok yang tak bergerak.

Tubuhnya megah, setengah terkubur oleh pasir yang berputar di sekelilingnya. Wajahnya tenang, namun mata itu—mata itu memandang seluruh kekacauan seperti seorang raja yang mengawasi pasukannya.

Sphinx.

Makhluk kuno itu tidak menyerang. Tidak pula bergerak.

Namun setiap kali angin berhembus, setiap kali pasir bergeser, memunculkan lebih banyak mumi bangkit. Seolah gurun itu sendiri adalah perintahnya.

Seorang prajurit menatap ke arah sosok itu dengan napas tertahan.

“Itu? Itu apa?”

Rentetan peluru dengan tangan gemetar kembali menggema. Jeep terus melaju, berusaha keluar dari uluran tangan-tangan mumi yang terus muncul dari bawah pasir.

Gurun itu kini bukan lagi tanah kosong.

Ia telah menjadi makam yang menolak untuk tetap diam.

---

Di belahan dunia lain, hanya ada hamparan putih yang terlalu kontras dengan warna emas pasir gurun.

Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan salju yang membungkus hutan pinus dengan keheningan yang menekan. Angin berdesir pelan, membawa butiran es yang berkilau seperti serpihan kaca.

Di tengah lanskap beku itu, satu peleton pasukan bergerak perlahan.

Seragam putih mereka menyatu sempurna dengan lingkungan, nyaris tak terlihat jika bukan karena bayangan samar yang bergeser di antara pepohonan.

Di kepala mereka, night vision menyala redup—lensa hijau yang memindai setiap gerakan sekecil apa pun. Nafas mereka membentuk uap tipis, langsung menghilang ditelan udara dingin.

"Whoshhh!"

Suara napas dingin beriringan dengan langkah yang hati-hati.

“Regu serigala kutub mencoba menyisir area selatan. Pemindaian area akan terus kami perbarui tiap beberapa menit,” bisik salah satu komandan melalui radio.

"Dimengerti."

Moncong senjata bergerak mengikuti arah pandang. Mata mereka menyisir setiap celah di antara batang pinus yang tinggi dan gelap.

Karena mereka tahu, yang mereka hadapi tidak terlihat sampai terlambat.

Di kejauhan, suara ranting patah tiba-tiba terdengar. Membuat sepuluh anggota itu refleks semua berhenti.

Jari-jari mengencang di pelatuk.

Night vision berputar ke arah suara. Tidak ada apa-apa. Hanya pepohonan. Salju. Bayangan.

Lalu—

Bayangan itu bergerak Cepat.

Terlalu cepat.

Salah satu prajurit menoleh, tapi hanya sempat melihat sesuatu melintas di antara pohon—tinggi, kurus, dengan gerakan yang tidak wajar. Seperti tubuh yang dipaksa bergerak oleh kelaparan.

“Serangan! Di selat—!”

Kalimat itu terputus. Regu lain menoleh ke arah area yang belum sempat diucapkan secara sempurna.

Sosok itu sudah tidak ada.

Hanya jejak kaki panjang yang tertanam dalam salju, dan bekas cakar yang menggores tubuh anggota paling belakang.

Detak jantung mulai tak teratur. Nafas mereka semakin berat.

“Wendigo…” gumam seseorang, hampir tak terdengar.

Angin tiba-tiba berubah arah. Lebih dingin. Lebih tajam.

Suhu pun ikut turun drastis.

Dari balik pepohonan, dari atas cabang, dari belakang bayangan, mereka mulai mengelilingi regu itu.

Siluet-siluet tinggi dengan tulang mencuat, mata redup yang memantulkan cahaya night vision, dan gerakan yang patah namun cepat.

Membuat rentetan peluru langsung dilepaskan. Kilatan senjata memecah kegelapan bagaikan kembang api di padang salju.

Makhluk itu ikut beradaptasi.

Mereka meloncat. Berlari di antara batang pohon. Menghilang. Lalu muncul lagi di sudut yang berbeda. Seperti sedang mempermainkan ketakutan.

Sebuah suara dari radio memotong kekacauan dan menghentikan peluru yang sebelumnya menggema.

Hening langsung merayap. Memperdengarkan alunan desis kematian yang hadir bersama desir angin.

Suara lain masuk dengan nada ebih tenang. Tetapi juga lebih jauh.

Sniper.

“Ini Eagle-1. Saya punya visual dari ketinggian.”

Semua pasukan menahan napas.

“Target bukan hanya makhluk-makhluk itu, Komandan!”

Ada jeda. Beberapa anggota refleks siaga dan menyisir pandangan diantara semak yang bergoyang.

“Ada sesuatu yang membantu penyerangan di belakang mereka.”

Lensa sniper memperbesar. Menembus badai salju yang mulai terbentuk.

Di kejauhan sana, berdiri sosok wanita berdiri diam.

Gaunnya menyatu dengan salju, rambutnya tergerai mengikuti angin yang tidak menyentuh yang lain. Tangannya terangkat perlahan dan setiap gerakannya membuat salju di sekitarnya bergerak seperti hidup.

“Dia penyihir pengendali salju!”

Telunjuk sang sniper menekan pelatuk. Peluru melesat menembus kabut salju bagaikan meteor kecil yang menyibak atmosfer.

Namun di tengah lintasan, butiran es mulai terbentuk di sekelilingnya. Yang membuat peluru itu membeku dalam hitungan detik.

Peluru jatuh dan tenggelam diantara selimut salju. Tak pernah mencapai target.

Sunyi.

Radio kembali berbunyi, kali ini dengan nada yang berbeda.

Lebih berat.

“Ini bukan target biasa…”

Jeda panjang.

“Kita butuh dukungan penuh dari pusat. Ulangi—kita butuh bantuan skala militer penuh.”

Di bawah sana, di antara pepohonan beku, para prajurit mulai menyadari satu hal:

Mereka bukan sedang berburu.

Mereka sedang diburu.

---

Langit di atas negara kepulauan menggelap.

Bukan karena malam. .elainkan karena sesuatu yang bergerak di bawah permukaan laut.

Ombak yang biasanya berirama kini berguncang tak beraturan. Air laut naik turun seperti dada yang terengah, menandakan sesuatu yang terlalu besar sedang bangkit dari kedalaman.

Sirine bahaya meraung di sepanjang garis pantai.

Warga sipil berlarian, sebagian menoleh ke belakang dengan wajah memucat, menyaksikan laut yang mulai menggila. Anak-anak menangis, orang dewasa menggenggam tangan keluarga mereka erat-erat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menahan dunia agar tidak runtuh.

Di kejauhan, permukaan laut mulai terbelah.

Sebuah bayangan raksasa muncul perlahan, diikuti suara gemuruh yang tidak berasal dari langit. Air laut terangkat seperti ditolak oleh sesuatu dari bawah.

Lalu ia muncul.

Leviathan dengan tinggi puluhan meter.

Tubuhnya menjulang, diselimuti air yang jatuh seperti hujan deras dari sisiknya. Setiap gerakan membuat ombak menggulung tinggi, menghantam kapal-kapal yang terlalu dekat. Raungannya menggema: dalam, berat, dan cukup untuk membuat dada siapa pun bergetar tanpa sadar.

“Target visual terkonfirmasi!”

Di daratan, barisan militer sudah bersiaga atas laporan sebelumnya. Kendaraan tempur berjajar, radar berputar, dan moncong peluncur mengarah ke laut.

“Kunci target!”

Lampu indikator menyala.

Dalam hitungan detik, rudal diluncurkan.

Suara ledakan memecah udara, garis api melesat menuju makhluk itu. Langit seakan dipenuhi cahaya yang mengarah ke satu titik yang sama.

Ledakan menghantam tubuh monster itu. Air dan asap membumbung tinggi, menciptakan kabut panas di atas laut.

Makhluk itu meraung bagaikan terompet yang menggema di antara awan. Mengguncang kaca-kaca bangunan di sepanjang pesisir.

Byurrr!!

Makhluk itu tumbang hingga menghasilkan ombak tsunami yang menghantam daratan. Lalu menyapu apa saja yang berada di jalurnya.

Di garis evakuasi, seorang tentara berlutut di depan seorang anak kecil yang menangis. Tangannya gemetar, tapi ia tetap memaksakan senyum.

“Tidak apa-apa… kami di sini. Kamu akan baik-baik saja.”

Di belakangnya, langit kembali menyala oleh peluncuran rudal berikutnya.

Di sisi lain, seorang komandan menatap layar radar dengan rahang mengeras.

“Terus tembak! Jangan beri celah meski target terdeteksi melemah!”

Namun di dalam dirinya, ia tahu.

Ini bukan musuh yang bisa dijatuhkan hanya dengan kekuatan api.

Sirine terus meraung. Raungan monster terus menggema dari bawah permukaan laut.

Samudera Pasifik yang luas tiba-tiba bergetar.

Gelombang berubah liar, berputar membentuk pusaran raksasa. Langit di atasnya retak oleh cahaya yang tak wajar. Menghasilkan sebuah lingkaran energi yang terbuka perlahan, membelah cakrawala antara laut dan langit.

Portal dari kesalahan proyek Helios itu pun muncul.

Cahaya dari dalamnya berdenyut, memancarkan energi yang membuat ombak menjauh seolah takut mendekat. Kamera satelit, drone militer, hingga siaran langsung dari berbagai negara, serempak mengarah ke satu titik yang sama. Dunia seakan ikut menahan napas.

Lalu…

Sosok itu melangkah keluar.

Besar.

Tubuhnya menyerupai manusia, kekar dan berotot. Namun kepalanya berparuh tajam, dan pergelangan tangannya berupa cakar yang mematikan—bagaikan Garuda yang menjelma dalam wujud hidup.

Zirah emas di dadanya berkilau, memantulkan cahaya pagi yang mulai merekah di ufuk timur. Di punggungnya, sayap emas terbentang luas—begitu besar hingga membentuk bayangan seperti gerhana yang menelan cakrawala. Setiap kepakan sayapnya membuat laut bergetar.

Di ruang siaran berita, suara pembawa acara bergetar menahan ketakutan.

Di markas militer, para jenderal berdiri kaku menatap layar.

Di dalam bunker, warga sipil berkumpul di sekitar radio, mendengarkan dengan napas tertahan.

Dan di tengah samudera itu, sosok tersebut membuka mulutnya.

Suaranya menggema—bukan hanya di udara, tapi seolah langsung terdengar di dalam benak setiap manusia di bumi.

“Aku adalah… The Ancient One.”

Hening. Tak ada yang berani menyela.

“Dunia ini… tidak semestinya diisi oleh dua peradaban.”

Ombak bergulung pelan, seakan laut pun mendengarkan.

“Pengetahuan kuno dan kemajuan teknologi. Sebelumnya telah mencapai keseimbangan.

“Namun... meserakahan pengetahuan kalian telah merobek tabir antara dunia manusia dan dunia kami.”

Bayangan sayapnya menutup sebagian cahaya matahari.

“Puluhan tahun, peperangan bahkan tak menunjukkan tanda-tanda salah satu pihak ingin menyerah.”

Suara itu tidak marah. Tidak pula lembut.

Ia hanya mutlak.

“Jika terus dibiarkan, peperangan yang tidak akan pernah berakhir ini dapat menghancurkan bumi yang terlalu indah untuk lenyap hanya karena ambisi sia-sia."

Seluruh dunia terdiam.

Dan untuk pertama kalinya sejak kekacauan ini dimulai, harapan—atau mungkin ketakutan baru—muncul di antara manusia.

The Ancient One mengangkat kepalanya sedikit, seolah menatap seluruh bumi sekaligus.

“Kirimkan perwakilan dari kalian. Lalu temui aku untuk penawaran yang mungkin akan bisa menyelematkan kalian. Bumi kalian”

Angin berhenti. Laut kembali sunyi.

Namun dunia tahu.

Setelah ini…

Tak akan ada yang sama lagi.

Terpopuler

Comments

alisha ♛ ⃟$𝑅࿐☙

alisha ♛ ⃟$𝑅࿐☙

dah lah🗿, ternyata novel🗿

2025-11-01

0

☠️⃝🖌️Deep ⃟🌴

☠️⃝🖌️Deep ⃟🌴

/Determined/ Kak, jujur, aku baca mulai dari sini berhenti sebentar dulu. Setelah aku pikir2. Diksi kamu kaya banget. Pokoknya kalau di asah terus, pasti bagus banget tulisan kamu kedepannya. 🫂

2026-01-16

0

Mizuki

Mizuki

pagi-pagi banget udah high-telling kek gini. Yang kek gini biasanya di showing di tengah atau di akhir, dan itu lewat plot, atau prespektif sisi satunya, potensi kehilangan hook gede banget

2025-10-26

1

lihat semua
Episodes
1 Invasi Makhluk Mitologi
2 Pertemuan antara Presiden dengan The Ancient One
3 Penciptaan Arena
4 Perwakilan Mitologi
5 Pertandingan Pertama : Siluman Ilusi vs Psikolog
6 Logika yang mencoba bertahan dari ilusi
7 Refleksi Ketakutan
8 Retakan Pertama
9 Ilusi yang Mampu Merobek Jiwa
10 Akhir dari Pertandingan Pertama
11 Pertandingan Kedua : Naga Berkepala Dua vs Pemadam Kebakaran
12 Api vs Air
13 Kekuatan Air yang Mengerikan
14 Sebuah Harapan
15 Tekad Api
16 Akhir dari Pertandingan Kedua
17 Pertandingan Ketiga : The Last Shinobi vs The Prince of Light
18 Antara Bayangan dan Cahaya
19 Serangan Bertubi-tubi
20 Teknik Terlarang
21 Sihir yang Terjelaskan Logika
22 Ilusi yang Mulai Memudar
23 Shinobi Putih
24 Rapuh
25 Rasa Sakit
26 Akhir dari Pertandingan Ketiga
27 Ancaman Lain
28 Kekacauan di Tribun
29 Pertandingan Keempat : Petarung Jalanan vs Centaur
30 Tinju Dibalas Tinju
31 Kombinasi Mematikan
32 Baja vs Obat
33 Masa Lalu Tiago
34 Ledakan Helios di Langit Brasil
35 Kekuatan yang Luar Biasa
36 Tekad Batu
37 Tinju Halus
38 Akhir dari Pertandingan Keempat
39 Kemenangan tanpa Sorak
40 Kegelisahan Yue
41 Rasa yang Bergejolak
42 Pertemuan Yue dengan Shen Long
43 Kehilangan
44 Rasa yang Sama
45 Kemunculan Perwakilan Kelima
46 Pertandingan Kelima
47 Perwakilan Dari Manusia
48 Persiapan Arena
49 Pertandingan Kelima : Trio Peregrine Falcon vs Dasamuka
50 Napas Busuk
51 Burung yang Laksana Drone
52 Peledak Alami
53 Ketahuan
54 Bom Baru
55 Gugurnya Sang Falcon
56 Segitiga yang Kehilangan Kaki Pondasinya
57 Serangan Terakhir
58 Akhir dari Pertandingan Kelima
59 Langit yang Sekarang Kosong
60 Makhluk Penguping
61 Acapella Penjebak Pelesit
62 Penyusup
63 Keheningan Gua
64 Masa Lalu Garrim
65 Portal Helios di Negeri Raksasa
66 Sosok yang menjadi Legenda
67 Kebangkitan Para Raksasa Kerdil
68 Ketegangan Antar Raksasa
69 Vonis Mutlak
70 Kecerdasan Akal Manusia
71 Johan
72 Kemunculan Perwakilan Keenam
73 Pertandingan Keenam : Penyanyi Hard Metal vs Siren
74 Suara melawan Suara
75 Frekuensi yang Menolak Tunduk
76 Ketika Teror tak lagi Menakutkan
77 Suara yang Melampaui Batas
78 Suara yang Menghipnotis
79 Keheningan yang Canggung
80 Sabotase Pihak Mitologi
81 Pergerakan
82 Informasi Diperoleh
83 Kesadaran Manusia
84 Sabotase Ruang Kendali
85 Ketegangan Ruang
86 Ilusi yang tak lagi Berpengaruh
87 Tumbang
88 Kecurangan
89 Keadilan yang... Memang Seharusnya
90 Lagu yang mengusir Gemetar
91 Keadilan yang mungkin... benar
92 Keberhasilan Sabotase
93 Dukungan yang mulai pergi
94 Alunan yang Mendamaikan
95 Siren
96 Menyerah, namun tak terasa dipaksa
97 Serangan Tiba-tiba
98 Raven Morrigan
99 Selama Pita Suara Masih Bergetar, Suara Belum Dibungkam
100 Masa Lalu Sang Musisi
101 Tekad Seorang Musisi
102 Lagu Pamungkas
103 Seseorang yang Menolak Tunduk
104 Nyanyian yang menghipnotis segalanya
105 Akhir dari Pertandingan Keenam
106 Epilog — Kehilangan Sesuatu yang Dicintai
107 Penjaga yang kehilangan sesuatu yang ia jaga
108 Penjaga yang tak lagi kehilangan
109 Penghormatan kepada para pahlawan manusia
110 Penelusuran Johan
111 Pengumuman Singkat
112 Pertemuan Johan dengan Leon
113 Mengungkap
114 Pengalaman Hayama
115 Kesimpulan
116 Persiapan Pertarungan Ketujuh
117 Kedatangan sosok yang mengguncang Manusia
118 Seorang Wadah
119 Apa artinya anugerah?
120 Penolakan Ras
121 Pertandingan Ketujuh: Agen CIA vs Archmage
122 Makhluk Astra Noctyrs
123 Sihir Terlarang
124 Penyihir Tipe: Dalang
125 Ketika Makhluk Panggilan Melawan Kecerdasan Buatan
126 Mesiu vs Mantra
127 Hipotesis telah dibuktikan
128 Pengorbanan semakin beresiko
129 Terkepung
130 Kelelahan
131 Kecurigaan Mo Yun
132 Pertemuan Yue dengan Siren
133 Jati Diri yang telah Hilang
134 Makhluk yang mengerti arti kehilangan
135 Mengumpulkan Amunisi
136 Menyusun Rencana
137 Munculnya Sang Pemakan Saat
138 Sosok Sang Pemakan Waktu
139 Ketika Entitas Dilawan Menggunakan Fisika
140 Anomali Yang Dianggap Sebagai Pola
141 Melawan Waktu
142 Kesimpulan Akhir
143 Menghancurkan Batasan
144 Waktu vs Gelombang
145 Serangan Gelombang
146 Kecemasan
147 Penuaan Dini
148 Makhluk yang telah belajar
Episodes

Updated 148 Episodes

1
Invasi Makhluk Mitologi
2
Pertemuan antara Presiden dengan The Ancient One
3
Penciptaan Arena
4
Perwakilan Mitologi
5
Pertandingan Pertama : Siluman Ilusi vs Psikolog
6
Logika yang mencoba bertahan dari ilusi
7
Refleksi Ketakutan
8
Retakan Pertama
9
Ilusi yang Mampu Merobek Jiwa
10
Akhir dari Pertandingan Pertama
11
Pertandingan Kedua : Naga Berkepala Dua vs Pemadam Kebakaran
12
Api vs Air
13
Kekuatan Air yang Mengerikan
14
Sebuah Harapan
15
Tekad Api
16
Akhir dari Pertandingan Kedua
17
Pertandingan Ketiga : The Last Shinobi vs The Prince of Light
18
Antara Bayangan dan Cahaya
19
Serangan Bertubi-tubi
20
Teknik Terlarang
21
Sihir yang Terjelaskan Logika
22
Ilusi yang Mulai Memudar
23
Shinobi Putih
24
Rapuh
25
Rasa Sakit
26
Akhir dari Pertandingan Ketiga
27
Ancaman Lain
28
Kekacauan di Tribun
29
Pertandingan Keempat : Petarung Jalanan vs Centaur
30
Tinju Dibalas Tinju
31
Kombinasi Mematikan
32
Baja vs Obat
33
Masa Lalu Tiago
34
Ledakan Helios di Langit Brasil
35
Kekuatan yang Luar Biasa
36
Tekad Batu
37
Tinju Halus
38
Akhir dari Pertandingan Keempat
39
Kemenangan tanpa Sorak
40
Kegelisahan Yue
41
Rasa yang Bergejolak
42
Pertemuan Yue dengan Shen Long
43
Kehilangan
44
Rasa yang Sama
45
Kemunculan Perwakilan Kelima
46
Pertandingan Kelima
47
Perwakilan Dari Manusia
48
Persiapan Arena
49
Pertandingan Kelima : Trio Peregrine Falcon vs Dasamuka
50
Napas Busuk
51
Burung yang Laksana Drone
52
Peledak Alami
53
Ketahuan
54
Bom Baru
55
Gugurnya Sang Falcon
56
Segitiga yang Kehilangan Kaki Pondasinya
57
Serangan Terakhir
58
Akhir dari Pertandingan Kelima
59
Langit yang Sekarang Kosong
60
Makhluk Penguping
61
Acapella Penjebak Pelesit
62
Penyusup
63
Keheningan Gua
64
Masa Lalu Garrim
65
Portal Helios di Negeri Raksasa
66
Sosok yang menjadi Legenda
67
Kebangkitan Para Raksasa Kerdil
68
Ketegangan Antar Raksasa
69
Vonis Mutlak
70
Kecerdasan Akal Manusia
71
Johan
72
Kemunculan Perwakilan Keenam
73
Pertandingan Keenam : Penyanyi Hard Metal vs Siren
74
Suara melawan Suara
75
Frekuensi yang Menolak Tunduk
76
Ketika Teror tak lagi Menakutkan
77
Suara yang Melampaui Batas
78
Suara yang Menghipnotis
79
Keheningan yang Canggung
80
Sabotase Pihak Mitologi
81
Pergerakan
82
Informasi Diperoleh
83
Kesadaran Manusia
84
Sabotase Ruang Kendali
85
Ketegangan Ruang
86
Ilusi yang tak lagi Berpengaruh
87
Tumbang
88
Kecurangan
89
Keadilan yang... Memang Seharusnya
90
Lagu yang mengusir Gemetar
91
Keadilan yang mungkin... benar
92
Keberhasilan Sabotase
93
Dukungan yang mulai pergi
94
Alunan yang Mendamaikan
95
Siren
96
Menyerah, namun tak terasa dipaksa
97
Serangan Tiba-tiba
98
Raven Morrigan
99
Selama Pita Suara Masih Bergetar, Suara Belum Dibungkam
100
Masa Lalu Sang Musisi
101
Tekad Seorang Musisi
102
Lagu Pamungkas
103
Seseorang yang Menolak Tunduk
104
Nyanyian yang menghipnotis segalanya
105
Akhir dari Pertandingan Keenam
106
Epilog — Kehilangan Sesuatu yang Dicintai
107
Penjaga yang kehilangan sesuatu yang ia jaga
108
Penjaga yang tak lagi kehilangan
109
Penghormatan kepada para pahlawan manusia
110
Penelusuran Johan
111
Pengumuman Singkat
112
Pertemuan Johan dengan Leon
113
Mengungkap
114
Pengalaman Hayama
115
Kesimpulan
116
Persiapan Pertarungan Ketujuh
117
Kedatangan sosok yang mengguncang Manusia
118
Seorang Wadah
119
Apa artinya anugerah?
120
Penolakan Ras
121
Pertandingan Ketujuh: Agen CIA vs Archmage
122
Makhluk Astra Noctyrs
123
Sihir Terlarang
124
Penyihir Tipe: Dalang
125
Ketika Makhluk Panggilan Melawan Kecerdasan Buatan
126
Mesiu vs Mantra
127
Hipotesis telah dibuktikan
128
Pengorbanan semakin beresiko
129
Terkepung
130
Kelelahan
131
Kecurigaan Mo Yun
132
Pertemuan Yue dengan Siren
133
Jati Diri yang telah Hilang
134
Makhluk yang mengerti arti kehilangan
135
Mengumpulkan Amunisi
136
Menyusun Rencana
137
Munculnya Sang Pemakan Saat
138
Sosok Sang Pemakan Waktu
139
Ketika Entitas Dilawan Menggunakan Fisika
140
Anomali Yang Dianggap Sebagai Pola
141
Melawan Waktu
142
Kesimpulan Akhir
143
Menghancurkan Batasan
144
Waktu vs Gelombang
145
Serangan Gelombang
146
Kecemasan
147
Penuaan Dini
148
Makhluk yang telah belajar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!