BAB 2 - INGATAN DUA KEHIDUPAN

Kiara terbangun dengan tubuh yang terasa seperti dihancurkan truk. Setiap inci tubuhnya sakit, memar di lengan, pipi bengkak, perut yang berdenyut mengerikan. Tapi yang membuatnya mengerang bukan rasa sakit fisik.

Melainkan banjir ingatan yang tidak berhenti.

Dua kehidupan... Dua identitas... Bercampur dalam satu kepala.

Dara Alvarino tiga puluh dua tahun, dokter bedah kelompok mafia, mati diracun sahabatnya sendiri.

Kiara Adisaputra dua puluh lima tahun, istri yang tidak dicintai, hamil tiga bulan, dipukuli suami yang percaya fitnah adik angkatnya.

"Sial..." Kiara atau Dara atau siapapun dia sekarang, menekan keningnya yang berdenyut.

Ingatan Kiara yang asli mengalir seperti film pernikahan tanpa cinta. Arkan yang dingin, Lenna yang manis di permukaan tapi beracun di belakang. Semua kebohongan, semua manipulasi, semua rasa sakit yang harus ditanggung Kiara selama dua tahun.

Dan yang paling menyakitkan, Kiara yang asli menerima semua itu. Diam... Pasrah... Berharap suatu hari Arkan akan mencintainya.

"Bodoh," desis Dara. "Kamu terlalu bodoh, Kiara."

Tapi kemudian rasa bersalah menusuk dadanya, Kiara yang asli sudah tidak ada. Entah kemana jiwanya pergi, mungkin sudah tenang, mungkin sudah bebas dari penderitaan. Dan sekarang Dara yang menempati tubuhnya.

Dara yang membawa semua amarah, trauma, dan kegelapan dari kehidupan sebelumnya.

"Maafkan aku," bisiknya pada Kiara yang sudah tiada. "Aku tidak tahu kenapa aku ada di tubuhmu. Tapi aku janji, aku akan balas dendam untuk kita berdua."

Ketukan di pintu membuatnya waspada.

"Siapa?"

"Nyonya, saya Sari. Saya bawakan sarapan."

Sari, pembantu yang sudah bekerja di rumah keluarga Adisaputra selama sepuluh tahun. Dari ingatan Kiara, Sari adalah satu-satunya orang yang pernah bersikap baik padanya meski hanya sesekali, karena takut dengan Lenna.

"Masuk."

Pintu terbuka. Sari masuk dengan nampan, wajahnya terlihat khawatir saat melihat kondisi Kiara.

"Nyonya... wajahnya..." Sari meletakkan nampan dengan tangan gemetar. "Perlu saya panggilkan dokter?"

"Tidak perlu."

Dara bangkit perlahan, mengabaikan protes tubuh yang sakit. Dia berjalan ke cermin, menatap wajahnya... wajah Kiara yang lebam, bibir pecah, mata bengkak.

"Sari, aku mau tanya sesuatu."

"Ya, Nyonya?"

"Kamu percaya aku selingkuh?"

Sari tersentak. "Ti... tidak, Nyonya! Saya tahu Nyonya tidak seperti itu!"

"Kenapa kamu yakin?"

"Karena... karena Nyonya bahkan tidak pernah keluar rumah tanpa izin Tuan Arkan. Nyonya tidak punya teman, Nyonya selalu sendirian..."

Dara tersenyum pahit. Iya, Kiara yang asli seperti tahanan di rumahnya sendiri. Dikontrol, dikekang, diabaikan.

"Tapi kenapa Arkan lebih percaya Lenna?"

Sari menunduk, takut menjawab.

"Jawab."

"Karena... Nona Lenna selalu ada untuk Tuan Arkan. Sejak kecil, mereka besar bersama. Tuan Arkan menganggap Nona Lenna seperti... seperti belahan jiwanya."

Belahan jiwa... Bukan istri sahnya, tapi adik angkatnya.

Dara merasakan amarah Kiara yang asli bergabung dengan amarahnya sendiri. Dua amarah jadi satu, membara di dadanya.

"Lenna ada di rumah sekarang?"

"Ada, Nyonya. Di ruang makan, sarapan dengan Tuan Arkan dan Nyonya Besar."

Nyonya Besar... ibunya Arkan. Salah satu orang yang paling membenci Kiara.

"Bagus." Dara berbalik dari cermin. "Siapkan baju untukku, yang paling bagus."

"Nyonya mau turun?"

"Kenapa tidak? Ini rumahku juga, kan?"

Sari terlihat ragu, tapi mengangguk. Dia membantu Kiara memilih dress sederhana tapi elegan, biru navy yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah meski penuh lebam.

Dara menatap pantulannya. Wajahnya memang hancur, tapi matanya... Matanya berbeda, tidak ada lagi ketakutan atau kesedihan yang biasa ada di mata Kiara.

Hanya tekad dingin.

Ruang makan keluarga Adisaputra luas dan mewah. Arkan duduk di ujung meja, membaca koran sambil sarapan. Lenna duduk di sebelahnya, cantik dengan dress putih, rambut terurai, tersenyum lembut sambil menuangkan kopi untuk Arkan.

Nyonya Devi, ibu Arkan duduk di seberang, menatap Lenna dengan penuh kasih sayang.

"Lenna sayang, kamu terlalu baik pada Arkan. Nanti tanganmu capek."

"Tidak apa-apa, Tante. Aku senang bisa membantu Kak Arkan."

"Harusnya istrinya yang melakukan ini, bukan kamu. Tapi ya sudahlah... istri seperti itu memang tidak berguna."

Arkan tidak berkomentar, dia hanya minum kopinya dalam diam.

Langkah kaki terdengar, mereka semua menoleh.

Kiara berdiri di pintu ruang makan, dengan wajah lebam tapi punggung tegak, dagu terangkat.

"Selamat pagi," katanya dengan nada datar.

Lenna hampir menjatuhkan cangkir kopinya, Nyonya Devi mengerutkan kening, Arkan menatapnya tanpa ekspresi.

"Kenapa kamu turun?" tanya Nyonya Devi ketus. "Kamu pikir kamu pantas makan bersama kami setelah perbuatanmu?"

"Perbuatan apa?" Dara berjalan tenang, menarik kursi, dan duduk. "Hamil dengan anak suamiku sendiri? Itu perbuatan apa, Bu?"

"Berani sekali kamu..."

"Atau maksud Ibu, perbuatan dipukuli sampai hampir keguguran? Itu memang perbuatan buruk, tapi yang melakukan bukan aku."

Hening.

Arkan akhirnya bicara, suaranya rendah. "Jaga bicaramu."

"Kenapa? Aku cuma bicara fakta."

Dara mengambil roti, mengoleskan selai dengan tenang seolah wajahnya tidak lebam dan perutnya tidak berdenyut sakit. Tangannya stabil... hasil latihan bertahun-tahun memegang pisau bedah.

Lenna menatapnya dengan campuran shock dan ketakutan. Ini bukan Kiara yang dia kenal. Kiara yang asli akan menangis, meminta maaf, bersembunyi di kamar.

"Kak Kiara... wajahnya..." Lenna bersuara lembut, pura-pura khawatir. "Kenapa tidak istirahat saja? Kamu sedang hamil, kan..."

Dara menoleh, menatap Lenna dengan tatapan yang membuat gadis itu terdiam.

"Kamu peduli?"

"Ten... tentu saja aku peduli... Kak Kiara kan kakak iparku..."

"Benarkah?"

Dara meletakkan rotinya, bersandar di kursi, menatap Lenna dengan intensitas yang membuat suasana berubah dingin.

"Kalau kamu peduli, kenapa kemarin kamu membiarkan Arkan memukuliku? Kamu berdiri di sana, kan? Cuma bilang 'jangan kasar' tapi tidak mencoba menghentikan. Bahkan tidak mencoba melindungiku."

"A... aku... aku takut..."

"Takut? Atau senang?"

"KIARA!" bentak Nyonya Devi. "Jangan menuduh Lenna sembarangan!"

"Aku tidak menuduh, Bu. Aku cuma bertanya." Dara tersenyum tipis. "Lagi pula, kalau dia benar-benar peduli, dia akan membawaku ke rumah sakit, bukan? Atau setidaknya memanggil dokter, tapi tidak ada yang datang. Aku dibiarkan sendirian semalam penuh dengan kondisi seperti ini."

Arkan terlihat tidak nyaman, ada sekilas rasa bersalah di wajahnya.

"Kamu... kamu baik-baik saja, kan?" tanyanya kaku.

Dara tertawa... tawa pendek tanpa humor yang terdengar sedikit horor. "Baik-baik saja? Kamu hampir membunuh anakmu sendiri, dan kamu tanya aku baik-baik saja?"

"Anak itu belum tentu anakku."

"Sudah kubilang, itu anakmu. Tapi kalau kamu tidak percaya, kita bisa tes DNA. Aku tidak masalah."

Nyonya Devi menggebrak meja. "Tes DNA itu bisa dipalsukan!"

"Kalau begitu kita lakukan di rumah sakit pilihan Ibu, di depan Ibu. Aku akan tunjukkan kalau anak ini..." Dara meletakkan tangannya di perut, "...adalah darah daging keluarga Adisaputra."

"Kak Kiara..." Lenna mencoba lagi dengan suara gemetar. "Kenapa Kakak berubah seperti ini? Kakak seperti orang lain..."

Dara menatap Lenna. Oh, betapa dia ingin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa dia memang orang lain, bahwa Kiara yang lemah itu sudah tidak ada.

Tapi tidak sekarang.

"Orang berubah, Lenna, kalau sudah diperlakukan cukup buruk." Dara bangkit dari kursi. "Aku sudah kehilangan nafsu makan. Permisi."

Dia berbalik, melangkah keluar dengan punggung tegak.

Di belakangnya, dia bisa mendengar suara Lenna yang mulai terisak. "Tante... Kak Arkan... aku takut... Kak Kiara seperti benci padaku..."

"Sudah, sudah, sayang. Jangan menangis. Dia yang salah, bukan kamu."

Dara tersenyum dingin sambil berjalan ke kamarnya.

Menangis... Manipulasi... Mencari perlindungan...

Taktik yang sama persis dengan Salma dulu. Berpura-pura lemah, membuat orang lain melindunginya, sementara diam-diam menikam dari belakang.

Tapi Dara sudah tahu permainan ini, dia sudah jadi korban sekali.

Tidak akan ada kali kedua.

Sesampainya di kamar, dia mengunci pintu. Tubuhnya gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang ditahan.

Dia berjalan ke cermin, menatap wajah Kiara yang lebam.

"Aku berjanji, Kiara," bisiknya. "Aku akan buat mereka semua membayar. Lenna, Arkan, ibunya... semua orang yang menyakitimu. Mereka akan merasakan apa yang kamu rasakan. Berlipat ganda."

Trauma kehidupan lamanya masih segar. Pengkhianatan Salma, kematian sia-sia, rasa bersalah karena terlalu percaya.

Tapi sekarang dia punya kesempatan kedua, kesempatan untuk tidak mati bodoh.

Dan dia akan menggunakan semua pengetahuan, semua keterampilan, semua kegelapan yang dia bawa dari kehidupan lama untuk menghancurkan siapapun yang menghalangi.

Dimulai dengan rubah betina bernama Lenna.

Terpopuler

Comments

guntur 1609

guntur 1609

apa benar resinya menyuruh membunuh nya. atau itu hanya kebohongan salama

2026-05-05

0

Priskha

Priskha

dari awal ceritanya bagus..... lanjut....

2026-04-30

1

🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉

🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉

aq tambahin thor, jijik bgt lenna🤣

2026-02-15

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 - KEMATIAN DAN KEBANGKITAN
2 BAB 2 - INGATAN DUA KEHIDUPAN
3 BAB 3 - POLA YANG SAMA
4 BAB 4 - BAYANGAN MASA LALU
5 BAB 5 - NYAWA DI UJUNG TANDUK
6 BAB 6 - PENGETAHUAN YANG MENYELAMATKAN
7 BAB 7 - RENCANA BALASAN
8 BAB 8 - DOKTER KELUARGA
9 BAB 9 - ANCAMAN BARU
10 BAB 10 - HANTU DARI MASA LALU
11 BAB 11 - SEKUTU YANG TIDAK TERDUGA
12 BAB 12 - JEJAK KEUANGAN
13 BAB 13 - PEGAWAI YANG MELIHAT
14 BAB 14 - MASA LALU YANG TERKUBUR
15 BAB 15 - HARI PENGUNGKAPAN
16 BAB 16 - LENNA DIUSIR
17 BAB 17 - RIO SI PERANTARA
18 BAB 18 - LENNA KEHILANGAN SEGALANYA
19 BAB 19 - ARKAN MENCOBA MENDEKATI
20 BAB 20 - KEBAHAGIAAN YANG RAPUH
21 BAB 21 - ANCAMAN DARI MASA LALU DARA
22 BAB 22 - PERTEMUAN DI GUDANG
23 BAB 23 - PERMAINAN MEMATIKAN
24 BAB 24 - KELAHIRAN DAN ANCAMAN BARU
25 BAB 25 - PEJUANG KECIL
26 BAB 26 - RENCANA PENGGREBEKAN
27 BAB 27 - KONFRONTASI AKHIR
28 BAB 28 - BAYANG-BAYANG YANG TERSISA
29 BAB 29 - PENGKHIANAT DARI DALAM
30 BAB 30 - KEMBALINYA LENNA
31 BAB 31 - JARINGAN TERSEMBUNYI
32 BAB 32 - UMPAN HIDUP
33 BAB 33 - PERMAINAN TERAKHIR
34 BAB 34 - PENYELAMATAN BRUTAL
35 BAB 35 - BAYANG-BAYANG YANG KEMBALI
36 BAB 36 - ANCAMAN DARI BAYANGAN
37 BAB 37 - KONFRONTASI TERAKHIR DENGAN BOS RENDRA
38 BAB 38 - KEHIDUPAN BARU YANG RAPUH
39 BAB 39 - SUARA DALAM KEPALA
40 BAB 40 - PERANG BATIN
41 BAB 41 - PERTARUNGAN DUA JIWA
42 BAB 42 - KESEPAKATAN DUA JIWA
43 BAB 43 - ANCAMAN BARU TERHADAP KIRANA
44 BAB 44 - JEBAKAN UNTUK SURYA
45 BAB 45 - EPILOG - KEHIDUPAN BARU, ANCAMAN LAMA
46 BAB 46 - ANCAMAN BARU BERNAMA S.P.P
47 BAB 47 - PERSIAPAN PERANG
48 BAB 48 - PERTEMPURAN DI JALANAN
49 BAB 49 - KEPUTUSAN BESAR
50 BAB 50 - PERJANJIAN DENGAN IBLIS
51 AFTERWORD AUTHOR
Episodes

Updated 51 Episodes

1
BAB 1 - KEMATIAN DAN KEBANGKITAN
2
BAB 2 - INGATAN DUA KEHIDUPAN
3
BAB 3 - POLA YANG SAMA
4
BAB 4 - BAYANGAN MASA LALU
5
BAB 5 - NYAWA DI UJUNG TANDUK
6
BAB 6 - PENGETAHUAN YANG MENYELAMATKAN
7
BAB 7 - RENCANA BALASAN
8
BAB 8 - DOKTER KELUARGA
9
BAB 9 - ANCAMAN BARU
10
BAB 10 - HANTU DARI MASA LALU
11
BAB 11 - SEKUTU YANG TIDAK TERDUGA
12
BAB 12 - JEJAK KEUANGAN
13
BAB 13 - PEGAWAI YANG MELIHAT
14
BAB 14 - MASA LALU YANG TERKUBUR
15
BAB 15 - HARI PENGUNGKAPAN
16
BAB 16 - LENNA DIUSIR
17
BAB 17 - RIO SI PERANTARA
18
BAB 18 - LENNA KEHILANGAN SEGALANYA
19
BAB 19 - ARKAN MENCOBA MENDEKATI
20
BAB 20 - KEBAHAGIAAN YANG RAPUH
21
BAB 21 - ANCAMAN DARI MASA LALU DARA
22
BAB 22 - PERTEMUAN DI GUDANG
23
BAB 23 - PERMAINAN MEMATIKAN
24
BAB 24 - KELAHIRAN DAN ANCAMAN BARU
25
BAB 25 - PEJUANG KECIL
26
BAB 26 - RENCANA PENGGREBEKAN
27
BAB 27 - KONFRONTASI AKHIR
28
BAB 28 - BAYANG-BAYANG YANG TERSISA
29
BAB 29 - PENGKHIANAT DARI DALAM
30
BAB 30 - KEMBALINYA LENNA
31
BAB 31 - JARINGAN TERSEMBUNYI
32
BAB 32 - UMPAN HIDUP
33
BAB 33 - PERMAINAN TERAKHIR
34
BAB 34 - PENYELAMATAN BRUTAL
35
BAB 35 - BAYANG-BAYANG YANG KEMBALI
36
BAB 36 - ANCAMAN DARI BAYANGAN
37
BAB 37 - KONFRONTASI TERAKHIR DENGAN BOS RENDRA
38
BAB 38 - KEHIDUPAN BARU YANG RAPUH
39
BAB 39 - SUARA DALAM KEPALA
40
BAB 40 - PERANG BATIN
41
BAB 41 - PERTARUNGAN DUA JIWA
42
BAB 42 - KESEPAKATAN DUA JIWA
43
BAB 43 - ANCAMAN BARU TERHADAP KIRANA
44
BAB 44 - JEBAKAN UNTUK SURYA
45
BAB 45 - EPILOG - KEHIDUPAN BARU, ANCAMAN LAMA
46
BAB 46 - ANCAMAN BARU BERNAMA S.P.P
47
BAB 47 - PERSIAPAN PERANG
48
BAB 48 - PERTEMPURAN DI JALANAN
49
BAB 49 - KEPUTUSAN BESAR
50
BAB 50 - PERJANJIAN DENGAN IBLIS
51
AFTERWORD AUTHOR

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!