Pewaris Kembar

Pewaris Kembar

Chapter 1 - Zidan

Langit sore di atas kota tampak kelabu, seolah meniru suasana hati Zidan sore itu. Angin menerpa kandang raksasa yang berdiri di pinggiran kota. Di balik panggung, suara musik, sorak-sorai, dan lampu warna-warni terdengar samar tapi semua itu terasa begitu jauh dari dirinya.

Ia duduk di dalam kandang besar yang kini sepi, ditemani oleh satu-satunya sahabat sejatinya: seekor harimau Bengal jantan bernama Alpen. Bulunya oranye keemasan, namun kini terlihat kusam. Nafasnya tersengal-sengal, tubuhnya lemah, dan mata emasnya kehilangan cahaya yang dulu menakutkan semua orang.

“Berlari, melompat, mengaum,” gumam Zidan lirih sambil menepuk-nepuk lembut kepala harimau itu. “Berlari, melompat, mengaum... ayo, satu kali lagi, Alpen.”

Tapi harimau itu hanya menatapnya, tenang, pasrah. Ia tahu waktunya hampir habis. Dan Zidan tahu juga.

Tangannya bergetar saat memeluk tubuh besar binatang itu. Dalam setiap helaan napasnya, kenangan masa lalu berkelebat, hari-hari ketika Alpen masih muda dan liar, ketika ia melatihnya dengan kesabaran.

Zidan tidak pernah punya keluarga. Ia dibesarkan oleh mendiang kakeknya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu, hidup dari pekerjaan kasar hingga akhirnya direkrut oleh Kebun Binatang Safari. Sejak itu, Alpen adalah satu-satunya keluarga yang ia punya.

Harimau itu bukan sekadar hewan bagi Zidan. Ia sahabat, pelindung, sekaligus alasan untuk terus hidup. Namun kini, di depan matanya, keluarga satu-satunya itu sedang sekarat.

Ia menatap wajah binatang itu dengan mata memerah. “Kau tahu, Alpen… orang bilang aku gila karena lebih peduli padamu daripada manusia. Tapi mereka tidak tahu, hanya kau yang selalu menatapku tanpa kebencian.”

Harimau itu menggerakkan telapak kaki depannya, menyentuh tangan Zidan lemah-lembut. Lalu, untuk terakhir kalinya, ia mengeluarkan suara pelan, bukan auman, tapi seperti bisikan lembut yang hanya bisa dimengerti oleh satu orang di dunia ini.

“Roarrr…”

Suaranya memudar, dan tubuhnya pun diam. Zidan menatap kosong, seolah seluruh warna di dunia menghilang. Udara tiba-tiba begitu berat, waktu seakan berhenti berputar.

Air mata jatuh tanpa suara.

“Tidak, Alpen… buka matamu… ayo, sekali lagi…” suaranya parau, nyaris tak terdengar. Tapi tubuh besar itu tetap tak bergerak. Hangat yang dulu ada di bawah tangannya perlahan menghilang, berganti dingin yang menusuk hati.

Ia menunduk, keningnya menyentuh kepala harimau itu. “Tidurlah,” bisiknya lirih. “Kau sudah berjuang terlalu lama.”

Di luar, hiruk pikuk pengunjung kebun binatang masih menggema, tanda bahwa dunia tidak berhenti walau satu jiwa baru saja pergi.

Zidan, begitulah namanya. Ia hanya tahu satu kata itu saja. Jujur saja, Zidan tak pernah tahu tentang asal-usul keluarganya, dan dirinya tak pernah ingin tahu. Yang jelas bagi Zidan, keluarganya telah membuangnya karena kecacatan yang dirinya miliki.

Memang sejak lahir, Zidan memiliki kecacatan fisik berupa tangan buntung. Seumur hidupnya dia hanya punya tangan kanan. Karena kecacatan itu pula Zidan selalu dibully dan tak punya teman.

Malam itu, hujan turun pelan.

Kebun binatang telah sepi, hanya suara tetesan air yang menemani Zidan yang duduk di samping tubuh Alpen yang sudah dibungkus kain putih. Ia tidak bisa berhenti memandangi wajah harimau itu.

“Berlari, melompat, mengaum,” ulang Zidan pelan. Kalimat itu kini hanya gema dari masa lalu.

Petir menyambar di langit.

Dalam cahaya kilat sesaat, Zidan menatap cincin kecil yang tergantung di lehernya, cincin giok tua yang dulu diberikan oleh kakeknya. Lelaki tua itu berkata cincin itu membawa keberuntungan, simbol penjaga dari roh binatang besar. Tapi malam itu, cincin itu terasa berat. Seolah menyerap kesedihan yang menyesakkan dada.

Sementara itu, di halaman luas kebun binatang, masuk sebuah mobil mewah. Seorang lelaki berjas rapi keluar dari mobil. Ia melangkah cepat sambil di iringi dua pengawalnya kala itu.

Lelaki berjas rapi tersebut menghampiri petugas keamanan kebun binatang yang berjaga. "Permisi, bisakah kami menemui karyawan yang bernama Zidan? Katanya dia bekerja jadi pawang harimau di sini," ujarnya.

"Oh si tangan buntung dan aneh itu? Dia kulihat belum pulang dari tadi. Ada apa ya, Pak? Apa dia melakukan pelecehan seperti Agus yang viral itu?" tanggap Sobri, si petugas keamanan.

Terpopuler

Comments

🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ

🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ

Saya baru sempat mampir...thor 💖

Walaupun Zidan mempunyai kekurangan cacat fisik, tp dia punya kelebihan yg tidak dimiliki orang lain.
Zidan mampu mengatur prilaku binatang dan menjinakkan hewan buas atau satwa liar.
Hewan tersebut akan patuh pada perintahnya seperti salah satu mukjizat Nabi Sulaiman AS.
🥰🤩😍

2025-10-15

1

Tiara Bella

Tiara Bella

aku mampir Thor....kasian Zidan temen satu² nya malah mati....

2025-10-13

2

Mari Anah

Mari Anah

aku mampir thor,ky y bagus cerita y,aku suka semua karya2 mu thor...lanjut💪

2025-10-13

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Zidan
2 Chapter 2 - Zayan
3 Chapter 3 - Diajak Kembali
4 Chapter 4 - Pewaris Selanjutnya
5 Chapter 5 - Kesempatan Terakhir
6 Chapter 6 - Masalah Baru
7 Chapter 7 - Tentang Alpen
8 Chapter 8 - Pemilik Baru
9 Chapter 9 - Memaafkan
10 Chapter 10 - Pertemuan
11 Chapter 11 - Sakit Hati Lagi
12 Chapter 12 - Ketulusan Seorang Ayah
13 Chapter 13 - Playboy Berpengalaman
14 Chapter 14 - Keputusan Zidan
15 Chapter 15 - Tangan Baru
16 Chapter 16 - Menuntut
17 Chapter 17 - Perdebatan
18 Chapter 18 - Kesempatan Terakhir Kali
19 Chapter 19 - Ke Rumah Keluarga Nugroho
20 Chapter 20 - Kembalinya Zidan
21 Chapter 21 - Apartemen Zidan
22 Chapter 22 - Kegelisahan Zayan
23 Chapter 23 - Ide Zidan
24 Chapter 24 - Kegelisahan Zoya
25 Chapter 25 - Hari Pertama
26 Chapter 26 - Persiapan
27 Chapter 27 - Niken
28 Chapter 28 - Zayan?
29 Chapter 29 - Terasa Bukan Bos
30 Chapter 30 - Siapa?
31 Chapter 31 - Mendekati Leony
32 Chapter 32 - Keceplosan
33 Chapter 33 - Semakin Marah
34 Chapter 34 - Acara Pernikahan
35 Chapter 35 - Bomerang
36 Chapter 36 - Bertemu Lagi
37 Chapter 37 - Masalah Amora
38 Chapter 38 - Tuntutan Zayan
39 Chapter 39 - Perubahan Zoya
40 Chapter 40 - Dikejar
41 Chapter 41 - Perlawanan Zidan
42 Chapter 42 - Perkelahian
43 Chapter 43 - Dugaan
44 Chapter 44 - Rencana Baru
45 Chapter 45 - Memilih Menyembunyikan
46 Chapter 46 - Ancaman
47 Chapter 47 - Motif Zoya
48 Chapter 48 - Yang Sebenarnya
49 Chapter 49 - Curiga
50 Chapter 50 - Pilihan Niken
51 Chapter 51 - Memberitahu Semuanya
52 Chapter 52 - Pembicaraan Si Kembar
53 Chapter 53 - Dimulai
54 Chapter 54 - Menjadi Zayan
55 Chapter 55 - Menjadi Zidan
56 Chapter 56 - Mengetahui
57 Chapter 57 - Perang Saudara
58 Chapter 58 - Sesuai Rencana Musuh
59 Chapter 59 - Kecurigaan Zoya
60 Chapter 60 - Berbaikanlah!
61 Chapter 61 - Deep Talk
62 Chapter 62 - Semakin Dekat
63 Chapter 63 - Merelakan Ciuman Pertama
64 Chapter 64 - Ketahuan
65 Chapter 65 - Tak Kenal
66 Chapter 66 - Memaafkan?
67 Chapter 67 - Menyelesaikan
68 Chapter 68 - Kecelakaan
69 Chapter 69 - Dibayar Tuntas
70 Chapter 70 - Bersalah
71 Chapter 71 - Titik Terendah
72 Chapter 72 - Kedatangan Niken
73 Chaprer 73 - Membaik
74 Chapter 74 - Kita Saudara...
75 Chapter 75 - Pewaris Kembar
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Chapter 1 - Zidan
2
Chapter 2 - Zayan
3
Chapter 3 - Diajak Kembali
4
Chapter 4 - Pewaris Selanjutnya
5
Chapter 5 - Kesempatan Terakhir
6
Chapter 6 - Masalah Baru
7
Chapter 7 - Tentang Alpen
8
Chapter 8 - Pemilik Baru
9
Chapter 9 - Memaafkan
10
Chapter 10 - Pertemuan
11
Chapter 11 - Sakit Hati Lagi
12
Chapter 12 - Ketulusan Seorang Ayah
13
Chapter 13 - Playboy Berpengalaman
14
Chapter 14 - Keputusan Zidan
15
Chapter 15 - Tangan Baru
16
Chapter 16 - Menuntut
17
Chapter 17 - Perdebatan
18
Chapter 18 - Kesempatan Terakhir Kali
19
Chapter 19 - Ke Rumah Keluarga Nugroho
20
Chapter 20 - Kembalinya Zidan
21
Chapter 21 - Apartemen Zidan
22
Chapter 22 - Kegelisahan Zayan
23
Chapter 23 - Ide Zidan
24
Chapter 24 - Kegelisahan Zoya
25
Chapter 25 - Hari Pertama
26
Chapter 26 - Persiapan
27
Chapter 27 - Niken
28
Chapter 28 - Zayan?
29
Chapter 29 - Terasa Bukan Bos
30
Chapter 30 - Siapa?
31
Chapter 31 - Mendekati Leony
32
Chapter 32 - Keceplosan
33
Chapter 33 - Semakin Marah
34
Chapter 34 - Acara Pernikahan
35
Chapter 35 - Bomerang
36
Chapter 36 - Bertemu Lagi
37
Chapter 37 - Masalah Amora
38
Chapter 38 - Tuntutan Zayan
39
Chapter 39 - Perubahan Zoya
40
Chapter 40 - Dikejar
41
Chapter 41 - Perlawanan Zidan
42
Chapter 42 - Perkelahian
43
Chapter 43 - Dugaan
44
Chapter 44 - Rencana Baru
45
Chapter 45 - Memilih Menyembunyikan
46
Chapter 46 - Ancaman
47
Chapter 47 - Motif Zoya
48
Chapter 48 - Yang Sebenarnya
49
Chapter 49 - Curiga
50
Chapter 50 - Pilihan Niken
51
Chapter 51 - Memberitahu Semuanya
52
Chapter 52 - Pembicaraan Si Kembar
53
Chapter 53 - Dimulai
54
Chapter 54 - Menjadi Zayan
55
Chapter 55 - Menjadi Zidan
56
Chapter 56 - Mengetahui
57
Chapter 57 - Perang Saudara
58
Chapter 58 - Sesuai Rencana Musuh
59
Chapter 59 - Kecurigaan Zoya
60
Chapter 60 - Berbaikanlah!
61
Chapter 61 - Deep Talk
62
Chapter 62 - Semakin Dekat
63
Chapter 63 - Merelakan Ciuman Pertama
64
Chapter 64 - Ketahuan
65
Chapter 65 - Tak Kenal
66
Chapter 66 - Memaafkan?
67
Chapter 67 - Menyelesaikan
68
Chapter 68 - Kecelakaan
69
Chapter 69 - Dibayar Tuntas
70
Chapter 70 - Bersalah
71
Chapter 71 - Titik Terendah
72
Chapter 72 - Kedatangan Niken
73
Chaprer 73 - Membaik
74
Chapter 74 - Kita Saudara...
75
Chapter 75 - Pewaris Kembar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!