Setelah berjalan melintasi padang rumput dan jalan setapak yang panjang, tembok kota yang kokoh akhirnya terlihat di depan mata.
Kota ini tampak jauh lebih makmur dan damai dibandingkan terakhir kali Jian Feng menginjakkan kakinya di sini—tepat sebelum ia meratakannya dalam kemarahan yang membabi buta.
"Aku lupa nama kota ini dulu. Sekarang sudah banyak yang berubah di sini." gumam Jian Feng sembari menyesuaikan tudungnya agar tidak terlalu menarik perhatian.
"Tentu saja berubah, Tuan! Setelah dunia ini hampir hancur karena ulahmu dulu, para manusia mulai berbenah," sahut Petir Kecil dari atas bahu Jian Feng. "Tapi ngomong-ngomong, kita mau apa di sini? Mencari keributan lagi?"
Jian Feng berhenti di depan sebuah kedai kecil yang sederhana namun ramai.
Matanya menatap tajam ke arah pondasi bangunan tersebut. "Dulu, di tempat kedai ini berdiri... di sinilah aku membunuh orang tua sampahku. Itu adalah ingatan yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Ayo, kita makan di sana."
"Kenapa kau masih menganggap mereka orang tua?" Petir Kecil mendengus, kaki-kaki tajamnya bergesekan di atas kain jubah Jian Feng. "Padahal mereka tidak pantas disebut orang tua. Dan... memangnya kau punya uang? Dulu saja kau miskin sekali sampai harus makan akar pohon!"
Mendengar itu, Jian Feng mendengus kesal namun ada binar geli di matanya. "Haha, pertanyaan bagus, Sobat. Mau aku bilang mereka bukan orang tuaku sekalipun, mereka tetap... orang tuaku. Mereka yang melahirkanku, dan aku tidak bisa memutus hubungan darah begitu saja, meski aku sendiri yang mengakhirinya."
Jian Feng menangkap Petir Kecil dengan satu tangan dan menatapnya tajam. "Dan kau bilang aku miskin? Kau tidak tahu sekarang aku ini kaya raya? Hewan sepertimu tahu apa tentang uang, huh?"
"Tentu saja tahu! Uang kan... uang!" jawab Petir Kecil ketus sambil melepaskan percikan listrik kecil yang menyengat telapak tangan Jian Feng.
"Pintar juga kau. Uang adalah segalanya saat ini," Jian Feng melangkah masuk ke dalam kedai. "…
Kultivator Pengembara 2
Bab 24: Kedai
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 81 Episodes
Comments