Ardian tidak menjawab, napasnya kembali teratur. Tangannya yang sempat mengepal perlahan mengendur.
Ia menatap Tn. Joseph, lalu ibunya.
“Jadi… selama ini aku hidup di antara para pembohong,” katanya pelan.
Ardian memandang mereka berdua. Ibunya menangis. Tn. Joseph masih berdiri dengan wajah kesal dan dingin.
Ardian menggelengkan kepala, perlahan, “Jangan cari aku lagi.”
Ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.
“Adrian..!” ibunya memanggil, berlari ingin mengejarnya.
Tn. Joseph menahan lengannya.
“Biarkan dia pergi.”
Langkah Ardian tak berhenti. Suaranya menghilang bersama langkah kaki yang menjauh, meninggalkan rumah itu dan semua kebohongan di dalamnya.
“Brengsek…” gumamnya pelan.
Ardian langsung keluar dari rumah itu. Ia berjalan menembus dinginnya udara malam, tak mempedulikan luka di perutnya yang bergesek setiap langkah dan menimbulkan perih yang menusuk.
Sebuah taksi melaju di jalanan. Ardian mengangkat tangan, mobil itu berhenti. Ia masuk tanpa sepatah kata pun.
Mesin kembali menyala mobil melaju, dan keheningan mengisi ruang di sekitarnya tenang, hampa, dan tak memberi ruang untuk kembali.
Mobil berhenti di depan motel kecil di pinggir jalan, Ardian turun tanpa menoleh ke belakang. kunci kamar dilempar begitu saja ke tangannya. Ia masuk.
Ruangan itu sempit lampu kekuningan, Ardian duduk di tepi ranjang tangannya menyentuh perutnya yang perih, tapi ia tak bereaksi yang lebih sakit bukan lukanya melainkan kenyataan bahwa darah yang ia benci… ternyata akrab dengan dirinya.
Ardian berjalan menuju toilet kecil , Ia berdiri lampu di atas kepalanya berkedip pelan. Ia membuka bajunya , darah sudah mengering di kulit perutnya, Ardian menatapnya tanpa ekspresi, seolah itu bukan bagian dari tubuhnya sendiri.
Ia memutar keran hingga air mengalir, lalu dengan santai membasahi kain kecil dan menempelkannya ke luka, tubuhnya menegang sepersekian detik.
Ia mengusapnya lagi, kali ini lebih kuat. Kulitnya memerah, namun napasnya tetap tenang. Ada kilasan samar di…
Fotografer: Rahasia Kecil Seorang Fotografer
Bab 35 : Andrian.
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 70 Episodes
Comments