4. Krisis Panti dan Dilema Moral

Sinar matahari pagi di bulan Ramadan ini terasa lebih menyengat bagi Bayu. Ia terbangun di kamar kecilnya yang pengap, menatap langit-langit kayu yang dipenuhi sarang laba-laba. Perutnya perih luar biasa karena saat sahur tadi, ia hanya memaksakan diri menelan sisa kolak pemberian ibunya Fahmi dan segelas air putih. Tidak ada nasi, tidak ada kemewahan. Hanya rasa hambar yang mengendap di kerongkongan.

Bayu melangkah keluar kamar, mendapati ibunya sudah tidak ada di rumah. Selembar catatan kecil di atas meja makan memberitahunya bahwa sang ibu sudah pergi ke rumah Pak Haji untuk mencuci pakaian. Di samping catatan itu, terselip uang sepuluh ribu rupiah yang sudah sangat lusuh.

"Bay, ini buat beli takjil nanti sore. Maaf ibu nggak bisa kasih banyak," tulis ibunya dengan huruf-huruf yang gemetar.

Bayu meremas kertas itu. Air matanya hampir jatuh. Uang sepuluh ribu itu mungkin adalah hasil memeras tenaga sang ibu sejak subuh, dan ia, seorang mantan direktur yang pernah menghamburkan jutaan rupiah untuk sekali makan malam, kini menggenggamnya sebagai harapan hidup terakhir. Rasa malu itu kembali membakar dadanya, lebih panas dari sinar matahari di luar sana.

Siang harinya, Bayu berjalan tanpa tujuan menuju arah panti asuhan, tempat yang kemarin membuatnya merasa begitu kerdil. Namun, suasana di sana hari ini sangat berbeda. Tidak ada tawa riang anak-anak atau candaan Fahmi yang luwes. Yang terdengar justru suara isak tangis yang tertahan dan nada bicara yang penuh kepanikan.

Di teras panti, ia melihat Fahmi sedang duduk tertunduk, sementara Nayla berdiri di sampingnya dengan wajah yang pucat pasi. Beberapa pengurus panti tampak sibuk berlalu-lalang dengan raut wajah tegang.

"Nggak bisa ditunda lagi, Mi. Dokter bilang operasinya harus dilakukan besok pagi. Kalau nggak, infeksi di ginjalnya bakal menyebar," suara Nayla terdengar gemetar, nyaris pecah.

Bayu berhenti di balik tembok pagar, telinganya menajam. Ia merasa bersalah karena menguping, namun kakinya seolah terpaku di sana.

Fahmi mengacak rambutnya dengan frustrasi. Wajahnya yang biasanya tenang dan bercahaya kini tampak kuyu dan penuh beban. "Aku tau, Nay. Aku bener-bener tau. Tapi kamu liat sendiri laporan keuangan kantorku bulan ini. Proyek pengadaan logistik dari pemda itu pembayarannya baru cair bulan depan. Semua asetku lagi ketahan di situ. Aku udah coba cairin deposito, tapi butuh waktu seminggu."

"Kita butuh delapan puluh juta, Mi. Sekarang juga. Uang kas panti cuma ada lima juta," balas Nayla, air matanya mulai menetes. "Siapa lagi yang bisa kita mintai tolong secepat ini? Anak itu yatim piatu, dia nggak punya siapa-siapa selain kita."

Fahmi terdiam lama. Keheningan yang tercipta di antara mereka terasa sangat berat. "Aku bakal usahain pinjem ke bank atau kolega lain, tapi di hari libur begini ... semuanya susah, Nay. Astaghfirullah, kenapa jalannya sesulit ini?"

Bayu yang mendengarkan dari balik tembok merasa jantungnya berdegup kencang. Ia mengenal anak yang dimaksud. Haikal, bocah kecil yang kemarin digendong Fahmi dengan penuh tawa. Kini, nyawa bocah itu terancam karena masalah angka. Sesuatu yang dulu dianggap Bayu sebagai hal sepele, kini menjelma menjadi tembok raksasa yang tak tertembus bahkan oleh orang sebaik Fahmi.

Bayu melangkah menjauh dengan pikiran kalut. Ia ingin sekali masuk ke sana, menepuk bahu Fahmi, dan berkata, "Biar gue yang urus semuanya." Namun, ia sadar posisinya. Jangankan delapan puluh juta, uang sepuluh ribu di sakunya saja adalah pemberian ibunya yang sudah bungkuk karena mencuci baju.

Ia duduk di bawah pohon beringin besar di pinggir lapangan desa, meratapi ketidakberdayaannya. Di saat itulah, ponselnya yang layarnya sudah retak bergetar di saku celana. Sebuah nomor Jakarta yang sangat ia kenal muncul di layar.

"Halo?" Bayu menjawab dengan suara serak.

"Woi, Bay! Apa kabar lo? Masih hidup di kampung?" suara di seberang sana terdengar sangat santai, kontras dengan suasana hati Bayu. Itu adalah tawa khas Rian, mantan orang kepercayaannya di Jakarta yang dulu sering membantunya melakukan 'permainan' administratif di bawah meja.

"Langsung aja, Yan. Ada apa lo telepon?"

Rian terkekeh. "Gue tau lo lagi susah, Bay. Berita lo bangkrut udah nyebar di kalangan broker. Tapi gue punya kabar gembira buat lo. Lo masih pegang password admin dan akses database digital perusahaan lama lo, kan? Yang lo pegang sebelum aset lo disita itu."

Bayu mengerutkan kening. "Masih. Kenapa?"

"Gini, bos baru lo yang sekarang lagi ngurusin pailit itu pengen hapus jejak beberapa transaksi lama. Kalau lo mau bantu 'merapikan' data digital itu, lo tau lah maksud gue, hapus beberapa entry dan ubah alur laporannya, dia berani bayar mahal. Seratus juta, tunai sore ini juga lewat transfer. Gimana? Gampang kan buat ahli kayak lo?"

Darah Bayu seolah berhenti mengalir. Seratus juta. Angka itu berputar-putar di kepalanya. Itu lebih dari cukup untuk membiayai operasi Haikal, membelikan obat untuk ibunya, dan bahkan memulai hidup baru tanpa harus merasa menjadi beban.

"Tapi itu ilegal, Yan. Itu pemalsuan data," bisik Bayu, matanya menatap nanar ke arah masjid di kejauhan.

"Yah, Bay ... di dunia ini mana ada yang bener-bener bersih? Lo lagi butuh duit, kan? Daripada lo mati kelaparan di desa jadi gembel, mending lo ambil ini. Cuma main jari dikit di laptop, kelar. Nggak ada yang bakal tau. Anggap aja ini kompensasi buat keringat lo selama ini."

Bayu terdiam. Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat. Tawaran ini adalah iblis yang menyamar sebagai malaikat penyelamat di tengah gurun pasir penderitaannya. Logikanya mulai berperang hebat.

‘Kalau gue ambil uang ini, Haikal selamat. Ibu nggak perlu jadi buruh cuci lagi. Gue bisa bantu panti dan kelihatan jadi pahlawan di depan Nayla,’ batinnya berbisik.

Namun, di sudut hatinya yang lain, sebuah suara kecil memprotes. ‘Tapi itu uang haram, Bay. Lo baru aja nangis-nangis di depan Tuhan minta ampunan, sekarang lo mau buat dosa besar lagi? Di bulan Ramadan pula?’

"Gimana, Bay? Deal? Gue tunggu kabarnya sejam lagi ya. Kalau lewat dari itu, bos cari orang lain," Rian menutup telepon tanpa menunggu jawaban.

Bayu menyandarkan kepalanya di batang pohon yang kasar. Dilema moral itu meremas-remas dadanya hingga sesak. Ia melihat ke arah jalanan desa yang mulai ramai oleh warga yang berburu takjil. Suasana Ramadan yang damai kini terasa seperti medan perang baginya.

Ia teringat wajah ibunya yang batuk-batuk saat mencuci. Ia teringat wajah Haikal yang pucat. Dan ia teringat wajah Fahmi yang meskipun gagal membantu saat ini, tetap memiliki integritas yang tak tergoyahkan.

"Kenapa ujiannya harus begini, Ya Allah?" rintihnya lirih.

Bayu berdiri, melangkah kembali menuju rumahnya. Di meja makan, laptop lamanya masih tersimpan di dalam tas ransel. Laptop yang berisi kunci menuju uang seratus juta itu. Ia duduk di depan perangkat tersebut, menatap layarnya yang hitam. Jarinya berada di atas tombol power, namun ia ragu untuk menekannya.

Ia teringat ceramah singkat yang ia dengar dari pengeras suara masjid tadi malam. "Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik."

"Tapi Haikal nggak punya waktu seminggu untuk nunggu ganti yang lebih baik, Ya Tuhan!" Bayu berteriak dalam hati, air mata frustrasi menetes di atas keyboard laptopnya.

Di satu sisi, ada harga diri dan keselamatan nyawa manusia. Di sisi lain, ada kejujuran dan sisa-sisa iman yang baru saja ingin ia bangun kembali. Bayu merasa berada di persimpangan jalan yang paling mengerikan dalam hidupnya.

Satu klik bisa mengubah segalanya, menjadikannya pahlawan semu yang membiayai kebaikan dengan cara yang busuk, atau tetap menjadi pecundang yang jujur namun harus menyaksikan penderitaan orang lain karena ketidakberdayaannya.

Sore itu, saat adzan Ashar berkumandang dari kejauhan, Bayu masih terpaku di depan laptopnya. Bayang-bayang Jakarta yang penuh tipu daya dan kedamaian desa yang jujur bertarung di dalam benaknya. Ia harus memilih, dan setiap pilihan yang ia ambil akan menentukan siapa dia sebenarnya di mata Tuhan, di mata ibunya, dan di mata hatinya sendiri yang kini sedang meronta hebat.

Episodes
1 1. Titik Nadir di Gerbang Desa
2 2. Reuni yang Menyakitkan
3 3. Bayang-bayang Masa Lalu
4 4. Krisis Panti dan Dilema Moral
5 5. Antara Berkah dan Musibah
6 6. Getir di Ujung Jari
7 7. Tawaran yang Menekan
8 8. Rahasia di Balik Pagar Panti
9 9. Keputusan di Ambang Isya
10 10. Beban yang Nyata
11 11. Getaran di Saku Celana
12 12. Langkah Menuju Dapur
13 13. Stok Bahan Makanan
14 14. Proyek dari Jakarta
15 15. Kepulangan Fahmi ke Panti
16 16. Pembagian Nasi Kotak
17 17. Observasi Kerusakan Bangunan
18 18. Rencana Perbaikan Darurat
19 19. Kepergian Fahmi di Tengah Malam
20 20. Menatap Kunci Gudang
21 21. Ruang Gudang yang Berdebu
22 22. Kehadiran Nayla di Ambang Pintu
23 23. Kerja Bakti Dua Orang
24 24. Detak Jantung di Teras Panti
25 25. Kejutan Kedatangan Kembali Fahmi
26 26. Perhatian Fahmi yang Alami
27 27. Tawaran Bantuan dari Sahabat
28 28. Diskusi di Bawah Lampu Redup
29 29. Emosi yang Terpendam
30 30. Proyek Pertama Untuk Panti
31 31. Tekad Menyelamatkan Panti
32 32. Bunga yang Tidak Pernah Layu
33 33. Satu Langkah Tertinggal
34 34. Beban di Pundak yang Rapuh
35 35. Tatapan yang Sama
36 36. Cahaya di Balik Saf
37 37. Sisa Malam di Ambang Pintu
38 38. Titik Didih dalam Diam
39 39. Pesan Masuk dari Fahmi
40 40. Makan Sahur Sambil Ngurus Anak-anak
41 41. Upah Kejujuran
42 42. Coklat Untuk Nayla
43 43. Keringat di Atas Bubungan
44 44. Ambang Batas Penebusan
45 45. Dingin di Atas Ubin
46 46. Bayang-Bayang Sang Penyelamat
47 47. Takhta yang Tergeser
48 48. Cahaya Redup di Balik Layar
49 49. Sinyal di Ujung Serambi
50 50. Pacuan di Sela Sahur
51 51. Harapan di Balik Baris Kode
52 52. Gema Fajar di Balik Rasa Iri
53 53. Rembulan di Balik Debu Semen
54 54. Titik Balik
55 55. Runtuhnya Langit Pagi
56 56. Lorong Dingin Berbau Karbol
57 57. Harga Sebuah Nyawa
58 58. Sisa Harga Diri di Ujung Jari
59 59. Di Antara Doa dan Penyesalan
60 60. Rencana Masa Depan Fahmi
61 61. Restu yang Menyakitkan
62 62. Tembok di Balik Pintu Pagar
63 63. Kecurigaan Nayla
64 64. Gema Takbir di Ujung Penantian
65 65. Fitri yang Berjarak
66 66. Riuh yang Terasa Sepi
67 67. Fajar yang Melintasi Benua
68 68. Istana Kecil di Tanah Kelahiran
69 69. Penjara Kaca yang Dingin
70 70. Undangan di Atas Meja Kayu
71 71. Getar yang Belum Padam
72 72. Jejak yang Terputus
73 73. Badai di Ambang Pintu
74 74. Pecahnya Bendungan Luka
75 75. Pecahnya Persaudaraan
76 76. Runtuhnya Tembok Asumsi
77 77. Pengejaran di Balik Bayang-Bayang
78 78. Rumah Pohon yang Lapuk
79 79. Pengakuan di Balik Kabut Jati
80 80. Janji di Bawah Atap Lapuk
81 81. Centang Satu yang Meresahkan
82 82. Kobaran di Layar Kaca
83 83. Abu yang Tersisa
84 84. Aroma Luka yang Membakar
85 85. Pecahnya Cermin Harapan
86 86. Penantian di Balik Daun Pintu
87 87. Fajar yang Menuntut Janji
88 88. Sayap Kertas di Balik Kaca
89 89. Perjuangan Bersama-sama
90 90. Runtuhnya Tembok Luka
91 91. Ijab di Antara Desis Oksigen
92 92. Sentuhan Pertama Sang Imam
93 93. Cahaya di Balik Luka
94 94. Detak yang Berkhianat
95 95. Garis yang Menjemput Sunyi
96 96. Syahadat Terakhir di Balik Kafan
97 97. Tanah yang Memeluk Sunyi
98 98. Warisan di Balik Debu
99 99. Cahaya yang Tak Pernah Padam
100 100. Dermaga Terakhir Sang Ksatria
Episodes

Updated 100 Episodes

1
1. Titik Nadir di Gerbang Desa
2
2. Reuni yang Menyakitkan
3
3. Bayang-bayang Masa Lalu
4
4. Krisis Panti dan Dilema Moral
5
5. Antara Berkah dan Musibah
6
6. Getir di Ujung Jari
7
7. Tawaran yang Menekan
8
8. Rahasia di Balik Pagar Panti
9
9. Keputusan di Ambang Isya
10
10. Beban yang Nyata
11
11. Getaran di Saku Celana
12
12. Langkah Menuju Dapur
13
13. Stok Bahan Makanan
14
14. Proyek dari Jakarta
15
15. Kepulangan Fahmi ke Panti
16
16. Pembagian Nasi Kotak
17
17. Observasi Kerusakan Bangunan
18
18. Rencana Perbaikan Darurat
19
19. Kepergian Fahmi di Tengah Malam
20
20. Menatap Kunci Gudang
21
21. Ruang Gudang yang Berdebu
22
22. Kehadiran Nayla di Ambang Pintu
23
23. Kerja Bakti Dua Orang
24
24. Detak Jantung di Teras Panti
25
25. Kejutan Kedatangan Kembali Fahmi
26
26. Perhatian Fahmi yang Alami
27
27. Tawaran Bantuan dari Sahabat
28
28. Diskusi di Bawah Lampu Redup
29
29. Emosi yang Terpendam
30
30. Proyek Pertama Untuk Panti
31
31. Tekad Menyelamatkan Panti
32
32. Bunga yang Tidak Pernah Layu
33
33. Satu Langkah Tertinggal
34
34. Beban di Pundak yang Rapuh
35
35. Tatapan yang Sama
36
36. Cahaya di Balik Saf
37
37. Sisa Malam di Ambang Pintu
38
38. Titik Didih dalam Diam
39
39. Pesan Masuk dari Fahmi
40
40. Makan Sahur Sambil Ngurus Anak-anak
41
41. Upah Kejujuran
42
42. Coklat Untuk Nayla
43
43. Keringat di Atas Bubungan
44
44. Ambang Batas Penebusan
45
45. Dingin di Atas Ubin
46
46. Bayang-Bayang Sang Penyelamat
47
47. Takhta yang Tergeser
48
48. Cahaya Redup di Balik Layar
49
49. Sinyal di Ujung Serambi
50
50. Pacuan di Sela Sahur
51
51. Harapan di Balik Baris Kode
52
52. Gema Fajar di Balik Rasa Iri
53
53. Rembulan di Balik Debu Semen
54
54. Titik Balik
55
55. Runtuhnya Langit Pagi
56
56. Lorong Dingin Berbau Karbol
57
57. Harga Sebuah Nyawa
58
58. Sisa Harga Diri di Ujung Jari
59
59. Di Antara Doa dan Penyesalan
60
60. Rencana Masa Depan Fahmi
61
61. Restu yang Menyakitkan
62
62. Tembok di Balik Pintu Pagar
63
63. Kecurigaan Nayla
64
64. Gema Takbir di Ujung Penantian
65
65. Fitri yang Berjarak
66
66. Riuh yang Terasa Sepi
67
67. Fajar yang Melintasi Benua
68
68. Istana Kecil di Tanah Kelahiran
69
69. Penjara Kaca yang Dingin
70
70. Undangan di Atas Meja Kayu
71
71. Getar yang Belum Padam
72
72. Jejak yang Terputus
73
73. Badai di Ambang Pintu
74
74. Pecahnya Bendungan Luka
75
75. Pecahnya Persaudaraan
76
76. Runtuhnya Tembok Asumsi
77
77. Pengejaran di Balik Bayang-Bayang
78
78. Rumah Pohon yang Lapuk
79
79. Pengakuan di Balik Kabut Jati
80
80. Janji di Bawah Atap Lapuk
81
81. Centang Satu yang Meresahkan
82
82. Kobaran di Layar Kaca
83
83. Abu yang Tersisa
84
84. Aroma Luka yang Membakar
85
85. Pecahnya Cermin Harapan
86
86. Penantian di Balik Daun Pintu
87
87. Fajar yang Menuntut Janji
88
88. Sayap Kertas di Balik Kaca
89
89. Perjuangan Bersama-sama
90
90. Runtuhnya Tembok Luka
91
91. Ijab di Antara Desis Oksigen
92
92. Sentuhan Pertama Sang Imam
93
93. Cahaya di Balik Luka
94
94. Detak yang Berkhianat
95
95. Garis yang Menjemput Sunyi
96
96. Syahadat Terakhir di Balik Kafan
97
97. Tanah yang Memeluk Sunyi
98
98. Warisan di Balik Debu
99
99. Cahaya yang Tak Pernah Padam
100
100. Dermaga Terakhir Sang Ksatria

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!