Di Hargai

Hari itu tiba, hari yang tak pernah Nadira inginkan kehadirannya tapi harus ia terima dengan paksa.

Pagi ini, ia menatap jalanan dengan malas. Suasana mobil hening, hanya suara deru dari kendaraan yang berlalu lalang.

Bukan tak ingin membuka pembicaraan, tapi ia sedang menata kesabarannya untuk menghadapi ibu mertuanya, ah tidak.

Tak lama, mobil berhenti tepat di sebuah rumah minimalis.

"Nadira, pokoknya saat bertemu sama Ibu. Kamu harus sopan, jangan kayak kemarin," ucap Ardian.

Nadira menoleh sekilas, lalu keluar tanpa menanggapi. Tapi pada akhirnya mereka jalan bersamaan, Nadira melingkarkan tangannya ke lengan suaminya sambil tersenyum seakan tak terjadi apapun.

Ya padahal ia masih kesal dengan ucapan Ardian kemarin sore.

Baru saja mereka tiba di ambang pintu, suara itu menyambut lebih dulu.

“Akhirnya kamu datang juga, Adrian.”

Nadira menoleh. Senyum Bu Wani merekah lebar saat menatap putranya. Hangat. Penuh bangga. Namun ketika pandangan itu beralih padanya, senyum tersebut seketika menghilang, diganti sorot dingin yang menusuk.

Nadira menarik napas. Ia tetap melangkah, menunduk sopan. Tangannya terulur untuk mencium tangan mertuanya.

Tak ada sambutan.

Hanya dengusan pelan. Tatapan tak suka. Tangannya dibiarkan menggantung sesaat sebelum akhirnya ia tarik kembali.

“Ayo masuk, mereka sudah menunggu di dalam,” ucap Bu Wani, lalu berbalik dan pergi.

Nadira terdiam. Pandangannya mengikuti punggung mertuanya yang menjauh, ia lalu menoleh ke Ardian, menyenggol lengannya pelan.

“Lihat kan, Mas?” bisiknya.

Ardian tak menjawab lama. “Sudahlah, ayo masuk.”

Ia melangkah lebih dulu, seolah tak melihat apa pun yang baru saja terjadi.

Nadira berdiri sesaat di depan pintu. Senyum di wajahnya perlahan memudar, lalu melangkah masuk mengikuti suaminya, membawa kesal yang kembali dipaksa ia telan.

Begitu melangkah ke ruang tengah, Nadira langsung orang-orang yang tengah memenuhi ruangan.

Di antara mereka, Rani duduk dengan perut membesar. Tangannya sesekali mengusap perut, disambut perhatian penuh dari keluarga.

'Kata siapa aku nggak ingin hamil? '

Nadira melirik Ardian sekilas. Wajahnya datar. Ia ikut tersenyum seperlunya, menanggapi obrolan singkat.

“Dira.”

Suara itu membuatnya menoleh. “Iya, Bu?”

Bu Wani berdiri dengan tangan bersedekap. “Buatkan minuman. Ada sekitar dua puluh orang. Sekalian masak, ya. Ibu lupa pesan katering, pembantu juga lagi libur.”

'Dua puluh orang?'

Pandangan Nadira menyapu ruang itu sekali lagi. 'Sengaja sekali, biar aku nggak bisa duduk santai'

“Kalau masak mendadak sebanyak itu,” ucap Nadira menahan nada, “bisa makan waktu tiga sampai empat jam, Bu. Aku bisa minta karyawan rumah makan antar makanan ke sini saja.”

“Tidak,” potong Bu Wani cepat. “Siapa yang mau bayar? Ibu nggak akan bayar loh. Lagian kamu yang pesan.”

Nadira menarik napas. 'Bilang saja gak mau ngeluarin uang.'

“Aku yang bayar, Bu.”

“Tapi pakai uangmu,” tekan Bu Wani. “Bukan uang putra saya.”

Tatapan Nadira mengeras. “Gak akan.”

Bu Wani mendengus, lalu berbalik pergi begitu saja.

Nadira menahan dengusan di tenggorokan. Tangannya merogoh tas, ponsel diambil. Layar menyala, jarinya langsung menekan satu nama.

“Halo, La. Tolong antar makanan, ya. Dua puluh porsi, empat macam. Alamat rumah mertua saya di Jalan Ratu Pengadilan. Nanti uangnya saya transfer.”

“Siap, Bu. Mau diantar jam berapa?”

“Secepatnya. Sebelum makan siang.”

“Baik, Bu.”

Panggilan terputus. Nadira menurunkan ponsel, menatap kembali ruang tengah. Tawa mereka terdengar lepas.

Ia berbalik menuju dapur. Gelas-gelas disusunnya satu per satu. Air dituangkan, es berdenting pelan.

Saat Nadira menuangkan air ke gelas terakhir, suara seorang pria terdengar tepat di belakangnya.

“Mau ku bantu?”

Tangannya tak berhenti bergerak. “Nggak perlu.”

“Yakin?”

Nadira berdeham kecil. “Sudah, sana pergi. Jangan ganggu, Gama."

“Hm, galak sekali kamu Mbak.”

Nadira berhenti. Ia menoleh setengah. “Kalau begitu, bantuin.”

Gama tersenyum tipis, lalu meraih beberapa gelas. Dapur kembali dipenuhi bunyi pelan kaca beradu.

“Mbak,” ucapnya kemudian, nadanya diturunkan, “Mbak bahagia sama Mas Ardian?”

Nadira diam sesaat. Air di tangannya berhenti mengalir. “Ya.”

“Hanya ‘ya’?” Gama melirik sekilas. “Nggak ada penjelasan lain?”

Nadira menghela napas pendek. “Mas Ardian…” bibirnya terkatup sejenak, “lima tahun ini sikap Mas Ardian nggak berubah. Bahkan—”

“Ya, ya. Sampai situ saja ceritanya,” potong Gama cepat.

Nadira menatapnya. “Menurutmu, Mas Ardian punya wanita lain?”

Gama mengangkat bahu. “Aku nggak tahu. Tapi setahuku, Mas Ardian orangnya setia.”

Ucapan itu membuat dada Nadira mengempis perlahan.

“Kalau Mbak curiga,” lanjut Gama, “coba tanya langsung. Cari tahu apa masalahnya, kenapa Mas Ardian seperti ini."

Nadira mengalihkan pandangan. Di ruang tengah, Ardian duduk di antara keluarganya. Wajahnya tenang, seolah tak ada apa-apa.

Tangannya kembali bergerak menata gelas. Hatinya justru makin penuh.

Mungkin benar. Mungkin selama ini ia hanya menebak-nebak, membiarkan prasangka tumbuh tanpa pernah benar-benar memahami suaminya.

Mengingat kembali dimana ia dan Ardian hanya beberapa kali bertemu, lalu Ardian langsung melamarnya.

...

Di ruang tamu, Nadira melangkah pelan membawa baki. Satu per satu gelas ia letakkan di hadapan para tamu.

“Silakan diminum.”

“Istrinya Ardian, ya?”

Nadira menoleh. Seorang wanita paruh baya menatapnya sambil tersenyum ramah. Ia mengenali wajah itu. Adik dari ayah mertuanya.

“Iya, Tante,” jawab Nadira sopan.

“Cantik sekali,” puji wanita itu. “Oh ya, Tante dengar kamu punya bisnis rumah makan dan katering?”

“Iya, Tante. Tapi belum terlalu besar.”

“Enggak apa-apa. Yang penting ada kesibukan,” sahut Tante Rini lembut.

Nadira hendak tersenyum lebih lebar ketika suara lain menyela.

“Percuma cantik dan punya bisnis kalau nggak hamil juga.”

Nadira tahu siapa pemilik suara itu. Namun ia memilih tak menoleh. Tangannya mengencang di baki.

“Mbak Wani,” ujar Tante Rini halus, “mungkin Dira memang belum dipercaya hamil. Ditunggu saja.”

Pandangan Nadira terangkat ke arah Tante Rini. Tatapan wanita itu hangat, suaranya penuh empati.

Nadira tersenyum, dalam hati ia berandai. 'Seandainya saja aku punya ibu mertua seperti Tante Rini.'

“Sampai kapan, Rini?” Bu Wani mendengus. “Sudah lima tahun, lho.”

“Banyak perempuan di luar sana juga sedang berjuang garis dua,” balas Tante Rini tenang. “Jangan disudutkan begitu. Bisa berpengaruh ke mentalnya.”

“Benar,” sambung Pak Marlan, Ayahnya Ardian. “Lagipula kita sudah punya cucu.”

Sudut bibir Nadira terangkat tipis. Di ruangan ini, setidaknya ada dua orang yang memihaknya.

Bu Wani mendengus kesal. Nadira menangkap itu tanpa perlu menatap. Lalu pandangannya beralih pada Ardian. Suaminya duduk diam, wajahnya datar, seperti tak tersentuh apa pun.

'Lihat, Mas. Tante dan Ayahmu membelaku. Bahkan di depan ibumu. Masihkah aku akan disalahkan karena dianggap tak sopan?'

Nadira menunduk, kembali merapikan baki. Senyumnya tetap terjaga, meski dadanya terasa sesak oleh hal-hal yang tak pernah ia ucapkan.

...

Menjelang siang akhir, ruang makan dipenuhi suara piring dan sendok. Meja panjang telah terisi penuh. Hidangan tersaji rapi, uapnya masih mengepul.

Nadira berdiri tak jauh dari sana, memastikan semua orang kebagian. Pandangannya sesekali menyapu wajah-wajah yang duduk mengelilingi meja.

“Dira, masakanmu enak sekali,” puji Tante Rini sambil tersenyum. “Cocok di lidah Tante.”

Nadira membalas dengan senyum tipis. Dadanya menghangat.

“Biasa saja,” potong Bu Wani dingin.

Nadira menahan napas. Tangannya yang semula merapikan sendok, berhenti sesaat.

“Dira,” lanjut Tante Rini, seolah tak mendengar nada sinis itu. “Bagaimana kalau Tante kerja sama denganmu?”

Nadira terdiam. Ia menoleh. “Kerja sama?”

“Iya,” jawab Tante Rini. “Tante ingin buka rumah makan. Tapi Tante nggak bisa masak. Kamu yang kelola. Modalnya dari Tante.”

Nadira merasa sudut bibirnya terangkat tanpa ia sadari. Ia mengangguk. “Iya, Tante. Dira mau.”

“Nanti Tante hubungi, kalau sudah dapat tempat yang cocok dan higienis.”

“Iya, Tante. Aku tunggu kabar dari Tante.”

Tapi seketika matanya menangkap tatapan Bu Wani yang jelas tak suka. Ia mengalihkan pandangan, lalu berhenti pada Gama yang tertawa kecil, entah apa yang membuatnya geli.

Di antara tatapan sinis dan keheningan suaminya, setidaknya ada satu hal yang membuat dadanya terasa lebih lapang. Ada seseorang yang melihat usahanya, dan percaya padanya.

Dan itu cukup membuatnya bangga.

Episodes
1 Tatapan Ardian Yang Berbeda
2 Selalu Disalahkan
3 Di Hargai
4 Hanya Seorang Istri.
5 Mine, Di Ponsel Suamiku
6 Drama Sarapan
7 Celana Dalam Di Ruang Kerja Suamiku
8 Pembelaan Dari Gama.
9 Batas Kesabaran Istri
10 Fitnah Yang Menjatuhkan.
11 Apa aku Salah?
12 Gelang Turun Temurun
13 Hari Wisuda Gama
14 Satu Ketenangan Untuk Menerima
15 Suamiku Bukan Pria Normal?
16 Ibu Mertua, Membawa Calon Madu kerumah
17 Lingerie Di Tas Suamiku
18 Perpisahan Meninggalkan Rasa
19 Ponsel Mas Ardian
20 Rumah Yang Layak
21 Akan Ku Ambil Kembali
22 Pesan dari Nomor Tak Dikenal
23 Berdebatan
24 RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN SUAMIKU
25 Sandiwara Bernama Suami
26 Alasan Untuk Bisa Menjauh
27 Batasan Seorang Istri?
28 Ucapan Mertua Dibayar Tunai
29 Munafik Sekali Kamu, Mas.
30 Surat Cerai Dariku
31 Ku Kembalikan Putramu, Bu.
32 Batin Ini Sudah Terlalu Dalam Kamu Sakiti.
33 Pengadilan Agama.
34 Setelah Lima Bulan Perceraian.
35 Bukan wajahnya, Melainkan Caranya.
36 Takut Jatuh Cinta?
37 Calon Istri ada Disini?
38 Permainan Yang Dimulai
39 Dirumah mantan Mertua
40 Di Hadapan Mantan Ibu Mertua.
41 41. Rumah Yang Hangat
42 42. Berusahalah, Gama. (Revisi)
43 43. Di Bawah Hujan yang Sama
44 44. Bayangan yang Tak Mau Pergi
45 45. Tak Pernah Bisa Menolakmu
46 46. Satu Syarat, Satu Masalah
47 47. Korban Dua Syarat Sekaligus
48 Demi Anak Kita
49 Cobaan yang Kembali Menghampiri
50 Bukan Sekadar Kebakaran
51 Mulai Terlihat Jelas
52 Di Antara Kesal dan Nyaman
53 Semakin Dekat dengan Jawaban
54 Umpan yang Berhasil Dimakan
55 Fakta yang Disembunyikan Bertahun-tahun
56 Hampir Terlambat
57 Selama Ada Kamu
58 Hubungan Darah yang Tak Pernah Ada
59 Syarat Untuk Pulang
60 Hari Persidangan Wulan
61 Hasil Akhir dari Persidangan
62 Wisnu Bermain Api
63 Bersamamu di Tepi Pantai
64 No, Baby. I'm Your Calon Mamah Mertua
65 Gevano Prayatama
66 Jangan Ambil Putraku, Bu.
67 Menikah di Rumah Sakit
68 Gosip dari Gama
69 Tak Ada Kesempatan Kedua
70 Pertemuan Terakhir?
71 Hadiah dari Seorang Suami
72 Kembali ke Desa
73 Satu Gosip, Seribu Mulut
74 Tak Sekadar Menjadi Mandor
75 Kepulangan Ardian ke Rumah
76 Api Fitnah Telah Menyala
77 Kemarahan Gama
78 Memburu Dalang Fitnah
79 Rekaman Pengakuan
80 Rencana Gama
81 Memilih Penjara atau Klarifikasi
82 Akhir dari Kebohongan Ina
83 Harus Memanggilnya Mas
84 Muka Tebal Bulek Ina
85 Positif HIV
86 Rewang atau Mencuri?
87 Saudara atau Benalu?
88 Rencana Merebut Gevano
89 Malam Penuh Berkah
90 Pesona Mamah Rini
91 Ternyata Tuhan Maha Adil
92 Gelang Turun Temurun Hampir Dicuri
93 Hadiah yang Mengundang Iri
94 Tamu yang Tak Diundang
95 Perebutan yang Gagal
96 Pernikahan Yang Dirahasiakan
97 Aku Orang Ketiganya?
98 Kekecewaan Zahra
99 Rumah Tangga Hancur, Putra Sekarat
100 Lembar Akhir Pernikahan
101 Putraku Pergi di Hari Perceraianku
102 Pemakaman Ardian, dan Keputusan Wani
103 Selamat Tinggal Rumah
104 Pesan Provokatif dari Pelakor Berhijab
105 Jin Pemikat Makan Barat
106 Makanan dari Ratna
107 Jampi-jampi Mbah Joko Berhasil?
108 Bini Gue, Tetap Nomor Satu
109 Bisikan Tumbal
110 Bisikan Tumbal Kembali Meneror
111 Kedok Zahra untuk Membantu Panti Asuhan
112 Ada Darah? ada Belatung?
113 Kecurigaan Gama
114 Keserakahan Zahra yang Tak Bertepi
115 Tak Ada Panti yang Terbakar?
116 Bercinta Untuk yang Terakhir Kalinya
117 Tetap Memilihmu, Mbak Nadira
118 Mamah Rini yang Kekeuh
119 Uang Donasi Untuk Foya-foya
120 Di Tuduh Main Dukun
121 Awal Penyesalan Marlan
122 Cara Terakhir untuk Kesembuhan Nadira
123 Mulai Terkuak
124 Menjemput Jiwa Nadira
125 Dalangnya Orang Terdekat?
126 Rahasia Mamah Rini Terbongkar
127 Flashback 2002
128 Mimpi Buruk Itu Ternyata Nyata
129 Tak Semua Kesalahan Dibalas Kebencian
130 Dari Nol Bersamamu
131 Kamu Bukan Zahra yang Kukenal
132 Lagi-lagi Zahra
133 Golongan Darah Ravael
134 Penyesalan yang Terlambat
135 Diusir dari Rumah Sendiri
136 Dejavu
137 Ingin Rujuk Dengan Mantan Istri
138 Awal Sebuah Tipu Daya
139 Ada Uang Ada Barang
140 Bencilah Aku
141 Jangan Bawa Adikku
142 Surat Dari Giovano
143 Hari Kehancuran Zahra
144 Harga Sebuah Keserakahan
145 Wanita yang Kucari
146 Kamu Jelek Kayak Gula Jawa
147 Fakta Tentang Ardian dan Rani
148 Hasil Tes DNA
149 ABG Tua Jatuh Cinta
150 Cara Mendapatkan Hati Sang Betina
151 Operasi Pikat My Baby Girl
152 Bujang Lapuk yang Terlalu Gagah
153 Tatapan Genit Ibu-ibu
154 Perhatian yang Tak Bisa Dibayar
155 Petunjuk Dalam Gelap
156 Dasar Buaya Darat
157 My Baby Girl Mau Lamaran?
158 Kesalahpahaman yang Indah
159 Menuju Pelaminan
160 Kembali Ke Rumah Lama
161 Kenapa Malah Mengeras?
162 Bertemu Dengan Nadira
163 Surat Undangan
164 Takdir di Hari Pernikahan
165 Di Ruang Operasi
166 Selamat Tinggal Istriku (End)
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Tatapan Ardian Yang Berbeda
2
Selalu Disalahkan
3
Di Hargai
4
Hanya Seorang Istri.
5
Mine, Di Ponsel Suamiku
6
Drama Sarapan
7
Celana Dalam Di Ruang Kerja Suamiku
8
Pembelaan Dari Gama.
9
Batas Kesabaran Istri
10
Fitnah Yang Menjatuhkan.
11
Apa aku Salah?
12
Gelang Turun Temurun
13
Hari Wisuda Gama
14
Satu Ketenangan Untuk Menerima
15
Suamiku Bukan Pria Normal?
16
Ibu Mertua, Membawa Calon Madu kerumah
17
Lingerie Di Tas Suamiku
18
Perpisahan Meninggalkan Rasa
19
Ponsel Mas Ardian
20
Rumah Yang Layak
21
Akan Ku Ambil Kembali
22
Pesan dari Nomor Tak Dikenal
23
Berdebatan
24
RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN SUAMIKU
25
Sandiwara Bernama Suami
26
Alasan Untuk Bisa Menjauh
27
Batasan Seorang Istri?
28
Ucapan Mertua Dibayar Tunai
29
Munafik Sekali Kamu, Mas.
30
Surat Cerai Dariku
31
Ku Kembalikan Putramu, Bu.
32
Batin Ini Sudah Terlalu Dalam Kamu Sakiti.
33
Pengadilan Agama.
34
Setelah Lima Bulan Perceraian.
35
Bukan wajahnya, Melainkan Caranya.
36
Takut Jatuh Cinta?
37
Calon Istri ada Disini?
38
Permainan Yang Dimulai
39
Dirumah mantan Mertua
40
Di Hadapan Mantan Ibu Mertua.
41
41. Rumah Yang Hangat
42
42. Berusahalah, Gama. (Revisi)
43
43. Di Bawah Hujan yang Sama
44
44. Bayangan yang Tak Mau Pergi
45
45. Tak Pernah Bisa Menolakmu
46
46. Satu Syarat, Satu Masalah
47
47. Korban Dua Syarat Sekaligus
48
Demi Anak Kita
49
Cobaan yang Kembali Menghampiri
50
Bukan Sekadar Kebakaran
51
Mulai Terlihat Jelas
52
Di Antara Kesal dan Nyaman
53
Semakin Dekat dengan Jawaban
54
Umpan yang Berhasil Dimakan
55
Fakta yang Disembunyikan Bertahun-tahun
56
Hampir Terlambat
57
Selama Ada Kamu
58
Hubungan Darah yang Tak Pernah Ada
59
Syarat Untuk Pulang
60
Hari Persidangan Wulan
61
Hasil Akhir dari Persidangan
62
Wisnu Bermain Api
63
Bersamamu di Tepi Pantai
64
No, Baby. I'm Your Calon Mamah Mertua
65
Gevano Prayatama
66
Jangan Ambil Putraku, Bu.
67
Menikah di Rumah Sakit
68
Gosip dari Gama
69
Tak Ada Kesempatan Kedua
70
Pertemuan Terakhir?
71
Hadiah dari Seorang Suami
72
Kembali ke Desa
73
Satu Gosip, Seribu Mulut
74
Tak Sekadar Menjadi Mandor
75
Kepulangan Ardian ke Rumah
76
Api Fitnah Telah Menyala
77
Kemarahan Gama
78
Memburu Dalang Fitnah
79
Rekaman Pengakuan
80
Rencana Gama
81
Memilih Penjara atau Klarifikasi
82
Akhir dari Kebohongan Ina
83
Harus Memanggilnya Mas
84
Muka Tebal Bulek Ina
85
Positif HIV
86
Rewang atau Mencuri?
87
Saudara atau Benalu?
88
Rencana Merebut Gevano
89
Malam Penuh Berkah
90
Pesona Mamah Rini
91
Ternyata Tuhan Maha Adil
92
Gelang Turun Temurun Hampir Dicuri
93
Hadiah yang Mengundang Iri
94
Tamu yang Tak Diundang
95
Perebutan yang Gagal
96
Pernikahan Yang Dirahasiakan
97
Aku Orang Ketiganya?
98
Kekecewaan Zahra
99
Rumah Tangga Hancur, Putra Sekarat
100
Lembar Akhir Pernikahan
101
Putraku Pergi di Hari Perceraianku
102
Pemakaman Ardian, dan Keputusan Wani
103
Selamat Tinggal Rumah
104
Pesan Provokatif dari Pelakor Berhijab
105
Jin Pemikat Makan Barat
106
Makanan dari Ratna
107
Jampi-jampi Mbah Joko Berhasil?
108
Bini Gue, Tetap Nomor Satu
109
Bisikan Tumbal
110
Bisikan Tumbal Kembali Meneror
111
Kedok Zahra untuk Membantu Panti Asuhan
112
Ada Darah? ada Belatung?
113
Kecurigaan Gama
114
Keserakahan Zahra yang Tak Bertepi
115
Tak Ada Panti yang Terbakar?
116
Bercinta Untuk yang Terakhir Kalinya
117
Tetap Memilihmu, Mbak Nadira
118
Mamah Rini yang Kekeuh
119
Uang Donasi Untuk Foya-foya
120
Di Tuduh Main Dukun
121
Awal Penyesalan Marlan
122
Cara Terakhir untuk Kesembuhan Nadira
123
Mulai Terkuak
124
Menjemput Jiwa Nadira
125
Dalangnya Orang Terdekat?
126
Rahasia Mamah Rini Terbongkar
127
Flashback 2002
128
Mimpi Buruk Itu Ternyata Nyata
129
Tak Semua Kesalahan Dibalas Kebencian
130
Dari Nol Bersamamu
131
Kamu Bukan Zahra yang Kukenal
132
Lagi-lagi Zahra
133
Golongan Darah Ravael
134
Penyesalan yang Terlambat
135
Diusir dari Rumah Sendiri
136
Dejavu
137
Ingin Rujuk Dengan Mantan Istri
138
Awal Sebuah Tipu Daya
139
Ada Uang Ada Barang
140
Bencilah Aku
141
Jangan Bawa Adikku
142
Surat Dari Giovano
143
Hari Kehancuran Zahra
144
Harga Sebuah Keserakahan
145
Wanita yang Kucari
146
Kamu Jelek Kayak Gula Jawa
147
Fakta Tentang Ardian dan Rani
148
Hasil Tes DNA
149
ABG Tua Jatuh Cinta
150
Cara Mendapatkan Hati Sang Betina
151
Operasi Pikat My Baby Girl
152
Bujang Lapuk yang Terlalu Gagah
153
Tatapan Genit Ibu-ibu
154
Perhatian yang Tak Bisa Dibayar
155
Petunjuk Dalam Gelap
156
Dasar Buaya Darat
157
My Baby Girl Mau Lamaran?
158
Kesalahpahaman yang Indah
159
Menuju Pelaminan
160
Kembali Ke Rumah Lama
161
Kenapa Malah Mengeras?
162
Bertemu Dengan Nadira
163
Surat Undangan
164
Takdir di Hari Pernikahan
165
Di Ruang Operasi
166
Selamat Tinggal Istriku (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!