04. Langkah dalam gelap

.

Taksi yang ditumpangi oleh Amelia melaju membelah jalanan malam. Lampu-lampu jalan menyala bergantian di cermin kaca samping, menciptakan bayangan yang bergeser di wajah Amelia. Air matanya sudah kering, tapi rasa kosong di dada masih terasa sekeras itu. Dia hanya duduk diam, menatap ke luar dengan pikiran terbang jauh.

Dia masih belum tahu dia hendak ke mana. Semua terasa terlalu cepat, terlalu mendadak. Sejak keluar dari rumah, dia hanya mengikuti aliran perasaan tanpa rencana apapun.

“Nona, Anda mau ke mana?” tanya sopir taksi dengan nada lembut. Dari pantulan kaca spion dia menatap wajah gadis yang hanya memesan tanpa menyebutkan tujuan. Pria itu sudah menunggu lama, namun, gadis muda itu masih juga terbenam dalam pikirannya sendiri.

Amelia tersentak, seolah baru menyadari bahwa dia sedang berada di sebuah taksi yang terus melaju. Dia mengerutkan alis, memutar kepala ke kiri dan kanan, melihat lingkungan di sekitar yang semakin asing. “Ah… maaf, pak. Mohon cari hotel terdekat saja dari sini,” katanya dengan suara yang masih sedikit bergetar.

Sopir menganggukkan kepala, melihat bayangan Amelia di cermin kaca spion. “Baik, nona. Akan saya cari yang terdekat dari jalan ini,” ucapnya, seolah membaca kekhawatiran gadis itu.

Taksi melanjutkan perjalanan, berbelok ke jalan yang ramai. Amelia membuka jendela, merasakan udara malam yang menyapa lembut wajahnya. Selama beberapa menit, hanya suara mesin mobil dan kendaraan yang bersimpangan yang terdengar.

Tak lama kemudian, taksi berhenti di depan sebuah hotel bintang dua yang terlihat bersih. Temboknya berwarna putih muda, dengan lampu depan yang menyala lembut. “Ini adalah hotel yang terdekat, Nona. Apakah Anda akan turun di sini? Ataukah Anda ingin saya membawa Anda ke hotel yang lain?” tanya sopir taksi, mengingat dia menjemput Amelia di sebuah rumah super mewah. Hotel kelas dua seperti ini, mungkin bukan selera penumpangnya.

Amelia melihat ke luar, hotel kecil. Tapi, ia mulai berpikir. Mungkin dia memang harus mulai berhemat dari sekarang. Amelia pun kemudian mengangguk. “Turin di sini saja, pak. Terima kasih.” Dia membayar ongkos taksi dengan uang tunai yang dia miliki, lalu turun dari mobil sambil menarik kopernya.

Saat pintu taksi tertutup dan melaju menjauh, Amelia berdiri sendirian di depan pintu hotel. Malam semakin larut, angin malam yang dingin menyapu wajahnya. Dia menarik nafas dalam-dalam, mengangkat kepala, dan melangkah ke dalam hotel. Ini adalah langkah pertamanya dalam hidup baru yang tak dikenal.

Amelia mendekati resepsionis hotel yang hanya diisi oleh seorang pria muda dengan kacamata tipis bertengger di atas hidungnya. Lampu di area resepsionis menyala lembut, membuat ruangan terasa sedikit menenangkan meski hatinya masih berguncang.

“Ada yang bisa saya bantu, nona?” tanya pria itu dengan senyum ramah.

Amelia mengangguk, meletakkan kedua telapak tangannya di meja resepsionis untuk menstabilkan diri. “Ya, pak. Saya ingin check in. Satu kamar, satu malam saja dulu,” katanya, suaranya sudah lebih tenang meski masih terdengar lemah.

“Baik, nona. Mohon berikan KTP atau SIM untuk pendaftaran ya,” ucap pria itu sambil mengambil formulir.

Amelia terkejut sejenak, lalu cepat meraih tas selempangnya. Dia mencari KTP-nya dan menemukan itu di dalam dompet. Saat memberikan nya, dia melihat nama di KTP itu. Amelia Bramasta. Kata “Bramasta” terasa seperti batu yang menyangkut di tenggorokan. Dia ingat kata-katanya tadi pada ayahnya.

“Mulai saat ini saya hanya Amelia, tanpa Bramasta.”

Pria resepsionis mencatat datanya dengan cepat. “Sudah, nona Amelia. Kamar nomor 207, lantai dua. Harganya Rp180.000,- untuk malam ini. Mau bayar tunai atau kartu?”

Amelia menggeleng. “Tunai, pak.” Dia mengeluarkan uang dari dompet dan menghitungnya. Uang itu cukup, tapi hanya tersisa sedikit untuk hari esok.

Setelah membayar dan mendapatkan kunci kamar berbentuk kartu, Amelia menarik kopernya menuju lift. Liftnya kecil dan sedikit berisik, tapi dia tidak peduli. Saat pintu lift tertutup dan mulai naik, dia merasa seolah-olah sedang meninggalkan semua masalah di lantai bawah. Meski ia tahu, itu hanya untuk sementara. Masalah sebenarnya baru akan dia hadapi besok.

Lift berhenti di lantai dua. Amelia keluar dan mencari kamar 207. Ketika menemukannya, dia memasukkan kartu kunci dan memutar pegangan pintu. Kamarnya sederhana: ranjang satu orang, meja kecil, lemari, dan kamar mandi yang bersih. Tidak sesempurna kamar di rumahnya, tapi ini adalah tempatnya sekarang.

“Tak apa, yang penting aku bisa istirahat. Masalah nanti, pikir besok," gumamnya.

Dia meletakkan kopernya di lantai, melangkah ke depan jendela, dan membukanya. Udara malam menyebarkan aroma bunga bakung dari taman di luar hotel. Dia menatap langit yang begitu gelap, tidak ada bintang yang terlihat. Tapi di tengah kegelapan itu, dia merasa hatinya sedikit lega, dia akhirnya bebas, meski harus merasakan perpisahan yang menyakitkan.

Setelah beberapa saat berdiri di dekat jendela, Amelia menuju kamar mandi. Air pancuran membasahi badannya, meluruhkan segala lelah sepanjang hari. Ia menutup mata, membiarkan air mengalir di wajahnya sambil mencoba menghilangkan semua pikiran yang membanjiri otaknya. Perjodohan, kemarahan papanya, dan kesedihan mamanya.

Amelia merasa tubuhnya lebih segar. Ia mengenakan baju tidur sederhana yang dibawanya, membaringkan tubuh di atas ranjang. Ia menarik selimut hingga sebatas dada. Kasur hotel tidak selembut kasur rumahnya, tapi cukup nyaman untuk melepas lelah.

Wajahnya menengadah langit-langit ruang yang polos dan terang. Pikirannya berkelana entah ke mana. Ia menghela napas panjang, mengangkat tangan dan menutupi mata.

“Ah, tidak… aku harus istirahat dulu agar bisa berpikir dengan jernih,” gumamnya dalam hati. Semua masalah itu bisa dipikirkan besok. Sekarang, yang dia butuhkan hanyalah tidur untuk menyegarkan pikiran dan tubuhnya.

Perlahan, matanya mulai berat. Suara angin yang menyapu jendela dan bunyi kendaraan yang lewat dari jalan jauh membuatnya semakin nyaman.

*

*

*

Kembali ke rumah keluarga Bramasta. Suasana terasa sepi seperti tak ada nyawa. Nyonya Eliza duduk bersandar di atas ranjang mewahnya, kedua kaki selonjor lurus di atas kasur yang lembut. Tatapannya kosong, menatap dinding di depannya. Wajahnya masih basah oleh sisa-sisa air mata yang baru saja berhenti mengalir menetes di pipinya yang memerah.

Pikirannya berkelana entah ke mana, lalu kembali ke wajah Amelia yang terakhir kali dia lihat. Senyum paksa sebelum masuk taksi, mata yang penuh kesedihan tapi juga tegas. Dia membayangkan putrinya sekarang di mana, apakah sudah tidur nyenyak, apakah sudah makan malam. Rasa bersalah menyelimuti dirinya. Seharusnya dia melawan suaminya lebih keras agar Amelia tidak pergi.

“Honey… tidurlah ini, sudah malam.”

Suara Alexander menyadarkan Eliza dari lamunannya. Dia menoleh dan melihat suaminya sudah berbaring di sebelahnya, dengan mata menatap ke arahnya. Eliza mengambil nafas dalam-dalam, dadanya terasa sesak. Tanpa berkata apa-apa, dia menarik tubuhnya melorot, lalu berbaring dengan posisi memunggungi suaminya. Sesuatu yang tak pernah dia lakukan selama bertahun-tahun pernikahan mereka.

Alexander mengambil nafas dalam-dalam. Dia melihat punggung istrinya yang meringkuk. Ia tahu Eliza sedang bersedih, dan menyalahkan diri. Tapi dia tidak ingin banyak bicara dulu—kata-kata sekarang tak akan mampu menghilangkan rasa sakit mereka berdua. Dia hanya mengulurkan tangan, menarik istrinya ke dalam pelukan erat.

Eliza masih betah dalam diam bahkan ketika kepalanya terbenam di dada suaminya. Degup jantung yang terdengar tenang, seolah suaminya tidak baru saja membuat keputusan besar.

Alexander membelai rambutnya lembut, jari-jari menyentuh kulitnya dengan penuh sayang. Hanya keheningan yang disertai bunyi napas mereka yang saling berselang-seling. Detik jarum jam terdengar lebih keras dari biasanya. Di dalam pelukan itu, mereka berdua merasakan kesedihan yang sama, kesedihan karena kepergian Amelia.

"Semua akan baik-baik saja," ucap Alex.

Terpopuler

Comments

Suhadi

Suhadi

kenapa nggak di masukkan duit atau perhiasan ke kantong jaket yg di kasih tu maa...😄

2026-06-29

0

Ibrahim Efendi

Ibrahim Efendi

kok murah???

2026-04-25

0

Yunita Asep

Yunita Asep

harusnya Amel, kasih uang kes dong, dari mmh

2026-04-07

0

lihat semua
Episodes
1 01. Perdebatan di Meja Makan
2 2. Sama-sama keras kepala
3 03. Pergi
4 04. Langkah dalam gelap
5 05. Penolakan para sahabat. #Awal sebuah harapan
6 06. Berkenalan di tengah malam
7 07. Bertemu Bu Sukma
8 08. Bertemu tetangga julid
9 09. Cara memberantas hama keong pada tanaman padi
10 10.
11 11. Calon Kades
12 12. Selendang ajaib
13 13. Rencana Amelia yang mulai berjalan
14 14. Pesta demokrasi desa Karangsono
15 15. Hinaan ibunya Raka
16 16. Kemarahan Raka
17 17. Hasil panen yang baik
18 18. Persemaian bibit padi dengan media terpal
19 19. Tawaran dari Raka
20 20. Keributan di pasar
21 21. Skak mat
22 22. Membeli sepeda motor
23 23. Pergi ke Waduk
24 24. Ungkapan Perasaan Raka
25 25. Mendapat restu
26 26. Ultimatum Raka
27 27. Tikus yang meresahkan
28 28. Nasib sial Safitri
29 29. Menjemput Amelia
30 30. Bertemu camer
31 31. Cerita tentang masa lalu
32 32. Rencana licik Safitri
33 33. Salah cari lawan
34 34. Bayar ganti rugi
35 35. Rencana pernikahan
36 36. Kegelisahan Amelia
37 37. Berpamitan
38 38. Rencana jahat Bu Sundari
39 39. Pulang
40 40. Penjaga keamanan?
41 41. Sampai di rumah
42 42. Direstui
43 43.
44 44.
45 45. Kartonyono Netepi Janji
46 46. Identitas Yang Terkuak
47 47. Pengakuan Amelia
48 48. Api Cemburu Safitri dan Kecurigaan Wiranto
49 49. Menjelang Pernikahan
50 50. Pernikahan
51 51. Berkah Setelah Rewang
52 52. Sepasaran # Ke rumah Raka
53 53 . Rencana Jahat yang Gagal
54 54. Batas kesabaran Raka
55 55: Kembalinya Mbak Nuri dan Selera Aneh Amelia
56 56. Bucinnya Mas Kades
57 57.
58 58.
59 59. Positif
60 60. Kebahagiaan Raka, Kekesalan Sundari
61 61.
62 62. Persekutuan Jahat
63 63. Kecelakaan?
64 64. Alhamdulillah Selamat
65 65.
66 66. Kepanikan di Rumah Raka.
67 67
68 68. Kedatangan Orang tua Amelia
69 69. Kejahatan yang Terbongkar
70 70. Bu Sundari dan Safitri ditangkap
71 71. Widuri memilih pergi
72 72. Kejutan yang Tak Terduga #Saling Menyalahkan
73 73. Vonis untuk Sundari dan Safitri
74 74. Surat Cerai di Balik Jeruji
75 75. Acara Tujuh Bulanan
76 .76: Pengakuan dan penyesalan Darman
77 77.
78 77. Amelia melahirkan
79 79. Arshaka Bimantara
80 80. Kabar Duka dari Balik Jeruji Besi (END)
81 Terima kasih, readers hebatku
82 Promo karya baru
83 A Killer Reborn
Episodes

Updated 83 Episodes

1
01. Perdebatan di Meja Makan
2
2. Sama-sama keras kepala
3
03. Pergi
4
04. Langkah dalam gelap
5
05. Penolakan para sahabat. #Awal sebuah harapan
6
06. Berkenalan di tengah malam
7
07. Bertemu Bu Sukma
8
08. Bertemu tetangga julid
9
09. Cara memberantas hama keong pada tanaman padi
10
10.
11
11. Calon Kades
12
12. Selendang ajaib
13
13. Rencana Amelia yang mulai berjalan
14
14. Pesta demokrasi desa Karangsono
15
15. Hinaan ibunya Raka
16
16. Kemarahan Raka
17
17. Hasil panen yang baik
18
18. Persemaian bibit padi dengan media terpal
19
19. Tawaran dari Raka
20
20. Keributan di pasar
21
21. Skak mat
22
22. Membeli sepeda motor
23
23. Pergi ke Waduk
24
24. Ungkapan Perasaan Raka
25
25. Mendapat restu
26
26. Ultimatum Raka
27
27. Tikus yang meresahkan
28
28. Nasib sial Safitri
29
29. Menjemput Amelia
30
30. Bertemu camer
31
31. Cerita tentang masa lalu
32
32. Rencana licik Safitri
33
33. Salah cari lawan
34
34. Bayar ganti rugi
35
35. Rencana pernikahan
36
36. Kegelisahan Amelia
37
37. Berpamitan
38
38. Rencana jahat Bu Sundari
39
39. Pulang
40
40. Penjaga keamanan?
41
41. Sampai di rumah
42
42. Direstui
43
43.
44
44.
45
45. Kartonyono Netepi Janji
46
46. Identitas Yang Terkuak
47
47. Pengakuan Amelia
48
48. Api Cemburu Safitri dan Kecurigaan Wiranto
49
49. Menjelang Pernikahan
50
50. Pernikahan
51
51. Berkah Setelah Rewang
52
52. Sepasaran # Ke rumah Raka
53
53 . Rencana Jahat yang Gagal
54
54. Batas kesabaran Raka
55
55: Kembalinya Mbak Nuri dan Selera Aneh Amelia
56
56. Bucinnya Mas Kades
57
57.
58
58.
59
59. Positif
60
60. Kebahagiaan Raka, Kekesalan Sundari
61
61.
62
62. Persekutuan Jahat
63
63. Kecelakaan?
64
64. Alhamdulillah Selamat
65
65.
66
66. Kepanikan di Rumah Raka.
67
67
68
68. Kedatangan Orang tua Amelia
69
69. Kejahatan yang Terbongkar
70
70. Bu Sundari dan Safitri ditangkap
71
71. Widuri memilih pergi
72
72. Kejutan yang Tak Terduga #Saling Menyalahkan
73
73. Vonis untuk Sundari dan Safitri
74
74. Surat Cerai di Balik Jeruji
75
75. Acara Tujuh Bulanan
76
.76: Pengakuan dan penyesalan Darman
77
77.
78
77. Amelia melahirkan
79
79. Arshaka Bimantara
80
80. Kabar Duka dari Balik Jeruji Besi (END)
81
Terima kasih, readers hebatku
82
Promo karya baru
83
A Killer Reborn

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!