Fitnah

Lima tahun sudah berlalu, kini Ratih kembali melahirkan anak laki-laki. Kekhawatiran Rudy akan Wulan pun tidak begitu terasa, karena hari-hari yang mereka lalui pun tampak biasa saja.

Saat itu Wulan sudah mulai belajar menulis dan menghapal angka-angka persiapan masuk sekolah. Namun beberapa hari ini Wulan demam tinggi sehingga membuat orang tuanya khawatir.

"Mas, tolong jemput Mbah Mirah, aku takut Wulan kenapa-napa." ucap Ratih khawatir, mengelus kening Wulan yang terasa panas. Tapi tak bisa maksimal mengurus Wulan karena Dia baru saja melahirkan.

"Baiklah Dek, kamu jaga Jaka dan Wulan. Aku akan segera kembali bersama Mbah Mirah."

Ratih mengangguk, dan berangkatlah Rudy menjemput Mbah Mirah, dukun beranak yang sudah dianggap sebagai orangtuanya sendiri.

Tak berapa lama kemudian, tibalah si Mbah di rumah panggung itu. Perempuan tua itu menenteng kantong plastik hitam di tangannya.

"Mbah!" Wulan bangkit, duduk di ranjangnya melihat Mbah Mirah datang.

"Nduk, kamu kenapa? Demam?" si Mbah memeluk gadis kecil itu, erat sambil mengelusnya.

Wulan mengangguk, wajahnya pucat.

"Minum dulu ya Nduk." Mbah Mirah membuka tutup botol yang di keluarkan dari kantong plastik.

"Dingin Mbah, langu." kata Wulan, setelah meneguknya beberapa.

Mbah Mirah tersenyum, sambil meminta Wulan kembali tidur dan menyelimutinya. "Ini air temu hutan yang Mbah ambil di dekat jembatan, supaya Wulan Ndak demam lagi, panasnya hilang." ucap Mbah Mirah.

Wulan mengangguk, kemudian kembali memejamkan matanya.

"Rud, ini di rendam saja pakai air matang yang dingin. Nanti kalau Wulan bangun bisa minum lagi." titah Mbah Mirah, menyerahkan potongan tumbuhan mirip bambu, namun seratnya seperti tebu itu kepada Rudy. Tumbuhan yang berkhasiat menurunkan demam.

"Iya Mbah."

Pasangan suami istri itu sungguh lega dengan kedatangan Mbah Mirah. Bukan pasal dia seorang dukun, tapi pengetahuannya tentang obat-obatan sungguh mumpuni.

Namun sepertinya ketenangan Ratih dan Rudy tak berlangsung lama.

"Mbah, jangan pulang." suara cempreng tapi lembut milik Wulan terdengar hingga keluar kamar, Ratih pun masuk ke kamar anaknya, ada apa gerangan hingga Wulan merengek kepada si Mbah.

"Mbah nginap saja malam ini." pinta Ratih.

Ternyata mbah Mirah sedang mengemas kain jarik, memasukkan ke dalam kantong plastik yang tadi di bawahnya.

"Mbah harus pulang Nduk. Perasaan Mbah Ndak enak, kepikiran Mbah Nang mu." kata si Mbah, memang sejak sore terlihat gelisah.

"Tapi ini sudah malam." kata Ratih.

"Nganu Nduk_"

Tiba-tiba suara pintu di ketuk beserta panggilan cukup keras.

"Rudy! Ratih! Buka pintunya!"

Ketiga orang dewasa itu saling pandang seketika, Ratih melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 21:50 Hampir jam sepuluh, siapakah yang datang?

Rudy segera beranjak dari duduknya, membukakan pintu. "Lho! Mas Anam?"

"Rud, apakah Mbah Mirah ada di sini?" tanya Anam.

"Ada Mas, ada." jawab Rudy, kemudian Mbah Mirah dan Ratih pun keluar melihat siapa yang datang.

"Anam, ono opo?" tanya Mbah Mirah.

"Itu Mbah! Si Wati Mbah." jawab Anam.

"Wati?" tanya Mbah Mirah heran.

"Iya Mbah, dia melahirkan di tengah jalan menuju rumah si Mbah. Tapi..."

"Tapi opo Nam?" desak Mbah Mirah, dia sungguh gugup dan khawatir, pastilah sudah terjadi hal tak baik sampai Anam mencari dirinya.

"Dia sudah meninggal." Jawab Anam.

"Inalillahi... Ya Allah." serentak ketiganya berkata.

"Ayo! Kita ke rumah si Mbah." kata Mbah Mirah.

"Aku antar Mbah." Rudy pun ikut bersama Mbah Mirah.

Perjalanan mereka cukup jauh. Rumput mulai berembun karena cuaca malam, sarung dan celana panjang tak lagi bisa menahan rasa dingin yang menyergap kaki mereka. Namun kaki tua Mbah Mirah tak mau kalah, bahkan jalannya begitu cepat setengah berlari.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketiga orang itu ketika sampai di rumah Mbah Mirah.

"Dar?" lirih Mbah Mirah menyebut nama seorang wanita yang memeluk Wati di teras gubuknya sambil menangis.

"Itu Dia! Perempuan tua yang sudah membuat anak ku mati!" teriak perempuan paruh baya itu menunjuk Mbah Mirah.

"Maksud kamu opo? Aku baru datang karena di jemput Anam?" jawab Mbah Mirah, Melihat sekeliling sudah banyak warga yang berkumpul. Padahal jarak rumah mereka masing-masing cukup jauh, mengingat mereka ada di area perkebunan dan hutan.

"Jangan percaya! Dia sengaja pergi karena tidak mau menolong anak ku. Dia berpura-pura tidak tahu, dia sengaja agar Wati anak ku mati!" perempuan bernama Darminah itu berteriak, menangis sejadi-jadinya.

"Dar! Koe ngomong opo? Mana mungkin aku menginginkan Wati mati! Dia itu keponakan ku!"

"Keponakan kata mu? Kenapa kamu tidak datang, Mas Rohman sudah memintamu datang sejak pagi!"

Mbah Mirah Semakin tercengang. "Rohman Ndak pernah datang! Tadi pagi aku ada di rumah." tegas Mbah Mirah.

"Bohong! Dia bilang, dia tidak mau datang. Dia bilang, dia tidak Sudi menolong Wati karena Wati itu wanita kotor! Dan hamil anak haram!" kata Rohman, suami Darminah.

"Man! Kamu jangan fitnah aku! Aku tidak pernah pergi dari rumah ini sebelum sore tadi Rudy menjemput ku." marah Mbah Mirah.

"Aku tidak fitnah! Aku saksinya!" jawab Rohman.

Jadilah semua warga berbisik-bisik marah, melirik Mbah Mirah dengan sinis.

"Tenang Pakde, tapi Mbah Mirah tidak mungkin seperti itu." bela Rudy.

"Halah! Kamu berkata seperti itu karena dia pilih kasih! Kamu tidak tahu saja, dia menyukai anakmu untuk di wariskan ilmu sesat suaminya!"

Semakin tercengang pula semua orang mendengar ucapan Rohman. Seolah mereka mengetahui rahasia Mbah Mirah dan suaminya yang selalu baik kepada keluarga Rudy selama ini. Semua itu tak lebih seperti kata pepatah, ada udang di balik batu. Meski ada kebaikan, tapi dengan maksud tertentu.

"Rohman! Tutup mulutmu!"

Suara bentakan terdengar memecah keributan, akhirnya suami Mbah Mirah datang. Pria itu baru saja pulang membawa seekor kijang kecil hasil buruannya.

"Nah! Ini dia pria berilmu sesat itu! Lihatlah tangannya penuh darah! Dia sudah membunuh anaknya Wati! Dia sudah menumbalkan anaknya Wati!"

"Benarkah itu?" tanya Pak De Suryo yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. Diapun penasaran.

Suami Mbah Mirah tersenyum tipis, lalu melemparkan hewan hasil buruannya yang sudah tak berdaya itu ke Tanah.

"Tidakkah kalian lihat kalau aku baru saja menombak Menjangan muda ini?" ucapnya.

^^^Menjangan \= Kijang^^^

"Itu hanya alasan! Tadi ku lihat lampu rumah ini menyala! Lalu saat aku kembali sudah padam dan anaknya Wati menghilang. Tali pusarnya terputus seperti di potong orang yang sudah ahli. Padahal aku hanya memanggil Anam meminta bantuan. Jangan-jangan, dia berikan kepada hewan junjungannya!"

"Rohman!" teriak Mbah Suro itu mulai naik pitam, dia benar-benar tidak tahu perihal bayinya Wati. "Seburuk-buruknya penampilan ku, aku tidak pernah membunuh manusia!"

Terpopuler

Comments

𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ UttariB3n²ᄂ⃟ᙚ🍒⃞⃟🦅

𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ UttariB3n²ᄂ⃟ᙚ🍒⃞⃟🦅

fitnah lebih kejam dari pembunuhan.
sengaja mereka mematikan karakter mbah mirah dan suami nya.
ntah apa tujuannya rohman ini

2025-11-21

0

💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ

💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ

wehh tiba2 saja ini ada apa yaa

2025-11-17

1

Ayuk Witanto

Ayuk Witanto

seperti si Rohman ini punya dendam

2026-03-31

0

lihat semua
Episodes
1 Tibo Loro
2 Fitnah
3 Menjadi abu
4 Teman masa kecil Wulan
5 Guna-guna
6 Guna-guna masih berlangsung
7 Guna-guna tanah kuburan
8 Tirakat bersama Ustadz
9 Mengembalikan tanah guna-guna
10 Surat cinta Mas Arif
11 Tamu yang di tunggu-tunggu
12 Nekat
13 Rahasia Yuni
14 Firasat Yang berbeda
15 Terkena guna-guna
16 Mati
17 Kekuatan dendam Wage
18 Menemukan dukunnya
19 Tak ada jejak
20 Bertemu Bara
21 Di hembus pelet
22 Penjaga
23 Siapa Si Mbok
24 Nia datang, Sarinah pulang.
25 Ke rumah Bara
26 Akan menikah
27 Kembali memanas
28 Ketegangan pak Setyo
29 Masa lalu yang tak berlalu
30 Malam kedua
31 Pria tua, tetangga Mbah Somo
32 Menemukan pria tua
33 Membalas Sarinah
34 Bos Baru
35 Pengakuan Setyo
36 Wulan tidak pulang.
37 Pulang
38 Dari hati ke hati.
39 Baikan tapi nyeri
40 Dion
41 Awal kedekatan
42 Demi Cinta
43 Tiba-tiba berhenti
44 Burung tak berdaya
45 Minta maaf
46 Bertemu Dion
47 Di pukul Bara
48 Tamu dari kota
49 Ternyata Mayang
50 Selingkuh?
51 Kasar
52 Di pecat
53 Pak Setyo meninggal
54 Berkelahi
55 Malam Jum'at Kliwon mencekam
56 Buat suaminya mati!
57 Guna-guna yang gagal
58 Serangan seperti kiamat
59 Bertemu Bara
60 Bara tidak mau bercerai
61 Dion mengaku cinta
62 Mengamuk di rumah Bara
63 Mendatangi Dirman
64 Habis-habisan
65 Perpisahan yang menyayat hati
66 Setelah bercerai
67 Membuat dia datang
68 Dion ya Dion!
69 Pergi menyusul
70 Sampai
71 Bertarung dengan Rohman
72 Berhasil dikalahkan
73 Bertemu
74 Pulang
75 Di buat cemburu
76 Lamaran
77 Mimpi bertemu
78 Tangisan Bara
79 Tegang
80 MP
81 End
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Tibo Loro
2
Fitnah
3
Menjadi abu
4
Teman masa kecil Wulan
5
Guna-guna
6
Guna-guna masih berlangsung
7
Guna-guna tanah kuburan
8
Tirakat bersama Ustadz
9
Mengembalikan tanah guna-guna
10
Surat cinta Mas Arif
11
Tamu yang di tunggu-tunggu
12
Nekat
13
Rahasia Yuni
14
Firasat Yang berbeda
15
Terkena guna-guna
16
Mati
17
Kekuatan dendam Wage
18
Menemukan dukunnya
19
Tak ada jejak
20
Bertemu Bara
21
Di hembus pelet
22
Penjaga
23
Siapa Si Mbok
24
Nia datang, Sarinah pulang.
25
Ke rumah Bara
26
Akan menikah
27
Kembali memanas
28
Ketegangan pak Setyo
29
Masa lalu yang tak berlalu
30
Malam kedua
31
Pria tua, tetangga Mbah Somo
32
Menemukan pria tua
33
Membalas Sarinah
34
Bos Baru
35
Pengakuan Setyo
36
Wulan tidak pulang.
37
Pulang
38
Dari hati ke hati.
39
Baikan tapi nyeri
40
Dion
41
Awal kedekatan
42
Demi Cinta
43
Tiba-tiba berhenti
44
Burung tak berdaya
45
Minta maaf
46
Bertemu Dion
47
Di pukul Bara
48
Tamu dari kota
49
Ternyata Mayang
50
Selingkuh?
51
Kasar
52
Di pecat
53
Pak Setyo meninggal
54
Berkelahi
55
Malam Jum'at Kliwon mencekam
56
Buat suaminya mati!
57
Guna-guna yang gagal
58
Serangan seperti kiamat
59
Bertemu Bara
60
Bara tidak mau bercerai
61
Dion mengaku cinta
62
Mengamuk di rumah Bara
63
Mendatangi Dirman
64
Habis-habisan
65
Perpisahan yang menyayat hati
66
Setelah bercerai
67
Membuat dia datang
68
Dion ya Dion!
69
Pergi menyusul
70
Sampai
71
Bertarung dengan Rohman
72
Berhasil dikalahkan
73
Bertemu
74
Pulang
75
Di buat cemburu
76
Lamaran
77
Mimpi bertemu
78
Tangisan Bara
79
Tegang
80
MP
81
End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!