BAB 4 - BAYANGAN MASA LALU

Dara bertahan di dalam lemari selama dua jam... dua jam paling menyiksa dalam hidupnya yang baru. Mendengar suara-suara yang membuatnya ingin keluar dan mencekik mereka berdua. Tapi dia menahan diri. Menggigit bibir bawahnya sampai berdarah, mengepalkan tangan sampai kukunya menancap di telapak tangan.

Sabar... Tunggu waktu yang tepat.

Baru setelah Arkan pergi dan Lenna tertidur, Dara menyelinap keluar. Kakinya kebas, tubuhnya gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang ditahan terlalu lama.

Dia kembali ke kamarnya, mengunci pintu, lalu ambruk di lantai kamar mandi.

Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh Kiara, dia menangis. Bukan tangisan lemah Kiara yang dulu. Tapi tangisan Dara yang frustrasi, marah, trauma.

Kenapa ini terjadi lagi? Kenapa dia harus menghadapi pengkhianatan lagi? Kenapa orang-orang selalu berpura-pura baik lalu menusuk dari belakang?

Air matanya jatuh, bercampur dengan air keran yang mengalir. Tangannya gemetar saat dia mencuci wajah, mencoba menenangkan diri.

Tapi begitu dia menutup mata, ingatan kehidupan lama membanjir.

Flashback - Enam Tahun Lalu

Ruang kuliah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dara Alvarino, dua puluh enam tahun, sedang mengikuti ujian praktik bedah.

Tangannya stabil, pisau bedah bergerak dengan presisi. Dia yang tercepat menyelesaikan seperti biasa.

"Bagus, Dara. Kamu selalu yang terbaik," puji dosennya.

Dara tidak tersenyum, dia tidak pernah merasa bangga dengan pujian. Yang dia tahu, dia harus jadi yang terbaik. Karena di luar sana, ayahnya sakit keras. Ibunya bekerja tiga pekerjaan untuk biayai kuliahnya. Dia tidak punya pilihan selain jadi yang terbaik.

"Dar!"

Suara ceria itu. Salma berlari menghampiri, memeluknya dari belakang.

"Kamu hebat banget sih! Aku sampai deg-degan nonton kamu bedah tadi!"

"Biasa aja, Sal."

"Biasa aja apanya? Kamu ini jenius, tahu nggak?" Salma merangkul bahunya. "Makanya aku bangga punya sahabat kayak kamu."

Saat itu, Dara percaya. Dia percaya Salma tulus. Karena Salma selalu ada saat ayahnya meninggal, saat ibunya jatuh sakit, saat Dara hampir putus asa.

"Sal, makasih ya udah jadi sahabatku."

"Sama-sama, Dar. Kita kan sehidup semati."

Sehidup semati.

Kata-kata yang kemudian jadi lelucon paling menyakitkan.

Flashback - Empat Tahun Lalu

Dara dan Salma lulus kedokteran bersamaan. Tapi tidak ada rumah sakit yang mau menerima mereka. Padahal IPK mereka bagus, tapi tidak punya koneksi, tidak punya uang untuk "pelicin", jadi mereka harus tersingkirkan.

"Dar, aku dapet tawaran."

Dara menoleh dari laptopnya. "Tawaran apa?"

"Kerja jadi dokter, gajinya gede banget. Tapi... agak riskan sih."

"Riskan gimana?"

Salma mendekat, berbisik. "Kerja untuk kelompok... kamu tahu lah. Yang hitam-hitam gitu."

Dara tersentak. "Mafia?"

"Ssshh! Jangan keras-keras!" Salma melihat sekeliling. "Mereka butuh dokter bedah, gaji sebulan setara gaji dokter setahun di rumah sakit biasa. Kita bisa bantu keluarga kita, Dar."

"Tapi itu illegal..."

"Emang rumah sakit yang minta pelicin itu legal? Emang sistem yang bikin kita susah ini adil?" Salma menatapnya. "Dar, ibumu sakit, butuh biaya besar. Ini kesempatan kita."

Dara terdiam, ibunya memang sakit. Butuh operasi, butuh uang yang tidak dia punya.

"Aku... aku perlu mikir."

"Oke! Tapi jangan lama-lama, mereka perlu jawaban minggu ini."

Seminggu kemudian, Dara setuju. Bukan karena dia mau, tapi karena dia tidak punya pilihan.

Dan Salma tersenyum... senyum yang saat itu terlihat seperti senyum sahabat yang peduli. Padahal itu senyum manipulator yang berhasil menjebak mangsa.

Flashback - Tiga Tahun Lalu

Ruang operasi bawah tanah, Dara sedang mengangkat peluru dari dada seorang anggota mafia tingkat menengah. Tangannya sudah tidak gemetar lagi, sudah terbiasa dengan darah, luka tembak, luka bacok.

"Bagus, Dok. Kamu emang yang terbaik," puji Bos Rendra sambil mengisap cerutunya.

Dara tidak menjawab, dia hanya membersihkan tangannya, merapikan peralatan.

"Sal, kamu tahu kan kalau bulan depan ada 'pekerjaan besar'?"

Salma mengangguk. "Tahu, Bos."

"Aku butuh kalian berdua siap siaga, mungkin ada banyak yang terluka."

"Siap, Bos."

Setelah Bos Rendra pergi, Dara menghampiri Salma.

"Sal, aku capek."

"Capek kenapa?"

"Capek dengan semua ini. Darah, kekerasan, pembunuhan... aku jadi dokter untuk menyelamatkan orang, bukan untuk membantu para penjahat."

Salma menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Tapi kamu sudah terlanjur basah, Dar. Kita berdua sudah..."

"Aku tahu, makanya aku mau keluar pelan-pelan. Mungkin kita bisa cari kerja lain..."

"Keluar?" Salma tertawa. "Dar, orang yang kerja untuk mafia tidak bisa keluar begitu saja. Kamu tahu terlalu banyak."

"Tapi..."

"Lupakan, Dar. Ini sudah jadi hidup kita, terima saja."

Saat itu, Dara sudah merasa ada yang aneh dengan Salma. Tapi dia mengabaikannya, dan itu adalah kesalahan terbesarnya.

Flashback - Hari Kematian

"Maafin aku, Dar. Bos Rendra mau kamu mati, kamu tahu terlalu banyak."

Racun menjalar di tubuhnya. Salma berdiri di atas, menatapnya tanpa emosi.

"Kenapa... kamu..."

"Uang, Dar. Aku dapat uang banyak. Lagian, kita memang tidak punya masa depan di sini."

Dara merasakan tubuhnya mati rasa. Tapi yang paling sakit bukan racun, yang paling sakit adalah pengkhianatan.

"Kamu... bohong... semua... bohong..."

"Bukan semuanya bohong, kok. Aku memang anggap kamu sahabat, di awal-awal." Salma berjongkok, menyentuh rambutnya. "Tapi kemudian aku sadar di dunia ini, tidak ada yang lebih penting dari uang dan bertahan hidup. Maaf ya, Dar kamu terlalu naif."

"Aku... percaya... padamu..."

"Nah, itu masalahmu. Terlalu percaya."

Salma bangkit, berjalan ke pintu.

"Selamat tidur, sahabatku."

Pintu tertutup. Dara sendirian di lantai dingin, tubuhnya kejang, napasnya sesak.

Dia tidak takut mati. Dia takut mati karena percaya pada orang yang salah. Dia takut mati dengan sesak di dada bukan karena racun, tapi karena hatinya remuk.

Gelap... Semuanya gelap.

Dan kemudian...

Terang... Tapi bukan surga.

Ini neraka versi lain, neraka bernama kehidupan Kiara Adisaputra.

Dara membuka mata, kembali ke masa kini. Tubuhnya basah keringat, napasnya terengah.

Kamar mandi, dia masih di kamar mandi. Masih hidup, masih di tubuh Kiara.

Dia menatap pantulannya di cermin wajah Kiara yang pucat, mata merah bengkak, tapi tatapannya keras.

"Tidak akan lagi," bisiknya pada pantulannya sendiri. "Aku tidak akan percaya lagi, aku tidak akan bodoh lagi."

Trauma masa lalu mengajarkannya satu hal. Di dunia ini, kepercayaan adalah kelemahan. Dan Dara tidak akan lemah lagi.

Dia bangkit, mencuci wajah, merapikan diri. Sudah hampir pagi. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya jernih.

Lenna, Arkan, Nyonya Devi... Mereka semua seperti Salma, manipulator, pengkhianat. Orang-orang yang hanya peduli pada diri sendiri.

Dan Dara akan menggunakan setiap pelajaran dari kehidupan lamanya untuk menghancurkan mereka.

Tidak dengan cara cepat.

Tapi dengan cara yang menyakitkan, perlahan... Seperti racun yang bekerja di dalam tubuh, tidak langsung membunuh, tapi merusak dari dalam sampai tidak ada yang tersisa.

Dia membuka ponselnya, menatap foto-foto Lenna dan Rio yang sudah dia ambil tadi malam sebelum keluar dari kamar Lenna.

Ini baru permulaan.

Dia akan kumpulkan lebih banyak bukti, lebih banyak senjata. Dan saat waktunya tepat, dia akan meledakkan semuanya.

Tapi untuk sekarang, dia harus bermain aman. Bermain peran sebagai Kiara yang berubah tapi tidak terlalu mencurigakan.

Dara tersenyum tipis pada pantulannya di cermin. "Selamat pagi, Kiara," bisiknya. "Waktunya kerja."

Terpopuler

Comments

Ds Phone

Ds Phone

perjalanan balas dedam dah mula berjalan

2026-03-24

0

THAILAND GAERI

THAILAND GAERI

di dunia nyaatamemaang terjd

2026-04-14

0

Murni Dewita

Murni Dewita

next

2026-02-15

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 - KEMATIAN DAN KEBANGKITAN
2 BAB 2 - INGATAN DUA KEHIDUPAN
3 BAB 3 - POLA YANG SAMA
4 BAB 4 - BAYANGAN MASA LALU
5 BAB 5 - NYAWA DI UJUNG TANDUK
6 BAB 6 - PENGETAHUAN YANG MENYELAMATKAN
7 BAB 7 - RENCANA BALASAN
8 BAB 8 - DOKTER KELUARGA
9 BAB 9 - ANCAMAN BARU
10 BAB 10 - HANTU DARI MASA LALU
11 BAB 11 - SEKUTU YANG TIDAK TERDUGA
12 BAB 12 - JEJAK KEUANGAN
13 BAB 13 - PEGAWAI YANG MELIHAT
14 BAB 14 - MASA LALU YANG TERKUBUR
15 BAB 15 - HARI PENGUNGKAPAN
16 BAB 16 - LENNA DIUSIR
17 BAB 17 - RIO SI PERANTARA
18 BAB 18 - LENNA KEHILANGAN SEGALANYA
19 BAB 19 - ARKAN MENCOBA MENDEKATI
20 BAB 20 - KEBAHAGIAAN YANG RAPUH
21 BAB 21 - ANCAMAN DARI MASA LALU DARA
22 BAB 22 - PERTEMUAN DI GUDANG
23 BAB 23 - PERMAINAN MEMATIKAN
24 BAB 24 - KELAHIRAN DAN ANCAMAN BARU
25 BAB 25 - PEJUANG KECIL
26 BAB 26 - RENCANA PENGGREBEKAN
27 BAB 27 - KONFRONTASI AKHIR
28 BAB 28 - BAYANG-BAYANG YANG TERSISA
29 BAB 29 - PENGKHIANAT DARI DALAM
30 BAB 30 - KEMBALINYA LENNA
31 BAB 31 - JARINGAN TERSEMBUNYI
32 BAB 32 - UMPAN HIDUP
33 BAB 33 - PERMAINAN TERAKHIR
34 BAB 34 - PENYELAMATAN BRUTAL
35 BAB 35 - BAYANG-BAYANG YANG KEMBALI
36 BAB 36 - ANCAMAN DARI BAYANGAN
37 BAB 37 - KONFRONTASI TERAKHIR DENGAN BOS RENDRA
38 BAB 38 - KEHIDUPAN BARU YANG RAPUH
39 BAB 39 - SUARA DALAM KEPALA
40 BAB 40 - PERANG BATIN
41 BAB 41 - PERTARUNGAN DUA JIWA
42 BAB 42 - KESEPAKATAN DUA JIWA
43 BAB 43 - ANCAMAN BARU TERHADAP KIRANA
44 BAB 44 - JEBAKAN UNTUK SURYA
45 BAB 45 - EPILOG - KEHIDUPAN BARU, ANCAMAN LAMA
46 BAB 46 - ANCAMAN BARU BERNAMA S.P.P
47 BAB 47 - PERSIAPAN PERANG
48 BAB 48 - PERTEMPURAN DI JALANAN
49 BAB 49 - KEPUTUSAN BESAR
50 BAB 50 - PERJANJIAN DENGAN IBLIS
51 AFTERWORD AUTHOR
Episodes

Updated 51 Episodes

1
BAB 1 - KEMATIAN DAN KEBANGKITAN
2
BAB 2 - INGATAN DUA KEHIDUPAN
3
BAB 3 - POLA YANG SAMA
4
BAB 4 - BAYANGAN MASA LALU
5
BAB 5 - NYAWA DI UJUNG TANDUK
6
BAB 6 - PENGETAHUAN YANG MENYELAMATKAN
7
BAB 7 - RENCANA BALASAN
8
BAB 8 - DOKTER KELUARGA
9
BAB 9 - ANCAMAN BARU
10
BAB 10 - HANTU DARI MASA LALU
11
BAB 11 - SEKUTU YANG TIDAK TERDUGA
12
BAB 12 - JEJAK KEUANGAN
13
BAB 13 - PEGAWAI YANG MELIHAT
14
BAB 14 - MASA LALU YANG TERKUBUR
15
BAB 15 - HARI PENGUNGKAPAN
16
BAB 16 - LENNA DIUSIR
17
BAB 17 - RIO SI PERANTARA
18
BAB 18 - LENNA KEHILANGAN SEGALANYA
19
BAB 19 - ARKAN MENCOBA MENDEKATI
20
BAB 20 - KEBAHAGIAAN YANG RAPUH
21
BAB 21 - ANCAMAN DARI MASA LALU DARA
22
BAB 22 - PERTEMUAN DI GUDANG
23
BAB 23 - PERMAINAN MEMATIKAN
24
BAB 24 - KELAHIRAN DAN ANCAMAN BARU
25
BAB 25 - PEJUANG KECIL
26
BAB 26 - RENCANA PENGGREBEKAN
27
BAB 27 - KONFRONTASI AKHIR
28
BAB 28 - BAYANG-BAYANG YANG TERSISA
29
BAB 29 - PENGKHIANAT DARI DALAM
30
BAB 30 - KEMBALINYA LENNA
31
BAB 31 - JARINGAN TERSEMBUNYI
32
BAB 32 - UMPAN HIDUP
33
BAB 33 - PERMAINAN TERAKHIR
34
BAB 34 - PENYELAMATAN BRUTAL
35
BAB 35 - BAYANG-BAYANG YANG KEMBALI
36
BAB 36 - ANCAMAN DARI BAYANGAN
37
BAB 37 - KONFRONTASI TERAKHIR DENGAN BOS RENDRA
38
BAB 38 - KEHIDUPAN BARU YANG RAPUH
39
BAB 39 - SUARA DALAM KEPALA
40
BAB 40 - PERANG BATIN
41
BAB 41 - PERTARUNGAN DUA JIWA
42
BAB 42 - KESEPAKATAN DUA JIWA
43
BAB 43 - ANCAMAN BARU TERHADAP KIRANA
44
BAB 44 - JEBAKAN UNTUK SURYA
45
BAB 45 - EPILOG - KEHIDUPAN BARU, ANCAMAN LAMA
46
BAB 46 - ANCAMAN BARU BERNAMA S.P.P
47
BAB 47 - PERSIAPAN PERANG
48
BAB 48 - PERTEMPURAN DI JALANAN
49
BAB 49 - KEPUTUSAN BESAR
50
BAB 50 - PERJANJIAN DENGAN IBLIS
51
AFTERWORD AUTHOR

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!