Setelah suami ku marah ketika ku minta uang akhirnya memutuskan untuk menjadi pemulung, walaupun aku malu awalnya tapi saya tidak bisa kalau tidak punya uang.
Sepanjang hari saya mengumpulkan barang-barang bekas untuk ku jual, tidak peduli apa kata orang-orang. Suamiku sudah satu minggu ini tidak memberiku kabar.
Saya sudah pindah di kontrakan yang paling kecil sekiranya saya bisa untuk tetap hidup dengan uang yang ku kumpulkan. Saya sudah mau berusaha menjadi diriku dalam versi terbaik hari ini.
"Kak Sania, di panggil ibu di rumah." Ajeng menghampiri ku, aku menatapnya dengan tatapan bingung sebab anak ini tumben datang mencariku.
"Ada apa Ajeng? "
"Ayok kak, sini botolnya kita jual dulu baru temui ibu." Mau tak mau saya naik diatas motornya.
Ku genggam uang yang ada di tanganku, uang ini cukup beli sayur untuk makan sehari."kak Sania ayo jangan melamun!" Teriak Ajeng.
"Ya sudah ayo!" Sepanjang jalan pikiran ku masih di isi tentang suamiku yang hilang kabar dan nomornya setiap kali ku telpon tidak aktif.
"Kak Sania, ayo turun."
Aku mengusap wajahku dengan kasar, saya tidak bisa berfikir jernih saat ini, dadaku sesak saat memikirkan tentang suamiku.
"Sania, ayo masuk." Panggil ibunya Ajeng.
"Maaf tante ada apa? " Ucapku bingung soalnya tidak biasanya saya akan di cari seperti ini, apakah saya salah.
"Sania saya ada hajatan, saya butuh tukang masak, bisakah bantu-bantu nanti ku gaji." Ucapnya sambil tersenyum.
"Tapi bu,... "
"Gak apa-apa Sania, saya mengerti kok. Datang besok saja ya." Ucapnya dengan wajah berbinar.
"Iya bu, saya akan datang besok pagi." Ucapku menyanggupi.
Saya hendak pamit pulang tapi Ajeng datang dengan sekarung botol. "Kak Sania, kami tidak bisa membantumu dengan uang, tapi kami mengumpulkan ini untuk mu." Ucapnya.
"Alhamdulillah, terimakasih ya bu, Ajeng." Ucapku dengan mata berkaca-kaca.
"Sana-sama Sania. Jangan lupa ya besok pagi."
"Iya bu, sambil menyalaminya dengan takzim. Saya membawa satu karung besar berisi botol-botol bekas, dan saya sangat bersyukur ternyata masih banyak orang-orang yang mau menolongku.
Saya pulang ke kontrakan untuk makan siang dan saya masak sebungkus mie instan. Dulu saat suamiku sering mengirimkan uang pada ku tak pernah makan mie instan, tapi sekarang saya harus berhemat, apa pun yang terjadi semoga ini jalan terbaik untuk ku.
Saya scroll media sosial tapi yang menyita perhatianku media sosial seorang wanita mengunggah foto bersama suamiku, saya menatap foto itu dalam-dalam.
Semakin ku scroll akunnya semakin dadaku sesak, karena hampir semua unggahannya bersama suamiku. Mereka bukan sekedar teman yang bertemu di perantauan, mereka lebih dari itu.
Saya menyimpan foto-foto mereka di folder tersembunyi, ini pasti akan berguna di kemudian hari. Ku cari aku suamiku ternyata dia blok aku, berarti aplikasi watshap pun sama.
"Baiklah jika kamu ingin bermain." Kuremas ponsel ku dengan sangat kuat. Hatiku sakit melihat ini semua.
Tak berselang lama ada notif masuk di ponselku. Ternyata ibu mertuaku. ("Sania ada acara di rumah ibu hari minggu, datang bereskan rumah ini.")
Saya tidak membalasnya, jika suamiku ingin menafkahiku dia tidak lupa nomor rekening ku kan, tapi entahlah.
Ku tatap wajahmu di cermin, wajahku semakin tak terurus, rambutku lepek dan kulitku semakin kusam. Padahal gaji suamiku sangat tinggi di luar negeri, tapi tak mengapa semua akan berubah kalau saya memiliki uang sendiri.
Tin.
("Sania kamu tinggal dimana sekarang, ibu datang ke kontrakan mu, tapi katanya kamu sudah pindah.") Entah ini nomor siapa yang dia pake suamiku tak memiliki foto profil.
Tapi setelah ku save kontaknya barulah ketahuan foto profilnya membuatku sesak.
Foto profilnya bersama wanita itu, sejauh apa hubungan mereka, sehingga seperti ini. Ada notif lagi nomor yang sama.
("Ini nomornya Soraya." ) ternyata namanya Soraya.
Baiklah kalian nikmati hidup kalian, karena saya tidak membalas pesannya akhirnya dia menelponku. Saya tidak peduli, kamu tidak nafkahi saya dan kamu mengenal wanita lain jangan harap kamu bisa memerintahku baik kamu ataupun keluarga mu.
Saya memblokir nomornya saya tidak peduli jadi istri durhaka intinya jika kamu ingin menelponku kenapa harus pake nomor wanita lain. Saya menyimpan kembali ponselku menghitung uang hasil mulung ku yang ku sisihkan.
Tin ada notifikasi lagi tapi bukan dari aplikasi obrolan melainkan akun bank. Suamiku mengirim uang seratus ribu ke saya. Otaknya makin koslet setelah bersama wanita itu. Ini buat apa seratus ribu.
Kau abaikan uang seratus ribu itu dan ku simpan hasil pemberitahuan tersebut ku simpan di folder yang sama. Ini kujadikan bukti untuk menginjak harga dirimu. Kamu kiranya uang seratus ribu ini cukup.
Tapi ada notif lain yang baru masuk dari ibu mertua. (" Beni sudah kirim uang kepadamu.") Di sertai bukti transfer nominalnya seratus ribu. Tak tanggung-tanggung saya menyimpan bukti chat tersebut.
("Uang itu cukup daripada kamu harus jadi pemulung, satu bulan baru kamu mendaptakannya.")
Kuabaikan chatnya, saya juga tidak peduli, dia menghina pemulung tapi kalau rajin dan lagi hoki uang seratus ribu bisa di kantongin sehari.
Saya kembali mencari ide masakan yang bisa ku jual online setidaknya jika Modalku sudah terkumpul saya bisa memulainya.
Ke esokan paginya saya sudah bersiap ke rumah Ajeng karena hajatan nya malam hari jadi aku bantu masak mulai pagi, saya sarapan mie instan yang ku bagi dua siapa tau siang saya pulang makan lagi.
"Kak Sania." Astaghfirullah ni anak padahal bisa ku jalan sendiri kenapa harus di jemput.
"Iya jeng. Padahal saya bisa loh kesana jalan kaki." Ucapku sambil membuka pintu.
"Heheh.kak Sania lagi makan."
"Iya jeng. Makanlah tapi aku hanya punya mie instan." Ucapku.
"Kak boleh nggak saya ikut makan." Tanyanya dengan wajah berbinar.
"Iya boleh, aku masakin satu ya." Karena saya masih ada dua bungkus.
"Tapi ini kenapa sisa stengah kak." Dia mengambil stengah bungkus yang ku sisain tadi.
"Aku kalau sebungkus makan tidak habis." Jawabku berbohong.
Ajeng makan dengan lahap, "kak jangan bilang sama ibu ya kalau aku makan mie instan. Ibu melarang ku makan mie instan karena saya ada alergi." Ucapnya sambil mengunyah.
"Haduh ini anak,. " Dumel ku dalam hati.
"Tenang kak, saya sudah punya obat alergi dari dokter." Sambil menunjukkan obat tablet yang di simpan dalam sakunya.
"Baiklah, kamu jangan keseringan makan mie ya jeng, sayangi diri kamu." Ku nasehati, karena percuma di larang pasti dia akan makan sembunyi-sembunyi.
"Iya kak." Jawabnya sambil membereskan piring kotornya sendiri.
"Kaka siap-siap saja, saya bantu cuci piring." Ucapnya.
Dan saya bersiap pasti ibunya Ajeng sudah lama menunggu. Setelah bersiap kami pergi di rumahnya Ajeng yang jaraknya hanya lima puluh meter.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments