Guna-guna

"Ingat ya Wulan, jangan pindah rumah."

Kata-kata itu terus terngiang di telinga Wulan, pulang sekolah ia berjalan sendirian mengikuti sekelompok anak-anak yang ramai bercerita, namun dia tidak ikut bergabung, hanya berjalan mengikuti dari jarak sepuluh bahkan dua puluh meter. Kalau lebih dekat, maka akan terjadi pertengkaran dengan mereka.

Wulan sudah pernah mencobanya, berawal dari sepatah kata, lalu berakhir memukuli Wulan tanpa ampun, menarik rambut panjangnya bergantian. Beruntung ketika itu ada Arif, tapi sekarang Arif sudah pergi. Sebaiknya Wulan selalu berhati-hati.

"Oh ya Wulan. Kata ibu ku, rumah yang kamu tinggali itu ada hantunya! Apakah kamu tidak takut tinggal di sana?" kata Nia, anak bude ke dua Wulan.

Wulan terkejut, tapi tidak bisa menjawab karena diapun bingung. Apakah sosok yang mengikutinya yang dimaksudkan Nia? Tapi selama ini hanya dia yang melihatnya, bagaimana Nia dan bude bisa tahu.

"Sebaiknya, kamu tinggalkan rumah itu. Lagipula, itu bukan rumahmu Wulan." kata Nia lagi.

Wulan diam bukan karena tak pandai menjawab, tapi bila di jawab, maka urusannya akan panjang, dan mereka sudah siap mengolok-olok Wulan seperti biasa.

"Satu lagi!" Kali ini Sarinah yang berbicara.

"Jangan mimpi bisa pacaran sama Arif!"

Gleg!

Wulan menelan ludahnya yang terasa mengganjal, dia tidak memikirkan yang namanya pacaran, tapi tidak memungkiri jika Ariflah yang terbaik dihatinya.

"Nggak kok Mbak. Lagipula, kita masih kecil." jawab Wulan.

Wulan berjalan lebih cepat, mendahului anak yang lain agar tidak melanjutkan perdebatan. Apalagi sudah menyangkut tentang Arif, Sarinah akan sangat sensitif emosinya sulit dikendalikan. Wulan tahu persis jika Sarinah ingin berteman dengan Arif tapi Arif tidak mau. Lebih baik segera pulang ke rumah.

Malam itu kebetulan malam Jum'at, suara toa menggema hingga ke dalam rumahnya memberikan kedamaian dan ketenangan di dalam hati. Wulan yakin jika hantu tidak akan berani mendekati rumahnya yang tidak terlalu jauh dengan mesjid itu, dia menggunakan kesempatan itu untuk tidur lebih awal. Berharap dapat tidur nyenyak malam ini.

Namun yang terjadi diluar dugaannya, bahkan lebih parah dari malam-malam sebelumnya.

Senyum tipis terukir di wajah ayu Wulan, dalam tidurnya dia pun serasa terjaga. Melihat sekeliling kamar yang rapi dan tenang, dia sungguh merasa aman sekarang, tidak ada hantu, tidak ada sosok aneh, bahkan sosok hitam yang sering mengintipnya kini tak ada. Sungguh ini adalah suasana yang selalu di harapkan Wulan di seumur hidupnya.

Wulan duduk di bangku kayu menghadap meja belajar, mengambil cat dan mulai memberi warna pada lukisan pegunungan yang kemarin di gambarnya.

"Ternyata tanpa ada gangguan makhluk itu, hidup ini.m indah sekali." lirih suara Wulan terdengar lembut di telinganya sendiri.

Mendengar suara sendiri di telinga rupanya sangat aneh, apakah itu suara hantu? Dia melihat sekeliling, lalu menoleh ranjang dan melihat dirinya tidur nyenyak.

Wulan pun terkejut, ia beranjak dari duduknya dan menyadari jika saat ini dia sedang bermimpi. Ya, dia tidak sedang menikmati kamar yang rapi dan damai, tapi kamarnya yang mencekam dan menakutkan.

"Itu aku!" gumam Wulan, melihat sekeliling mencari sosok yang selama ini mengikutinya, dia yakin sekali ini ulah mereka.

"Kamu! Dimana kamu, hantu? Keluar!" kata Wulan, memanggil sosok baju putih dan berambut panjang.

Byurrr!!!

Remah-remah tanah kering jatuh dari langit-langit kamarnya dan memenuhi atap kelambu tipis yang ia gunakan setiap malam. Wulan mendongak, dia menatap langit-langit diatas ranjangnya, tidak ada celah dan tidak ada tanah di sana. Lalu darimana tanah kering itu jatuh lumayan banyak, seperti sengaja di taburkan orang.

"Siapa?" tanya Wulan, dia mulai ketakutan. Merasa di dalam kamar itu Wulan tidak sendirian.

"Wulan melihat segala sisi, tak ada siapapun kecuali tubuhnya yang tertidur namun wajahnya tegang.

Wulan mendekati ranjangnya, ia harus membangunkan diri sendiri, dia merasa jika terus seperti ini tidak lah baik, bisa-bisa terlepas dari raga dan mati seperti film-film legenda yang sering ditontonnya.

Brraaakkk!!!

"Aaahhhh..." Wulan menjerit sambil menutup telinga, tiba-tiba bingkai lukisan pemberian arif jatuh dan muncul sosok hantu yang menakutkan tepat di depan wajahnya.

"Aaaaaaaa..... Aaaaaahh... Ibu!" jerit Wulan.

Sosok hantu tersenyum mendekatkan wajahnya, terlihat jelas matanya sebesar bola pingpong dan hampir keluar, rambutnya kasar seperti ijuk, beruban, mulutnya lebar, tangan besar berkuku panjang menakut-nakuti Wulan.

Semakin Wulan berteriak hantu tersebut semakin senang. Ia baru sadar jika teriakkannya tertahan di tenggorokan dan terasa sesak. Tidak akan ada yang mendengarnya.

Seketika doa-doa yang di hafalkan pun hilang sulit di temukan bacaannya.

Wulan menoleh tubuhnya yang gemetar, kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan. "Aku harus bisa bangun." gumamnya di dalam hati.

Dengan seluruh keberanian yang tersisa, mencoba mengingat tuhan meskipun melupakan doanya.

"Aku harus bangun. Aku pasti bisa bangun." Wulan mencoba menggerakkan kakinya yang kaku, meraih tubuhnya sendiri yang tampak kejang-kejang.

"Bangun! Bangun!...." Wulan terus mencoba meraih tubuhnya sendiri walaupun tidak bisa.

Sosok itu pun terus menghalangi Wulan, memperlihatkan diri tepat di depan wajahnya dengan suara gemericik seperti tari Reog tanpa musik.

"Pergi kamu! Pergi!" hanya kata-kata di dalam hati. Dan makhluk tersebut tak mendengarkan, bahkan terus mendekat dan menakuti Wulan.

"Baaanguuunnn!... Ibuk!!.... Allah!" teriak Wulan berhasil terbangun dan berteriak kencang.

"Wulan!" Suara sang ibu langsung terdengar diambang pintu.

"Ibuuu...." Wulan menangis sejadi-jadinya, kaki tangannya terasa dingin.

"Kamu kenapa Nak?" tanya sang ibu.

"Wulan takut Bu, Wulan tidak mau tidur di kamar ini lagi." ucap Wulan, itu membuat Ratih dan Rudy saling menatap. Kamar Wulan tampak asing di malam ini, seperti terbawa ke suatu tempat yang amat sepi tak berpenghuni. Jam dinding berdetak begitu keras, bahkan lebih keras terdengar membuat suasana terasa mencekam. Semua benda yang menggantung di kamar Wulan terasa usang dan aneh. Pukul 00:01.

*

*

*

"Bu, Wulan tidak sekolah hari ini." kata Wulan, pagi itu ia tampak lemas meskipun semalam sempat tidak nyenyak karena di temani dan di peluk ibunya.

"Ya. Lagian sudah Ndak belajar kan?" kata Ratih, meletakkan teh hangat untuk Wulan. Besok ambil raport, hari terakhir Wulan duduk di kelas 3.

"Bu, kata Mbak Nia, rumah ini ada hantunya."

Seketika Ratih menoleh, ia menautkan alisnya bingung.

"Ndak ada." Jawab Ratih.

Tapi, buktinya Wulan selalu ketakutan. Bagaimana bisa cuma dia yang melihat, tapi yang lainnya tidak.

Sejak hari itu, Ratih dan Rudy pergi ke luar daerah mencari orang pintar, dia tidak mungkin berdiam saja akan kondisi Wulan yang demikian.

Dia menemui seorang pria yang tinggal di tengah perkebunan kakao, yang katanya pria itu bisa menerawang apa yang terjadi, atau penyebab suatu hal terjadi. Perkataannya pun cukup mengejutkan.

"Ada seseorang yang iri, dia adalah orang terdekatmu. Dia ingin kamu meninggalkan rumah itu!"

"Tapi, itu rumah ibuku. Siapa yang tidak suka kepada ku Mbah?" kata Ratih.

"Siapapun bisa tidak suka. Tak mesti bermusuhan barulah tidak suka. Yang penting kalian sudah tahu, soal solusinya kalian pikirkan sendiri."

Rudy menggeleng mendengar ucapan dukun itu, sama sekali tidak ada solusi.

"Lalu bagaimana dengan anak ku Mbah?" tanya Ratih masih sangat penasaran.

"Mereka lebih tidak menyukai anakmu, makanya guna-guna itu lebih tertuju kepada anakmu." jawab Mbah dukun tersebut sambil mengelus jenggotnya.

"Tidak suka? Salah anak ku apa?" tanya Ratih lagi.

"Mereka merasa terancam akan kehadiran anakmu, entah itu dari segi penampilan, atau nasib dan keberuntungan. Rasa iri juga tidak tumbuh karena sebab yang besar. Satu lagi, anakmu sangat lemah!"

Ratih menggeleng, beruntung apa yang dimaksudkan? Ratih merasa anaknya bahkan paling tidak beruntung dari yang lain.

Lalu siapakah manusia yang iri itu?

Terpopuler

Comments

Ayuk Witanto

Ayuk Witanto

pasti pra saudara ratih

2026-03-31

0

Arinda Fira

Arinda Fira

kasihan si wulan

2026-03-12

0

𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ UttariB3n²ᄂ⃟ᙚ🍒⃞⃟🦅

𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ UttariB3n²ᄂ⃟ᙚ🍒⃞⃟🦅

Kalau dasarnya sudah iri, maka tidak ada alasan untuk menyebutkan.
Hati dengki menguasai orang yang tidak percaya diri ,tidak puas dengan yang dia punya ,dia peroleh ,dia rasakan.
Maka benci tidak memerlukan alasan.

2025-11-21

1

lihat semua
Episodes
1 Tibo Loro
2 Fitnah
3 Menjadi abu
4 Teman masa kecil Wulan
5 Guna-guna
6 Guna-guna masih berlangsung
7 Guna-guna tanah kuburan
8 Tirakat bersama Ustadz
9 Mengembalikan tanah guna-guna
10 Surat cinta Mas Arif
11 Tamu yang di tunggu-tunggu
12 Nekat
13 Rahasia Yuni
14 Firasat Yang berbeda
15 Terkena guna-guna
16 Mati
17 Kekuatan dendam Wage
18 Menemukan dukunnya
19 Tak ada jejak
20 Bertemu Bara
21 Di hembus pelet
22 Penjaga
23 Siapa Si Mbok
24 Nia datang, Sarinah pulang.
25 Ke rumah Bara
26 Akan menikah
27 Kembali memanas
28 Ketegangan pak Setyo
29 Masa lalu yang tak berlalu
30 Malam kedua
31 Pria tua, tetangga Mbah Somo
32 Menemukan pria tua
33 Membalas Sarinah
34 Bos Baru
35 Pengakuan Setyo
36 Wulan tidak pulang.
37 Pulang
38 Dari hati ke hati.
39 Baikan tapi nyeri
40 Dion
41 Awal kedekatan
42 Demi Cinta
43 Tiba-tiba berhenti
44 Burung tak berdaya
45 Minta maaf
46 Bertemu Dion
47 Di pukul Bara
48 Tamu dari kota
49 Ternyata Mayang
50 Selingkuh?
51 Kasar
52 Di pecat
53 Pak Setyo meninggal
54 Berkelahi
55 Malam Jum'at Kliwon mencekam
56 Buat suaminya mati!
57 Guna-guna yang gagal
58 Serangan seperti kiamat
59 Bertemu Bara
60 Bara tidak mau bercerai
61 Dion mengaku cinta
62 Mengamuk di rumah Bara
63 Mendatangi Dirman
64 Habis-habisan
65 Perpisahan yang menyayat hati
66 Setelah bercerai
67 Membuat dia datang
68 Dion ya Dion!
69 Pergi menyusul
70 Sampai
71 Bertarung dengan Rohman
72 Berhasil dikalahkan
73 Bertemu
74 Pulang
75 Di buat cemburu
76 Lamaran
77 Mimpi bertemu
78 Tangisan Bara
79 Tegang
80 MP
81 End
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Tibo Loro
2
Fitnah
3
Menjadi abu
4
Teman masa kecil Wulan
5
Guna-guna
6
Guna-guna masih berlangsung
7
Guna-guna tanah kuburan
8
Tirakat bersama Ustadz
9
Mengembalikan tanah guna-guna
10
Surat cinta Mas Arif
11
Tamu yang di tunggu-tunggu
12
Nekat
13
Rahasia Yuni
14
Firasat Yang berbeda
15
Terkena guna-guna
16
Mati
17
Kekuatan dendam Wage
18
Menemukan dukunnya
19
Tak ada jejak
20
Bertemu Bara
21
Di hembus pelet
22
Penjaga
23
Siapa Si Mbok
24
Nia datang, Sarinah pulang.
25
Ke rumah Bara
26
Akan menikah
27
Kembali memanas
28
Ketegangan pak Setyo
29
Masa lalu yang tak berlalu
30
Malam kedua
31
Pria tua, tetangga Mbah Somo
32
Menemukan pria tua
33
Membalas Sarinah
34
Bos Baru
35
Pengakuan Setyo
36
Wulan tidak pulang.
37
Pulang
38
Dari hati ke hati.
39
Baikan tapi nyeri
40
Dion
41
Awal kedekatan
42
Demi Cinta
43
Tiba-tiba berhenti
44
Burung tak berdaya
45
Minta maaf
46
Bertemu Dion
47
Di pukul Bara
48
Tamu dari kota
49
Ternyata Mayang
50
Selingkuh?
51
Kasar
52
Di pecat
53
Pak Setyo meninggal
54
Berkelahi
55
Malam Jum'at Kliwon mencekam
56
Buat suaminya mati!
57
Guna-guna yang gagal
58
Serangan seperti kiamat
59
Bertemu Bara
60
Bara tidak mau bercerai
61
Dion mengaku cinta
62
Mengamuk di rumah Bara
63
Mendatangi Dirman
64
Habis-habisan
65
Perpisahan yang menyayat hati
66
Setelah bercerai
67
Membuat dia datang
68
Dion ya Dion!
69
Pergi menyusul
70
Sampai
71
Bertarung dengan Rohman
72
Berhasil dikalahkan
73
Bertemu
74
Pulang
75
Di buat cemburu
76
Lamaran
77
Mimpi bertemu
78
Tangisan Bara
79
Tegang
80
MP
81
End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!