​Bab 4: Pertemuan dengan "Monster" Kecil

​"Pak Gavin! Syukurlah Bapak sudah sampai! Lihat kelakuan anak Bapak!"

​Teriakan histeris itu menyambut Gavin dan Kiana begitu mereka melangkah masuk ke lobi SD Pelita Bangsa. Seorang guru wanita dengan kacamata miring dan sisa bedak yang luntur karena keringat berlari menghampiri mereka. Napasnya tersengal-sengal, seolah baru saja dikejar singa lapar.

​Gavin mengusap wajahnya yang tegang. "Di mana Alea sekarang, Bu Rini? Apa dia baik-baik saja?"

​"Baik-baik saja?" Bu Rini melotot, suaranya melengking tinggi sampai membuat beberapa murid yang lewat menutup telinga. "Dia duduk di sofa ruangan saya sambil makan permen karet seolah tidak terjadi apa-apa! Sementara kami di sini jantungan setengah mati memadamkan api di belakang kantin!"

​"Maafkan saya, Bu. Saya benar-benar minta maaf," ucap Gavin berulang kali sambil menundukkan kepala. Postur tubuh CEO yang biasanya gagah itu kini menyusut drastis. Dia tampak seperti murid nakal yang dipanggil ke ruang BK, padahal anaknya yang berulah.

​Kiana berdiri dua langkah di belakang Gavin, melipat tangan di dada sambil mengamati situasi. Bau asap plastik yang hangus masih tercium samar di udara. Lantai koridor kotor oleh jejak sepatu berlumpur, mungkin sisa kepanikan saat memadamkan api.

​"Ini bukan soal maaf, Pak!" Bu Rini masih belum puas mengomel. Telunjuknya menuding ke arah pintu ruangan kepala sekolah. "Ini sudah ketiga kalinya minggu ini! Kemarin dia menumpahkan lem ke kursi wali kelas, lusa lalu dia mengunci temannya di toilet, dan sekarang pembakaran? Kami angkat tangan, Pak. Silahkan Bapak bawa pulang Alea dan cari sekolah lain yang sanggup menampung... keunikannya."

​Wajah Gavin memucat. "Dikeluarkan? Tapi Bu, ini baru tengah semester. Tolong beri kesempatan satu kali lagi. Saya akan ganti semua kerugian. Saya akan sumbang dana pembangunan gedung baru kalau perlu."

​Kiana mendengus pelan. Typical.

 Orang kaya selalu berpikir uang bisa menyelesaikan masalah emosional. Tapi melihat bahu Gavin yang merosot lemas, ada sedikit rasa iba yang menyelinap di hati Kiana. 

Sedikit saja. Seujung kuku.

​"Saya mau bicara sama Alea dulu," kata Gavin lirih.

​"Silakan. Tapi surat pindah sekolah akan saya ketik sekarang juga," ketus Bu Rini, lalu berbalik badan dengan hentakan kaki yang keras.

​Gavin menoleh ke arah Kiana sebentar. Tatapannya campuran antara malu dan pasrah. "Kamu tunggu di mobil saja. Ini bakal lama dan nggak enak dilihat."

​"Nggak," tolak Kiana singkat. Dia membetulkan letak tas branded-nya di bahu. "Saya sudah jauh-jauh datang ke sini bukan buat jadi supir cadangan kamu. Saya mau lihat seberapa mengerikan monster kecil yang bikin CEO Ardiman Logistics gemetar ketakutan."

​"Kiana, ini bukan tontonan," desis Gavin.

​"Bagi saya ini riset pasar. Minggir."

​Tanpa menunggu izin, Kiana melangkah mendahului Gavin menuju pintu kayu besar bertuliskan 'Ruang Kepala Sekolah'. Dia mendorong pintu itu pelan.

​Pemandangan di dalam ruangan itu cukup kontras dengan kekacauan di luar. Ruangan itu sejuk ber-AC, rapi, dan hening. Di atas sofa kulit berwarna hitam yang terlalu besar untuk ukuran anak kecil, duduklah seorang gadis kecil berusia tujuh tahun.

​Alea Ardiman.

​Anak itu mengenakan seragam merah putih yang sudah tidak karuan bentuknya. Ada noda hitam bekas jelaga di pipi kirinya, dan rambut panjangnya yang dikuncir kuda terlihat kusut. 

Kakinya yang pendek menggantung, berayun-ayun santai. Mulutnya sibuk mengunyah permen karet, membuat bunyi cap-cap-cap yang menyebalkan di ruangan sunyi itu.

​Di atas meja di depannya, tergeletak sebuah gunting kertas dan korek api gas warna hijau. 

Barang bukti kejahatan.

​"Alea," panggil Gavin. Suaranya berat, penuh tekanan emosi yang ditahan.

​Gerakan kaki Alea berhenti sejenak, tapi dia tidak menoleh. Dia tetap menatap lurus ke arah lukisan kuda di dinding seberang, seolah lukisan itu jauh lebih menarik daripada ayahnya.

​Gavin berjalan mendekat, lalu berlutut di depan sofa agar tingginya sejajar dengan putrinya. Dia mencoba meraih tangan kecil Alea, tapi anak itu langsung menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik punggung.

​Penolakan itu jelas melukai Gavin, tapi dia berusaha tetap sabar.

​"Kenapa kamu lakukan itu, Nak?" tanya Gavin lembut, terlalu lembut menurut Kiana. "Papa kan sudah bilang, jangan main api. Itu bahaya. Kalau kamu luka gimana? Kalau teman-teman kamu luka gimana?"

​Alea diam seribu bahasa. Dia meniup permen karetnya menjadi balon kecil, lalu memecahkannya. Pop!

​"Alea, jawab Papa," desak Gavin, nadanya mulai naik sedikit. "Bu Rini bilang, kamu mau dikeluarkan. Kamu mau pindah sekolah lagi? Ini sudah sekolah keempat tahun ini, Alea. Papa capek cari sekolah baru terus. Papa malu minta maaf terus sama orang-orang."

​Mata Alea melirik Gavin sekilas. Sorot matanya dingin, persis seperti mata Gavin saat sedang memecat karyawan.

​"Papa malu punya Alea?" akhirnya suara kecil itu keluar, terdengar menuduh.

​"Bukan begitu maksud Papa," Gavin panik, salah tingkah. "Papa cuma... Papa sibuk kerja buat kamu, Alea. Papa nggak bisa tiap hari dipanggil ke sekolah. Kasihan Papa, Nak. Mengerti sedikit dong."

​"Sibuk kerja, sibuk kerja, sibuk kerja!" Alea tiba-tiba berteriak, melempar bantal sofa ke wajah Gavin. "Yaudah kerja sana! Nggak usah ke sini! Alea nggak minta Papa datang kok!"

​"Alea! Jangan kurang ajar!" bentak Gavin, kesabarannya habis. Dia bangkit berdiri, wajahnya merah padam. "Papa sudah berusaha jadi ayah yang baik buat kamu! Papa kasih semua mainan yang kamu minta, Papa kasih pengasuh, Papa kasih fasilitas! Kurang apa lagi?!"

​"Kurang IBU!" jerit Alea, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang bulat. "Teman-teman Alea dijemput ibunya! Alea dijemput supir terus! Papa jahat! Papa cuma sayang sama laptop Papa!"

​Gavin terdiam, membeku di tempat. Kata "Ibu" selalu menjadi senjata pamungkas yang melumpuhkannya. 

Dia tidak bisa menjawab. Rasa bersalah menghantamnya seperti truk kontainer. 

Dia mengusap wajahnya kasar, berbalik membelakangi Alea, tidak sanggup melihat wajah kecewa putrinya.

​Suasana hening yang canggung menyelimuti ruangan. Gavin kalah telak. Lagi.

​Kiana, yang sejak tadi berdiri diam di pojok ruangan dekat lemari piala, menghela napas panjang. Dia menggelengkan kepala melihat drama melankolis di depannya.

​Lemah, batin Kiana. Cara negosiasinya salah total. Jangan pakai perasaan kalau lawanmu sedang emosional.

​Kiana melangkah maju. Suara hak stiletto-nya yang mengetuk lantai keramik terdengar tajam dan ritmis. Tak.Tak.Tak.

​Gavin menoleh, matanya basah. "Kiana, jangan sekarang. Tunggu di luar."

​"Minggir, Gavin," ucap Kiana datar. Dia tidak menatap Gavin, matanya terkunci pada Alea.

​"Jangan bikin dia makin nangis," peringat Gavin.

​"Dia nggak nangis. Itu air mata buaya. Saya sering lihat karyawan saya pakai trik yang sama kalau ketahuan korupsi," jawab Kiana santai.

​Kiana menggeser tubuh Gavin ke samping dengan bahunya, lalu dia duduk di sofa, tepat di sebelah Alea. Dia tidak berusaha menyentuh anak itu. Dia duduk dengan anggun, menyilangkan kaki, dan meletakkan tas mahalnya di pangkuan.

​Alea menatap Kiana dengan waspada. Dia mengusap air matanya kasar, menyisakan jejak hitam di pipi. 

Dia bingung. Biasanya, wanita-wanita yang dibawa Papanya akan langsung sok manis, mencubit pipinya, atau menawarkan cokelat dengan suara yang dibuat-buat seperti karakter kartun.

​Tapi wanita ini beda. Wajahnya jutek. Tatapannya seperti sedang memeriksa barang cacat di gudang.

​Kiana mengambil permen mint dari dalam tasnya, memakannya satu, lalu menatap Alea.

​"Jadi, kamu bakar tong sampah?" tanya Kiana, nadanya datar seperti sedang bertanya jam berapa sekarang.

​Alea diam, tapi dia mengangguk pelan, menantang.

​"Pakai apa? Korek gas itu?" Kiana menunjuk barang bukti di meja dengan dagunya.

​Alea mengangguk lagi.

​"Bensinnya dapat dari mana? Korek gas doang nggak bakal bikin api besar sampai panggil pemadam kebakaran," tanya Kiana lagi, kali ini terdengar sedikit penasaran secara teknis.

​Alea terkejut. Wanita ini tidak memarahinya? Malah bertanya teknis pembakaran?

​"Minyak tanah," jawab Alea pelan, suaranya serak. "Dari gudang Pak Kebun."

​"Pintar," puji Kiana singkat. Bukan pujian sarkas, tapi pengakuan tulus atas kecerdikan logistik anak itu. "Tapi strateginya bodoh."

​Mata Alea membulat. "Kok bodoh? Apinya besar kok!"

​"Memang besar. Tapi dampaknya merugikan kamu sendiri," kata Kiana tenang. Dia mencondongkan tubuh sedikit, menatap mata Alea layaknya mitra bisnis. "Coba hitung. Tong sampah itu harganya berapa? Paling lima ratus ribu. Kalau gudang olahraga ikut terbakar, harganya bisa lima puluh juta. Papa kamu harus ganti rugi ke sekolah."

​"Papa kan kaya!" sergah Alea sombong. "Uang Papa banyak!"

​"Uang Papa memang banyak. Tapi uang itu bukan daun yang bisa dipetik di pohon," balas Kiana cepat. "Kalau Papa harus bayar ganti rugi lima puluh juta hari ini, berarti jatah uang jajan kamu berkurang. Uang yang harusnya bisa buat beli tiket ke Disneyland, habis buat bayar tembok gosong. Siapa yang rugi? Kamu. Papa sih tetap bisa makan enak."

​Alea tertegun. Mulutnya sedikit terbuka. 

Dia tidak pernah memikirkan itu. Selama ini dia pikir uang Papanya tidak terbatas.

​"Terus," lanjut Kiana, menunjuk seragam Alea yang kotor. "Sekarang kamu dikeluarkan dari sekolah. Artinya, kamu harus pindah ke sekolah baru lagi. Harus kenalan lagi sama teman baru yang belum tentu asik. Harus beli seragam baru lagi yang kainnya gatal. Harus bangun lebih pagi lagi karena sekolah baru mungkin lebih jauh dari rumah."

​Kiana menggelengkan kepala prihatin. "Capek kan? Padahal kalau kamu nggak bakar tong sampah, sore ini kamu bisa main game di rumah sambil makan es krim. Sekarang? Kamu terjebak di sini, bau asap, lapar, dan Papa kamu sibuk urus administrasi bukannya ajak kamu makan. Strategi kamu rugi bandar, Alea."

​Alea terdiam lama. Dia mencerna kata-kata Kiana. Tidak ada kata "anak nakal", "anak durhaka", atau "kasihan Papa". Yang ada hanya untung dan rugi. 

Logika murni. Dan anehnya, itu masuk akal bagi otak cerdas Alea.

​Gavin yang berdiri di belakang mereka menahan napas. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. 

Wanita ini sedang mengajarkan putrinya hitung-hitungan bisnis di atas kenakalan remaja?

​"Aku... aku cuma mau Papa pulang," cicit Alea pelan, pertahanannya mulai runtuh. "Kalau aku nakal, Papa pasti dipanggil pulang."

​"Betul. Taktik itu berhasil," aku Kiana. "Papa kamu pulang. Dia ada di sini sekarang. Tapi lihat mukanya."

​Kiana menunjuk Gavin dengan ibu jarinya. Alea mendongak, menatap wajah ayahnya yang kusut dan lelah.

​"Dia pulang, tapi dia nggak happy. Dia marah. Dia stres. Apa asiknya main sama orang stres? Nggak seru," kata Kiana. "Kalau kamu mau perhatian Papa, harusnya kamu pakai cara yang bikin dia happy. Kalau dia happy, dia bakal kasih apa aja. Termasuk waktunya."

​Alea menatap Kiana dengan tatapan menyelidik. Dia merasa wanita ini tahu sesuatu yang tidak diketahui orang dewasa lain.

​"Tante tahu caranya?" tanya Alea polos.

​"Tahu dong. Tante kan pebisnis. Tante tahu cara mendapatkan apa yang Tante mau tanpa harus bakar sampah," jawab Kiana sambil tersenyum miring. Dia merogoh tasnya, mengeluarkan tisu basah, lalu menyodorkannya pada Alea. "Lap mukamu. Kamu kelihatan kayak kucing kecebur got."

​Alea ragu sejenak, lalu mengambil tisu itu dan mulai mengelap wajahnya yang cemong. Dia tidak melawan.

​Gavin nyaris menjatuhkan rahangnya ke lantai. 

Alea menurut? Alea si monster kecil mau disuruh bersihin muka tanpa drama teriakan?

​Kiana menoleh ke arah Gavin, memberikan tatapan 'Lihat? Gampang kan?'.

​"Sudah bersih," kata Alea sambil membuang tisu kotor ke tempat sampah kecil di bawah meja. "Tapi aku lapar."

​"Papa kamu bakal belikan makanan. Setelah dia selesai tanda tangan cek ganti rugi di luar," kata Kiana, lalu melirik Gavin. "Sana, Pak Gavin. Urus administrasinya. Anak kamu aman sama saya. Jangan lupa belikan dia burger, dia butuh karbohidrat buat ganti tenaga yang habis dipakai bakar sekolah."

​Gavin masih terpaku, menatap Kiana seolah melihat hantu. "Kamu... serius?"

​"Sana!" usir Kiana.

​Gavin buru-buru mengangguk dan keluar ruangan, meninggalkan mereka berdua. Pintu tertutup rapat.

​Kini tinggal Kiana dan Alea berdua. Suasana kembali hening, tapi tidak setegang tadi. 

Alea memandangi Kiana dari atas sampai bawah. Menilai pakaian mahalnya, rambutnya yang tertata rapi, dan aura dominan yang memancar darinya.

​Alea pernah melihat wanita-wanita cantik di sekitar Papanya. Tapi rata-rata mereka manja, berisik, dan pura-pura bodoh. 

Yang ini... menakutkan, tapi bikin penasaran.

​"Tante siapa?" tanya Alea tajam, matanya menyipit penuh selidik. "Pacar Papa yang ke-seratus? Atau sekretaris baru yang mau cari muka?"

​Kiana terkekeh pelan. Dia menyandarkan punggungnya ke sofa dengan santai, menatap mata bocah itu tanpa rasa takut sedikitpun.

​"Bukan pacar. Pacaran itu buang-buang waktu," jawab Kiana enteng. "Dan saya punya perusahaan sendiri, jadi saya nggak butuh cari muka sama Papa kamu."

​"Terus Tante siapa? Kenapa sok akrab ngasih tahu aku soal untung rugi?" desak Alea, tidak mau kalah.

​Kiana mencondongkan wajahnya, mendekat ke telinga Alea seolah hendak membocorkan rahasia negara. Senyum miring yang penuh percaya diri terukir di bibir merahnya.

​"Saya Kiana," bisik wanita itu tegas. "Calon Ibumu."

Terpopuler

Comments

ceuceu

ceuceu

ga aneh dgn cara bicara alea,anak jaman sekarang pintar" adu argumen/Grin/

2026-08-08

1

Evi Lusiana

Evi Lusiana

alea umur brp sih thor,omongany sperti dewasa sblum umurny

2026-03-26

0

Rev

Rev

👍🏻

2026-07-25

0

lihat semua
Episodes
1 ​Bab 1: Ultimatum Sang Kakek
2 ​Bab 2: Kandidat yang Mustahil
3 ​Bab 3: Lamaran Bisnis di Toilet Pria
4 ​Bab 4: Pertemuan dengan "Monster" Kecil
5 ​Bab 5: Klausul Kontrak 10 Halaman
6 ​Bab 6: Drama Menjelang Ijab Kabul
7 ​Bab 7: Pernikahan di Ruang ICU
8 ​Bab 8: Pindahan dan Benturan Budaya
9 ​Bab 9: Perang Dingin di Meja Makan
10 ​Bab 10: Tembok Es vs Wanita Logistik
11 ​Bab 11: Drama Pagi Hari & Bekal Salmon
12 ​Bab 12: Grup WhatsApp Neraka
13 ​Bab 13: Transformasi Sang Putri
14 ​Bab 14: Masuk Kandang Macan
15 ​Bab 15: Tamparan Uang & Logika
16 ​Bab 16: Pembelaan Sang Ayah
17 ​Bab 17: Les Privat & Guru Genit
18 ​Bab 18: Mengusir Hama dengan Elegan
19 ​Bab 19: Demam Panggung
20 ​Bab 20: Peniti Emas & Tepuk Tangan
21 21. Kebakaran
22 ​Bab 22: Pulang dengan Abu
23 Bab 23: Nenek Sihir vs Nenek Lampir
24 Bab 24: Sidang Dadakan di Ruang Tamu
25 ​Bab 25: Tamparan Digital
26 ​Bab 26: Bencana di Dapur
27 ​Bab 27: Suami Tumbang, Istri Siaga
28 ​Bab 28: Bubur Gosong Penuh Cinta
29 Bab 29: Serangan Terakhir Mertua
30 Bab 30. Aliansi Para Mantan
31 Bab 31. Solusi dari Kakek
32 ​Bab 31: Jebakan Tiket & Satu Kamar
33 Bab 33: Tembok Besar Versi Bantal
34 Bab 34: Bikini & Mata Keranjang
35 ​Bab 34: Panggilan "Mommy"
36 ​Bab 36: Kehangatan Pasca Trauma
37 ​Bab 36: Makan Malam Romantis (Settingan)
38 ​Bab 37: Kiana Kececer
39 ​Bab 38: Cemburu Buta
40 ​Bab 40: Sunburn & Aloe Vera
41 Bab 41. Tamu Tak Diundang
42 Bab 42. Jujur Sama Saya
43 ​Bab 43: Lukisan & Kenangan
44 ​Bab 44: Suami Posesif di Kantor
45 Bab 45: Makan Siang Berdarah (Kiasan)
46 ​Bab 46: Alea vs Om Gondrong
47 ​Bab 47: Persiapan Pesta
48 Bab 48. Hari H Perayaan
49 ​Bab 49: Jebakan Rio
50 ​Bab 50: Pernyataan Perang
51 ​Bab 51: Rio Kena Mental
52 ​Bab 52: Devan Mundur
53 ​Bab 53: After Party (Kebablasan?)
54 ​Bab 54: Dokumen yang Hilang
55 ​Bab 55: Si Pencuri
56 ​Bab 56: Pemerasan
57 ​Bab 57: Strategi Counter-Attack
58 ​Bab 58: Badai Media
59 ​Bab 59: Akting Oscar
60 ​Bab 60: Pembuktian Cinta (Settingan)
61 ​Bab 61: Ciuman "Kebablasan"
62 Bab 62: Batas yang Kabur
63 ​Bab 63: Abu Masa Lalu
64 ​Bab 64: Malam Pertama yang Sesungguhnya
65 Bab 65: Serangan Balik Untuk Rio Part 1
66 Bab 66. Serangan Balik Untuk Rio Part 2
67 Bab 67. Rio Masuk Jeruji
68 Bab 68: Sidang Kakek Adijaya Part 1
69 Bab 69: Permintaan Kakek
70 Bab 70. Alea Minta Adik
71 Bab 71. Produk Buatan Tangan
72 72. Diculik Suami
73 Bab 73: Honeymoon Susulan
74 Bab 74: Sedekah untuk Masa Lalu
75 Bab 75: Karma
76 Bab 76. Kiana Kenapa
77 Bab 77. Bella Si Ulat Bulu
78 Bab 78: Bye-Bye Ulat Bulu
79 Bab 79: Garis Dua?
80 Bab 80: Ngidam Aneh
81 Bab 81: Berantem Lagi Demi Mommy
82 Bab 82. Naik Pangkat
83 Bab 83: Teror Masa Lalu
84 Bab 84: Sangkar Emas
85 ​Bab 85: Insting Pembalap
86 Bab 86: Tidur Punggung-Punggungan
87 ​Bab 82: Akhir dari Dendam
88 Bab 88: Tujuh bulanan
89 ​Bab 89: Cuti Melahirkan
90 Bab 90: Viral
91 Bab 91. Operasi Secar
92 ​Bab 87: Detik-Detik Menegangkan
93 Bab 93: Selamat
94 ​Bab 94: New Parents Struggle
95 Bab 95: Kamu Paling Cantik
96 ​Bab 96: Pesta Aqiqah
97 Bab 97: Kompromi
98 Bab 98: Alea Kakak Terbaik
99 ​Bab 98. Anniversary Pernikahan ke-2
100 Bab 100: Tamat
101 PENGUMUMAN PENTING: TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS
Episodes

Updated 101 Episodes

1
​Bab 1: Ultimatum Sang Kakek
2
​Bab 2: Kandidat yang Mustahil
3
​Bab 3: Lamaran Bisnis di Toilet Pria
4
​Bab 4: Pertemuan dengan "Monster" Kecil
5
​Bab 5: Klausul Kontrak 10 Halaman
6
​Bab 6: Drama Menjelang Ijab Kabul
7
​Bab 7: Pernikahan di Ruang ICU
8
​Bab 8: Pindahan dan Benturan Budaya
9
​Bab 9: Perang Dingin di Meja Makan
10
​Bab 10: Tembok Es vs Wanita Logistik
11
​Bab 11: Drama Pagi Hari & Bekal Salmon
12
​Bab 12: Grup WhatsApp Neraka
13
​Bab 13: Transformasi Sang Putri
14
​Bab 14: Masuk Kandang Macan
15
​Bab 15: Tamparan Uang & Logika
16
​Bab 16: Pembelaan Sang Ayah
17
​Bab 17: Les Privat & Guru Genit
18
​Bab 18: Mengusir Hama dengan Elegan
19
​Bab 19: Demam Panggung
20
​Bab 20: Peniti Emas & Tepuk Tangan
21
21. Kebakaran
22
​Bab 22: Pulang dengan Abu
23
Bab 23: Nenek Sihir vs Nenek Lampir
24
Bab 24: Sidang Dadakan di Ruang Tamu
25
​Bab 25: Tamparan Digital
26
​Bab 26: Bencana di Dapur
27
​Bab 27: Suami Tumbang, Istri Siaga
28
​Bab 28: Bubur Gosong Penuh Cinta
29
Bab 29: Serangan Terakhir Mertua
30
Bab 30. Aliansi Para Mantan
31
Bab 31. Solusi dari Kakek
32
​Bab 31: Jebakan Tiket & Satu Kamar
33
Bab 33: Tembok Besar Versi Bantal
34
Bab 34: Bikini & Mata Keranjang
35
​Bab 34: Panggilan "Mommy"
36
​Bab 36: Kehangatan Pasca Trauma
37
​Bab 36: Makan Malam Romantis (Settingan)
38
​Bab 37: Kiana Kececer
39
​Bab 38: Cemburu Buta
40
​Bab 40: Sunburn & Aloe Vera
41
Bab 41. Tamu Tak Diundang
42
Bab 42. Jujur Sama Saya
43
​Bab 43: Lukisan & Kenangan
44
​Bab 44: Suami Posesif di Kantor
45
Bab 45: Makan Siang Berdarah (Kiasan)
46
​Bab 46: Alea vs Om Gondrong
47
​Bab 47: Persiapan Pesta
48
Bab 48. Hari H Perayaan
49
​Bab 49: Jebakan Rio
50
​Bab 50: Pernyataan Perang
51
​Bab 51: Rio Kena Mental
52
​Bab 52: Devan Mundur
53
​Bab 53: After Party (Kebablasan?)
54
​Bab 54: Dokumen yang Hilang
55
​Bab 55: Si Pencuri
56
​Bab 56: Pemerasan
57
​Bab 57: Strategi Counter-Attack
58
​Bab 58: Badai Media
59
​Bab 59: Akting Oscar
60
​Bab 60: Pembuktian Cinta (Settingan)
61
​Bab 61: Ciuman "Kebablasan"
62
Bab 62: Batas yang Kabur
63
​Bab 63: Abu Masa Lalu
64
​Bab 64: Malam Pertama yang Sesungguhnya
65
Bab 65: Serangan Balik Untuk Rio Part 1
66
Bab 66. Serangan Balik Untuk Rio Part 2
67
Bab 67. Rio Masuk Jeruji
68
Bab 68: Sidang Kakek Adijaya Part 1
69
Bab 69: Permintaan Kakek
70
Bab 70. Alea Minta Adik
71
Bab 71. Produk Buatan Tangan
72
72. Diculik Suami
73
Bab 73: Honeymoon Susulan
74
Bab 74: Sedekah untuk Masa Lalu
75
Bab 75: Karma
76
Bab 76. Kiana Kenapa
77
Bab 77. Bella Si Ulat Bulu
78
Bab 78: Bye-Bye Ulat Bulu
79
Bab 79: Garis Dua?
80
Bab 80: Ngidam Aneh
81
Bab 81: Berantem Lagi Demi Mommy
82
Bab 82. Naik Pangkat
83
Bab 83: Teror Masa Lalu
84
Bab 84: Sangkar Emas
85
​Bab 85: Insting Pembalap
86
Bab 86: Tidur Punggung-Punggungan
87
​Bab 82: Akhir dari Dendam
88
Bab 88: Tujuh bulanan
89
​Bab 89: Cuti Melahirkan
90
Bab 90: Viral
91
Bab 91. Operasi Secar
92
​Bab 87: Detik-Detik Menegangkan
93
Bab 93: Selamat
94
​Bab 94: New Parents Struggle
95
Bab 95: Kamu Paling Cantik
96
​Bab 96: Pesta Aqiqah
97
Bab 97: Kompromi
98
Bab 98: Alea Kakak Terbaik
99
​Bab 98. Anniversary Pernikahan ke-2
100
Bab 100: Tamat
101
PENGUMUMAN PENTING: TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!