Bab 4

Kenanga menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia turun dari mobil dan berjalan menuju sebuah taman yang cukup luas. Dirinya ingin menenangkan pikirannya terlebih dahulu dan melupakan sejenak masalah yang mengusik hati dan pikirannya.

Jika di hari libur biasanya taman ini ramai, berbeda dengan saat ini, suasana taman tampak sepi, hanya ada beberapa orang saja. Kenanga tersenyum saat melihat seorang anak kecil berusia dua tahun sedang bermain dengan kedua orang tuanya. Senyum anak itu membuat siapa pun yang melihatnya tanpa sadar ikut tersenyum juga.

Andai saja dirinya memiliki seorang anak, setidaknya ada yang menjadi penghibur di saat bersedih seperti sekarang ini. Namun, dia juga bersyukur setidaknya tidak akan ada anak yang akan terluka jika dirinya berpisah dengan sang suami. Setiap perceraian orang tua pasti ada anak yang terluka dan itu sudah banyak terjadi di sekitarnya.

Kenanga pun teringat dengan kedua orang tuanya dan merasa sangat rindu pada mereka. Dia mengeluarkan ponsel miliknya dan mencoba untuk menghubungi nomor ibunya.

"Assalamualaikum, Kenanga, apa kabar?" tanya Salma—ibu dari Kenanga.

"Waalaikumsalam, Ma. Aku baik, Mama sendiri bagaimana kabarnya?"

"Alhamdulillah, Mama sehat."

"Papa dan Lucky bagaimana kabarnya?"

"Semuanya baik-baik saja. Kamu sudah lama tidak berkunjung ke sini, apa kamu tidak kangen dengan kita semua di sini?"

"Insya Allah dalam waktu dekat Kenanga akan ke sana, Ma."

"Benar? Kamu datang ke sini sendiri apa sama suamimu? Oh iya, bagaimana kabar suamimu? Mama sampai lupa menanyakan kabarnya karena terlalu fokus sama kamu."

Kenanga terdiam, dia jadi teringat dengan perilaku suaminya selama ini. Kedua orang tuanya begitu menyayangi dan menganggap pria itu seperti anaknya sendiri. Meskipun saat awal pernikahan kedua orang tuanya kurang menyukai Bima, tapi karena dirinya yang bersikeras untuk menikah dengan Bima. Kedua orang tuanya pun mengalah dan mencoba menerima kehadiran menantunya itu dengan ikhlas.

Sekarang entah bagaimana perasaan mereka jika tahu menantu yang mereka sayangi selama ini ternyata memiliki sikap yang begitu buruk. Mudah-mudahan saja kedua orang tuanya akan baik-baik saja jika mengetahui kebenaran yang ada.

"Kenanga, kenapa diam saja? Apa terjadi sesuatu dengan suamimu?" tanya Sophia karena tidak biasanya Kenanga terdiam cukup lama saat berbicara.

Kenanga tersenyum, mencoba untuk meredakan emosinya agar ibunya tidak mengetahui perasaannya kini. Dia takut suaranya bergetar dan membuat orang tuanya khawatir. Kenanga yakin bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Tidak akan sulit setelah dirinya mendapatkan bukti mengenai kejahatan sang suami.

"Mas Bima baik-baik saja, Ma. Tidak ada sesuatu yang buruk, Mama jangan terlalu khawatir."

"Kamu tadi diam saja, Mama 'kan jadi berpikir yang tidak-tidak. Jadi kamu ke sini sendiri apa sama suamimu?"

"Aku masih belum tahu, Ma. Nanti kalau aku ke sana aku akan memberi kabar."

"Ya sudah, kalau begitu Mama tunggu kedatangan kamu."

"Ma ...."

"Iya, ada apa?"

"Jika ...."

Kenanga tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia mengepalkan satu tangannya yang bebas dengan kuat. Ingin sekali menceritakan semuanya pada sang Ibu mengenai apa yang terjadi di sini. Namun, dirinya tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya, khawatir jika ibunya akan sangat terkejut.

Meskipun ibunya tidak memiliki riwayat penyakit jantung, tapi setiap orang tua pasti akan selalu mengkhawatirkan anaknya. Kenanga takut ibunya khawatir yang berlebihan dan membuatnya jatuh sakit.

"Ada apa, Kenanga? Jika apa?"

"Tidak ada apa-apa, Ma. Nanti saja aku ceritakan kalau aku sudah ada di sana."

"Kamu ini membuat Ibu jadi penasaran saja."

"Tidak ada apa-apa kok, Ma. Hanya masalah sepele saja."

"Benar?"

"Iya."

"Baiklah, Mama akan tunggu kamu di sini untuk berkunjung bersama suamimu."

"Iya, Ma. Mama jaga diri dan kesehatan, ya! Aku tutup dulu teleponnya, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Air mata Kenanga kembali menetes. Sungguh dia tidak sanggup menyakiti hati kedua orang tuanya. Mereka pasti akan sangat hancur mengetahui dirinya selama ini hanya dimanfaatkan oleh mereka, tapi untuk bertahan dalam rumah tangga yang seperti ini pasti akan lebih banyak merasakan kesakitan. Kenanga benar-benar dilema. Namun, keinginan untuk berpisah jauh lebih kuat. Entah bagaimana akhir dari kehidupan rumah tangganya ini, biarlah waktu yang menjawabnya.

***

"Ada apa, Ma? Kenapa melamun?" tanya Halim—ayah Kenanga—pada sang istri.

"Pa, sepertinya sesuatu terjadi pada Kenanga," jawab Salma.

"Kenanga? Ada apa dengan dia? Apa dia ada masalah?"

"Itu dia yang Mama tidak tahu. Sepertinya dia sedang ada masalah, hanya saja dia tidak mau cerita sama Mama. Kira-kira dia kenapa ya, Pa?"

"Apa tadi Kenanga cerita sesuatu? Selama ini dia terlihat baik-baik saja."

"Justru itu, dia sama sekali tidak mau mengatakan apa pun pada Mama, tapi Mama tahu jika dia sedang bersedih."

"Kalau begitu Mama diam saja, tidak perlu tahu apa yang terjadi, kecuali Kenanga sendiri yang menceritakannya pada kita. Dia sudah memiliki keluarga sendiri dan dia pun berhak mau bagaimana dalam kehidupannya."

"Tapi Mama benar-benar khawatir, Pa. Bagaimana kalau dia sedang ada masalah yang besar?"

"Kenanga itu anak kita, dia kuat, pasti bisa menghadapi setiap apa pun masalah yang datang. Kita sebagai orang tua harus percaya padanya. Doakan saja agar dia mampu melewati ujian yang datang padanya, entah dalam bentuk apa pun itu."

"Semoga saja ya, Pa. Mama juga selalu berdoa untuk kebaikan Kenanga. Bukan hanya untuk Kenanga saja, tapi juga untuk Lucky. Semoga kedua anak kita selalu bahagia."

"Amin."

"Tapi, Pa ... kalau sampai bulan depan Kenanga belum juga cerita masalahnya pada kita, bisakah Papa cari tahu tentang apa yang terjadi pada Kenanga? Mama janji tidak akan ikut campur jika itu masalah rumah tangganya. Mama hanya khawatir jika ada orang lain yang ingin mencelakainya."

"Baiklah, kalau bulan depan Kenanga belum juga cerita Papa akan mengirim orang untuk mencari tahu apa yang terjadi. Semoga semua baik-baik saja."

***

Kenanga menghabiskan waktu lebih lama di taman. Selain karena malas untuk pulang, dia juga tidak memiliki kesibukan apa pun jika di rumah. Sejak Kenanga menikah, memang dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Apa pun yang dilakukan juga atas persetujuan sang suami.

Bima juga melarang Kenanga Bekerja karena ingin memiliki istri yang selalu di rumah, menunggu kepulangannya dan merawat Davina yang saat itu masih balita. Sekarang lihatlah! Anak yang Kenanga sayangi dan dibesarkan juga ternyata menghianatinya.

Dia kira Davina juga menyayanginya seperti ibu kandungnya sendiri, tapi ternyata saat ibu kandung sudah datang anak itu lebih memilih ibu kandungnya. Sekarang Kenanga sadar di mana seharusnya tempatnya berada. Keluarga itu memang dari awal bukanlah miliknya, sudah seharusnya Kenanga mengembalikan tempat yang dia duduki selama ini pada orang yang seharusnya.

Terpopuler

Comments

Khairul Azam

Khairul Azam

cerita novel yg aku benci tu begini, boleh dia pyra pura depan orang yg menghianati tp tidak dgn kedua orang tuanya

2026-08-03

0

YuWie

YuWie

kacang lupa pada kulitnya..ya anak tirimu itu kenanga..kuat..kuat

2026-06-29

0

Ummi Adzkia

Ummi Adzkia

mama nya kenanga, Sophia juga Tah?

panggilan nya ibu atau mama?

2026-05-25

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88. Davina 1
89 Bab 89. Davina 2
90 Bab 90. Davina 3
91 Bab 91. Davina 4
92 Bab 92. Davina 5
93 Bab 93. Davina 6
94 Bab 94. Davina 7
95 Bab 95. Davina 8
96 Bab 96. Davina 9
97 Bab 97. Davina 10
98 Bab 98. Davina 11
99 Bab 99. Davina 12
100 Bab 100. Davina 13
101 Bab 101. Davina 14
102 Bab 102. Davina 15
103 Bab 103. Davina 16
104 Bab 104. Davina 17
105 Bab 105. Davina 18
106 Bab 106. Davina 19
107 Bab 107. Davina 20
108 Bab 108. Davina 21
109 Bab 109. Davina 22
110 Bab 110. Davina 23
111 Bab 111. Davina 24
112 Bab 112. Davina 25
113 Bab 113. Davina 26
114 Bab 114. Davina 27
115 Bab 115. Davina 28
116 Bab 116. Davina 29
117 Bab 117. Davina 30
118 Bab 118. Davina 31
119 Bab 119. Davina 32
120 Bab 120. Davina 33
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88. Davina 1
89
Bab 89. Davina 2
90
Bab 90. Davina 3
91
Bab 91. Davina 4
92
Bab 92. Davina 5
93
Bab 93. Davina 6
94
Bab 94. Davina 7
95
Bab 95. Davina 8
96
Bab 96. Davina 9
97
Bab 97. Davina 10
98
Bab 98. Davina 11
99
Bab 99. Davina 12
100
Bab 100. Davina 13
101
Bab 101. Davina 14
102
Bab 102. Davina 15
103
Bab 103. Davina 16
104
Bab 104. Davina 17
105
Bab 105. Davina 18
106
Bab 106. Davina 19
107
Bab 107. Davina 20
108
Bab 108. Davina 21
109
Bab 109. Davina 22
110
Bab 110. Davina 23
111
Bab 111. Davina 24
112
Bab 112. Davina 25
113
Bab 113. Davina 26
114
Bab 114. Davina 27
115
Bab 115. Davina 28
116
Bab 116. Davina 29
117
Bab 117. Davina 30
118
Bab 118. Davina 31
119
Bab 119. Davina 32
120
Bab 120. Davina 33

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!