Setelah sah menjadi dokter, Gita pun memilih mengabdi di kampung halamannya. Rumah yang dahulu di tempatinya saat masih kecil, dibeli lagi oleh Rafka untuk Gita. Walau ada kenangan buruk, tetapi banyak juga kenangan indah di rumah itu.
Gita bekerja di rumah sakit yang tidak jauh dari rumahnya. Rumah sakit itu tidak besar. Bangunannya sederhana, cat dindingnya mulai memudar di beberapa sisi, dan lorongnya selalu dipenuhi suara langkah tergesa. Namun bagi Gita, tempat itu bukan sekadar fasilitas kesehatan. Itu adalah tanah masa kecilnya. Desa tempat ia dulu berlari tanpa alas kaki kini menjadi tempat ia kembali sebagai dokter.
Tenaga medis di sana terbatas. Satu dokter jaga bisa menangani belasan pasien dalam satu shift. Perawat pun sering merangkap tugas administrasi. Tidak ada dokter spesialis tetap. Jika ada kasus berat, pasien harus dirujuk ke kota kabupaten yang jaraknya hampir satu jam.
“Dok, IGD penuh lagi,” ujar Sinta, perawat muda yang sudah seminggu terakhir sering lembur.
Gita mengangguk sambil mengenakan stetoskopnya. “Pasien paling kritis yang mana dulu?”
“Anak kecil, demam tinggi. Ibunya panik sekali.”
Gita langsung melangkah cepat ke ruang periksa. Di sana, seorang ibu muda memeluk anak perempuannya yang tampak lemas. Wajah anak itu pucat, napasnya cepat dan dangkal.
“Namanya siapa?” tanya Gita lembut sambil mendekat.
“Rara, baru tiga tahun, Dok,” jawab sang ibu dengan suara gemetar.
Gita menyentuh dahi anak itu. Panasnya tinggi. Denyut nadinya cepat. Ia memeriksa refleks, napas, dan tanda-tanda dehidrasi. Ada sesuatu yang tidak beres.
“Sejak kapan demamnya?” tanya Gita.
“Seminggu yang lalu, Dok. Tapi tiga hari lalu normal lagi suhu tubuhnya. Aku pikir cuma masuk angin,” jawab ibu itu, air matanya sudah mengalir.
“Satu Minggu.” Gita menelan ludah.
Lalu, Gita memerintahkan perawat untuk memasang infus dan mengambil sampel darah. Kecurigaannya mengarah pada infeksi berat. Mungkin sudah masuk tahap sepsis.
“Bu, kondisinya serius. Kami akan berusaha semaks…
Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku
Bab 162
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 173 Episodes
Comments
Star Ir
itu si ibu anak demem tp gak di bawa ke dokter klinik dulu gitu biarin aja di rumah, kalau saya anak hari itu demam malemnya di bawa ke klinik umum. maaf tp ini salah ibunya anak kecil sama org dewasa beda org dewasa pake obat warung pun bisa kalau udah 3 hari gak turun2 panasnya baru periksa ke dokter.
2026-02-22
4
Sugiharti Rusli
terkadang diperlukan kearifan juga sebagai ortu pasien melihat bagaimana sang anak yang bisa jadi terlambat dibawa ke rumah sakit,,,
2026-02-22
1
Sugiharti Rusli
terkadang memang ada batas tipis yah antara SOP pertolongan yang harus dijalan kan dengan kondisi pasien yang memang sudah drop sejak awal
2026-02-22
1