3. Kuda Tejo

Usai dengan tugasnya, Arjo berganti pakaian di ruang belakang bengkel kadipaten, kembali ke mode rakyat jelata.

Pakaian bupati ditanggalkan, dilipat rapi, diserahkan kepada Jupri yang akan membawanya kembali ke ndalem.

Sebagai gantinya, ia mengenakan pakaian yang lebih akrab di tubuhnya; kemeja lusuh berwarna cokelat dengan tambalan di siku, celana kain sebetis yang sudah memudar warnanya, pinggang sampai paha dibalut kain batik kawung sederhana, sebuah golok murahan terselip di sabuk kulit tua. Caping anyaman bambu bertengger di kepala, menyembunyikan sebagian wajah.

Kuda yang menunggunya di belakang bengkel juga bukan kuda gagah penarik kereta bupati.

Seekor kuda tua berbulu kusam, langkahnya lambat, tulang rusuknya samar terlihat di balik kulit. Wajahnya cemberut ketika hendak ditunggangi.

Kuda yang tidak akan dilirik siapa pun dua kali, bahkan begal yang kepepet. Sempurna untuk tidak menarik perhatian.

“Jo-Tejo … raimu iku hlo!” Dengan gemas Arjo menepuk moncong kuda yang manyun. “Rak nyenengke blas nek ketemu aku. Dadi jaranku seng akeh-akeh syukur, sih untung rak tak dol. Nek tak dol, dibeleh kowe nggo hajatan.”

(Jo-Tejo … wajahmu itu hlo! Tidak menyenangkan sama sekali kalau ketemu aku. Jadi kudaku itu harus banyak-banyak bersyukur, masih untung tidak kujual. Kalau dijual, dipotong kamu buat hajatan.)

Tejo meringkik sinis, mendengus malas, membuang muka, dengan wajah masam. Keangkuhannya tidak pudar meski tubuh sudah renta. Karena dulunya, dia pernah menjadi kuda kesayangan Ayah Soedarsono.

“Ehh … ehh … ehh … si Tejo, lagak e.”

Arjo menaiki kuda, menepuk bokong kuda dengan keras. Kuda berjalan menghentak-hentak, kadang miring ke kanan-kadang ke kiri.

“Seng nggenah sitik nek dadi jaran! Diserempet jaran liyo, modar kowe.”

(Yang benar kalau jadi kuda! Diserempet kuda lain, mati kamu.)

Kuda akhirnya berjalan lebih benar, tapi langkahnya masih lambat, malas, menyusuri jalan utama kota. Senja mulai turun, mewarnai langit dengan semburat jingga kemerahan.

Justru di jam seperti inilah jalanan paling ramai; para nyonya selesai berbelanja, para pejabat kolonial pulang dari kantor, para gadis Eropa keluar untuk sekadar jalan-jalan menikmati angin sore.

Di sepanjang deretan pertokoan bergaya khas Tionghoa, beberapa rombongan raden ayu berjalan anggun.

Kebaya sutra halus dalam warna-warna pastel, kain batik bermotif parang atau kawung yang harganya selangit, sanggul dihiasi melati dan tusuk konde permata.

Di belakang setiap raden ayu, seorang pelayan memayungi majikannya dengan payung tinggi berhias rumbai.

Mereka menoleh ketika sebuah kereta mewah melintas, kereta hitam mengkilap dengan lambang keluarga ningrat kaya raya di pintunya.

Tatapan kagum. Senyum malu-malu. Bisik-bisik di balik kipas.

Lalu Arjo melintas dengan kuda tuanya.

Tidak ada yang menoleh. Bahkan lirikan pun tidak. Seolah ia hanya daun gugur yang kebetulan lewat.

Arjo mendengkus kesal. Matanya menghapal wajah-wajah raden ayu itu satu per satu; yang berkebaya hijau daun dengan lesung pipi, yang berkebaya merah jambu dengan mata sipit, yang tertawa di balik kipasnya dengan gigi putih bersih.

‘Aku ingat-ingat wajah kalian. Suatu saat, kalau bertemu lagi saat aku jadi bupati, akan kuabaikan kalian seperti kalian mengabaikanku sekarang.’

Di sisi jalan yang lain, rombongan berbeda menarik perhatiannya.

Para nyai.

Perempuan-perempuan muda pribumi yang menjadi simpanan para meneer Belanda. Wajah mereka lumayan manis, bukan kecantikan ningrat yang mewah sejak lahir, tapi kecantikan yang diasah dengan bedak dan gincu.

Kebaya mereka bagus, meski tidak sebagus para ningrat. Tapi perhiasan mereka? Berkelip-kelip menantang matahari senja. Gelang emas, kalung berlian, anting-anting yang pasti harganya lebih mahal dari kuda yang ditunggangi Arjo.

Hadiah dari para meneer, tentu saja.

Mereka berbisik-bisik sesama nyai, sesekali tertawa centil.

Arjo melintas.

Tidak ada yang menoleh.

Pandangan mereka tertuju pada seorang meneer tua berperut buncit yang baru memasuki toko perhiasan. Rambut memutih, kumis tebal, jas putih yang tampak kepanasan di iklim tropis. Tapi di mata para nyai, yang terlihat hanyalah dompet tebal dan janji kemewahan.

Arjo menghela napas panjang. ‘Dua puluh lima tahun umurku. Belum pernah sekalipun dekat dengan perempuan.’

Bukan karena ia tidak ingin. Bukan karena wajahnya jelek, justru sebaliknya, ia tahu wajahnya tampan. Mirip bupati, bahkan.

Masalahnya adalah stok.

Tidak ada stok perempuan yang tersedia untuknya.

Gadis-gadis desa? Sudah dikapling lelaki yang punya sawah atau ternak.

Janda muda? Lebih memilih meneer kaya atau pejabat pribumi yang bisa menjamin hidup dan anak-anak mereka yang masih kecil-kecil.

Gadis ningrat? Jangan bermimpi—perbedaan kasta membentang seperti jurang yang mustahil dilompati, kalau memaksa melompat, matilah dia.

Dan kalaupun ada yang tersisa, persaingannya terlalu ketat. Asal-usulnya yang tak jelas seperti kesialan yang tak berujung, orangtua mana yang mau mempunyai menantu yang tak punya keluarga jelas?

Tak jauh dari rombongan nyai, sekelompok gadis Eropa berjalan beriringan.

Rambut mereka beragam warna yang eksotis di mata Arjo—pirang keemasan, cokelat bergelombang, kemerahan seperti tembaga dipanaskan.

Kulit putih pucat yang tampak rapuh di bawah terik matahari tropis. Mereka berjalan dengan payung-payung berenda dalam warna-warna pastel, gaun panjang yang tampak menyiksa di cuaca sepanas ini, tapi tetap mereka pakai demi mode terbaru dari Prancis.

Arjo melintas.

Tidak ada yang menganggapnya ada.

Mata mereka—biru, hijau, cokelat muda—tertuju pada sekelompok pemuda Belanda yang berdiri di depan toko arloji. Para pemuda itu tertawa-tawa, menghisap cerutu, sesekali mengangkat topi dan menyapa ramah saat para gadis melintas.

‘Sudahlah. Memang bukan kelasku.’ Arjo menghela napas lagi.

Di kelompok lain, gadis-gadis Indo berjalan dengan gaya yang berusaha meniru nona-nona Eropa. Setengah darah campuran pribumi dan Belanda dengan kulit yang lebih gelap dari totok tapi lebih terang dari pribumi murni. Mata cokelat dengan hidung lebih mancung, rambut hitam bergelombang.

Mereka melirik ke arah para pemuda.

Sebagian besar melirik pemuda Eropa totok. Beberapa, yang mungkin lebih realistis, melirik pemuda ningrat yang kebetulan lewat dengan pakaian rapi.

Tidak ada yang melirik Arjo.

‘Tentu saja.’ Arjo mendengkus semakin kesal.

Arjo sudah hendak memacu kudanya lebih cepat ketika jalanan mendadak padat. Sebuah kereta besar berbelok, memaksanya berhenti dan menunggu.

Dan di situlah ia merasakannya.

Tatapan.

Seseorang sedang memerhatikannya.

Arjo menoleh.

Di sisi jalan, sebuah sado baru saja berhenti menurunkan penumpangnya. Nyonya Belanda berumur, mungkin kisaran lima puluhan, turun dengan bantuan kusir. Tubuhnya tambun, wajah memerah karena panas, kipas bergerak cepat mengusir gerah.

Salah satu dari mereka sedang menatap Arjo.

Nyonya berambut pirang keabu-abuan yang ditata rumit, gaun sutra biru yang tampak terlalu ketat untuk tubuhnya yang melar. Korset ketat membuat dadanya yang besar seperti hampir tumpah.

Matanya, biru pucat, memandang Arjo dari atas ke bawah. Lambat. Menilai. Seperti seorang tukang jagal yang sedang menilai kambing di pasar hewan.

Lalu tersenyum.

Senyum yang tidak ada hubungannya dengan keramahan. Senyum yang …. seperti ingin mengajak ehem dan uhuy.

Arjo bergidik.

Terpopuler

Comments

🌺 Tati 🐙

🌺 Tati 🐙

kasia kamu Jo,sekalinya ada yg suka bikin kamu.brigidig😅

2025-12-25

1

ˢ⍣⃟ ₛHujan

ˢ⍣⃟ ₛHujan

sesulit itu ya nemu perempuan yang gak mentingin duniawi di zaman kolonial

2026-04-02

0

yue yah

yue yah

arep di dadekke gula gula Jo wkwkwkwkwkwkkwkw

2025-12-23

1

lihat semua
Episodes
1 1. Enak Ya, Jadi Bupati
2 2. Para Pengawal
3 3. Kuda Tejo
4 4. Padepokan Jaran Kore
5 5. Nyi Seger
6 6. Ki Guru Harjo
7 7. Wajah-Wajah Gubernur Jenderal
8 8. Letnan Gubernur
9 9. Perbedaan Jenderal
10 10. VOC
11 11. Data Keluarga Van der Linden
12 12. Agnes van der Linden
13 13. Kenes
14 14. Kelompok Rahasia
15 15. Berhenti
16 16. Pemberontakan PKI
17 17. Saling Membutuhkan
18 18. Agenda Pertama
19 19. Merias
20 20. Raden Ayu Kusumawati
21 21. Tikno dan Dirno
22 22. Jam Saku
23 23. Raden Ayu Susilowati
24 24. Rapat
25 25. Residen van der Linden
26 26. Ancaman
27 27. Makan Malam
28 28. Perdebatan di Meja Makan
29 29. Mengimbangi
30 30. Eduard Bakker
31 31. Kecurigaan Agnes
32 32. Tujuan Agnes
33 33. Membuktikan
34 34. Stiletto
35 35. Serangan Tak Terduga
36 36. Permintaan Maaf
37 37. Menutup Skandal
38 38. Permintaan Arjo
39 39. Masa Kecil Agnes
40 40. Bupati yang Aneh
41 41. KI Togok
42 42. Mbah Mintoyo
43 43. Kawasan Pelacuran
44 44. Nyonya Lim Ah Toy
45 45. Kereta van der Linden
46 46. Penyerangan Kereta Resident
47 47. Pemuda Bersama Agnes
48 48. Mempengaruhi Agnes
49 49. Pernyataan Cinta
50 50. Berlakon
51 51. Gerbang Padepokan
52 52. Berlatih Menyamar
53 53. Terlalu Lurus
54 54. Rumah Dinas Residen
55 55. Kembali Berjumpa
56 56. Dikuliti Agnes
57 57. Menjual Informasi
58 58. Bersembunyi di Kamar Kecil
59 59. Etika
60 60. Suap untuk Menemani Putrinya
61 61. Kesimpulan Agnes
62 62. Bupati Arya Prawiratama
63 63. Letnan Bakker
64 64. Agnes yang Kecewa
65 65. Kembali ke Pekerjaan
66 66. Arya Prawiratama Muda
67 67. Arjo yang Terluka
68 68. Arjo Nesu
69 69. Kelicikan Eduard Bakker
70 70. Bantuan Agnes
71 71. Sisi Lain Agnes
72 72. Juniah
73 73. Menggantikan Tidur
74 74. Gosip Ki Atmojo
75 75. Jamu Laknat
76 76. Sesuatu yang Bermasalah
77 77. Mak Lampir
78 78. Perut Melilit
79 79. Menjebak Juniah
80 80. Atmojo Vs Juniah
81 81. Selamet
82 82. Gosip Baru
83 83. Siaga
84 84. Tugas Baru
85 85. Pramudya
86 86. Penyerangan di kamar Bupati
87 87. Permintaan Maaf Soedarsono
88 88. Kusumawati Diculik
89 89. Melepas Jabatan
90 90. Pengakuan Soedarsono
91 91. Permintaan Pertama Arjo
92 92. Perempuan Berbahaya
93 93. Bupati yang Sesungguhnya
94 94. Lamaran
95 95. Bukan Perawan Suci
96 96. Menyerah
97 97. Rampok Dirampok
98 98. Harapan
99 99. Agnes Membalas
100 100. Pengakuan Agnes
101 101. Kronologi
102 102. Kemarahan Jenderal Bakker
Episodes

Updated 102 Episodes

1
1. Enak Ya, Jadi Bupati
2
2. Para Pengawal
3
3. Kuda Tejo
4
4. Padepokan Jaran Kore
5
5. Nyi Seger
6
6. Ki Guru Harjo
7
7. Wajah-Wajah Gubernur Jenderal
8
8. Letnan Gubernur
9
9. Perbedaan Jenderal
10
10. VOC
11
11. Data Keluarga Van der Linden
12
12. Agnes van der Linden
13
13. Kenes
14
14. Kelompok Rahasia
15
15. Berhenti
16
16. Pemberontakan PKI
17
17. Saling Membutuhkan
18
18. Agenda Pertama
19
19. Merias
20
20. Raden Ayu Kusumawati
21
21. Tikno dan Dirno
22
22. Jam Saku
23
23. Raden Ayu Susilowati
24
24. Rapat
25
25. Residen van der Linden
26
26. Ancaman
27
27. Makan Malam
28
28. Perdebatan di Meja Makan
29
29. Mengimbangi
30
30. Eduard Bakker
31
31. Kecurigaan Agnes
32
32. Tujuan Agnes
33
33. Membuktikan
34
34. Stiletto
35
35. Serangan Tak Terduga
36
36. Permintaan Maaf
37
37. Menutup Skandal
38
38. Permintaan Arjo
39
39. Masa Kecil Agnes
40
40. Bupati yang Aneh
41
41. KI Togok
42
42. Mbah Mintoyo
43
43. Kawasan Pelacuran
44
44. Nyonya Lim Ah Toy
45
45. Kereta van der Linden
46
46. Penyerangan Kereta Resident
47
47. Pemuda Bersama Agnes
48
48. Mempengaruhi Agnes
49
49. Pernyataan Cinta
50
50. Berlakon
51
51. Gerbang Padepokan
52
52. Berlatih Menyamar
53
53. Terlalu Lurus
54
54. Rumah Dinas Residen
55
55. Kembali Berjumpa
56
56. Dikuliti Agnes
57
57. Menjual Informasi
58
58. Bersembunyi di Kamar Kecil
59
59. Etika
60
60. Suap untuk Menemani Putrinya
61
61. Kesimpulan Agnes
62
62. Bupati Arya Prawiratama
63
63. Letnan Bakker
64
64. Agnes yang Kecewa
65
65. Kembali ke Pekerjaan
66
66. Arya Prawiratama Muda
67
67. Arjo yang Terluka
68
68. Arjo Nesu
69
69. Kelicikan Eduard Bakker
70
70. Bantuan Agnes
71
71. Sisi Lain Agnes
72
72. Juniah
73
73. Menggantikan Tidur
74
74. Gosip Ki Atmojo
75
75. Jamu Laknat
76
76. Sesuatu yang Bermasalah
77
77. Mak Lampir
78
78. Perut Melilit
79
79. Menjebak Juniah
80
80. Atmojo Vs Juniah
81
81. Selamet
82
82. Gosip Baru
83
83. Siaga
84
84. Tugas Baru
85
85. Pramudya
86
86. Penyerangan di kamar Bupati
87
87. Permintaan Maaf Soedarsono
88
88. Kusumawati Diculik
89
89. Melepas Jabatan
90
90. Pengakuan Soedarsono
91
91. Permintaan Pertama Arjo
92
92. Perempuan Berbahaya
93
93. Bupati yang Sesungguhnya
94
94. Lamaran
95
95. Bukan Perawan Suci
96
96. Menyerah
97
97. Rampok Dirampok
98
98. Harapan
99
99. Agnes Membalas
100
100. Pengakuan Agnes
101
101. Kronologi
102
102. Kemarahan Jenderal Bakker

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!