Motor Antik

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Tok… tok… Selina, ini Bapak.”

Selina mengusap pipinya, mengumpulkan keberanian. “Masuk, Pak. Nggak dikunci.”

Pintu terbuka, dan Bejo melangkah masuk perlahan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap putrinya dengan lembut.

“Bapak mau ngomong, Nak…”

Selina langsung memotong, suaranya tenang walau matanya masih sembab.

“Pak, Selina mau kok nikah sama Adipati. Bapak tenang aja.”

Bejo tertegun. “Kamu serius, Sel?”

Selina mengangguk. “Serius, Pak. Lagipula… nangisin Evan juga nggak ada gunanya. Dia udah punya yang baru. Selina nggak mau buang waktu buat orang kayak gitu lagi.”

Wajah Bejo mengendur, lega. “Bapak yakin, Sel… Adipati itu bakal jadi suami yang baik. Bapak tahu dia luar dalam. Dia nggak akan nyakitin kamu.”

“Iya, Pak. Selina percaya.”

Bejo tersenyum lebar untuk pertama kalinya hari itu. “Sudah, sana ke bawah. Mas-mu sudah nunggu. Kamu harus fitting baju.”

Selina tersentak. “Fitting baju pengantin, Pak?”

“Iya. Bapak mau ngurus dokumen nikahan kamu hari ini sekalian.”

Bejo bangkit dan keluar kamar dengan langkah ringan, seolah beban beberapa tahun terakhir terangkat.

Selina menghela napas panjang, lalu bangkit dan berganti pakaian. Ia turun ke bawah, di mana Arga sudah menunggu sambil memegang kunci motor.

Arga menatap adiknya. “Kamu kenapa? Matamu sembab.”

“Nggak apa-apa, Mas. Ayo jalan.” Selina naik ke boncengan motor.

Arga menyalakan mesin sambil berkata pelan, “Jangan gitu, Sel. Adipati itu baik kok orangnya. Mas yakin dia bisa jadi imam yang benar buat kamu.”

Selina menatap punggung kakaknya. “Iya, Mas. Aku udah terima. Nanti aku yang kerja… dia yang urus rumah dan anak-anak.”

Arga hanya menghela napas, tak ingin berdebat.

Motor melaju pelan melewati jalan desa yang masih berkabut pagi. Mereka akhirnya berhenti di sebuah salon desa sekaligus tempat wedding organizer sederhana.

“Assalamu’alaikum…” suara Selina terdengar pelan saat ia membuka pintu salon desa itu.

“Wa’alaikumsalam, silakan masuk!” sahut pemilik salon, Bu Ratri, dengan senyum lebar.

“Mau fitting baju pengantin, kan? Ayo, ayo! Ibumu tadi udah WA, sekalian ngumumin di grup RT.”

Selina terdiam sesaat. Ibu sampai umumin grup RT…?

Ia berjalan mengelilingi rak kebaya. “Bu, yang ini bagus.” Selina menunjuk kebaya berwarna dusty pink.

Bu Ratri mendekat. “Bagus, bagus… tapi yang ini mahal, Mbak. Calonnya mampu? Setahu saya Mas Adi itu pengangguran.”

Selina tersenyum tipis. “Bapak saya yang bayar semuanya.”

“Ya ampun… kok kamu mau-maunya sih dijodohin sama pengangguran kayak Adi. Iya sih ganteng, tapi males keluar rumah, kerjaan nggak ada.”

Selina menarik napas sabar. “Udah jodohnya, Bu.”

“Tapi kamu kan dokter, Mbak. Banyak yang setara sama kamu. Jangan mau sama—”

“Ehem.”

Keduanya menoleh. Adipati berdiri di pintu, memakai kaos sederhana tapi senyumnya sopan.

Bu Ratri langsung cengengesan. “Eh, Mas Adi! Masuk, masuk. Mau fitting juga, ya?”

Adipati mendekat ke Selina. “Kamu suka yang itu? Ambil aja. Nanti saya yang beli. Atau… kamu mau kebaya yang didesain langsung desainer kota? Saya bisa bawa kamu sekarang.”

Bu Ratri mendengus tajam. “Halah, nyewa aja nggak mampu. Apalagi beli. Sok banget ngomong desainer kota.”

Selina buru-buru menahan. “Nggak usah, Mas. Yang ini aja.”

Adipati mengangguk. “Kalau kamu suka, ya sudah.”

Ia mengambil setelan beskap untuk dirinya.

Selina masuk ruang ganti, mengenakan kebaya pilihan. Begitu ia keluar, seluruh ruangan mendadak hening.

Adipati terpaku. Tatapannya melekat pada Selina seperti tak berkedip.

“Cantik…” ucapnya lirih.

Bu Ratri mendecak. “Udah jangan diliatin begitu, Mas. Untung masih ada yang mau sama kamu. Padahal seluruh gadis di desa ini udah nolak kamu mentah-mentah.”

Selina menoleh tajam pada Bu Ratri, namun Adipati hanya tersenyum kecil—tidak marah, tidak protes, hanya diam seolah sudah terbiasa diremehkan.

Setelah selesai fitting kebaya, berdiskusi soal makeup dan hairdo, Selina dan Adipati keluar dari salon. Arga sudah lebih dulu pulang, meninggalkan mereka berdua.

Adipati menoleh. “Mas Arya udah pulang duluan. Kamu pulang bareng saya aja, ya?”

Selina baru menyadari motor antik yang dipakai Adipati—sebuah motor tuanya, catnya sudah kusam dan bunyinya serak padahal itu motor antik yang harganya fantastis hanya para kolektor yang tau.

Selina menelan ludah. “Mas… kita naik ini? Kamu yakin?”

Adipati menatap motornya sebentar lalu ke Selina lagi. “Yakin, Mbak. Emangnya kenapa?”

“Nggak… nggak apa-apa.”

Selina naik ke boncengan dengan hati-hati.

Motor mulai berjalan. Baru beberapa meter, mereka melewati polisi tidur agak tinggi. Selina yang tidak pegangan langsung tersentak dan spontan memeluk pinggang Adipati.

“Pelan-pelan! Jangan ngebut, Mas!” Selina memprotes sambil deg-degan.

Adipati tertawa kecil. “Itu barusan polisi tidur, Mbak. Tapi iya, saya pelanin.”

Beberapa detik hening sebelum Adipati membuka suara lagi.

“Mau mampir ke rumah saya dulu? Biar kamu tahu besok kita tinggal di mana.”

Selina cepat menjawab, “Nggak usah, Mas. Setelah kita nikah, aku mau tinggal di rumah orang tuaku aja.”

Adipati mengangguk tanpa keberatan. “Ya sudah, nggak apa-apa. Hak kamu memilih.”

Selina menatap punggung Adipati diam-diam.

Pasti rumahnya reyot juga… kayak motor tua ini. Mending aku tinggal dirumah bapak, gumamnya dalam hati.

Motor melaju pelan menuju rumah Selina, sementara pikiran Selina penuh rasa waswas tentang masa depan yang tiba-tiba berubah drastis.

Terpopuler

Comments

ini risma🐝

ini risma🐝

selina no no heiiii,harus positif thinking duluuuu😭

2026-01-18

3

safaana

safaana

lain kali Adi kalau ketemu sama pemilik buat fitting baju skalian jaitin mulutnya biar gak sembarangan bicaranya

2026-01-30

1

Cicih Sophiana

Cicih Sophiana

yah klo Adi memperlihatkan kan harta nya pasti cewek matre hanya mau hartanya aja sih...

2026-01-18

1

lihat semua
Episodes
1 Living together
2 Lamaran di tolak
3 Motor Antik
4 Mahar lima miliar
5 Pindah kerumah suami
6 Tidur satu ranjang
7 Guling pembatas
8 Pijat
9 Mall
10 Nasi goreng
11 Black card
12 Nginep
13 Bapak minta cucu
14 undrwer
15 Mimpi basah
16 Direbutin ibu-ibu komplek
17 Kencan
18 Mengambil hati suami
19 Handuk jatuh
20 Dinner Romantis
21 Obat Perangsang
22 Salah Sasaran
23 Hotel
24 Olahraga Malam
25 Noda Merah
26 Bersayap
27 Salting
28 Palang Merah
29 Morning kiss
30 Honeymoon
31 Perkebunan
32 Pekerjaan Adipati
33 Duduk di pangkuan
34 Hawa nafsu
35 Ngidam
36 Suap-suapan
37 Main Solo
38 Koas
39 Kegigit
40 Nafkah
41 Married By Accident
42 Pacaran Versi Halal
43 Linggrie
44 Kondom
45 Hotel
46 Malam Pertama
47 Kissmark
48 Cek Out Hotel
49 Gendong cucu
50 Perjanjian pra-nikah
51 Perjanjian Pasca-Nikah
52 Pemisahan Harta
53 Quality Time
54 Pengobatan Jantung
55 mandi bersama
56 pijat plus plus
57 Cemburu
58 Penggemar Adipati
59 Parfume Wanita
60 Jatah suami
61 Tidur diluar
62 Notaris
63 Hubungan pernikahan
64 Suprise
65 Malam panas
66 Masa Subur
67 Kondom
68 Pasang CCTV
69 CCTV
70 Tabrak lari
71 Oprasi
72 Bukti
73 Kabar Duka
74 Pemakaman
75 Penangkapan
76 Bertemu pengacara
77 Kafe
78 godaan pelakor
79 Warisan
80 Rebutan warisan
81 Wasiat
82 Diusir
83 kerja sama
84 Jatah
85 Mulai Koas
86 Merampok
87 Ditangkap polisi
88 Pengagum
89 Jatuh cinta pada pandangan pertama
90 Firasat
91 Obses
92 Posesif
93 Nantangin
94 Dipecat
95 Istri orang lebih menantang
96 Playing victim
97 obat perangsang
98 Janda kaya raya
99 Batu Berlian
100 Balas dendam
101 Kantor polisi
102 Talak
103 morning sickness
104 Hamil
105 Tespek
106 Garis 2
107 USG kandungan
108 Simpenan
109 Blacklist
110 Ngidam
111 Ketoprak Indomie
112 Kejutan
113 Hotel
114 Tanam Saham
115 Suap -suapan
116 END
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Living together
2
Lamaran di tolak
3
Motor Antik
4
Mahar lima miliar
5
Pindah kerumah suami
6
Tidur satu ranjang
7
Guling pembatas
8
Pijat
9
Mall
10
Nasi goreng
11
Black card
12
Nginep
13
Bapak minta cucu
14
undrwer
15
Mimpi basah
16
Direbutin ibu-ibu komplek
17
Kencan
18
Mengambil hati suami
19
Handuk jatuh
20
Dinner Romantis
21
Obat Perangsang
22
Salah Sasaran
23
Hotel
24
Olahraga Malam
25
Noda Merah
26
Bersayap
27
Salting
28
Palang Merah
29
Morning kiss
30
Honeymoon
31
Perkebunan
32
Pekerjaan Adipati
33
Duduk di pangkuan
34
Hawa nafsu
35
Ngidam
36
Suap-suapan
37
Main Solo
38
Koas
39
Kegigit
40
Nafkah
41
Married By Accident
42
Pacaran Versi Halal
43
Linggrie
44
Kondom
45
Hotel
46
Malam Pertama
47
Kissmark
48
Cek Out Hotel
49
Gendong cucu
50
Perjanjian pra-nikah
51
Perjanjian Pasca-Nikah
52
Pemisahan Harta
53
Quality Time
54
Pengobatan Jantung
55
mandi bersama
56
pijat plus plus
57
Cemburu
58
Penggemar Adipati
59
Parfume Wanita
60
Jatah suami
61
Tidur diluar
62
Notaris
63
Hubungan pernikahan
64
Suprise
65
Malam panas
66
Masa Subur
67
Kondom
68
Pasang CCTV
69
CCTV
70
Tabrak lari
71
Oprasi
72
Bukti
73
Kabar Duka
74
Pemakaman
75
Penangkapan
76
Bertemu pengacara
77
Kafe
78
godaan pelakor
79
Warisan
80
Rebutan warisan
81
Wasiat
82
Diusir
83
kerja sama
84
Jatah
85
Mulai Koas
86
Merampok
87
Ditangkap polisi
88
Pengagum
89
Jatuh cinta pada pandangan pertama
90
Firasat
91
Obses
92
Posesif
93
Nantangin
94
Dipecat
95
Istri orang lebih menantang
96
Playing victim
97
obat perangsang
98
Janda kaya raya
99
Batu Berlian
100
Balas dendam
101
Kantor polisi
102
Talak
103
morning sickness
104
Hamil
105
Tespek
106
Garis 2
107
USG kandungan
108
Simpenan
109
Blacklist
110
Ngidam
111
Ketoprak Indomie
112
Kejutan
113
Hotel
114
Tanam Saham
115
Suap -suapan
116
END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!