Bab 4

“Gita, Papa minta maaf, ya,” ucap Rafka sambil berjongkok di hadapan putrinya. Kedua tangannya memegang lengan kecil Gita dengan lembut, seolah ingin menyalurkan rasa bersalah yang tak bisa dia ucapkan sepenuhnya. “Hari ini kita tidak jadi pergi ke kebun binatang.”

Wajah Gita yang sejak pagi berseri-seri, mendadak meredup. Senyum kecil yang tadi melekat perlahan runtuh. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan sesuatu yang ingin pecah.

Sejak sebulan lalu, hari ini adalah hari yang paling di tunggu sama Gita. Hari yang dia hitung dengan coretan kecil di kalender dinding. Lalu, pagi ini dia juga mandi sendiri dan memilih pakaian terbaik miliknya.

“Kenapa batal, Pa?” tanya Gita pelan. Suaranya gemetar, tapi dia berusaha terdengar kuat. Dia tahu papanya tidak suka anak yang cengeng.

Rafka menelan ludah. Ada dorongan untuk memeluk putrinya erat-erat dan membatalkan semua rencana lain. Namun, pikirannya terbelah antara anak yang menatapnya dengan harapan, dan janji terlarang yang sudah dia ucapkan pada perempuan lain.

“Papa ada acara mendadak,” jawab Rafka akhirnya. “Liburannya kita pindahkan ke minggu depan, ya?”

Gita mengangguk kecil. Bukan karena setuju, tetapi karena dia tidak ingin mengecewakan papanya lebih jauh. Air matanya jatuh satu, cepat-cepat dia seka dengan punggung tangan.

Dari ambang pintu, Kirana memperhatikan semuanya. Hatinya seperti diremas. “Ada apa ini? Kok, Gita kelihatan sedih?” tanyanya, meski sebenarnya dia sudah menebak.

Rafka berdiri dan tersenyum kaku. “Sayang, aku lupa bilang semalam. Hari ini aku ada acara sama teman sekantor. Jadi rencana ke kebun binatang harus ditunda.”

Kirana mengernyit. “Acara yang sangat penting, Mas?”

“Iya,” jawab Rafka cepat. “Mas juga baru tahu kemarin.”

Ada nada yang terasa janggal, tetapi Kirana memilih diam. Dia menahan kecewa lagi. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk anaknya.

Kirana berjongkok di depan Gita, mengusap pipi kecil yang masih basah. “Nggak apa-apa, ya, Sayang. Kita ganti rencananya. Kita jenguk dede bayinya Tante Dina, yuk?”

Mata Gita terangkat sedikit. “Baby L?”

“Iya. Sekarang Baby L sudah bisa tengkurap,” jawab Kirana lembut.

Wajah Gita perlahan berubah. Ada cahaya kecil kembali menyala. “Aku mau lihat,” katanya pelan, seolah takut harapannya kembali dipatahkan.

Kirana tersenyum dan memeluk putrinya. Di dalam dadanya, ada rasa perih yang mengendap karena sekali lagi, kebahagiaan anaknya harus diganti, bukan dipenuhi.

Rafka akhirnya pergi bersama Kinanti dan Ara menuju sebuah mal besar yang ada di pusat kota mereka. Jaraknya jauh dari rumah dan membuatnya merasa aman dari tatapan orang-orang yang mengenalnya.

Kinanti menggenggam tangan Rafka erat, jemarinya menyelip di sela-sela jari pria itu. Senyum di wajahnya penuh kemenangan. Ara berjalan di depan mereka, melompat-lompat kegirangan, seolah mereka benar-benar sebuah keluarga utuh yang bahagia.

“Mas, aku mau yang itu,” ujar Kinanti sambil menunjuk sebuah tas hitam berukuran sedang dengan detail elegan. Logo kecil berkilau di sudutnya menandakan harga yang tak ramah.

Rafka mendekat, membaca banderol harga. Matanya membelalak. “Ini beneran harganya lima puluh juta?”

Kinanti mengangguk ringan. “Iya. Ini keluaran terbaru.”

Rafka menarik napas panjang. Angka itu menari di kepalanya. Uang yang dia dan Kirana kumpulkan sedikit demi sedikit untuk merenovasi rumah, untuk mimpi membeli mobil agar mudah ketika bepergian sekeluarga.

“Apa nggak ada yang lain?” tanya Rafka ragu.

“Aku maunya yang ini,” jawab Kinanti, suaranya melunak, nyaris merengek. Tangannya merangkul lengan Rafka, menempelkan tubuhnya lebih dekat. “Boleh, ya, Mas?”

Rafka terdiam lama. Ada pergulatan hebat di dadanya. Akhirnya, dia mengangguk. “Baiklah. Tapi ini yang terakhir.”

Kinanti tersenyum lebar.

Rafka menyerahkan kartu. Tangannya sedikit bergetar. Dengan satu gesekan, tabungan masa depan keluarganya berpindah tangan.

Setelah itu, Mereka pergi ke Timezone. Kinanti berjongkok di depan Ara.

“Ara, kamu main di sini, ya. Jangan ke mana-mana. Mama sama Om Rafka ada urusan sebentar.”

Ara mengangguk ceria. Dia malah senang karena area bermain itu penuh warna dan mainan. Kinanti menitipkan Ara pada seorang karyawan, menyelipkan uang agar anak itu diawasi.

Rafka dan Kinanti pun pergi, meninggalkan hiruk-pikuk mal yang perlahan memudar di belakang mereka. Hotel itu berdiri tak jauh dari mall. Gedung tinggi, dingin, dan anonim, seolah diciptakan khusus untuk menyimpan rahasia. Begitu pintu kamar tertutup dengan bunyi klik pelan, dunia di luar seakan lenyap.

Kinanti menyandarkan punggungnya ke pintu. Matanya menatap Rafka tanpa berkedip, senyum tipis terbit di sudut bibirnya.

“Mas capek?” tanyanya lirih, suaranya mengalir lembut seperti bisikan yang disengaja.

Rafka menelan ludah. “Sedikit,” jawabnya jujur, meski yang ia rasakan bukan sekadar lelah.

Kinanti melangkah mendekat. Jarak di antara mereka menghilang perlahan. Tangannya menyentuh lengan Rafka, mengusap ringan, lalu berhenti di dada pria itu.

“Biar aku yang bikin Mas rileks,” katanya pelan.

Rafka tidak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, seolah sedang berusaha menenangkan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.

Kinanti membaca keraguan itu dengan baik. Ia tersenyum, lalu meraih tangan Rafka dan menggenggamnya.

“Mas selalu tegang kalau sama aku,” ucap Kinanti, nada suaranya setengah menggoda. “Kenapa, sih?”

“Bukan begitu,” sahut Rafka cepat, lalu berpaling sejenak. “Aku cuma kepikiran orang rumah.”

Kinanti tertawa kecil, lalu mendekatkan wajahnya. “Di sini, Mas tidak perlu memikirkan siapa pun. Cuma ada kita.”

Kinanti menuntun Rafka duduk di tepi ranjang. Duduk di hadapannya, Kinanti menatap wajah pria itu dengan penuh perhatian yang sengaja dibuat terasa istimewa.

“Aku cuma ingin Mas bahagia,” kata Kinanti lembut. “Apa itu salah?”

Rafka memejamkan mata. Sentuhan Kinanti di tangannya terasa hangat, menenangkan, sekaligus berbahaya.

“Kamu selalu tahu caranya merayu,” gumam Rafka.

Kinanti tersenyum, lalu mendekat lagi. “Karena aku tahu apa yang Mas butuhkan.”

Waktu berjalan tanpa terasa. Di dalam kamar itu, Rafka larut dalam suasana yang sengaja Kinanti ciptakan. Wanita itu penuh perhatian, penuh godaan, penuh rayuan yang memabukan. Kinanti berusaha keras menyenangkan Rafka, memastikan pria itu merasa diinginkan, dihargai, dan dimenangkan dari keraguannya sendiri.

“Mas jangan tegang begitu,” bisik Kinanti di sela napasnya. “Nikmati saja.”

Rafka mengangguk pelan, mencoba menyingkirkan suara-suara di kepalanya. Namun di sela detik yang seharusnya memabukkan, bayangan wajah Gita yang menahan tangis tadi pagi menyusup tanpa ampun. Lalu, di susul oleh wajah Kirana yang tersenyum tipis.

Rafka membuka matanya tiba-tiba. Napasnya tercekat.

“Kamu kenapa?” tanya Kinanti, alisnya berkerut. “Mas sakit?”

“Tidak,” jawab Rafka cepat, meski suaranya terdengar goyah.

Kinanti mendekat lagi, kali ini memeluknya erat. “Jangan mikir yang lain. Aku di sini.”

Pelukan itu hangat. Menenangkan. Sekaligus menjerat. Rafka akhirnya menutup mata lagi, membiarkan dirinya tenggelam. Bukan karena rasa bahagia, melainkan karena lelah melawan. Rasa bersalah itu tidak pergi. Ia hanya disenyapkan sementara dan ditimbun oleh pelukan dan bisikan manis.

Di balik keintiman yang terasa nyata, ada kehampaan yang menganga. Dan jauh di lubuk hatinya, Rafka tahu, setiap detik yang ia habiskan di kamar ini adalah luka baru yang ia torehkan pada keluarganya sendiri.

Sementara itu di sebuah rumah sederhana, Kirana dan Gita duduk berhadapan dengan seorang bayi laki-laki yang mungil. Baby L tengkurap, berusaha mengangkat kepala, lalu terjatuh lagi dengan bunyi kecil yang lucu.

“Lucu!” seru Gita sambil tertawa gemas.

Baby L menggerakkan tangan dan kakinya, mengeluarkan suara protes yang mengundang tawa. Kirana ikut tertawa, meski ada sendu yang mengendap di matanya.

“Dulu Gita juga begitu,” kata Kirana pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Dia menatap putrinya dengan penuh cinta. Anak ini selalu belajar menahan perasaan, belajar mengalah, dan belajar kuat.

Gita menoleh. “Ma, nanti minggu depan kita jadi ke kebun binatang, kan?”

Kirana terdiam sejenak. “Iya, Sayang.”

Kirana memeluk Gita erat. Di dalam pelukan itu, ada doa yang tak henti dia panjatkan agar suatu hari, anaknya tidak perlu belajar kecewa terlalu sering.

Di dua tempat yang berbeda, pada waktu yang sama, dua dunia berjalan berlawanan arah. Satu dipenuhi tawa polos dan cinta sederhana, yang lain dibangun di atas kebohongan yang perlahan menggerogoti segalanya.

Terpopuler

Comments

Rahma Inayah

Rahma Inayah

rafka km sedang menggali kuburan mu sendri skrg km menikmati perselingkuhan mu tp stlh tau atau bercerai dr Kirana akn terasa hampa hub mu dgn Kinanti apalgi klu sampai km menikahi Kinanti yg mlnnt nya dia hamil mkn rumh tngg mu akan slalu ribut dan TDK bahagia Krn Kinanti byk menuntut

2026-01-05

1

❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️

❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️

ya... dan rasa bersalah itu akan menjadi nerakamu suatu saat nanti dimasa depan, saat semuanya sudah terbongkar, dan itu semua sudah terlambat untuk kamu sesali. karena sejatinya rasa kehilangan dan penyesalan selalu dirasakan setelah benar2 semuanya terlambat....

2026-01-05

1

Ninik

Ninik

Kinanti kegatelan mestinya digaruk pakai sikat kawat itu

2026-01-04

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 132
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Muara Hati Azalea
172 Novel Misi
173 Karya Nita P
Episodes

Updated 173 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 132
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Muara Hati Azalea
172
Novel Misi
173
Karya Nita P

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!