Fang Yuan

Fang Yuan

Bab 1: Langit yang Terbelah(fix)

​Cahaya senja yang hangat menyelinap masuk melalui celah-celah dinding kayu rumah sederhana itu.

Di atas meja kayu yang mulai lapuk, aroma nasi hangat mengepul, menciptakan suasana damai yang seolah abadi.

​"Fang Yuan, apa kau pernah mendengar tentang para penguasa langit? Mereka yang kita sebut sebagai Kultivator?"

​Suara itu datang dari Fang Chen, sang ayah. Meski garis-garis kelelahan akibat mencangkul sawah terlihat di wajahnya, tatapan matanya selalu memancarkan kehangatan yang tulus. Ia adalah pria tegap dengan senyum yang menenangkan.

​Fang Yuan, bocah berusia lima tahun dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu, hanya menggeleng pelan. Jemari kecilnya masih sibuk memegang sendok kayu.

​Melihat kepolosan itu, Fang Chen tersenyum tipis, ada binar kekaguman sekaligus kerinduan di matanya. "Kultivator adalah mereka yang menantang takdir, Fang Yuan. Mereka berjalan di atas pedang, meminum embun surga, dan melatih raga demi mencapai keabadian."

​Fang Yuan mengerutkan kening, mencoba mencerna kata-kata berat itu. "Berarti... Ayah seorang Kultivator?"

​Tawa renyah Fang Chen pecah. Ia mengacak rambut putranya. "Hahaha!Tentu saja bukan, jagoan. Jalan menuju langit itu tidak murah. Hanya segelintir orang yang terpilih—mereka yang masuk ke sekte besar maupun kecil atau menemukan kitab kuno yang tersembunyi. Bagi petani seperti kita, buku seperti itu bahkan lebih berharga daripada seluruh desa ini."

​"Sudahlah, jangan jejali kepalanya dengan mimpi-mimpi kosong saat perutnya sedang lapar." potong sebuah suara lembut.

​Seorang wanita cantik, Lin Yue, datang membawa dua mangkuk kecil berisi nasi dan beberapa potong daging.

Meski hanya mengenakan pakaian kain kasar, kecantikannya yang alami tidak memudar.

Baginya, daging adalah kemewahan yang hanya muncul beberapa kali sebulan—hasil dari penghematan yang ketat.

​Lin Yue adalah seorang yatim piatu yang menemukan rumahnya pada diri Fang Chen.

Baginya, kebahagiaan bukanlah tentang terbang ke langit, melainkan tentang meja makan yang terisi.

​"Ayah, Ibu ... apa keinginan kalian sebenarnya?" tanya Fang Yuan tiba-tiba dengan nada polos yang menyayat hati.

​Suasana sejenak hening. Pertanyaan itu sederhana, namun berat bagi sepasang suami istri yang hidup dalam keterbatasan.

​"Mimpi Ayah?" Fang Chen bangkit, lalu menyambar tubuh mungil Fang Yuan dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. "Mimpi Ayah adalah menjadi Kultivator hebat, lalu menggendongmu di pundak Ayah sambil terbang menembus awan! Bagaimana? Keren, bukan?"

​"Hahaha! Aku terbang! Ibu, lihat, aku bisa melihat atap rumah!" teriak Fang Yuan riang, tawa cerianya mengisi seluruh ruangan.

​"Hati-hati, Kakak Chen! Jangan sampai dia menabrak balok kayu!" seru Lin Yue, meski bibirnya tak bisa berhenti tersenyum melihat kebahagiaan mereka.

​Setelah diturunkan, Fang Yuan terhuyung-huyung kecil karena pusing. Sambil memegang meja, ia menoleh pada ibunya. "K-kalau... keinginan Ibu?"

​Lin Yue terdiam, matanya menatap langit-langit rumah yang mulai bocor dengan tatapan melankolis. "Ibu tidak butuh langit,Fang Yuan. Ibu hanya ingin melihatmu tumbuh sehat, makan sampai kenyang, melihatmu tumbuh dewasa, dan suatu hari nanti, membawakan Ibu seorang menantu yang baik."

​Hati kecil Fang Yuan bergetar. Meski ia belum mengerti sepenuhnya, ia bisa merasakan ketulusan yang luar biasa dari suara ibunya.

Ia segera memeluk kaki Lin Yue. "Fang Yuan sayang Ibu ... sayang Ayah juga."

​Fang Chen ikut memeluk mereka berdua, menciptakan lingkaran kecil yang hangat di tengah dunia yang luas dan dingin.

​Keesokan paginya, suasana desa begitu asri. Fang Shou, sang kakek yang rambutnya sudah memutih namun masih tampak bugar, datang berkunjung.

​"Mana cucuku yang paling tampan ini? Ayo, ikut Kakek ke sungai. Kita lihat siapa yang bisa menangkap ikan lebih banyak!" seru Fang Shou sambil tertawa.

​"Aku ikut, Kek! Fang Yuan pasti menang!" bocah itu berlari menyambut tangan keriput sang kakek yang terasa kasar namun kokoh.

​Sebelum pergi, Fang Yuan melambaikan tangan kecilnya ke arah orang tuanya yang bersiap berangkat ke sawah di kaki bukit. "Aku pergi dulu, Ayah, Ibu! Dadah!"

​"Hati-hati, Nak! Jangan merepotkan Kakek!" sahut Lin Yue sambil melambai balik. Fang Chen hanya memberi jempol besar dengan senyum lebar yang khas.

​Di tepi sungai yang jernih, Fang Yuan duduk di samping kakeknya, memandangi riak air.

​"Kek, apa Kakek pernah mencoba jadi Kultivator?"

​Fang Shou terdiam lama, matanya menerawang jauh. "Belum pernah, cucuku. Tapi dulu... kabarnya salah satu leluhur kita pernah mencapainya. Namun, Jalan Kultivasi itu berlumuran darah. Para Kultivator saling bertarung, saling menjatuhkan hanya untuk sesuatu yang disebut 'kekuatan'."

​"Kekuatan? Untuk apa?"

​"Untuk menjadi yang tertinggi. Untuk bertahan hidup di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah. Mereka ingin naik ke langit, tapi seringkali lupa menginjak bumi." jawab Fang Shou dengan nada getir.

​"Bagaimana jika tidak berbakat?"

​"Maka kau harus berusaha sepuluh kali, seratus kali lebih keras. Diam berarti mati di jalan itu,Fang Yuan. Begitu kau melangkah, tidak ada jalan kembali."

​"Tapi... kita akan baik-baik saja, kan? Mereka tidak akan menyakiti kita?"

​Fang Shou menghela napas panjang. "Secara hukum, mereka dilarang membunuh manusia biasa. Tapi... peraturan hanyalah tulisan di atas kertas jika kau memiliki kekuatan untuk menghancurkan kertas itu."

​BOOM! BOOM! DUARRR!

​Tiba-tiba, bumi bergetar hebat. Permukaan sungai yang tenang melonjak, memuncratkan air ke wajah mereka. Seekor burung terbang liar ketakutan.

​"Apa itu, Kek?!" Fang Yuan menunjuk ke langit dengan tangan gemetar.

​Di atas sana, awan-awan terbelah. Dua kilatan cahaya—satu berwarna merah darah dan satu lagi putih perak—saling beradu dengan kecepatan yang tak masuk akal.

Setiap benturan menghasilkan gelombang kejut yang meruntuhkan dahan-dahan pohon.

​Tiba-tiba, kilatan merah melesatkan energi berbentuk sabit raksasa. Serangan itu meleset dari musuhnya, namun jatuh meluncur deras ke arah daratan.

​DUARRRRRR!

​Tanah di kejauhan meledak. Asap hitam membubung tinggi, menutupi sinar matahari.

​Wajah Fang Shou memucat seketika. Tubuhnya gemetar hebat saat menyadari arah jatuhnya serangan tersebut.

​"I-Ibu ... Ayah ..." suara Fang Yuan tercekat. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat ke arah bukit tempat sawah keluarganya berada. "Kek ... bukankah sawah Ibu ada di sana? Kek, jawab aku! Mereka dalam bahaya!"

Terpopuler

Comments

saniscara patriawuha.

saniscara patriawuha.

sikattttt mangggg......

2026-02-20

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Langit yang Terbelah(fix)
2 Bab 2: Debu yang Tersisa(fix)
3 ​Bab 3: Seribu Kegagalan(fix)
4 Bab 4: Retaknya Sang Cermin Jiwa(fix)
5 Bab 5: Ranah Kultivasi(fix)
6 Bab 6: Benih yang Bergetar(fix)
7 Bab 7: Seribu Tamparan, Satu Kebangkitan(fix)
8 Bab 8: Dendam Lama(fix)
9 Bab 9: Sisa-Sisa Kemanusiaan yang Tercecer(fix)
10 Bab 10: Dahaga di Tengah Lautan Qi(fix)
11 Bab 11: Mata Langit(fix)
12 Bab 12: Paviliun Megah(fix)
13 Bab 13: Belajar di Ambang Maut(fix)
14 Bab 14: Catatan Berdarah(fix)
15 Bab 15: Persiapan(fix)
16 Bab 16: Pijar Langit(fix)
17 Bab 17: Elang Mengejar Kelinci(fix)
18 Bab 18: Ruang Tanpa Batas(fix)
19 Bab 19: Tujuh Tahun dalam Keheningan Bintang
20 Bab 20: Pemberontakan
21 Bab 21: Tujuh Hari dan Tujuh Tahun(fix)
22 Bab 22: Logika di Balik Darah(fix)
23 Bab 23: Peras dan Rantai
24 Bab 24: Kedatangan Sang Bayangan
25 Bab 25: Orang gila
26 Bab 26: Tribulasi langit(fix)
27 Bab 27: Lembah batang maut(fix)
28 Bab 28: Pecahan Inti(fix)
29 Bab 29: Lidah Belati
30 Bab 30: Inti yang Tak Tergoyahkan
31 Bab 31: Bayangan di Paviliun Kitab
32 Bab 32: Umpan Beracun
33 Bab 33: Dao Pemberontak
34 Bab 34: Sisa-Sisa Arang
35 Bab 35: Salju di Kota Langit(fix)
36 Bab 36: Fondasi yang Terbakar
37 Bab 37: Mengasah Pedang Salju
38 Bab 38: Pedang Salju(fix)
39 Bab 39: Menjadi Debu di Tengah Kerumunan(fix)
40 Bab 40: Penindas
41 Bab 41: Perangkap di Hutan Terlarang(fix)
42 Bab 42: Panen Jiwa(fix)
43 Bab 43: Trilogi Kehancuran
44 Bab 44: Kebangkitan Darah Abadi
45 Bab 45: Karma di Atas Tanah Berbatu
46 Bab 46: Simfoni Gantung di Desa Batu
47 Bab 47: Akhir dari Sebuah Topeng(fix)
48 Bab 48: Tarian Maut di Atas Awan
49 Bab 49: Hening di Balik Badai(fix)
50 Bab 50: Klon tiga elemen(fix)
51 Bab 51: Rahasia di Balik Topeng Emas
52 Bab 52: Teratai Langit
53 Bab 53: Labirin Ilusi
54 Bab 54: Pesta Darah di Bawah Langit Pelangi
55 Bab 55: Elang Badai
56 Bab 56: Kelopak Terakhir
57 Bab 57: Arak, Pedang, dan Kenangan Dingin(fix)
58 Bab 58: Introspeksi Berdarah
59 Bab 59: Kedisiplinan di Paviliun Merah
60 Bab 60: Penjara Langit
61 Bab 61: Badai Es di Sekte Awan Mendung
62 Bab 62: Abu di Atas Reruntuhan
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Bab 1: Langit yang Terbelah(fix)
2
Bab 2: Debu yang Tersisa(fix)
3
​Bab 3: Seribu Kegagalan(fix)
4
Bab 4: Retaknya Sang Cermin Jiwa(fix)
5
Bab 5: Ranah Kultivasi(fix)
6
Bab 6: Benih yang Bergetar(fix)
7
Bab 7: Seribu Tamparan, Satu Kebangkitan(fix)
8
Bab 8: Dendam Lama(fix)
9
Bab 9: Sisa-Sisa Kemanusiaan yang Tercecer(fix)
10
Bab 10: Dahaga di Tengah Lautan Qi(fix)
11
Bab 11: Mata Langit(fix)
12
Bab 12: Paviliun Megah(fix)
13
Bab 13: Belajar di Ambang Maut(fix)
14
Bab 14: Catatan Berdarah(fix)
15
Bab 15: Persiapan(fix)
16
Bab 16: Pijar Langit(fix)
17
Bab 17: Elang Mengejar Kelinci(fix)
18
Bab 18: Ruang Tanpa Batas(fix)
19
Bab 19: Tujuh Tahun dalam Keheningan Bintang
20
Bab 20: Pemberontakan
21
Bab 21: Tujuh Hari dan Tujuh Tahun(fix)
22
Bab 22: Logika di Balik Darah(fix)
23
Bab 23: Peras dan Rantai
24
Bab 24: Kedatangan Sang Bayangan
25
Bab 25: Orang gila
26
Bab 26: Tribulasi langit(fix)
27
Bab 27: Lembah batang maut(fix)
28
Bab 28: Pecahan Inti(fix)
29
Bab 29: Lidah Belati
30
Bab 30: Inti yang Tak Tergoyahkan
31
Bab 31: Bayangan di Paviliun Kitab
32
Bab 32: Umpan Beracun
33
Bab 33: Dao Pemberontak
34
Bab 34: Sisa-Sisa Arang
35
Bab 35: Salju di Kota Langit(fix)
36
Bab 36: Fondasi yang Terbakar
37
Bab 37: Mengasah Pedang Salju
38
Bab 38: Pedang Salju(fix)
39
Bab 39: Menjadi Debu di Tengah Kerumunan(fix)
40
Bab 40: Penindas
41
Bab 41: Perangkap di Hutan Terlarang(fix)
42
Bab 42: Panen Jiwa(fix)
43
Bab 43: Trilogi Kehancuran
44
Bab 44: Kebangkitan Darah Abadi
45
Bab 45: Karma di Atas Tanah Berbatu
46
Bab 46: Simfoni Gantung di Desa Batu
47
Bab 47: Akhir dari Sebuah Topeng(fix)
48
Bab 48: Tarian Maut di Atas Awan
49
Bab 49: Hening di Balik Badai(fix)
50
Bab 50: Klon tiga elemen(fix)
51
Bab 51: Rahasia di Balik Topeng Emas
52
Bab 52: Teratai Langit
53
Bab 53: Labirin Ilusi
54
Bab 54: Pesta Darah di Bawah Langit Pelangi
55
Bab 55: Elang Badai
56
Bab 56: Kelopak Terakhir
57
Bab 57: Arak, Pedang, dan Kenangan Dingin(fix)
58
Bab 58: Introspeksi Berdarah
59
Bab 59: Kedisiplinan di Paviliun Merah
60
Bab 60: Penjara Langit
61
Bab 61: Badai Es di Sekte Awan Mendung
62
Bab 62: Abu di Atas Reruntuhan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!