3. Bayang-bayang Masa Lalu

Langkah kaki Bayu terasa limbung saat ia menyusuri jalanan setapak yang hanya diterangi oleh temaram lampu jalan dan sinar rembulan yang malu-malu tertutup awan. Aroma tanah basah setelah siraman hujan sore tadi membubung, menciptakan suasana magis yang biasanya menenangkan, namun bagi Bayu, itu adalah aroma kegagalan.

Ia berdiri cukup lama di depan pintu rumah yang kayunya sudah mulai lapuk dimakan usia. Dengan tangan gemetar, ia memberanikan diri mengetuk daun pintu itu.

Tok... tok... tok...

"Assalamualaikum," suara Bayu hampir tak terdengar, tertelan oleh suara jangkrik yang bersahut-sahutan.

Pintu terbuka pelan, mengeluarkan bunyi derit yang memilukan. Sosok wanita tua dengan kerudung instan yang sudah kusam muncul dari balik pintu. Matanya yang mulai merabun menatap Bayu dengan saksama, sebelum akhirnya binar kebahagiaan terpancar di sana, meski tubuhnya nampak sangat letih.

"Waalaikumussalam ... Ya Allah, Bayu? Ini kamu, Nak?" suara Ibu bergetar, tangannya yang kasar langsung meraih jemari Bayu.

Bayu tertunduk dalam, tak sanggup menatap mata ibunya. Ia segera meraih tangan sang ibu dan menciumnya lama. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga di punggung tangan yang berbau sabun cuci itu. "Iya, Bu. Bayu pulang."

"Ayo masuk, Nak. Kamu sudah makan? Tadi ibu baru aja selesai salat Maghrib, masih ada sisa sayur lodeh sedikit," ujar ibu sambil menuntun putra tunggalnya masuk ke dalam rumah yang hanya diterangi lampu bohlam lima watt.

Di ruang tamu yang sempit itu, Bayu duduk di atas kursi jalinan rotan yang sudah jebol di beberapa bagian. Ia meletakkan ranselnya yang berat, berat oleh dokumen penyitaan, bukan oleh oleh-oleh mewah. Ibu tidak banyak bertanya. Ia hanya duduk di samping Bayu, mengusap punggung putranya dengan penuh kasih sayang.

"Gimana Jakarta, Bay? Kerjaannya lancar, kan?" tanya Ibu pelan.

Bayu terdiam sejenak, tenggorokannya terasa tersumbat. "Lancar, Bu. Cuma ... Bayu lagi pengen istirahat sebentar di desa. Capek sama macetnya Jakarta," jawabnya berbohong.

Ibu menatap Bayu dengan pandangan yang dalam, pandangan yang seolah bisa menembus hingga ke relung hati terdalamnya. Ibu sebenarnya sudah tahu. Berita tentang kebangkrutan Bayu mungkin belum sampai ke telinganya secara mendetail, namun insting seorang ibu tidak pernah meleset.

Ia melihat tas yang dekil, wajah yang kuyu, dan tatapan mata yang kehilangan cahaya. Namun, Ibu memilih untuk menyimpan pengetahuannya itu di dalam diam. Baginya, tidak peduli apakah Bayu pulang sebagai direktur atau pecundang, yang terpenting adalah putranya ada di depannya, bernapas, dan kembali ke pelukannya.

"Ya sudah, kalau mau istirahat di sini ya nggak apa-apa. Ibu malah seneng ada temennya. Nggak usah dipikirin soal uang atau apa, yang penting kamu di sini sama ibu," ucap Ibu lembut, sebuah penerimaan tulus yang justru membuat hati Bayu semakin tersayat.

Malam semakin larut, dan suara tadarus dari masjid mulai terdengar lewat pengeras suara. Bayu mencoba memejamkan mata di kamarnya yang kecil, namun bayangan kegagalannya di Jakarta terus menari-nari. Ia merasa sangat kotor, bukan hanya fisiknya yang berdebu, tapi jiwanya yang penuh dengan noda kesombongan.

Ingin rasanya ia bangkit dan ikut pergi ke masjid untuk sujud, namun rasa malu kepada Sang Pencipta menahannya. Bagaimana mungkin ia kembali bersujud saat ia hanya mengingat Tuhan ketika sudah tidak punya apa-apa lagi? Ia merasa seperti munafik yang hanya butuh tempat bersandar saat badai datang.

Keesokan harinya, suasana Ramadan terasa semakin kental. Bayu keluar rumah sore hari untuk menghindari keramaian, namun langkahnya justru membawanya ke sebuah panti asuhan di pinggir desa. Dari kejauhan, ia melihat sebuah mobil bak terbuka yang dipenuhi dengan kardus-kardus makanan dan mainan.

Di sana, di tengah kerumunan anak-anak panti yang tertawa riang, berdirilah Fahmi. Sahabatnya itu nampak sangat luwes, menggendong salah satu anak kecil sambil membagikan kotak susu. Tidak ada sedikit pun gurat kesombongan di wajahnya. Ia tertawa lepas bersama warga desa yang ikut membantu menurunkan barang.

"Ayo, ini buat kamu, jangan berebut ya!" suara Fahmi terdengar renyah, penuh dengan kasih sayang yang tulus.

Bayu terpaku di balik pagar tanaman. Ia teringat masa remaja mereka. Dulu, ia selalu merasa dirinya adalah pemimpin, pelindung desa, dan sosok yang paling diandalkan. Ia merasa Nayla dan warga desa akan selalu memandangnya sebagai pahlawan.

Namun sekarang, posisi itu telah sepenuhnya beralih. Fahmi, yang dulu sering ia remehkan karena memilih menetap di desa dan berbisnis kecil-kecilan, kini telah bertransformasi menjadi pilar kekuatan bagi masyarakat di sini.

Tiba-tiba, Nayla muncul dari balik mobil sambil membawa daftar nama anak panti. Ia nampak bersinar dalam balutan gamis sederhananya. Saat melihat Fahmi yang sedang bercanda dengan anak-anak, Nayla tersenyum lebar, jenis senyum yang dulu sangat diinginkan Bayu.

"Fahmi itu emang nggak pernah berubah ya, Bay," suara Nayla tiba-tiba terdengar di dekatnya. Bayu tersentak, rupanya Nayla menyadari kehadirannya.

Nayla mendekat ke arah pagar, berdiri di samping Bayu sambil menatap ke arah Fahmi. "Dari dulu, dia selalu mikirin orang lain dulu sebelum dirinya sendiri. Semua panti asuhan di kecamatan ini dibantu sama dia. Warga desa juga banyak yang kerja di tempatnya. Dia pahlawan sebenernya di desa ini."

Kalimat Nayla bagaikan ribuan jarum yang menusuk ego Bayu. "Iya, dia emang hebat," sahut Bayu pendek, suaranya terdengar hambar.

"Bukan soal hebat atau nggaknya, Bay. Tapi soal ketulusannya. Dia nggak pernah pamer, nggak pernah ngerasa lebih tinggi. Makanya orang-orang sayang banget sama dia," tambah Nayla lagi.

Bayu merasa posisinya sebagai "pelindung" yang ia banggakan dulu telah musnah tak berbekas. Dulu, ia bermimpi pulang membawa harta melimpah untuk membangun desa agar semua orang bertekuk lutut padanya. Ternyata, Fahmi melakukan hal yang sama dengan cara yang jauh lebih mulia, dengan pengabdian dan kerendahan hati.

Keberadaan Fahmi di sana, dengan segala kebaikannya, terasa seperti bayang-bayang raksasa yang menelan eksistensi Bayu. Ia merasa dirinya hanyalah debu di bawah sepatu Fahmi. Rasa iri sempat terbersit, namun cepat-cepat ia tepis dengan rasa malu yang lebih besar. Ia melihat anak-anak panti itu mencium tangan Fahmi dengan penuh hormat, sementara dirinya sendiri bahkan tidak berani menatap wajah ibunya dengan tegak.

Malam itu, setelah berbuka puasa dengan menu seadanya di rumah, Bayu duduk di teras depan. Ia melihat warga desa berbondong-bondong menuju masjid dengan pakaian terbaik mereka untuk salat Tarawih. Ibu keluar dari kamar dengan mukena yang sudah rapi disampirkan di bahunya.

"Bay, nggak ke masjid? Mumpung Ramadan, Nak," ajak Ibu lembut.

Bayu menggeleng pelan. "Nanti aja, Bu. Bayu salat di rumah dulu."

"Ya sudah. Ibu berangkat dulu, ya. Kalau lapar, ada kolak di dapur. Tadi dikasih sama ibunya Fahmi," kata Ibu sambil berlalu.

Mendengar nama Fahmi lagi, Bayu menghela napas panjang. Bahkan kolak yang masuk ke perutnya pun berasal dari kebaikan keluarga Fahmi. Dunia seolah terus memutar skenario yang sama, menunjukkan betapa kecilnya Bayu di hadapan orang-orang yang dulu ia anggap di bawahnya.

Ia masuk ke dalam rumah, menatap cermin di lemari tua. Ia melihat seorang pria yang hancur, yang kehilangan integritas, dan yang terlalu sombong untuk mengakui kesalahannya. Di tengah riuhnya suara takbir dan zikir dari kejauhan, Bayu merosot di atas lantai semen yang dingin.

"Ya Allah ... apakah masih ada tempat buat orang kayak gue?" bisiknya lirih.

Bayu menyadari bahwa kepulangannya ke desa bukan sekadar pelarian dari kemiskinan, melainkan sebuah perjalanan untuk meruntuhkan tembok kesombongan yang selama ini ia bangun. Ia harus belajar bahwa martabat tidak diukur dari apa yang tersimpan di rekening bank, melainkan dari apa yang tersisa di dalam hati saat semuanya telah tiada.

Namun, perjalanan itu masih sangat jauh, dan bayang-bayang masa lalu yang gemilang namun semu itu masih terus menghantuinya di setiap sudut desa yang kini lebih mengenal Fahmi daripada dirinya.

Suasana Ramadan yang seharusnya membawa kedamaian, bagi Bayu, justru menjadi cermin besar yang terus menerus menunjukkan betapa buruknya rupa jiwanya selama ini. Ia pun menangis dalam diam, di tengah kegelapan rumah yang sunyi, sementara di luar sana, cahaya iman sedang berpendar di setiap wajah warga desa.

Terpopuler

Comments

Sri Jumiati

Sri Jumiati

sombong sekali bayu

2026-05-24

0

lihat semua
Episodes
1 1. Titik Nadir di Gerbang Desa
2 2. Reuni yang Menyakitkan
3 3. Bayang-bayang Masa Lalu
4 4. Krisis Panti dan Dilema Moral
5 5. Antara Berkah dan Musibah
6 6. Getir di Ujung Jari
7 7. Tawaran yang Menekan
8 8. Rahasia di Balik Pagar Panti
9 9. Keputusan di Ambang Isya
10 10. Beban yang Nyata
11 11. Getaran di Saku Celana
12 12. Langkah Menuju Dapur
13 13. Stok Bahan Makanan
14 14. Proyek dari Jakarta
15 15. Kepulangan Fahmi ke Panti
16 16. Pembagian Nasi Kotak
17 17. Observasi Kerusakan Bangunan
18 18. Rencana Perbaikan Darurat
19 19. Kepergian Fahmi di Tengah Malam
20 20. Menatap Kunci Gudang
21 21. Ruang Gudang yang Berdebu
22 22. Kehadiran Nayla di Ambang Pintu
23 23. Kerja Bakti Dua Orang
24 24. Detak Jantung di Teras Panti
25 25. Kejutan Kedatangan Kembali Fahmi
26 26. Perhatian Fahmi yang Alami
27 27. Tawaran Bantuan dari Sahabat
28 28. Diskusi di Bawah Lampu Redup
29 29. Emosi yang Terpendam
30 30. Proyek Pertama Untuk Panti
31 31. Tekad Menyelamatkan Panti
32 32. Bunga yang Tidak Pernah Layu
33 33. Satu Langkah Tertinggal
34 34. Beban di Pundak yang Rapuh
35 35. Tatapan yang Sama
36 36. Cahaya di Balik Saf
37 37. Sisa Malam di Ambang Pintu
38 38. Titik Didih dalam Diam
39 39. Pesan Masuk dari Fahmi
40 40. Makan Sahur Sambil Ngurus Anak-anak
41 41. Upah Kejujuran
42 42. Coklat Untuk Nayla
43 43. Keringat di Atas Bubungan
44 44. Ambang Batas Penebusan
45 45. Dingin di Atas Ubin
46 46. Bayang-Bayang Sang Penyelamat
47 47. Takhta yang Tergeser
48 48. Cahaya Redup di Balik Layar
49 49. Sinyal di Ujung Serambi
50 50. Pacuan di Sela Sahur
51 51. Harapan di Balik Baris Kode
52 52. Gema Fajar di Balik Rasa Iri
53 53. Rembulan di Balik Debu Semen
54 54. Titik Balik
55 55. Runtuhnya Langit Pagi
56 56. Lorong Dingin Berbau Karbol
57 57. Harga Sebuah Nyawa
58 58. Sisa Harga Diri di Ujung Jari
59 59. Di Antara Doa dan Penyesalan
60 60. Rencana Masa Depan Fahmi
61 61. Restu yang Menyakitkan
62 62. Tembok di Balik Pintu Pagar
63 63. Kecurigaan Nayla
64 64. Gema Takbir di Ujung Penantian
65 65. Fitri yang Berjarak
66 66. Riuh yang Terasa Sepi
67 67. Fajar yang Melintasi Benua
68 68. Istana Kecil di Tanah Kelahiran
69 69. Penjara Kaca yang Dingin
70 70. Undangan di Atas Meja Kayu
71 71. Getar yang Belum Padam
72 72. Jejak yang Terputus
73 73. Badai di Ambang Pintu
74 74. Pecahnya Bendungan Luka
75 75. Pecahnya Persaudaraan
76 76. Runtuhnya Tembok Asumsi
77 77. Pengejaran di Balik Bayang-Bayang
78 78. Rumah Pohon yang Lapuk
79 79. Pengakuan di Balik Kabut Jati
80 80. Janji di Bawah Atap Lapuk
81 81. Centang Satu yang Meresahkan
82 82. Kobaran di Layar Kaca
83 83. Abu yang Tersisa
84 84. Aroma Luka yang Membakar
85 85. Pecahnya Cermin Harapan
86 86. Penantian di Balik Daun Pintu
87 87. Fajar yang Menuntut Janji
88 88. Sayap Kertas di Balik Kaca
89 89. Perjuangan Bersama-sama
90 90. Runtuhnya Tembok Luka
91 91. Ijab di Antara Desis Oksigen
92 92. Sentuhan Pertama Sang Imam
93 93. Cahaya di Balik Luka
94 94. Detak yang Berkhianat
95 95. Garis yang Menjemput Sunyi
96 96. Syahadat Terakhir di Balik Kafan
97 97. Tanah yang Memeluk Sunyi
98 98. Warisan di Balik Debu
99 99. Cahaya yang Tak Pernah Padam
100 100. Dermaga Terakhir Sang Ksatria
Episodes

Updated 100 Episodes

1
1. Titik Nadir di Gerbang Desa
2
2. Reuni yang Menyakitkan
3
3. Bayang-bayang Masa Lalu
4
4. Krisis Panti dan Dilema Moral
5
5. Antara Berkah dan Musibah
6
6. Getir di Ujung Jari
7
7. Tawaran yang Menekan
8
8. Rahasia di Balik Pagar Panti
9
9. Keputusan di Ambang Isya
10
10. Beban yang Nyata
11
11. Getaran di Saku Celana
12
12. Langkah Menuju Dapur
13
13. Stok Bahan Makanan
14
14. Proyek dari Jakarta
15
15. Kepulangan Fahmi ke Panti
16
16. Pembagian Nasi Kotak
17
17. Observasi Kerusakan Bangunan
18
18. Rencana Perbaikan Darurat
19
19. Kepergian Fahmi di Tengah Malam
20
20. Menatap Kunci Gudang
21
21. Ruang Gudang yang Berdebu
22
22. Kehadiran Nayla di Ambang Pintu
23
23. Kerja Bakti Dua Orang
24
24. Detak Jantung di Teras Panti
25
25. Kejutan Kedatangan Kembali Fahmi
26
26. Perhatian Fahmi yang Alami
27
27. Tawaran Bantuan dari Sahabat
28
28. Diskusi di Bawah Lampu Redup
29
29. Emosi yang Terpendam
30
30. Proyek Pertama Untuk Panti
31
31. Tekad Menyelamatkan Panti
32
32. Bunga yang Tidak Pernah Layu
33
33. Satu Langkah Tertinggal
34
34. Beban di Pundak yang Rapuh
35
35. Tatapan yang Sama
36
36. Cahaya di Balik Saf
37
37. Sisa Malam di Ambang Pintu
38
38. Titik Didih dalam Diam
39
39. Pesan Masuk dari Fahmi
40
40. Makan Sahur Sambil Ngurus Anak-anak
41
41. Upah Kejujuran
42
42. Coklat Untuk Nayla
43
43. Keringat di Atas Bubungan
44
44. Ambang Batas Penebusan
45
45. Dingin di Atas Ubin
46
46. Bayang-Bayang Sang Penyelamat
47
47. Takhta yang Tergeser
48
48. Cahaya Redup di Balik Layar
49
49. Sinyal di Ujung Serambi
50
50. Pacuan di Sela Sahur
51
51. Harapan di Balik Baris Kode
52
52. Gema Fajar di Balik Rasa Iri
53
53. Rembulan di Balik Debu Semen
54
54. Titik Balik
55
55. Runtuhnya Langit Pagi
56
56. Lorong Dingin Berbau Karbol
57
57. Harga Sebuah Nyawa
58
58. Sisa Harga Diri di Ujung Jari
59
59. Di Antara Doa dan Penyesalan
60
60. Rencana Masa Depan Fahmi
61
61. Restu yang Menyakitkan
62
62. Tembok di Balik Pintu Pagar
63
63. Kecurigaan Nayla
64
64. Gema Takbir di Ujung Penantian
65
65. Fitri yang Berjarak
66
66. Riuh yang Terasa Sepi
67
67. Fajar yang Melintasi Benua
68
68. Istana Kecil di Tanah Kelahiran
69
69. Penjara Kaca yang Dingin
70
70. Undangan di Atas Meja Kayu
71
71. Getar yang Belum Padam
72
72. Jejak yang Terputus
73
73. Badai di Ambang Pintu
74
74. Pecahnya Bendungan Luka
75
75. Pecahnya Persaudaraan
76
76. Runtuhnya Tembok Asumsi
77
77. Pengejaran di Balik Bayang-Bayang
78
78. Rumah Pohon yang Lapuk
79
79. Pengakuan di Balik Kabut Jati
80
80. Janji di Bawah Atap Lapuk
81
81. Centang Satu yang Meresahkan
82
82. Kobaran di Layar Kaca
83
83. Abu yang Tersisa
84
84. Aroma Luka yang Membakar
85
85. Pecahnya Cermin Harapan
86
86. Penantian di Balik Daun Pintu
87
87. Fajar yang Menuntut Janji
88
88. Sayap Kertas di Balik Kaca
89
89. Perjuangan Bersama-sama
90
90. Runtuhnya Tembok Luka
91
91. Ijab di Antara Desis Oksigen
92
92. Sentuhan Pertama Sang Imam
93
93. Cahaya di Balik Luka
94
94. Detak yang Berkhianat
95
95. Garis yang Menjemput Sunyi
96
96. Syahadat Terakhir di Balik Kafan
97
97. Tanah yang Memeluk Sunyi
98
98. Warisan di Balik Debu
99
99. Cahaya yang Tak Pernah Padam
100
100. Dermaga Terakhir Sang Ksatria

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!