05. Penolakan para sahabat. #Awal sebuah harapan

.

Pagi datang dengan sinar matahari yang menyusup masuk melalui celah jendela kamar hotel. Amelia merentangkan tangannya, kemudian membuka perlahan matanya, dan sinar matahari menyilaukan sedikit menyinari wajahnya. Ia segera menyadari dirinya sedang berada di dalam kamar yang asing.

“Ternyata yang kemarin itu benar-benar nyata, bukan hanya mimpi buruk,” gumamnya.

Ia menghembuskan nafas perlahan, wajahnya memerah penuh dengan tekad kuat. “Tapi tidak… aku tak akan menyerah. Aku akan buktikan pada Papa kalau aku bisa hidup tanpa nama Bramasta.”

Gadis itu mulai bangkit, membersihkan diri ke kamar mandi, dan mengenakan baju yang sederhana. Setelah itu, ia turun ke lantai dasar untuk mencari makan di restoran milik hotel.

Sambil memakan nasi goreng yang ia pesan, ia mengirim pesan pada Lina, Novi dan Aulia. Para sahabat yang selama ini selalu dekat dengannya, untuk datang menemuinya di hotel tersebut. Mereka pasti bisa membantu, entah mencari tempat tinggal atau pekerjaan.

Tak lama, Lina tiba dengan wajah yang terkejut melihat Amelia.

“Amel? Kamu kenapa kenapa minta kami datang ke sini?” tanya Lina sambil duduk. Gadis itu memperhatikan sekeliling. Tak biasanya Amelia minta bertemu di tempat seperti ini. Biasanya mereka bertemu di restoran mewah atau hotel bintang lima. Lina juga memperhatikan pakaian yang saat ini dikenakan oleh Amelia, benar-benar berbeda dari biasanya membuat gadis itu mengerutkan kening.

Belum sempat Amel menjawab, Novi datang bersama dengan Aulia dengan ekspresi yang sama terkejutnya dengan Lina.

Setelah mengambil nafas dalam-dalam, Amelia menceritakan semua yang terjadi kemarin, perdebatan antara dirinya dengan sang ayah dan juga rencana perjodohan yang dia tolak, hingga akhirnya dirinya diusir dari rumah bahkan tanpa membawa apapun.

“Aku butuh bantuan kalian,” ucap Amelia di akhir cerita, seraya menatap ketiganya penuh harap

Lina dan dua teman lainnya terdiam dan saling pandang. Wajah ketiganya tampak cemas. Ia menggaruk kepala, mata tidak berani menatap Amelia. “Amel… maaf ya,” katanya dengan suara lembut. “Aku sendiri sedang dalam kesulitan—ayahku sakit, dan aku harus bayar biaya perawatan. Aku tidak bisa membantu apapun, benar-benar.”

“Aku juga," sahut Novi. “Adikku sedang butuh biaya kuliah."

“Aku…"

“Oke, tak masalah. Tidak apa-apa.” Amelia memotong sebelum Aulia mengeluarkan suara. Ia mengangguk tegas, menyembunyikan rasa kecewa di dalam hati.

Amelia ingat hari-hari yang telah mereka lalui bersama. Dulu, ketika mereka butuh bantuan berupa apa saja, Amelia selalu ada untuk mereka. Tapi sekarang, ketika ia membutuhkan bantuan, mereka seolah berlomba-lomba untuk melarikan diri.

Tanpa basa-basi, Amelia memanggil pelayan untuk membayar tagihan makan dan minumnya lalu berdiri. “Ya sudah aku pergi dulu."

“Amelia… bukan seperti itu!" teriak Lina. “Kami benar-benar…”

Tapi Amelia sudah tak peduli, juga tak ingin lagi mendengar alasan mereka. Ia melangkah meninggalkan mereka bertiga tanpa menoleh kembali, meskipun hatinya terasa seperti tertusuk duri. Sekarang, dia semakin menyadari bahwa dia hanya bisa bergantung pada dirinya sendiri.

.

Hari telah beranjak siang ketika Amelia masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Duduk bersandar di atas ranjang dengan pikiran yang bergejolak. Dia sedang menimbang apa yang hendak dia lakukan sekarang. Untuk saat ini dirinya memang masih memiliki tabungan, tapi itu juga tidak mungkin bertahan lama jika dia tidak segera mencari pekerjaan. Apalagi dia juga tidak mungkin selamanya tinggal di hotel.

Ketika dirinya masih kalut, tiba-tiba, ponselnya berdering, ada nama mamanya yang muncul di layar. Dia segera menggeser ikon hijau untuk menjawab. “Assalamualaikum, Ma?” sapanya dengan suara yang berusaha riang.

“Amel, sayangku! Kamu baik-baik saja? Kamu sudah makan apa belum? Kamu tidur di mana tadi malam?” pertanyaan beruntun dari Eliza. Suara wanita itu terdengar cemas di ujung telepon.

Amelia mengangguk meskipun tidak terlihat. “Ya, Ma, aku baik-baik saja. Sekarang aku menginap di hotel. Jangan khawatir, Ma. Aku pasti bisa menjaga diri.”

Setelah beberapa menit berbincang, Amelia menutup telepon. Dia kembali bergulat dengan pikirannya sendiri, merasa semakin terjebak. Tiba-tiba saja, ia teringat pada Bu Sukma, bibi pelayan yang dulu bekerja di rumahnya. Wanita yang mengundurkan diri dua bulan yang lalu, karena suaminya sedang sakit dan memintanya tidak lagi bekerja.

Sebersit ide muncul di otaknya. “Apa aku pergi ke desanya, ke Bu Sukma saja ya?” gumamnya. Dia berpikir, dengan tinggal di desa bersama Bu Sukma, mungkin dia bisa menerapkan apa yang selama ini dia pelajari tentang tanaman dan alam.

Amelia menjentikkan jari dengan senang, merasa ada harapan lagi. Dia segera membuka ponselnya, dan mencari nomor kontak Bu Sukma. Setelah beberapa saat mencari, dia akhirnya menemukan nomor itu dan segera menekan tombol panggil. Jantungnya berdebar kencang menunggu jawaban dari sisi lain.

Setelah beberapa detik menunggu, suara lembut Bu Sukma terdengar dari ujung telepon.

“Assalamualaikum… siapa ya ini?”

Amelia segera tersenyum, dada terasa lega. “Waalaikumsalam, Bu Sukma. Ini Amelia, Bu. Amelia Bramasta.”

“Amelia?” Ada jeda sejenak di sisi lain. Kemudian, suara Bu Sukma menjadi lebih meriah. “Ya Allah, Non Amel? Alhamdulillah, bagaimana kabarnya, Non?”

Amelia menekan bibirnya, merasa rasa rindu muncul kembali. “Aku baik kok, Bu. Tapi… Bu, maaf mengganggu, ya. Ada sesuatu yang Amelia mau minta ke Ibu.”

“Ya, Non, silakan saja. Apa pun itu, Ibu dengar.”

Amelia mengambil nafas dalam-dalam sebelum berbicara. “Bu… Amelia mau minta tolong. Kalau misal Amelia ingin pergi ke tempat Ibu, boleh tidak?”

Bu Sukma terdiam, masih belum bisa mencerna maksud Amelia. Dalam pikirannya Amelia ingin datang untuk berlibur. “Oh, ya boleh, Non. Datang aja. Ibu senang kalau Non Amel mau main ke sini."

"Beneran boleh, Bu?” Amel begitu gembira.

“Ya, boleh dong, Non. Kapan Non Amel mau datang? Ibu bisa minta keponakan ibu buat jemput Non Amel di terminal.”

Amelia merasa mendapat harapan. Ia segera meminta alamat desa Bu Sukma.

Setelah menutup telepon, Amelia menangis lepas sambil tersenyum. Akhirnya, ada tempat yang mau menerimanya. Rasanya seperti beban di dada semakin ringan, dan untuk pertama kalinya sejak kemarin, dia merasakan harapan yang sesungguhnya.

Amelia segera mengemas seluruh barang-barangnya lalu kembali memasukkan ke dalam koper dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Setelah itu dia segera membuka aplikasi taksi di ponselnya. Dia memesan taksi yang akan menjemputnya di depan hotel.

Setelah memastikan semua beres, Amelia menarik kopernya menuju pintu kamar. Sebelum keluar, dia menoleh sejenak, menatap kamar yang telah menjadi tempat perlindungan dia tadi malam.

Tiba-tiba, ponselnya bunyi—notifikasi bahwa taksi sudah tiba di depan hotel. Amelia mengangkat kepala, mata penuh semangat. Dia membuka pintu kamar dan melangkah keluar, menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar.

Sesampainya di lantai dasar, Amelia mendekati resepsionis. “Selamat siang, Pak. Saya mau check out,” ucapnya dengan senyum cerah.

Pria resepsionis mengangguk dan memeriksa datanya. “Baik, nona Amelia. Semua sudah lunas. Semoga hari Anda menyenangkan ya. Jangan kapok untuk datang lagi.”

“Terima kasih, pak,” jawab Amelia sambil mengembalikan kunci kamar.

Setelah check out, Amelia menarik kopernya keluar dari hotel menuju taksi yang sudah menunggu. Sinar matahari terasa menyengat menyinari halaman hotel dengan gagahnya. Amelia mengangkat wajah menatap langit, merasakan kebebasan yang sesungguhnya.

“Alam pedesaan, aku datang,” ucapnya dalam hati, langkahnya semakin mantap menuju jalan desa yang baru.

Terpopuler

Comments

Siti Sopiah

Siti Sopiah

begitulah dunia.saat kau kaya semua pintumu akan terbuka tanpa kau ketuk..tp saat kau miskin kau akan tersingkir begitu saja.teman2mu memang laknat Amel

2026-07-26

0

Tyaga

Tyaga

ga ada yg tulus nih
giliran temen lg kesusahan pd jauh

2026-02-05

1

Deera__

Deera__

Alhamdulillah akhirnya Amelia punya tempat baru.. semngat yaq

2026-04-05

0

lihat semua
Episodes
1 01. Perdebatan di Meja Makan
2 2. Sama-sama keras kepala
3 03. Pergi
4 04. Langkah dalam gelap
5 05. Penolakan para sahabat. #Awal sebuah harapan
6 06. Berkenalan di tengah malam
7 07. Bertemu Bu Sukma
8 08. Bertemu tetangga julid
9 09. Cara memberantas hama keong pada tanaman padi
10 10.
11 11. Calon Kades
12 12. Selendang ajaib
13 13. Rencana Amelia yang mulai berjalan
14 14. Pesta demokrasi desa Karangsono
15 15. Hinaan ibunya Raka
16 16. Kemarahan Raka
17 17. Hasil panen yang baik
18 18. Persemaian bibit padi dengan media terpal
19 19. Tawaran dari Raka
20 20. Keributan di pasar
21 21. Skak mat
22 22. Membeli sepeda motor
23 23. Pergi ke Waduk
24 24. Ungkapan Perasaan Raka
25 25. Mendapat restu
26 26. Ultimatum Raka
27 27. Tikus yang meresahkan
28 28. Nasib sial Safitri
29 29. Menjemput Amelia
30 30. Bertemu camer
31 31. Cerita tentang masa lalu
32 32. Rencana licik Safitri
33 33. Salah cari lawan
34 34. Bayar ganti rugi
35 35. Rencana pernikahan
36 36. Kegelisahan Amelia
37 37. Berpamitan
38 38. Rencana jahat Bu Sundari
39 39. Pulang
40 40. Penjaga keamanan?
41 41. Sampai di rumah
42 42. Direstui
43 43.
44 44.
45 45. Kartonyono Netepi Janji
46 46. Identitas Yang Terkuak
47 47. Pengakuan Amelia
48 48. Api Cemburu Safitri dan Kecurigaan Wiranto
49 49. Menjelang Pernikahan
50 50. Pernikahan
51 51. Berkah Setelah Rewang
52 52. Sepasaran # Ke rumah Raka
53 53 . Rencana Jahat yang Gagal
54 54. Batas kesabaran Raka
55 55: Kembalinya Mbak Nuri dan Selera Aneh Amelia
56 56. Bucinnya Mas Kades
57 57.
58 58.
59 59. Positif
60 60. Kebahagiaan Raka, Kekesalan Sundari
61 61.
62 62. Persekutuan Jahat
63 63. Kecelakaan?
64 64. Alhamdulillah Selamat
65 65.
66 66. Kepanikan di Rumah Raka.
67 67
68 68. Kedatangan Orang tua Amelia
69 69. Kejahatan yang Terbongkar
70 70. Bu Sundari dan Safitri ditangkap
71 71. Widuri memilih pergi
72 72. Kejutan yang Tak Terduga #Saling Menyalahkan
73 73. Vonis untuk Sundari dan Safitri
74 74. Surat Cerai di Balik Jeruji
75 75. Acara Tujuh Bulanan
76 .76: Pengakuan dan penyesalan Darman
77 77.
78 77. Amelia melahirkan
79 79. Arshaka Bimantara
80 80. Kabar Duka dari Balik Jeruji Besi (END)
81 Terima kasih, readers hebatku
82 Promo karya baru
83 A Killer Reborn
Episodes

Updated 83 Episodes

1
01. Perdebatan di Meja Makan
2
2. Sama-sama keras kepala
3
03. Pergi
4
04. Langkah dalam gelap
5
05. Penolakan para sahabat. #Awal sebuah harapan
6
06. Berkenalan di tengah malam
7
07. Bertemu Bu Sukma
8
08. Bertemu tetangga julid
9
09. Cara memberantas hama keong pada tanaman padi
10
10.
11
11. Calon Kades
12
12. Selendang ajaib
13
13. Rencana Amelia yang mulai berjalan
14
14. Pesta demokrasi desa Karangsono
15
15. Hinaan ibunya Raka
16
16. Kemarahan Raka
17
17. Hasil panen yang baik
18
18. Persemaian bibit padi dengan media terpal
19
19. Tawaran dari Raka
20
20. Keributan di pasar
21
21. Skak mat
22
22. Membeli sepeda motor
23
23. Pergi ke Waduk
24
24. Ungkapan Perasaan Raka
25
25. Mendapat restu
26
26. Ultimatum Raka
27
27. Tikus yang meresahkan
28
28. Nasib sial Safitri
29
29. Menjemput Amelia
30
30. Bertemu camer
31
31. Cerita tentang masa lalu
32
32. Rencana licik Safitri
33
33. Salah cari lawan
34
34. Bayar ganti rugi
35
35. Rencana pernikahan
36
36. Kegelisahan Amelia
37
37. Berpamitan
38
38. Rencana jahat Bu Sundari
39
39. Pulang
40
40. Penjaga keamanan?
41
41. Sampai di rumah
42
42. Direstui
43
43.
44
44.
45
45. Kartonyono Netepi Janji
46
46. Identitas Yang Terkuak
47
47. Pengakuan Amelia
48
48. Api Cemburu Safitri dan Kecurigaan Wiranto
49
49. Menjelang Pernikahan
50
50. Pernikahan
51
51. Berkah Setelah Rewang
52
52. Sepasaran # Ke rumah Raka
53
53 . Rencana Jahat yang Gagal
54
54. Batas kesabaran Raka
55
55: Kembalinya Mbak Nuri dan Selera Aneh Amelia
56
56. Bucinnya Mas Kades
57
57.
58
58.
59
59. Positif
60
60. Kebahagiaan Raka, Kekesalan Sundari
61
61.
62
62. Persekutuan Jahat
63
63. Kecelakaan?
64
64. Alhamdulillah Selamat
65
65.
66
66. Kepanikan di Rumah Raka.
67
67
68
68. Kedatangan Orang tua Amelia
69
69. Kejahatan yang Terbongkar
70
70. Bu Sundari dan Safitri ditangkap
71
71. Widuri memilih pergi
72
72. Kejutan yang Tak Terduga #Saling Menyalahkan
73
73. Vonis untuk Sundari dan Safitri
74
74. Surat Cerai di Balik Jeruji
75
75. Acara Tujuh Bulanan
76
.76: Pengakuan dan penyesalan Darman
77
77.
78
77. Amelia melahirkan
79
79. Arshaka Bimantara
80
80. Kabar Duka dari Balik Jeruji Besi (END)
81
Terima kasih, readers hebatku
82
Promo karya baru
83
A Killer Reborn

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!