Mendengar hal itu, mata Lyanna dan Veyra terbelalak kaget.
“Menangkap ikan!?”
Keduanya saling bertukar pandang. Namun Marius hanya tersenyum sambil menggeleng. Lalu dia berbalik menuruni sungai itu dengan perlahan. Air mulai menenggelamkan kakinya hingga selutut. Melihat kedua putrinya masih terdiam membuat Marius kembali menoleh ke arah mereka.
“Tidak ingin turun?”
Kata itu menyadarkan keduanya. Lyanna hanya tertawa kecil sebelum berbalik dan mengambil kayu di sisi pohon. Dia membawanya ke pinggir sungai.
“Vey, kamu membawa belatimu? Pinjamkan aku sebentar...”
Veyra mengerutkan keningnya dan mengeluarkan belati dari balik pakaiannya sebelum melemparnya kearah Lyanna. Lalu dia melepaskan sepatunya sebelum melipat celananya ke atas.
“Kembalikan padaku setelah selesai.”
Lyanna mengangguk sambil mengiris ujung kayunya. “Baiklah...”
“Kayu itu untuk apa?”
Marius tiba-tiba menghampiri Lyanna dan melihat apa yang dia lakukan. Alisnya mengerut penasaran. Sedangkan Lyanna hanya mengangkat kepalanya dan mengangkat kayunya setelah selesai ujungnya dia tajamkan.
“Untuk menangkap ikan, beberapa orang menggunakannya agar lebih mudah.”
Marius mengambil kayu itu dan melihatnya. “Bagaimana cara menggunakannya? Ayah baru melihatnya.”
“...” Veyra terdiam.
Dia berjalan mendekati Marius sebelum mengambil kayunya dari tangan Marius. Berjalan ke tengah sungai sebelum dia mengangkat kayu itu keatas. Melihat air dengan seksama sebelum dia melemparnya menjauh.
“Dapat!”
Dia berlari menghampiri kayu yang tertancap itu. menariknya dan mengangkatnya hingga memperlihatkan 2 ikan besar yang tertancap di ujung kayu yang tajam.
Lyanna tersenyum. “Berikan padaku...”
Veyra membawanya ke pinggir sungai dan memasukkan ikan itu ke dalam bakul di samping Lyanna. Lalu Veyra memberikan kayu itu ke Marius kembali.
“Ayah, cobalah...”
Marius mengambil kayu itu dan mengangguk. “Okey, ayah akan coba...”
Dia mulai berjalan ke tengah untuk mencari ikan. Sementara Veyra ikut mengikuti Marius dengan menangkap ikan dengan tangan kosong. Terkadang dia menyiprati Lyanna yang sedang membersihkan ikannya di bebatuan. Ayahnya yang melihat hal itu hanya tertawa.
Mereka awalnya merasa canggung dan aneh terhadap semua ini...namun semakin lama, semakin menyenangkan.
...
“Ibunda, biarkan aku yang melakukannya.”
Yvaine menggunakan batu untuk membuat api. Celestine hanya duduk di sampingnya dan melihat Yvaine dengan mudah membuat api dengan cara itu.
“Kau sangat pintar...bagaimana kamu tahu caranya?” tanya Celestine.
Yvaine menoleh. “Aku belajar dari beberapa orang yang kutemui saat di luar istana.”
“Bisakah kamu mengajariku juga?”
Tertegun, Yvainne mengangguk. “Hal lain, soal ini...biarkan aku saja. Tangan ibu bisa terluka karena gesekan batu dan aku tidak menginginkan hal itu.”
“Apa yang kau bicarakan? aku juga tidak menginginkan hal yang sama...”
Celestine menarik tangan Yvainne dan membaliknya. Memeriksa apa tangan Yvainne terluka atau tidak. Melihat itu...Yvaine hanya menatap Celestine dalam diam. Senyumnya perlahan tumbuh saat dia menunduk.
“Aku baik-baik saja, bunda.”
Tak lama, suara langkah kaki terdengar mendekat. Mereka menoleh dan memperlihatkan Marius, Veyra dan Lyanna kembali dengan pakaian yang basah kuyup. Celestine tertegun melihatnya, sementara Yvainne tertawa kesal melihat kejengkelan di wajah kedua adiknya.
“Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kalian?” Celestine berlari menghampiri mereka.
Mata Veyra melirik kesal kearah Yvaine. “Tidak lucu...”
“Sudah, sudah...ayo keringkan pakaian kalian dulu. Ibu dan Yvaine akan memasak ikannya.”
Yvaine beranjak bangun dan mengambil bakul dari tangan Lyanna. Dia melihat beberapa ikan besar dan ikan kecil yang tertumpuk disana. Matanya melirik kearah Marius yang kini sedang di seka wajahnya dengan sapu tangan oleh Celestine.
“Apa kalian bertukar hidup pada ikan? Ikan tertangkap dan kalian yang tercebur?” dia melirik.
Lyanna mendengus kesal. “Diamlah, jika dia tidak menjahiliku...kita tidak akan terjatuh ke sungai.”
“Sial, kamu menyalahkanku? Aku hanya menyiprati air sedikit, tapi kamu malah menyiramku dengan air sebakul.” Veyra melipat kedua tangannya. “Apa kau pikir itu adil?”
Cinta Yang Terbelenggu MAHKOTA
Chapter 85 : Bertukar Hidup Dengan Ikan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 117 Episodes
Comments