Mari Kita Akhiri Saja

#02

“Halo, Chef—”

Rupanya Chef Vinka yang menghubunginya, wanita itu mengatakan ia akan terlambat, karena salju yang turun membuat perjalanannya sedikit terlambat. 

Agnes tersenyum senang, “Tidak apa, Chef. Bagaimana kalau kita undur saja.” 

“Bagaimana kalau besok pagi-pagi sebelum kelas dimulai.” 

“Baiklah, akan ku usahakan datang pagi.” 

Agnes mengakhiri panggilan, wanita itu berganti pakaian, lalu mulai membersihkan ruangan. Karena Leon tak akan pulang malam ini, pria itu sedang shift malam di rumah sakit. 

•••

Beberapa hari berlalu, namun, apartemen semakin sepi karena Leon sama sekali tak pulang. Entah karena sibuk, atau karena masih marah pada keputusan Agnes. Yang jelas Agnes mulai kesepian. 

Beberapa kali Agnes coba menghubungi suaminya, namun, tak pernah memperoleh jawaban, bahkan pesan singkat pun tidak. Hati Agnes semakin gulana, teringat betapa Leon sangat kecewa dengan keputusannya. 

“Apa Leon akan benar-benar melepaskan aku?” tanya Agnes pada dirinya sendiri. 

Wanita itu mencoba sekali lagi menghubungi suaminya. Namun, sekali lagi tak memperoleh jawaban. Justru sengaja dimatikan. “Apa-apaan ini?! Leon tak pernah me-reject panggilan dariku?” keluh Agnes sembari menatap layar ponselnya. “Apa dia masih marah gara-gara hal kemarin?” 

Tanpa Agnes tahu, di seberang sana, Debby sedang duduk di kursi ruangan para dokter residen. Wanita itu tersenyum bahagia setelah berhasil membuat Agnes kesal, 

Sahabat Leon sejak tahun pertama kuliah tersebut, sudah lama menaruh hati pada Leon. Namun, gayung tak pernah bersambut. Leon justru jatuh cinta pada teman satu SMA nya, yakni Leony Agnes. 

Saat ini Agnes sedang serius menyelesaikan pendidikannya di sebuah akademi memasak, itupun Agnes dapat dengan susah payah melalui program beasiswa. Jika dengan biaya sendiri, mana mungkin bisa, karena Mamanya hanyalah pemilik sebuah toko kue kecil. 

Debby segera membuka ponsel Leon, wanita licik itu diam-diam mengintip password ponsel Leon. Dan jika Leon lengah ia bebas berselancar mengintip keseluruhan isi ponsel milik pria itu.

Klek! 

Pintu terbuka, tepat setelah Debby meletakkan ponsel milik Leon di meja, beberapa saat lalu, Debby menghapus semua riwayat panggilan masuk dari Agnes. Tentu saja niat busuknya sangat jelas, hanya saja Leon tak menyadarinya. 

“Aku mau makan. Kamu sudah makan?” tanya Leon pada Debby, yang sejak tadi menunggunya keluar dari ruang operasi. 

“Ayolah, aku juga sangat lapar,” sambut Debby. 

Mereka berjalan akrab menuju kantin rumah sakit, di perjalanan, Leon memeriksa barangkali ada panggilan masuk dari istrinya, namun nihil, tak ada satupun. Bahkan pesan singkat menanyakan keadaannya pun tidak ada. 

“Apa Agnes benar-benar serius dengan ucapannya kemarin?” Leon bertanya-tanya dalam hati, rasanya sedih ketika istri sendiri tak perhatian. Justru Debby yang memperhatikannya selama beberapa hari ini. 

Leon terus melamun, padahal Debby terus berceloteh, sesekali wanita itu tetap memberi dukungan pada sikap Leon yang ingin menegaskan keputusannya perihal anak. 

Setelah selesai mengisi perut, mereka melangkah pergi meninggalkan kantin rumah sakit. Mampir sejenak ke cafe untuk mengisi amunisi kafein tubuh, penunjang stamina selama bersiaga di rumah sakit. 

Keluar dari cafe, Leon disambut dengan tatapan dingin istrinya yang sengaja datang membawakan makanan, “Hai, Ag,” sapa Debby ramah, namun tidak dengan Leon yang tetap mematung. 

Dalam beberapa kesempatan, Agnes sempat mengungkapkan kecemburuan karena Leon dirasa terlalu akrab dengan Debby. Namun, Leon selalu meyakinkan bahwa mereka tak ada hubungan apa-apa selain persahabatan. 

“Kamu duluan saja, nanti aku menyusul.”

Dengan berat hati Debby pun pergi. Agnes berbalik, membuka mantel yang menghalau udara dingin, karena tiba-tiba tubuhnya merasa panas akibat rasa cemburu yang menguasainya. 

Mereka berdiri menatap taman tengah rumah sakit. 

“Aku datang mengantarkan makanan untukmu, karena sudah beberapa hari kamu tak pulang.” 

Hanya hembusan angin lembut yang terdengar. 

“Tapi sepertinya kamu tak memerlukannya, karena di rumah sakit ini, kamu bisa mendapatkan makanan dengan mudah.” 

Agnes tersenyum getir, “Bukan begitu, aku tak pulang, karena situasi di rumah sakit benar-benar sibuk, dan poli bedah jantung kekurangan orang. Jadi aku tak sempat pulang, kamu tak lihat bentukan rambutku yang minyaknya bisa di peras ini?” 

“Meski begitu, kamu tetap bisa tertawa bahagia bersamanya, sedangkan aku— hanya berteman sepi di apartemen.” 

“Hentikan kalimatmu! Karena itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri.”

“Aku pulang dulu,” Agnes tersenyum getir, menahan ngilu di lambungnya yang belum terisi makanan sama sekali. Ia berharap bisa menikmati makan siang bersama suaminya, namun, harapannya sia-sia. 

Leon menangkap tangan Agnes, “Nanti malam aku usahakan pulang.” 

Agnes menepis tangan tersebut, “Jangan memaksakan diri bila tak bisa.” 

Kenapa suara Agnes terdengar lebih dingin dari cuaca saat ini? Leon ingin mengikuti istrinya, minimal hingga ke halte depan rumah sakit, namun panggilan darurat mengalihkan perhatiannya. 

Leon kembali berlari kencang masuk ke rumah sakit, di saksikan Agnes, yang hatinya teriris pilu karena menyangka Leon buru-buru kembali demi yang lain. 

•••

Satu bulan berlalu, tak ada perbaikan dalam hubungan mereka, tetap dingin, dan hampa. Seperti ada rongga tak kasat mata, menjadi ruangan kosong yang memisahkan keduanya, sekat yang seharusnya diisi seorang anak. Namun, sayang Agnes enggan memilikinya. 

“Ini bulan terakhirku di akademi.” 

Agnes mencoba menceritakan kesehariannya belakangan ini. 

“Hmm, lalu?” 

Mendengar jawaban Leon yang jauh dari ekspektasinya, Agnes jadi enggan melanjutkan kalimatnya. “Tidak apa-apa. Hanya memberitahumu saja, sayangnya kamu tak tertarik, maaf, anggap saja tak pernah dengar.” 

Agnes berdiri membereskan piring dan peralatan makan lain yang ia pakai, “Apa maksud kalimatmu, barusan? Aku selalu berusaha menggunakan telingaku untuk mendengar ceritamu, bahkan keluh dan kesahmu. Lalu, dari sisi mana kamu menyimpulkan aku tak tertarik?” 

“Malah, aku merasa, justru kamu yang tak tertarik padaku lagi.” 

Prang! 

Dengan sedikit kasar, Agnes meletakkan peralatan makanannya di wastafel cuci piring. “Jangan bicara sembarangan.”

“Hal itu juga yang aku inginkan darimu.” 

Bukannya bicara baik-baik, sikap keduanya justru seperti api dan bahan bakar. Perpaduan yang pas untuk menghasilkan kobaran api raksasa yang siap melahap apa saja. 

“Jangan bicara seolah-olah kamu yang berkuasa atas tubuhmu, aku juga berhak atasmu, termasuk berhak melarangmu meminum pil kontrasepsi itu.” 

“Kok jadi ke arah sana, sih? Jadi tetap aku yang salah?” sergah Agnes dengan perasaan tak menentu. 

“Aku tidak menyalahkanmu, aku hanya ingin kamu menjaga kata-katamu. Bagaimana bila Tuhan berkehendak sebaliknya? Meskipun kamu sudah minum pil untuk mencegah kehamilan, selalu ada kemungkinan kamu untuk hamil. Karena Tuhan yang berkehendak.” 

Agnes menggeleng lemah, malas membicarakan hal yang sudah menjadi keputusannya sejak lama tersebut. Baginya child free adalah keputusan mutlak, tak bisa diganggu gugat. Karena ia tak mau kisah pahit masa kecilnya kembali terulang pada anaknya. 

“Aku rasa, perdebatan ini tak akan pernah menemukan ujungnya. Mari kita akhiri saja, lalu ambil jalan masing-masing, kamu dengan keinginanmu. Dan aku dengan pilihan hidupku.”

Terpopuler

Comments

Patrick Khan

Patrick Khan

deby serobot aja leon 😁😁😁

2025-10-21

0

Upi Raswan

Upi Raswan

lihat judulnya udah nyesek thoor..trauma itu begitu dalam..aku bisa merasakan kesedihan dia...dan si Leon.tupe cowok yg gak peka.udah tau istrinya cemburu dia malah deket2 sama uler keket..duuuh jangan sampai tuh uler berhasil ya thoor jagain dengan sekuat tenaga.

2025-10-22

1

S

S

Agnes salah dlm hal ini.
harus ya kan di kasih tahu dlu klo dia anti anak.krn bagaimanapun jg pasangan jg berhak ingin.miliki keturunan.kecuali dlm kondisi tak mampu / mandul.
jk alasan trauma itu masalahmu dan jangan paksa pasangan mengerti di akhir tp harus di bicarakan sebrlum.pernikahan

2026-05-08

0

lihat semua
Episodes
1 Child Free
2 Mari Kita Akhiri Saja
3 Pelukan Terakhir
4 Hamil
5 Pindah Ke Jakarta
6 Sekolah Baru
7 Kawan Baru
8 Dampak Perceraian
9 Al Pingsan
10 Coklat Dari Uncle-nya Mayra
11 Rindu Dan Kenangan
12 Macaroon
13 Omelan Rika
14 Tak Perlu Ditunda
15 Jika Nanti Daddy Datang
16 Bertemu Kembali Setelah 5 Tahun
17 Modus Mantan
18 Siapa Rama?
19 Boleh Aku Menginap?
20 Dua Bulan
21 Tentang Kita, Dan Tentang Al
22 Sarapan Bersama Mantan
23 Untuk Calon Istriku
24 Mantan, Masih Bikin Geregetan
25 Leon Dan Al
26 Memori Kereta Gantung
27 Uncle, Are You My Dad?
28 Terbiasa Menghadapi Rasa Sakit
29 Mencari Kebenaran Di Masa Lalu
30 Eyang-nya Al
31 Bercengkrama Dengan Cucu
32 Bukan Daddy-nya Al
33 Ngambeknya Al
34 Gleg!
35 Lebih Baik Terlambat Daripada Tidak
36 Berbaikan
37 Fathers Day Part 1
38 Fathers Day Part 2
39 Tak Sabar Ke Rumah Opa Buyut
40 Debby Yang Lancang
41 Sejak Kapan Kamu Tahu?
42 Aku Muak Melihatmu
43 Tak Mungkin Kembali Padamu
44 Memajukan Hari Pernikahan
45 Bringing Back The Ex Wife
46 Seni Mendekati Janda
47 Hati Yang Hancur
48 Majunya Tanggal Pernikahan
49 Debby Belum Menyerah
50 Dimana-mana Nenek Cihil
51 Menyerah Kalah
52 Pasien Baru
53 Deep Talk
54 Kebakaran Lagi
55 Daddy Superhero
56 Al Jagain Daddy
57 Sebatas Mantan Suami Dan Ayahnya Al
58 Galau
59 Perawatan Jelang Hari H
60 Hari H
61 Mendatangi Sang Mempelai
62 SAH!
63 Dua Milyar
64 Semriwing
65 Reuni Lagi
66 Mari Hadapi Bersama
67 Sengketa Tanah
68 Calon Suami Mama Mertua
69 Sang Pria Idaman•
70 Menghangatkan Malam
71 Kebusukan Damayanti•
72 Sudah Terlalu Sakit
73 Sandiwara Putri•
74 Code Blue•
75 Proud Of You And I Love You So Much, Agnesku•
76 Wanita Ini Adalah Istri Saya•
77 Aku Datang, Papa•
78 Bertemu Orang Dari Masa Lalu
79 Tamparan Untuk Putri•
80 Ide Gila•
81 Pertengkaran Mama Wina Dan Damayanti•
82 Kesengajaan Putri•
83 Menagih Janji•
84 Bukti Cinta Kita
85 Kembali Sadar
86 Surat Wasiat
87 Makam
88 Demam
89 Gelap
90 Investasi Abal-abal
91 Cemburu
92 Bikin Adik Bayi
93 Aku Mau Ke Singapura
94 Hari-Hari Penuh Cinta, Bulan Madu Bertemu Masalah
95 Ban Kempes
96 Hanya Sekedarnya
97 Baru Permulaan
98 Boleh Dilihat Tak Boleh Disentuh
99 Satu Minggu
100 Berbaikan
101 Perasaan Ini Tak Akan Pernah Berubah (The End)
102 Expart 1
103 Expart 2
104 Expart 3
105 Expart 4
106 promo karya bestie
107 Expart 5
108 Expart 6
109 Expart 7
110 Expart 8
111 Expart 9
112 Expart 10
113 Expart 11
114 Expart 12
115 Expart 13
116 Expart 14 — Spesial Mayra
117 Expart 15
118 Expart 16
119 Expart 17
120 Expart 18
121 Last Episode (The End)
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Child Free
2
Mari Kita Akhiri Saja
3
Pelukan Terakhir
4
Hamil
5
Pindah Ke Jakarta
6
Sekolah Baru
7
Kawan Baru
8
Dampak Perceraian
9
Al Pingsan
10
Coklat Dari Uncle-nya Mayra
11
Rindu Dan Kenangan
12
Macaroon
13
Omelan Rika
14
Tak Perlu Ditunda
15
Jika Nanti Daddy Datang
16
Bertemu Kembali Setelah 5 Tahun
17
Modus Mantan
18
Siapa Rama?
19
Boleh Aku Menginap?
20
Dua Bulan
21
Tentang Kita, Dan Tentang Al
22
Sarapan Bersama Mantan
23
Untuk Calon Istriku
24
Mantan, Masih Bikin Geregetan
25
Leon Dan Al
26
Memori Kereta Gantung
27
Uncle, Are You My Dad?
28
Terbiasa Menghadapi Rasa Sakit
29
Mencari Kebenaran Di Masa Lalu
30
Eyang-nya Al
31
Bercengkrama Dengan Cucu
32
Bukan Daddy-nya Al
33
Ngambeknya Al
34
Gleg!
35
Lebih Baik Terlambat Daripada Tidak
36
Berbaikan
37
Fathers Day Part 1
38
Fathers Day Part 2
39
Tak Sabar Ke Rumah Opa Buyut
40
Debby Yang Lancang
41
Sejak Kapan Kamu Tahu?
42
Aku Muak Melihatmu
43
Tak Mungkin Kembali Padamu
44
Memajukan Hari Pernikahan
45
Bringing Back The Ex Wife
46
Seni Mendekati Janda
47
Hati Yang Hancur
48
Majunya Tanggal Pernikahan
49
Debby Belum Menyerah
50
Dimana-mana Nenek Cihil
51
Menyerah Kalah
52
Pasien Baru
53
Deep Talk
54
Kebakaran Lagi
55
Daddy Superhero
56
Al Jagain Daddy
57
Sebatas Mantan Suami Dan Ayahnya Al
58
Galau
59
Perawatan Jelang Hari H
60
Hari H
61
Mendatangi Sang Mempelai
62
SAH!
63
Dua Milyar
64
Semriwing
65
Reuni Lagi
66
Mari Hadapi Bersama
67
Sengketa Tanah
68
Calon Suami Mama Mertua
69
Sang Pria Idaman•
70
Menghangatkan Malam
71
Kebusukan Damayanti•
72
Sudah Terlalu Sakit
73
Sandiwara Putri•
74
Code Blue•
75
Proud Of You And I Love You So Much, Agnesku•
76
Wanita Ini Adalah Istri Saya•
77
Aku Datang, Papa•
78
Bertemu Orang Dari Masa Lalu
79
Tamparan Untuk Putri•
80
Ide Gila•
81
Pertengkaran Mama Wina Dan Damayanti•
82
Kesengajaan Putri•
83
Menagih Janji•
84
Bukti Cinta Kita
85
Kembali Sadar
86
Surat Wasiat
87
Makam
88
Demam
89
Gelap
90
Investasi Abal-abal
91
Cemburu
92
Bikin Adik Bayi
93
Aku Mau Ke Singapura
94
Hari-Hari Penuh Cinta, Bulan Madu Bertemu Masalah
95
Ban Kempes
96
Hanya Sekedarnya
97
Baru Permulaan
98
Boleh Dilihat Tak Boleh Disentuh
99
Satu Minggu
100
Berbaikan
101
Perasaan Ini Tak Akan Pernah Berubah (The End)
102
Expart 1
103
Expart 2
104
Expart 3
105
Expart 4
106
promo karya bestie
107
Expart 5
108
Expart 6
109
Expart 7
110
Expart 8
111
Expart 9
112
Expart 10
113
Expart 11
114
Expart 12
115
Expart 13
116
Expart 14 — Spesial Mayra
117
Expart 15
118
Expart 16
119
Expart 17
120
Expart 18
121
Last Episode (The End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!