DIA SUAMIKU BUKAN MILIK MU

DIA SUAMIKU BUKAN MILIK MU

Chapter 01

“Sayang, jaga diri baik-baik ya, jangan banyak pikiran, harus makan tepat waktu, tak boleh capek apalagi sampai kurang tidur!” pintanya dengan nada suara begitu lembut, lalu mengecup lama kening sang istri yang tengah mengandung buah hatinya.

“Tia tak suka bila Abang cakap macam itu, seolah akan pergi lama saja, padahal cuma 4 hari telah kembali lagi,” protesnya, tapi tangannya tetap melingkar kuat di pinggang kekasih hatinya, meskipun terhalang perut buncit.

Ikram Rasyid, suami dari Meutia Siddiq, tersenyum hangat, sekali lagi melabuhkan kecupan sayang di pucuk kepala istri tercinta yang tertutup hijab.

“Sebetulnya berat bagi Abang meninggalkan kalian, tapi apa mau dikata – semua ini tuntutan pekerjaan, dan jua ingin menambah wawasan.” Melerai pelukan hangat mereka, menatap penuh cinta yang sama sekali tidak pernah dia tutupi.

Pria berumur 34 tahun itu kemudian menekuk sebelah lututnya, berjongkok menyamakan tinggi badan dengan kedua bidadari kecil yang sangat ia sayangi.

“Intan Rasyid, putri kebanggaan serta permata hati Ayah, boleh tak Ayah meminta sedikit bantuannya, Nak?” Ikram mengelus lembut pipi bulat berona kemerahan putri sulungnya.

“Boleh, tapi jangan banyak-banyak. Soalnya kegiatan Intan sudah padat, mengurus Landak, Monyet, menyusui anak Kambing, apalagi ya ….” Jari kurusnya mengetuk pelipis, berusaha mengingat hewan apa saja yang dia pelihara.

Tak pelak hal tersebut mengundang tawa sang Ayah, begitu gemasnya sampai tubuh mungil gadis kecil berumur jalan 10 tahun didekap erat, dikecupnya bertubi-tubi pucuk kepala putrinya yang sama seperti sang istri, tertutup hijab sempurna.

“Ayah pun tak tega membebani tugas sulit, cuma mau minta tolong – sayangi selalu adik Sabiya, Mamak, dan calon adik yang sekarang sedang tumbuh diperut Mamak. Kalau bisa, jahilnya dikurangi sedikit ya Nak! Biar bertambah anggun anak Ayah ini.” Ditatapnya penuh sayang putri pertamanya, setelah mendapatkan anggukan, dirinya beralih ke putri bungsu yang sudah genap berumur 7 tahun.

“Sabiya Rasyid, putri kesayangan Ayah.” Ikram mengecup dalam kening si bungsu yang sebentar lagi tidak jadi anak terakhir.

“Ayah cepat kembali, jangan lama-lama perginya, nanti Biya rindu,” lirihnya, dengan linangan air mata membasahi pipi.

“Insya Allah,” ucapnya kurang yakin, dalam hati terus berdoa, semoga Tuhan segera mempertemukannya kembali dengan para orang terkasih.

Intan, Sabiya, masing-masing menggenggam tangan sang ibu, sebelah tangan mereka yang kosong melambai mengucapkan salam perpisahan sementara.

Ikram melepaskan pegangan pada koper berukuran kecil, lalu merentangkan tangan seolah hendak memeluk, jaraknya sudah dua meter dari para wanita yang dicintainya dengan segenap jiwa dan raga. “Ayah sayang kalian semua!”

“Kami juga!” teriak Meutia dan kedua anaknya.

Pria yang sudah akan masuk ke dalam Bus besar itu tiba-tiba berbalik menyeret kopernya, kemudian berjongkok di hadapan permata hatinya, merengkuh mereka seraya mengecup perut buncit sang istri yang tengah hamil 5 bulan, mengandung anak ketiga.

Susah payah Meutia berusaha membungkuk, setelah berhasil disematkannya kecupan sayang pada pucuk kepala sang suami yang sedang menciumi putri mereka.

“Abang, tolong lihat Tia!” Pintanya, sambil membingkai wajah Ikram. “Abang janji akan kembali ‘kan? Berkumpul lagi bersama kami?”

Tanpa melepaskan rangkulannya, yang mana Intan serta Sabiya memeluk erat pundaknya. Ikram mencium pucuk hidung mancung Meutia Siddiq, wanita yang sudah dinikahinya selama hampir 11 tahun lamanya. “Iya. Abang janji!”

Kata janji itu bagaikan angin penyejuk di musim kemarau, wanita cantik yang sudah genap berumur 31 tahun tersebut tersenyum lembut, dalam hati menyakini bila sang suami tak mungkin mengingkari.

Kembali mereka saling melambaikan tangan, kali ini tidak ada lagi adegan mengharu biru. Ikram benar-benar masuk ke dalam kendaraan yang akan membawanya ke ibukota provinsi – mengikuti seminar ikatan dokter Indonesia.

Meutia menggandeng kedua tangan putrinya, berjalan keluar dari area terminal di kota kabupaten.

Sang sopir bergegas membuka pintu penumpang, setelahnya memutari badan mobil dan masuk ke jok kemudi. “Langsung pulang, Kak?” tanyanya sopan.

"Singgah dulu di taman, Pakcik. Intan dan Sabiya ingin jalan-jalan dan juga sudah memasuki waktunya makan siang, lebih baik kita cari makan di sana," beritahunya.

Mobil pun melaju ke taman tidak terlalu jauh dari terminal bus pusat.

.

.

Dua jam kemudian, mobil yang dikemudikan oleh sopir, sampai di kota kecamatan, tinggal satu jam lagi akan tiba di kampung mereka, wilayah transmigrasi – kampung Jamur Luobok.

Tiba-tiba ponsel Meutia berdering, tapi si empunya seolah tidak mendengar, netranya terus menatap keluar jendela. Entah mengapa sedari keluar area terminal pusat, jantungnya terus berdegup kencang, serta hatinya pun tak tenang.

“Mamak! Ayamnya teriak-teriak itu!” Intan menepuk lembut lengan sang ibu, menunjuk tas yang mana masih terdengar suara nada dering.

Meutia membuka tas, lalu menekan tombol hijau, meletakkan gawai tepat ditelinganya.

“Tia, sudah sampai mana?” pertanyaan nada khawatir sang Abang mampu mengembalikan fokus seorang Meutia.

Sebelum menjawab, Meutia mengedarkan pandangannya. “Ini telah sampai di masjid raya seberang rumah sakit kota kecamatan. Ada apa Bang?”

“Tunggu saja di area masjid! 10 menit lagi Abang sampai situ. Tolong teleponnya berikan kepada Pakcik!” pinta suara tegas diseberang sana, Agam Siddiq.

Pakcik menerima uluran ponsel, entah apa yang dibicarakan, tapi raut sang sopir terlihat pias.

Mobil pun berbelok memasuki halaman masjid raya.

“Apa yang dikatakan oleh bang Agam, Pakcik?” tanya Meutia, keningnya mengernyit berusaha berpikir keras seraya menerka.

“Cuma disuruh menunggu di sini, Kak. Lebih baik kita ke teras masjid saja, disana lebih teduh,” beritahunya tanpa berani menatap, lalu bergegas membuka pintu.

‘Ada apa sebenarnya? Mengapa debar jantung ini tak jua mereda, seolah tengah menerima kabar duka.’

“Astagfirullah.” Meutia beristighfar, memegang dadanya, menggelengkan kepala guna mengenyahkan pikiran yang tidak-tidak, lalu keluar bersama putrinya dan berjalan ke teras masjid.

Setelah sepuluh menit penantian yang mendebarkan, sebuah mobil hardtop memasuki area masjid, turunlah sosok gagah, berwajah khas Indonesia, dirinya tidak sendirian ada sang istri. Mereka melangkah lebar dengan raut tegang bercampur kalut.

“Ada apa Bang? Mengapa kami dipaksa menunggu di sini?” tanya Meutia, dia yang duduk di pinggir teras sedikit tinggi, langsung berdiri.

Lidah Agam keluh, tak mampu merangkai kata, apalagi menatap perut buncit Meutia, dia hanya mampu menatap sendu, lalu memeluk erat adiknya.

“Abang! Cepat katakan ada apa?!”

Dengan berat hati, Agam menyampaikan kabar duka. “Bus yang ditumpangi oleh Ikram, suamimu. Kecelakaan dan masuk jurang, saat ini_”

“TAK MUNGKIN!!” Meutia melerai pelukan mereka.

"Abang bohong 'kan?!" begitu mendapati gelengan, ia kembali histeris, berusaha melepaskan cekalan tangan saudaranya.

"Lepaskan, Bang! Tia mau menyusul Bang Ikram! Hendak menagih janjinya yang mengatakan akan pulang! Lepas, Bang!"

"Meutia tolong tenang, Dek!" Agam tetap menahan tubuh yang berusaha memberontak.

"Macam mana nak tenang? Dia Suamiku! Bapak dari anak-anakku! Bila dirinya tak ada, lalu bagaimana dengan kami?!"

Tubuh Meutia melemas, dirinya tak sadarkan diri dalam dekapan Agam Siddiq.

"Tia! Bangun Dek!"

“MAMAK!!”

.

.

Bersambung.

Setting tahun 2000. Wilayah transmigrasi.

Terpopuler

Comments

🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀

🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀

Degdegan bangeet, apa ikram nantinya amnesia yah dan diakui wanita lain kalau dia suaminya. agak takut kalau ada poligami, tapi cerita kak cubik gk orang ketiga gk pernah dikasih panggung @jumirah slavina @Aᥣіstɑ. gass cerita baru nih🤣🤣

2025-11-03

16

ora

ora

Sedari pagi dapet notif novel baru, bimbang buat baca atau enggak setelah lihat sinopsis nya. Aku takut nggak kuat menghadapi cobaan rumah tangga Muetia😭😭😭

Tapi nggak dibaca penasaran. Apalagi kalau sampai ada Ayek disini, kan jadi tambah penasaran😆/Facepalm/

Bismillah, walau baru buka aja jantungku deg-deg an banget, semoga Muetia tetap bisa menjadi Meutia yang di kenal.

IKRAM AWAS AJA KALAU SAMPAI MENDUA/Curse//Curse//Curse/

2025-11-03

2

Miea Amanda

Miea Amanda

Aduh thor baru 1 bab dh bikin jantungku berdebar, dh bikin aku tegang... klo ingat petjuangan bgemana dlu Ikram ngejar Mutia, masak iya Ikram ada selingkuh... ..

2025-11-03

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!