​Bab 5: Klausul Kontrak 10 Halaman

​"Ini gila. Benar-benar gila."

​Gavin Ardiman melempar berkas setebal sepuluh halaman itu ke atas meja marmer kafe. Bunyi plak yang nyaring membuat pelayan yang baru saja mengantar kopi mundur selangkah dengan wajah ketakutan.

​Namun, Kiana tidak berkedip. Dia duduk dengan punggung tegak, menyesap earl grey tea-nya dengan anggun seolah mereka sedang membicarakan cuaca, bukan masa depan pernikahan mereka.

​"Apanya yang gila?" tanya Kiana santai, meletakkan cangkirnya perlahan. "Itu draf kontrak paling masuk akal yang pernah saya buat. Bahkan lebih simpel daripada kontrak sewa gudang di Tanjung Priok."

​Mereka berada di ruang privat sebuah kafe eksklusif, hanya berjarak lima belas menit dari sekolah Alea. 

Setelah insiden "bakar sampah" dan keberhasilan Kiana membuat Alea diam—bahkan mau makan burger dengan tenang di mobil tanpa melempar acar—Gavin akhirnya menyerah. Dia setuju duduk satu meja dengan musuh bebuyutannya ini.

​Gavin memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Dia menunjuk halaman tiga kontrak itu dengan telunjuknya yang gemetar menahan emosi.

​"Coba kamu baca pasal empat ayat dua ini," desis Gavin. "Pihak Istri tidak memiliki kewajiban domestik apapun, termasuk memasak, mencuci, atau menyiapkan sarapan Pihak Suami. Pihak Suami wajib menyediakan staf profesional untuk kebutuhan tersebut."

​Gavin mendengus kasar. "Kamu mau jadi istri atau ratu? Kalau saya cuma mau cari pajangan rumah yang cantik tapi nggak berguna, saya bisa beli patung manekin."

​"Koreksi, Pak Gavin," potong Kiana cepat, matanya berkilat tajam. "Saya bukan manekin. Saya CEO yang punya tiga ribu karyawan. Waktu saya di pagi hari itu mahal. Saya biasa bangun jam lima, cek email, lari di treadmill sambil telepon manajer operasional, lalu berangkat kerja jam tujuh teng."

​Kiana mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kamu berharap saya bangun jam lima buat ngulek sambal atau goreng telur buat kamu? Please deh. Kita sama-sama punya uang buat bayar koki bintang lima. Kenapa harus repot mengotori tangan sendiri? Itu namanya efisiensi."

​Gavin terdiam. Logikanya masuk akal, tapi egonya sebagai laki-laki sedikit terusik. "Istri-istri teman saya bangun pagi untuk melayani suami mereka. Itu bentuk bakti."

​"Dan istri-istri teman kamu itu kerjanya belanja tas Hermes pakai kartu kredit suami, kan?" balas Kiana telak. "Saya beli tas saya sendiri. Jadi saya nggak butuh 'bakti' semacam itu. Kita ini mitra, Gavin. Partner. Setara. Jangan samakan saya dengan wanita-wanita yang biasa kamu temui di arisan sosialita."

​Gavin menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Kiana lekat-lekat. 

Wanita ini benar-benar beda. Keras kepala, dominan, dan tidak mau kalah. Tapi entah kenapa, Gavin justru merasa... lega. 

Dia tidak perlu berpura-pura menjadi pangeran berkuda putih di depan Kiana.

​"Oke, poin itu saya terima. Saya juga lebih suka kopi buatan mesin daripada buatan tangan yang rasanya nggak konsisten," gumam Gavin, mengalah. Dia membalik halaman berikutnya.

​"Nah, ini. Pasal enam. Pihak Istri memiliki hak veto penuh atas urusan pendidikan dan disiplin anak (Alea Ardiman), selama tidak membahayakan fisik."

​Gavin mengangkat alis. "Kamu yakin? Baru ketemu Alea satu jam yang lalu dan kamu sudah berani minta hak asuh pendidikan? Kamu nggak kapok? Sebelumnya dia cuma diam karena kaget. Besok-besok dia bisa saja taruh lem tikus di rambut kamu."

​"Saya suka tantangan," jawab Kiana sambil tersenyum miring. "Dan kamu lihat sendiri, kan? Alea butuh seseorang yang bisa bicara pakai logikanya, bukan cuma memanjakan atau memarahinya. Kamu terlalu lembek, Gavin. Kamu merasa bersalah karena ibunya meninggal, jadi kamu biarkan dia injak-injak kepalamu."

​"Saya nggak lembek!" bantah Gavin defensif.

​"Kamu belikan dia mainan setiap dia bikin masalah. Itu namanya menyogok, bukan mendidik," sergah Kiana. "Serahkan Alea sama saya. Saya akan pastikan dia nggak bakal bakar sekolah lagi bulan depan. Sebagai gantinya, kamu pastikan paman dan sepupu saya yang gila judi itu nggak bisa sentuh sepeser pun saham Adijaya Group."

​Gavin terdiam lagi. Tawaran itu sangat menggiurkan. 

Masalah Alea adalah sakit kepala terbesar dalam hidupnya saat ini. Kalau Kiana—dengan segala kegalakannya—bisa membereskan masalah itu, Gavin rela memberikan apa saja. 

​"Baik. Saya setuju soal Alea. Tapi kalau dia nangis, kamu yang tanggung jawab," ancam Gavin.

​"Sepakat," kata Kiana cepat. "Lanjut ke poin berikutnya. Pasal delapan. Keuangan."

​Gavin membaca poin itu sekilas. "Pisah harta. Rekening masing-masing. Tidak ada tunjangan bulanan untuk istri." Dia terkekeh pelan. "Tumben. Biasanya wanita yang mendekati saya langsung minta kartu black card tambahan di hari pertama."

​"Uang saya sudah cukup banyak, Gavin. Saya nggak butuh uang kamu buat beli bedak," jawab Kiana sombong. "Saya cuma butuh status Nyonya Ardiman untuk satu tahun. Itu saja."

​"Oke, adil," Gavin mengangguk. Dia mulai merasa kontrak ini tidak seburuk dugaannya. Transaksional, dingin, dan jelas. Tanpa drama perasaan.

​Sampai matanya tertumbuk pada pasal terakhir. Pasal sepuluh.

​Gavin membaca tulisan itu, lalu tawanya meledak. Tawa yang kering dan sinis.

​"Pasal Sepuluh: Pihak Pria dan Pihak Wanita DILARANG KERAS jatuh cinta satu sama lain selama masa kontrak berlangsung. Pelanggaran terhadap pasal ini akan dikenakan denda berupa pembatalan sepihak semua kesepakatan bisnis."

​Gavin tertawa sampai matanya sedikit berair. Dia melempar berkas itu kembali ke meja.

​"Kamu serius menulis ini? Dilarang jatuh cinta?" cibir Gavin. Dia menatap Kiana dengan pandangan geli. "Kiana, Kiana... Kamu terlalu percaya diri. Kamu pikir saya bakal jatuh cinta sama wanita yang kelakuannya kayak mandor gudang begini?"

​Wajah Kiana tidak berubah. Dia tetap tenang, meski telinganya sedikit memerah. "Saya cuma antisipasi. Namanya manusia, hormon bisa kacau kalau tinggal satu atap. Saya nggak mau urusan bisnis saya berantakan cuma karena kamu tiba-tiba baper."

​"Jangan khawatir," potong Gavin tegas. Wajahnya berubah serius, dinginnya kembali. "Hati saya sudah mati sejak istri saya meninggal. Ruang di dada saya ini..." Gavin menepuk dada kirinya. "...sudah digembok. Nggak ada tempat buat kamu atau wanita mana pun. Jadi pasal ini adalah pasal termudah yang akan saya patuhi."

​Kiana menatap mata Gavin. Dia melihat kejujuran di sana. 

Kejujuran yang menyakitkan. Pria ini benar-benar terluka parah di masa lalu, sama sepertinya yang trauma dikhianati Radit.

​"Bagus," ucap Kiana pelan. Ada sedikit rasa nyeri yang aneh di dadanya mendengar pengakuan Gavin, tapi dia segera menepisnya. "Saya juga sama. Bagi saya, cinta itu cuma reaksi kimia otak yang bikin orang jadi bodoh. Saya butuh partner cerdas, bukan suami yang bucin."

​"Bagus. Kita sepakat kalau kita sama-sama nggak punya hati," pungkas Gavin. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan pena Montblanc hitam yang mengkilap.

​"Mana yang harus saya tanda tangan?"

​Kiana menunjuk kolom di halaman terakhir dengan ujung kuku jarinya yang terawat. "Di sini. Di atas materai."

​Suasana mendadak hening dan tegang. Hanya terdengar suara dengungan halus mesin pendingin ruangan.

​Gavin membuka tutup penanya. Ujung pena itu melayang beberapa milimeter di atas kertas.

​Ini dia. Keputusan gila yang akan mengubah hidupnya setahun ke depan. 

Menikah dengan Kiana Elvaretta, saingan bisnisnya, wanita yang paling sering membuatnya darah tinggi, demi kedamaian rumah dan ekspansi bisnis.

​Kiana menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. 

Sedikit lagi. Sedikit lagi warisan Kakek aman. Sedikit lagi dia bisa menampar wajah Rio dan Radit dengan status barunya.

​Goresan tinta pertama mulai terbentuk di atas kertas. Huruf 'G' dari tanda tangan Gavin sudah tertulis.

​BRAKK!

​Pintu ruang privat itu tiba-tiba didobrak dari luar dengan kasar. Kiana dan Gavin tersentak kaget. Pena di tangan Gavin tergelincir, mencoret kertas kontrak hingga sobek sedikit.

​Seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala berdiri di ambang pintu. Rambutnya yang di- blow sempurna berantakan, napasnya memburu, dan matanya menyala penuh amarah. Di tangannya, dia menggenggam segelas air mineral dingin yang baru saja dia sambar dari nampan pelayan yang lewat.

​"Celine?" gumam Gavin kaget, matanya membelalak. "Ngapain kamu di sini?"

​Itu Celine. Mantan kekasih Gavin—atau lebih tepatnya, wanita yang terobsesi pada Gavin sejak kuliah dan selalu merasa dirinya adalah calon ibu sambung terbaik buat Alea, meskipun Alea benci setengah mati padanya.

​"Jadi benar gosip itu!" pekik Celine histeris. Suaranya melengking memenuhi ruangan. "Asistenku bilang dia lihat mobil kamu parkir di sini bareng mobil perempuan itu! Aku pikir kamu cuma rapat bisnis, ternyata..."

​Mata Celine tertuju pada berkas kontrak di meja yang berjudul PERJANJIAN PRANIKAH.

​Wajah cantiknya seketika berubah menjadi topeng kemurkaan yang jelek. Dia menatap Kiana dengan tatapan membunuh.

​"Kamu!" tunjuk Celine pada Kiana. "Dasar wanita ular! Kamu manfaatkan momen saat Gavin lagi lemah buat menjebaknya, kan?!"

​Kiana mengerutkan kening, tidak suka dituduh sembarangan. Dia hendak berdiri untuk membela diri. "Permisi, Mbak. Tolong jaga sopan santun..."

​"Diam kamu, Pelakor!"

​Tanpa peringatan, Celine maju dua langkah dan mengayunkan tangannya.

​BYUR!

​Air dingin dari gelas itu menyembur deras, tepat menghantam wajah Kiana.

​Dunia seakan berhenti.

​Air menetes dari rambut Kiana yang basah kuyup, mengalir melewati bulu matanya, membasahi blazernya yang mahal, dan menetes ke atas kontrak yang ada di meja. Riasan wajahnya yang sempurna luntur seketika.

​Gavin ternganga, terpaku di kursinya. Dia terlalu syok untuk bereaksi.

​Celine melempar gelas kosong itu ke lantai hingga pecah berantakan.

​PRANG!

​"Dasar wanita murahan!" teriak Celine penuh kemenangan, napasnya naik turun. "Kamu pikir kamu siapa bisa merebut Gavin dariku? Ngaca dong! Kamu itu cuma janda gila harta!"

​Kiana diam. Dia tidak berteriak. Dia tidak menangis.

​Perlahan, Kiana mengangkat tangannya, menyeka air yang menutupi pandangannya. Dia mengambil tisu di meja dengan gerakan sangat lambat, sangat tenang, seolah dia baru saja terkena gerimis kecil, bukan disiram air oleh orang gila.

​Tapi Gavin, yang duduk di seberangnya, bisa melihatnya. Dia bisa melihat tangan Kiana gemetar hebat. Bukan karena takut. Tapi karena amarah yang sedang ditahan sekuat tenaga agar tidak meledak dan membakar seluruh gedung ini.

​Tatapan Kiana perlahan naik, mengunci wajah Celine.

​Dan untuk pertama kalinya hari itu, Gavin merasa takut. Bukan takut pada Celine, tapi takut pada apa yang akan dilakukan Kiana selanjutnya.

Terpopuler

Comments

awesome moment

awesome moment

kiana n bikin salut. tegar. kokoh. meski krn luka

2026-02-02

1

Hikam Sairi

Hikam Sairi

ah... masaaaaa🫵🫵🫵🫵/Determined//Determined//Determined//Determined/

2026-07-15

0

Bunny²⁴

Bunny²⁴

cari mati tuh cewe..kiana mah udah kayaa
itu mah kamuu kali yg gila harta 😂😂

2026-07-11

1

lihat semua
Episodes
1 ​Bab 1: Ultimatum Sang Kakek
2 ​Bab 2: Kandidat yang Mustahil
3 ​Bab 3: Lamaran Bisnis di Toilet Pria
4 ​Bab 4: Pertemuan dengan "Monster" Kecil
5 ​Bab 5: Klausul Kontrak 10 Halaman
6 ​Bab 6: Drama Menjelang Ijab Kabul
7 ​Bab 7: Pernikahan di Ruang ICU
8 ​Bab 8: Pindahan dan Benturan Budaya
9 ​Bab 9: Perang Dingin di Meja Makan
10 ​Bab 10: Tembok Es vs Wanita Logistik
11 ​Bab 11: Drama Pagi Hari & Bekal Salmon
12 ​Bab 12: Grup WhatsApp Neraka
13 ​Bab 13: Transformasi Sang Putri
14 ​Bab 14: Masuk Kandang Macan
15 ​Bab 15: Tamparan Uang & Logika
16 ​Bab 16: Pembelaan Sang Ayah
17 ​Bab 17: Les Privat & Guru Genit
18 ​Bab 18: Mengusir Hama dengan Elegan
19 ​Bab 19: Demam Panggung
20 ​Bab 20: Peniti Emas & Tepuk Tangan
21 21. Kebakaran
22 ​Bab 22: Pulang dengan Abu
23 Bab 23: Nenek Sihir vs Nenek Lampir
24 Bab 24: Sidang Dadakan di Ruang Tamu
25 ​Bab 25: Tamparan Digital
26 ​Bab 26: Bencana di Dapur
27 ​Bab 27: Suami Tumbang, Istri Siaga
28 ​Bab 28: Bubur Gosong Penuh Cinta
29 Bab 29: Serangan Terakhir Mertua
30 Bab 30. Aliansi Para Mantan
31 Bab 31. Solusi dari Kakek
32 ​Bab 31: Jebakan Tiket & Satu Kamar
33 Bab 33: Tembok Besar Versi Bantal
34 Bab 34: Bikini & Mata Keranjang
35 ​Bab 34: Panggilan "Mommy"
36 ​Bab 36: Kehangatan Pasca Trauma
37 ​Bab 36: Makan Malam Romantis (Settingan)
38 ​Bab 37: Kiana Kececer
39 ​Bab 38: Cemburu Buta
40 ​Bab 40: Sunburn & Aloe Vera
41 Bab 41. Tamu Tak Diundang
42 Bab 42. Jujur Sama Saya
43 ​Bab 43: Lukisan & Kenangan
44 ​Bab 44: Suami Posesif di Kantor
45 Bab 45: Makan Siang Berdarah (Kiasan)
46 ​Bab 46: Alea vs Om Gondrong
47 ​Bab 47: Persiapan Pesta
48 Bab 48. Hari H Perayaan
49 ​Bab 49: Jebakan Rio
50 ​Bab 50: Pernyataan Perang
51 ​Bab 51: Rio Kena Mental
52 ​Bab 52: Devan Mundur
53 ​Bab 53: After Party (Kebablasan?)
54 ​Bab 54: Dokumen yang Hilang
55 ​Bab 55: Si Pencuri
56 ​Bab 56: Pemerasan
57 ​Bab 57: Strategi Counter-Attack
58 ​Bab 58: Badai Media
59 ​Bab 59: Akting Oscar
60 ​Bab 60: Pembuktian Cinta (Settingan)
61 ​Bab 61: Ciuman "Kebablasan"
62 Bab 62: Batas yang Kabur
63 ​Bab 63: Abu Masa Lalu
64 ​Bab 64: Malam Pertama yang Sesungguhnya
65 Bab 65: Serangan Balik Untuk Rio Part 1
66 Bab 66. Serangan Balik Untuk Rio Part 2
67 Bab 67. Rio Masuk Jeruji
68 Bab 68: Sidang Kakek Adijaya Part 1
69 Bab 69: Permintaan Kakek
70 Bab 70. Alea Minta Adik
71 Bab 71. Produk Buatan Tangan
72 72. Diculik Suami
73 Bab 73: Honeymoon Susulan
74 Bab 74: Sedekah untuk Masa Lalu
75 Bab 75: Karma
76 Bab 76. Kiana Kenapa
77 Bab 77. Bella Si Ulat Bulu
78 Bab 78: Bye-Bye Ulat Bulu
79 Bab 79: Garis Dua?
80 Bab 80: Ngidam Aneh
81 Bab 81: Berantem Lagi Demi Mommy
82 Bab 82. Naik Pangkat
83 Bab 83: Teror Masa Lalu
84 Bab 84: Sangkar Emas
85 ​Bab 85: Insting Pembalap
86 Bab 86: Tidur Punggung-Punggungan
87 ​Bab 82: Akhir dari Dendam
88 Bab 88: Tujuh bulanan
89 ​Bab 89: Cuti Melahirkan
90 Bab 90: Viral
91 Bab 91. Operasi Secar
92 ​Bab 87: Detik-Detik Menegangkan
93 Bab 93: Selamat
94 ​Bab 94: New Parents Struggle
95 Bab 95: Kamu Paling Cantik
96 ​Bab 96: Pesta Aqiqah
97 Bab 97: Kompromi
98 Bab 98: Alea Kakak Terbaik
99 ​Bab 98. Anniversary Pernikahan ke-2
100 Bab 100: Tamat
101 PENGUMUMAN PENTING: TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS
Episodes

Updated 101 Episodes

1
​Bab 1: Ultimatum Sang Kakek
2
​Bab 2: Kandidat yang Mustahil
3
​Bab 3: Lamaran Bisnis di Toilet Pria
4
​Bab 4: Pertemuan dengan "Monster" Kecil
5
​Bab 5: Klausul Kontrak 10 Halaman
6
​Bab 6: Drama Menjelang Ijab Kabul
7
​Bab 7: Pernikahan di Ruang ICU
8
​Bab 8: Pindahan dan Benturan Budaya
9
​Bab 9: Perang Dingin di Meja Makan
10
​Bab 10: Tembok Es vs Wanita Logistik
11
​Bab 11: Drama Pagi Hari & Bekal Salmon
12
​Bab 12: Grup WhatsApp Neraka
13
​Bab 13: Transformasi Sang Putri
14
​Bab 14: Masuk Kandang Macan
15
​Bab 15: Tamparan Uang & Logika
16
​Bab 16: Pembelaan Sang Ayah
17
​Bab 17: Les Privat & Guru Genit
18
​Bab 18: Mengusir Hama dengan Elegan
19
​Bab 19: Demam Panggung
20
​Bab 20: Peniti Emas & Tepuk Tangan
21
21. Kebakaran
22
​Bab 22: Pulang dengan Abu
23
Bab 23: Nenek Sihir vs Nenek Lampir
24
Bab 24: Sidang Dadakan di Ruang Tamu
25
​Bab 25: Tamparan Digital
26
​Bab 26: Bencana di Dapur
27
​Bab 27: Suami Tumbang, Istri Siaga
28
​Bab 28: Bubur Gosong Penuh Cinta
29
Bab 29: Serangan Terakhir Mertua
30
Bab 30. Aliansi Para Mantan
31
Bab 31. Solusi dari Kakek
32
​Bab 31: Jebakan Tiket & Satu Kamar
33
Bab 33: Tembok Besar Versi Bantal
34
Bab 34: Bikini & Mata Keranjang
35
​Bab 34: Panggilan "Mommy"
36
​Bab 36: Kehangatan Pasca Trauma
37
​Bab 36: Makan Malam Romantis (Settingan)
38
​Bab 37: Kiana Kececer
39
​Bab 38: Cemburu Buta
40
​Bab 40: Sunburn & Aloe Vera
41
Bab 41. Tamu Tak Diundang
42
Bab 42. Jujur Sama Saya
43
​Bab 43: Lukisan & Kenangan
44
​Bab 44: Suami Posesif di Kantor
45
Bab 45: Makan Siang Berdarah (Kiasan)
46
​Bab 46: Alea vs Om Gondrong
47
​Bab 47: Persiapan Pesta
48
Bab 48. Hari H Perayaan
49
​Bab 49: Jebakan Rio
50
​Bab 50: Pernyataan Perang
51
​Bab 51: Rio Kena Mental
52
​Bab 52: Devan Mundur
53
​Bab 53: After Party (Kebablasan?)
54
​Bab 54: Dokumen yang Hilang
55
​Bab 55: Si Pencuri
56
​Bab 56: Pemerasan
57
​Bab 57: Strategi Counter-Attack
58
​Bab 58: Badai Media
59
​Bab 59: Akting Oscar
60
​Bab 60: Pembuktian Cinta (Settingan)
61
​Bab 61: Ciuman "Kebablasan"
62
Bab 62: Batas yang Kabur
63
​Bab 63: Abu Masa Lalu
64
​Bab 64: Malam Pertama yang Sesungguhnya
65
Bab 65: Serangan Balik Untuk Rio Part 1
66
Bab 66. Serangan Balik Untuk Rio Part 2
67
Bab 67. Rio Masuk Jeruji
68
Bab 68: Sidang Kakek Adijaya Part 1
69
Bab 69: Permintaan Kakek
70
Bab 70. Alea Minta Adik
71
Bab 71. Produk Buatan Tangan
72
72. Diculik Suami
73
Bab 73: Honeymoon Susulan
74
Bab 74: Sedekah untuk Masa Lalu
75
Bab 75: Karma
76
Bab 76. Kiana Kenapa
77
Bab 77. Bella Si Ulat Bulu
78
Bab 78: Bye-Bye Ulat Bulu
79
Bab 79: Garis Dua?
80
Bab 80: Ngidam Aneh
81
Bab 81: Berantem Lagi Demi Mommy
82
Bab 82. Naik Pangkat
83
Bab 83: Teror Masa Lalu
84
Bab 84: Sangkar Emas
85
​Bab 85: Insting Pembalap
86
Bab 86: Tidur Punggung-Punggungan
87
​Bab 82: Akhir dari Dendam
88
Bab 88: Tujuh bulanan
89
​Bab 89: Cuti Melahirkan
90
Bab 90: Viral
91
Bab 91. Operasi Secar
92
​Bab 87: Detik-Detik Menegangkan
93
Bab 93: Selamat
94
​Bab 94: New Parents Struggle
95
Bab 95: Kamu Paling Cantik
96
​Bab 96: Pesta Aqiqah
97
Bab 97: Kompromi
98
Bab 98: Alea Kakak Terbaik
99
​Bab 98. Anniversary Pernikahan ke-2
100
Bab 100: Tamat
101
PENGUMUMAN PENTING: TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!