2. Para Pengawal

Empat pengawal dan kusir yang merupakan saudara seperguruan Arjo sontak mengikuti arah pandangnya.

"Wedok?" Jupri memicingkan mata, tapi gerakan sosok tadi terlalu cepat. Tak bisa membedakan laki-laki atau perempuan. "Mosok, to?"

"Iyo, ono susune. Gedhi. Semene." (Iya, ada buah dadanya. Besar. Sebesar ini.)

Arjo membentuk kedua telapak tangannya seperti mangkuk, mengukur di depan dadanya sendiri.

Sontak semua kepala menoleh padanya. Melongo.

"Kok ngerti, kowe?" tanya Jono—kusir yang berdiri di dekat kuda.

"Yo ngerti. Kan tak periksa. Soale matane apik."

(Soalnya, matanya indah.)

Dirno menepuk pelan dahi Arjo. "Sempet-sempete, hlo! Wong tarung yo tarung ae, kok sempet-sempete gratil. Memangnya kenapa kalau perempuan?"

(Orang bertarung ya, bertarung saja. kok sempat-sempatnya usil.)

Arjo terkekeh. "Yo disempet-sempetke, to. Soale … sepertinya aku pernah lihat matanya, Dir. Tapi di mana … lupa."

Tikno berseloroh sambil menyeka keringat, "Nek bupati asli koyo kowe, bahaya, Jo. Entek wedok sekadipaten."

(Kalau bupati asli sepertimu, bahaya, Jo. Habis perempuan sekadipaten.)

Arjo terkekeh semakin keras. "Mangkane aku cuma dadi tukang urus jaran (kuda), yo. Gusti Allah adil."

Wondo mengangkat tangan hendak menepuk kepala belakang Arjo, tapi yang bersangkutan lebih cepat menghindar.

"Utekmu isine wedokan ae! Eling... Ndoro Gusti Bupati ora mata keranjang."

(Otakmu isinya perempuan saja. Ingat … Ndoro Gusti Bupati tidak mata keranjang.)

Arjo nyengir lebar. "Hlo, Ndoro Gusti Bupati tidak kurang ajar karena punya banyak istri, cantik-cantik. Lah aku … perempuan cantik mana yang mau dengan pengurus kuda? Orangtua tidak punya, tidak jelas siapa orangtuanya. Warisan tidak punya. Lah kalah saing aku sama meneer-meneer itu. Yang cantik-cantik tapi melarat jadi gundik. Kalau tidak, jadi istri selir pejabat kadipaten. Mumpung ada kesempatan, Won. Kapan neh?"

Jupri terkekeh sambil memasukkan pedang ke sarung. "Ora ngamuk mbok cekel ngono e?" (Tidak marah kamu pegang itunya?”

"Yo ngamuk." Arjo menyentuh hidungnya yang masih ngilu. "Yo marah, to. Ini hidungku yang mancung sampai dihantam dengan kepala.”

Jupri menepuk bahunya. “Kapok! Untung ora perkututmu seng dihajar.”

Kelimanya tertawa. Kecuali satu orang.

Kamto—pemimpin pengawal, pria paling tua di antara mereka, sejak tadi diam mengamati sekeliling. Matanya menyisir pepohonan, semak-semak, bayangan apa pun yang mencurigakan, memetakan ke arah mana kemungkinan para penyerang itu kabur.

"Wis." Suaranya pelan tapi tegas, memotong tawa mereka. "Cukup tertawanya. Ayo pergi."

Tawa para pemuda itu langsung surut.

Kamto memberi perintah dengan suara tegas. Empat pengawal kembali ke posisi mengawal. Ia sendiri akan berpisah, mencari Ndoro Gusti Bupati yang asli untuk melapor.

"Selama aku tidak ada, jangan macam-macam." Matanya menatap tajam satu per satu, lalu berhenti di Arjo. "Terutama kamu, Jo. Kamu itu yang paling bandel. Jaga wibawa. Kamu sekarang Gusti Bupati."

Arjo mengangguk, wajahnya berubah serius, takut pada pria 40an tahun ini.

"Bersihkan kereta dari anak panah. Buat seperti tidak pernah diserang. Kalau sudah sampai bengkel kadipaten, serahkan kereta untuk diperbaiki. Ndoro Gusti Bupati akan pulang pakai kereta cadangan."

"Lha aku, Pakde?" tanya Arjo.

"Kamu langsung pulang ke padepokan. Jangan mampir-mampir."

Arjo hendak protes, tapi tatapan Kamto membuatnya mengurungkan niat.

"Nggih, Pakdhe."

Kamto mengangguk singkat, lalu memacu kudanya ke arah berlawanan, menghilang di tikungan jalan.

\~\~\~

Kereta kembali bergerak setelah dirapikan. Di dalam, Arjo duduk dengan tirai sedikit terbuka, cukup untuk mengintip ke luar tanpa terlalu mencolok. Beskap hitamnya sudah dibersihkan sebisanya dari debu pertarungan tadi. Wajahnya kembali memasang topeng ningrat yang penuh wibawa.

Meski dalam hati masih memikirkan mata perempuan tadi, mencoba mengingat-ingat di mana pernah bertemu.

Jalan yang mereka lalui semakin ramai ketika mendekati kawasan pembangunan. Suara-suara mulai terdengar bahkan sebelum pemandangannya terlihat; dentang palu menghantam besi, derit roda gerobak pengangkut batu, seruan mandor, dan sesekali... suara pecut membelah udara.

Arjo menyibak tirai lebih lebar.

Di sisi kanan jalan, membentang proyek raksasa yang mengubah wajah tanah kadipaten: pembangunan jalur kereta api.

Rel-rel besi mengkilap di bawah terik matahari, terbentang lurus membelah sawah dan perbukitan, menghubungkan kadipaten ke kota-kota besar di pesisir utara.

Tiang-tiang kayu penanda jalur berdiri tegak sejauh mata memandang. Di beberapa titik, jembatan besi sedang dibangun, rangka-rangkanya menjulang seperti tulang rusuk raksasa yang belum ditumbuhi daging.

Dan yang membangun semua itu, puluhan lelaki bertelanjang dada, kulit terbakar hitam kemerahan, bekerja di bawah matahari yang tak kenal ampun.

Mereka mengangkat bantalan kayu, memikul batu kerikil, meratakan tanah dengan cangkul yang tampak terlalu berat untuk tubuh mereka yang kurus.

Rantai besi melingkar di pergelangan kaki mereka, saling terhubung satu sama lain, lima orang per kelompok. Mustahil melarikan diri tanpa menyeret empat orang lainnya.

Tahanan.

Arjo tahu siapa mereka. Pembunuh. Pemerkosa. Perampok yang tangannya berlumur darah. Penjahat-penjahat yang hukumannya diringankan dari tiang gantung menjadi kerja paksa sampai mati, membangun kebesaran kadipaten dengan keringat dan penderitaan mereka.

Seorang mandor bertubuh tambun dengan kumis tebal dan cambuk kulit di tangan, mengayunkan pecutnya ke punggung tahanan yang gerakannya terlalu lamban. Lelaki itu meringis tapi tidak berteriak. Mungkin sudah terlalu sering merasakan.

"Kerja! Jangan bermalas-malasan!"

Di sudut lain, seorang tahanan tertawa sendiri. Rambutnya gimbal berantakan, matanya kosong, mulutnya terus bergerak mengucapkan sesuatu yang tidak bisa didengar Arjo. Bahkan ketika pecut mendarat di punggungnya, ia tetap tertawa, suara yang lebih menyerupai lolongan.

‘Wong gendeng,’ pikir Arjo.

Polisi pribumi berjaga di sekeliling area kerja, senapan teracung siaga. Seragam mereka lusuh oleh debu, tapi peluru di sabuk mereka mengkilap. Siap ditembakkan kalau ada yang mencoba melarikan diri.

Kereta bupati melintas pelan.

Para mandor yang menyadari lambang kadipaten di pintu kereta langsung membungkuk hormat. Beberapa menyentak tahanan agar ikut memberi hormat, meski yang bisa dilakukan para lelaki berkaki rantai itu hanya berhenti bekerja sejenak dan berjongkok dengan tangan membentuk sembah.

Arjo memasang wajah datar dari balik jendela. Memandang dengan tatapan yang ia harap tampak seperti tatapan sang Bupati; tegas, menilai, tapi tidak kejam.

Salah satu tahanan mengangkat wajah. Mata mereka bertemu.

Lelaki itu sudah tua. Rambutnya memutih. Kulitnya keriput dan penuh luka cambuk yang sudah menghitam. Tapi matanya, matanya masih hidup. Penuh kebencian yang terlalu dalam untuk dipadamkan kerja paksa bertahun-tahun.

Arjo tidak memalingkan wajah. Seorang bupati tidak akan memalingkan wajah dari tatapan tahanan.

Tapi dalam hati, sesuatu bergejolak. Agak ngeri dengan tatapan yang seolah mengutuk. Entah apa masalahnya dengan sanga bupati, tapi satu yang pasti, tatapan itu membuat sekujur kulitnya meremang.

‘Aku bukan bupati,’ ingin ia berteriak. ‘Aku cuma tukang kuda yang kebetulan berwajah mirip.’

Kereta bergerak melewati area pembangunan. Perlahan, suara palu dan pecut menjauh. Pemandangan berubah menjadi persawahan hijau yang damai.

Arjo menutup tirai. Dadanya berdebar.

Terpopuler

Comments

yue yah

yue yah

vote di bagi ya ndoro,arjo Karo kakang e

2025-12-22

3

Muhammad Arifin

Muhammad Arifin

ngapunten...vote Kulo pon telas 😁😁 wonten kopi...Ben melek 😁😁

2025-12-22

2

anggita

anggita

melu ng👍like, iklan👆wae yo thor. mogo novele lancar👌

2026-01-08

0

lihat semua
Episodes
1 1. Enak Ya, Jadi Bupati
2 2. Para Pengawal
3 3. Kuda Tejo
4 4. Padepokan Jaran Kore
5 5. Nyi Seger
6 6. Ki Guru Harjo
7 7. Wajah-Wajah Gubernur Jenderal
8 8. Letnan Gubernur
9 9. Perbedaan Jenderal
10 10. VOC
11 11. Data Keluarga Van der Linden
12 12. Agnes van der Linden
13 13. Kenes
14 14. Kelompok Rahasia
15 15. Berhenti
16 16. Pemberontakan PKI
17 17. Saling Membutuhkan
18 18. Agenda Pertama
19 19. Merias
20 20. Raden Ayu Kusumawati
21 21. Tikno dan Dirno
22 22. Jam Saku
23 23. Raden Ayu Susilowati
24 24. Rapat
25 25. Residen van der Linden
26 26. Ancaman
27 27. Makan Malam
28 28. Perdebatan di Meja Makan
29 29. Mengimbangi
30 30. Eduard Bakker
31 31. Kecurigaan Agnes
32 32. Tujuan Agnes
33 33. Membuktikan
34 34. Stiletto
35 35. Serangan Tak Terduga
36 36. Permintaan Maaf
37 37. Menutup Skandal
38 38. Permintaan Arjo
39 39. Masa Kecil Agnes
40 40. Bupati yang Aneh
41 41. KI Togok
42 42. Mbah Mintoyo
43 43. Kawasan Pelacuran
44 44. Nyonya Lim Ah Toy
45 45. Kereta van der Linden
46 46. Penyerangan Kereta Resident
47 47. Pemuda Bersama Agnes
48 48. Mempengaruhi Agnes
49 49. Pernyataan Cinta
50 50. Berlakon
51 51. Gerbang Padepokan
52 52. Berlatih Menyamar
53 53. Terlalu Lurus
54 54. Rumah Dinas Residen
55 55. Kembali Berjumpa
56 56. Dikuliti Agnes
57 57. Menjual Informasi
58 58. Bersembunyi di Kamar Kecil
59 59. Etika
60 60. Suap untuk Menemani Putrinya
61 61. Kesimpulan Agnes
62 62. Bupati Arya Prawiratama
63 63. Letnan Bakker
64 64. Agnes yang Kecewa
65 65. Kembali ke Pekerjaan
66 66. Arya Prawiratama Muda
67 67. Arjo yang Terluka
68 68. Arjo Nesu
69 69. Kelicikan Eduard Bakker
70 70. Bantuan Agnes
71 71. Sisi Lain Agnes
72 72. Juniah
73 73. Menggantikan Tidur
74 74. Gosip Ki Atmojo
75 75. Jamu Laknat
76 76. Sesuatu yang Bermasalah
77 77. Mak Lampir
78 78. Perut Melilit
79 79. Menjebak Juniah
80 80. Atmojo Vs Juniah
81 81. Selamet
82 82. Gosip Baru
83 83. Siaga
84 84. Tugas Baru
85 85. Pramudya
86 86. Penyerangan di kamar Bupati
87 87. Permintaan Maaf Soedarsono
88 88. Kusumawati Diculik
89 89. Melepas Jabatan
90 90. Pengakuan Soedarsono
91 91. Permintaan Pertama Arjo
92 92. Perempuan Berbahaya
93 93. Bupati yang Sesungguhnya
94 94. Lamaran
95 95. Bukan Perawan Suci
96 96. Menyerah
97 97. Rampok Dirampok
98 98. Harapan
99 99. Agnes Membalas
100 100. Pengakuan Agnes
101 101. Kronologi
102 102. Kemarahan Jenderal Bakker
Episodes

Updated 102 Episodes

1
1. Enak Ya, Jadi Bupati
2
2. Para Pengawal
3
3. Kuda Tejo
4
4. Padepokan Jaran Kore
5
5. Nyi Seger
6
6. Ki Guru Harjo
7
7. Wajah-Wajah Gubernur Jenderal
8
8. Letnan Gubernur
9
9. Perbedaan Jenderal
10
10. VOC
11
11. Data Keluarga Van der Linden
12
12. Agnes van der Linden
13
13. Kenes
14
14. Kelompok Rahasia
15
15. Berhenti
16
16. Pemberontakan PKI
17
17. Saling Membutuhkan
18
18. Agenda Pertama
19
19. Merias
20
20. Raden Ayu Kusumawati
21
21. Tikno dan Dirno
22
22. Jam Saku
23
23. Raden Ayu Susilowati
24
24. Rapat
25
25. Residen van der Linden
26
26. Ancaman
27
27. Makan Malam
28
28. Perdebatan di Meja Makan
29
29. Mengimbangi
30
30. Eduard Bakker
31
31. Kecurigaan Agnes
32
32. Tujuan Agnes
33
33. Membuktikan
34
34. Stiletto
35
35. Serangan Tak Terduga
36
36. Permintaan Maaf
37
37. Menutup Skandal
38
38. Permintaan Arjo
39
39. Masa Kecil Agnes
40
40. Bupati yang Aneh
41
41. KI Togok
42
42. Mbah Mintoyo
43
43. Kawasan Pelacuran
44
44. Nyonya Lim Ah Toy
45
45. Kereta van der Linden
46
46. Penyerangan Kereta Resident
47
47. Pemuda Bersama Agnes
48
48. Mempengaruhi Agnes
49
49. Pernyataan Cinta
50
50. Berlakon
51
51. Gerbang Padepokan
52
52. Berlatih Menyamar
53
53. Terlalu Lurus
54
54. Rumah Dinas Residen
55
55. Kembali Berjumpa
56
56. Dikuliti Agnes
57
57. Menjual Informasi
58
58. Bersembunyi di Kamar Kecil
59
59. Etika
60
60. Suap untuk Menemani Putrinya
61
61. Kesimpulan Agnes
62
62. Bupati Arya Prawiratama
63
63. Letnan Bakker
64
64. Agnes yang Kecewa
65
65. Kembali ke Pekerjaan
66
66. Arya Prawiratama Muda
67
67. Arjo yang Terluka
68
68. Arjo Nesu
69
69. Kelicikan Eduard Bakker
70
70. Bantuan Agnes
71
71. Sisi Lain Agnes
72
72. Juniah
73
73. Menggantikan Tidur
74
74. Gosip Ki Atmojo
75
75. Jamu Laknat
76
76. Sesuatu yang Bermasalah
77
77. Mak Lampir
78
78. Perut Melilit
79
79. Menjebak Juniah
80
80. Atmojo Vs Juniah
81
81. Selamet
82
82. Gosip Baru
83
83. Siaga
84
84. Tugas Baru
85
85. Pramudya
86
86. Penyerangan di kamar Bupati
87
87. Permintaan Maaf Soedarsono
88
88. Kusumawati Diculik
89
89. Melepas Jabatan
90
90. Pengakuan Soedarsono
91
91. Permintaan Pertama Arjo
92
92. Perempuan Berbahaya
93
93. Bupati yang Sesungguhnya
94
94. Lamaran
95
95. Bukan Perawan Suci
96
96. Menyerah
97
97. Rampok Dirampok
98
98. Harapan
99
99. Agnes Membalas
100
100. Pengakuan Agnes
101
101. Kronologi
102
102. Kemarahan Jenderal Bakker

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!