Sambil menangis, Ivana mengambil tisu, menyeka darah yang keluar dari sudut bibir dan hidung Ivy.
"Aku baik-baik aja," Ivy menertawakan kakaknya.
"Bodoh!" memukul pelan lengan Ivy, lalu memeluknya. Ia yang menangis sesenggukan disini, bukan Ivy yang habis dihajar. Hari ini, ia di suruh Papanya datang untuk ikut menyambut keluarga Farid, namun ia datang terlambat. Sampai rumah, langsung disambut ruang tamu yang berantakan, pecahan beling dimana-mana, dan terlihat Bi Sarti membereskan sambil menangis. Dari wanita itulah ia tahu apa yang terjadi. "Sekarang cerita sama Kakak, siapa yang menghamili kamu?"
Ivy menggeleng pelan, "Aku gak tahu."
"Ivy!" Ivana berdecak kesal. "Ini bukan saatnya untuk rahasia-rahasiaan. Cepat katakan!"
"Aku beneran gak tahu, Kak," Ivy masih memberikan jawaban yang sama. "Sudahlah, tidak penting siapa ayahnya, yang penting pernikahanku dengan Farid batal. Ayo kita rayakan!" ia naik ke atas ranjang, lonjak-lonjak sambil tertawa bahagia, bak seorang anak yang berada di wahana rumah balon.
Ivana makin terisak. Di surga, ibunya pasti menangis melihat ini.
Ivy membungkuk, menarik lengan Ivana. "Kak, ayo! Ayo kita rayakan keberhasilanku membatalkan pernikahan dan mempermalukan Papa. Aku puas, Kak. AKU PUAS!" teriaknya.
Ivana menarik lengannya, menutup wajah dengan kedua telapak tangan, tangisnya makin pecah. Terlalu banyak luka yang ditimbulkan Papa mereka, sehingga bisa mempermalukannya, merupakan kebahagiaan tersendiri.
Setelah puas lonjak-lonjak, Ivy kembali duduk di ranjang, memeluk Kakaknya.
"Aww!" Ivana kelepasan meringis.
Ivy sontak melepas pelukannya. "Apa Mas Wahyu memukulimu lagi?"
Ivana buru-buru menggeleng sambil menyunggingkan senyum palsu.
"Jangan bohong!" Ivy tak percaya, tangannya berusaha menarik resleting gaun bagian belakang Ivana meski sudah dicegah. Mulutnya menganga lebar, matanya membulat melihat banyaknya luka di punggung Kakaknya, seperti bekas cambukan. "Bangsatt!
"Udahlah, aku udah terbiasa."
"Cerai, Kak. Bercerailah darinya. Persetan dengan ancamannya akan membatalkan seluruh kerjasama dengan perusahaan Papa. Biar Papa bangkrut sekalian!" Pernikahan Ivana dan Wahyu, adalah hasil perjodohan yang dibuat Agung.
Ivana tersenyum. "Papa lebih sayang uang daripada anaknya." Ia sudah pernah mengadukan soal kelakuan Wahyu pada Papanya, tapi bukannya ada di pihaknya, Papanya malah membela Wahyu, dan memintanya untuk menjadi istri yang lebih patuh. "Biarlah, mungkin setelah aku mati, Papa baru akan sadar."
"Enggak. Nyawamu terlalu berharga, Kak," Ivy menyeka air mata kakaknya.
"Sudahlah, jangan bahas Kakak. Kita bahas kandungan kamu. Siapa ayahnya Vy, laki-laki itu harus tanggung jawab."
Ivy menggeleng, "Dia gak salah, dan gak harus tanggung jawab. Aku malah harus berterimakasih padanya, karena telah memberiku anak," ia mengusap perut sambil tertawa cekikikan. "Ini jackpot kan, luar biasa. Dia sangat tampan, nanti anakku pasti akan setampan dia. Dan nanti, keluargaku gak hanya kamu, tapi juga anak ini. Membayangkan punya dua keluarga saja, aku sudah bahagia."
"Dasar gila!" Ivana mendorong kepala adiknya agar otaknya kembali normal. "Hamil di luar nikah itu berat, Vy. Kamu akan mendapatkan sanksi sosial berupa dikucilkan, digunjing. Belum lagi, anak itu juga butuh ayah."
"Kata siapa?" Ivy malah seperti menantang. "Buktinya, kita gak butuh ayah. Bahkan mungkin akan lebih bahagia jika kita tak pernah punya ayah."
Ivana menggeleng, "Jangan bilang seperti itu. Bagaimanapun, waktu kita kecil dulu, Papa pernah menjadi ayah yang baik untuk kita. Papa juga mencukupi kebutuhan hidup kita, memberikan tempat tinggal, dan pendidikan hingga perguruan tinggi."
Ivy tersenyum kecut. "Itu karena dia ingin menjual kita, makanya dimodalin dulu. Mana mau pengusaha kaya dengan perempuan jelek dan tak berpendidikan."
"Bagaimanapun, dia orang tua kita. Orang tua kita satu-satunya," Ivana merapikan rambut Ivy. "Buruan, cerita tentang laki-laki tampan itu?"
"Hah, laki-laki tampan? Siapa?" Ivy mengernyit bingung.
Ivana membuang nafas berat. "Tadi kamu bilang, ayah anak kamu sangat tampan. Dia pacar kamu?"
Ivy tersenyum sambil menggeleng. "Dia... someone from nowhere. Aku gak kenal dia."
"Hah!" Ivana melongo, ekspresinya seperti berkata 'are you sure?'
"Iya, aku gak kenal sama dia."
"Lalu gimana ceritanya kamu bisa hamil?" Ivana sungguh tak habis fikri.
"Aku random aja, milih cowok di club, lalu aku ajak tidur."
Ivana speechless, tak bisa berkaca-kata.
"Tapi ya gak random-random amatlah. Aku pilih yang ganteng, yang keliatan kayak cowok baik-baik."
"Gak ada cowok baik-baik clubbing!" Ivana langsung mematahkan statemen adiknya. "Sama halnya kayak, gak ada wanita baik-baik yang mau sama suami orang."
"Jangan ngomong gitu, nanti kamu lagi yang tiba-tiba mau sama suami orang. Hahahha," tawa Ivy pecah.
"Kamu beneran, gak tahu sama sekali soal laki-laki itu? Sesimpel, namanya mungkin?"
Namanya Yasa, Ivy tersenyum, teringat kejadian 3 bulan lalu.
Flashback
"Lo kenapa sih?" tanya Firman, teman Ivy sekaligus bartender di salah satu club malam yang cukup terkenal. Ia meletakkan segelas minuman ke atas meja bar, tepat di depan Ivy duduk.
Ivy tak menjawab, malah meneguk sedikit minumannya. "Pahit," ia memperhatikan isi gelas tersebut. "Sepahit hidup gue," lanjutnya sambil cekikikan.
"Lo kenapa sih, bukannya perjodohan lo sama Candra udah dibatalin ya, gara-gara lo bikin dia ilfeel?" Firman tertawa cekikikan kalau ingat cerita Ivy bagaimana dia membuat calon suaminya sampai membatalkan perjodohan.
"Hilang satu tumbuh seribu," Ivy tersenyum getir. "Candra hilang, muncullah Farid."
Firman mengerutkan kening. "Dijodohin lagi?"
Ivy mengangguk. "Gini banget sih nasib gue, Fir. Hidup gue, kayak bukan gue yang punya tahu gak. Keputusan apapun, harus bokap yang ambil. Mau itu kuliah, kerja, sampai jodoh."
"Lo gak suka sama Farid?"
"Gimana mau suka, sepak terjangnya wow banget," Ivy kembali meneguk minumannya. "Track record nya panjang. Mantanya ratusan, bahkan ada beberapa yang katanya hamil, tapi di suruh aborsi."
"Kan itu cuma katanya, Vy."
"Tumben vibes lo positif," cibir Ivy.
"Emang lo udah pastikan?"
"Teman gue mantannya."
"Ya udah sih, pakai trik lama aja, bikin dia ilfeel."
"Percuma, nanti pasti juga bakalan terbit yang baru. Kaya kata gue, hilang satu tumbuh seribu. Ibarat dagangan, gak laku sama yang ini, ditawarkan ke yang lain," Ivy tertawa getir. "Gini banget nasib gue. Lo ada cara gak, supaya gue ini, gak dijodohin lagi selamanya?"
"Kalo kata lo, lo itu dagangan, artinya kudu expired dulu biar gak laku."
"Parah lo, lo mau nyuruh gue bundir gitu?" Ivy mendelik kesal. "Gue masih pengen hidup kali. Enak aja disuruh expired."
"Expired bukan berarti mati bego! Ya misal, siram tuh muka pakai air keras, biar gak ada yang mau. Salah sendiri cantik, ya laris manis dagangannya," Firman terkekeh pelan.
Ivy nyengir, nyesel minta saran pada Firman. Ya siapa yang mau merusak wajah, rugi besar kali.
Obrolan mereka terjeda karena Firman harus membuatkan minuman untuk customer.
"Eh, gue kok gak pernah liat Daniar, gak pernah main kesini lagi dia?" tanya Ivy setelah Firman beres dengan kerjaannya.
Firman mencondongkan wajah ke arah Ivy, bicara di dekat telinga. "Dia hamil."
"Hah! Hamil?" teriak Ivy.
Buru-buru Firman meletakkan telunjuk di depan bibir. "Jangan kenceng-kenceng," celingukan, takut ada yang kenal Daniar dan denger gosip itu.
"Terus, tetep kerja?"
Firman menggeleng, "Dipecat. Ya kali LC perutnya belendung, gak lakulah."
Mata Ivy tiba-tiba berbinar, ia seperti tak sengaja mendapatkan solusi. "Fir, apa gue hamil aja ya, biar gak laku, gak ada yang mau sama gue. Gak mungkin ada kan, ada keluarga kaya raya, yang mau nikahin anaknya sama perempuan yang punya anak di luar nikah."
"Sarap lo!" Firman memiringkan telunjuk di kening.
Ivy mengedarkan pandangan sambil senyum-senyum. Kali aja nemu cowok ganteng yang bisa ngasih di benih exclusive. Malam ini sangat ramai, sepertinya dunia sedang berpihak padanya, jadi pilihannya banyak. "Tumben rame banget hari ini?"
"Ada yang ulang tahun."
"Pantesan," Ivy manggut-manggut. Ia terus mengedarkan pandangan, sampai akhirnya matanya menangkap sosok yang duduk di sofa pojok, sendirian. Matanya menyipit, memfokuskan pandangan pada cowok yang dari gerak geriknya seperti kurang nyaman. "Gue kok gak pernah lihat dia ya?" menunjuk ke laki-laki itu.
"Gue juga baru ngeliat dia malam ini," ujar Firman yang juga ikut memperhatikan. "Kayaknya temannya yang ultah deh, pasti gak enak aja nolak undangan."
Ivy menghabiskan minumannya, lalu berdiri. "Coba gue deketin dia."
"Vy, lo jangan aneh-aneh," Firman hendak menarik lengan Ivy, namun tak sampai karena selain terhalang meja, cewek itu juga sudah lebih dulu melangkah. "Astaga, semoga aja cewek itu masih waras."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Yahhhh kirain yasa jodohnya Alice 🤣 ternyata malah yasa di terkam ivy duluan 🤭 ternyata yang selalu bersama, kalah cepat dengan yang baru bertemu lic. apalagi di sini ivy memang sedang ingin cari mangsa untuk dirinya hamill, supaya dia terbebas dari perjodohan yang papanya buat.
jadi penasaran..kira2 bagaimana caranya ivy bisa membawa yasa masuk kamar hotel? 🤔 apa yasa di buat telerrr atau minuman yasa di kasih Masako gitu? 🤔 bisa2nya seorang yasa malah menghamili 🤣🤣 anak yang paling kalem, nggak tahunya menghanyutkan wkwk
2025-12-07
8
Rina Damayanti
tp ivy ini tipe yg gak menye² kayanya, sebenernya anak baik ciman karna papanya egois ja jd kaya gitu, itu ivana kasianan di gebukin, parah bapaknya gak peduli ama anak, tenang vy abis ini dapet mama mertua sekelas mama sani beh baiknya gak ketulungan vy, tp ivy udah lulus kuliah, terus yasa masih kuliah alah berondong pulakah vy 🤭, alice semoga dapet jodoh baik ya, apa kabar mamanya alice ya si jonathan jg sama sekali gak ada kabar, bikin cerita tentang alice jg bakal seru kayanya nih kak tia 🤣, aku baca delmar ja ampe berkali² saking serinya
2025-12-07
1
Anjellita
nah loh...yasa ketemu penjahat cinta kayaknya🤣🤣🤣
gimana kabar alice yg kebucinan ama yasa🤭
2025-12-07
2