Bab 2

Setibanya di rumah, Zhang Yuze mendapati bahwa kedua orang tuanya masih belum pulang. Rumah besar itu terasa lengang dan sunyi, hanya diisi oleh suara langkah kakinya sendiri yang bergema samar di lantai. Tanpa ragu, ia segera mengganti pakaian dan memulai “rutinitas hariannya”.

Di sekolah, Zhang Yuze selalu menampilkan sosok yang tampak pendiam, muram, bahkan sedikit serius. Namun, hanya satu orang di dunia ini yang benar-benar mengenalnya—Chen Jialong, sahabatnya sejak kecil. Di mata Chen Jialong, Zhang Yuze sama sekali bukan pemuda lurus dan polos seperti yang terlihat di luar. Sebaliknya, ia adalah seorang mesum terpendam yang pandai menyembunyikan sisi gelapnya.

Komputer pribadinya hampir sepenuhnya dipenuhi film-film berlabel ramah segala usia—setidaknya begitu menurut kategorinya sendiri—yang jumlahnya nyaris memenuhi seluruh kapasitas hard drive. Lebih dari itu, Zhang Yuze bahkan merupakan anggota tingkat dua belas di sebuah situs dewasa ternama, dengan level keanggotaan yang konon lebih tinggi daripada beberapa administratornya.

Jika orang tuanya mengetahui sisi ini, entah ekspresi apa yang akan mereka tunjukkan.

Sore itu, Zhang Yuze duduk santai di depan komputer, menyesap minuman dingin sambil dengan tenang mengunduh beberapa film terbaru. Jari-jarinya bergerak cekatan di atas mouse dan keyboard, wajahnya memancarkan kepuasan kecil yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini.

Namun, tepat ketika unduhan hampir selesai, bel pintu tiba-tiba berbunyi.

Deringannya yang nyaring membuat Zhang Yuze terkejut. Ia segera bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menuju pintu depan. Dalam benaknya, ia mengira ayahnya telah pulang lebih awal.

Begitu pintu dibuka, ia tertegun.

Bukan ayahnya yang berdiri di sana, melainkan seorang pemuda asing berusia sekitar dua puluh tahunan, mengenakan pakaian sederhana, dengan tas selempang di bahunya. Penampilannya mirip seorang petugas pengantar barang.

“Apakah Anda Zhang Yuze?” tanya pemuda itu dengan nada sopan, menatapnya sekilas untuk memastikan.

“Ya. Saya,” jawab Zhang Yuze sambil mengangguk, sedikit kebingungan.

“Kalau begitu, mohon tanda tangan di sini. Ini paket Anda.”

Pemuda itu menyerahkan sebuah pena dan selembar kertas. Setelah memastikan identitas penerima, ia terlihat cukup lega.

Dengan perasaan heran, Zhang Yuze menandatangani namanya, lalu menerima sebuah paket berukuran sedang yang dibungkus rapi. Ketika ia mengangkat kepala kembali, si pengantar sudah berbalik pergi dengan langkah cepat, seolah takut berlama-lama.

Zhang Yuze berdiri sejenak di ambang pintu, menatap paket di tangannya dengan dahi berkerut. Ia yakin betul tidak memesan apa pun belakangan ini. Satu-satunya barang yang pernah ia pesan adalah sebuah majalah koleksi ilustrasi indah dari sebuah situs dewasa, itu pun sudah setengah tahun yang lalu. Ia bahkan telah membayar lunas, tetapi barangnya tidak pernah tiba. Pada akhirnya, ia mengira dirinya telah tertipu dan melupakan hal itu.

Mungkinkah paket ini adalah barang tersebut?

Jika benar, maka efisiensi pengirimannya sungguh keterlaluan.

Meski dipenuhi tanda tanya, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Zhang Yuze membawa paket itu masuk ke dalam rumah, menutup pintu, lalu meletakkannya di atas meja ruang tamu. Dengan hati berdebar, ia mulai membukanya.

Lapisan demi lapisan dibuka.

Satu lapisan.

Dua lapisan.

Tiga lapisan.

Semakin lama, wajah Zhang Yuze semakin muram. Bungkusannya terlalu berlebihan. Rasanya seperti kain pembalut kaki perempuan tua di zaman dahulu—panjang, berbelit, dan sama sekali tidak efisien.

“Berlebihan sekali…” gumamnya kesal.

Akhirnya, setelah membuka entah berapa lapis, sebuah benda hitam pekat tersingkap di hadapannya.

Itu adalah sebuah buku.

Buku tersebut tampak sangat tebal, dengan sampul hitam polos tanpa satu pun tulisan atau pola. Zhang Yuze mengangkatnya perlahan. Ia terkejut ketika merasakan permukaannya—sangat halus, dingin, dan terasa aneh, seolah bukan terbuat dari kertas atau kulit biasa.

Dengan rasa ingin tahu yang memuncak, ia membuka buku itu secara perlahan.

Namun, apa yang ia lihat justru membuatnya kecewa.

Di halaman pertama, selain sebuah ilustrasi seorang pemuda berwajah licik dengan senyum nakal yang tampak penuh tipu daya, hanya terdapat tiga huruf besar yang tertulis mencolok:

"Cermin Pusaka Dewa"

“Uh…?”

Zhang Yuze terdiam, tercengang. Otaknya seakan berhenti bekerja.

Apa-apaan ini?

Tiba-tiba, sebuah suara terdengar di dalam benaknya.

“Jangan takut.”

Zhang Yuze terkejut setengah mati. Jantungnya hampir meloncat keluar dari dada. Ia menoleh ke kiri dan kanan, tetapi rumah itu kosong.

“Siapa?!” serunya panik.

“Aku adalah roh dari buku ini,” suara itu kembali terdengar, tenang dan dalam. “Aku adalah jiwa dari Cermin Pusaka Dewa.”

Suara itu tidak terdengar dari telinganya, melainkan langsung bergema di dalam kesadarannya.

Zhang Yuze menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Meski rasa takut masih tersisa, rasa ingin tahunya jauh lebih besar.

“Apa maksud dari Cermin Pusaka Dewa ini?” tanyanya hati-hati.

“Seperti namanya,” jawab roh buku itu, “Cermin Pusaka Dewa adalah pusaka yang dapat menjadikanmu seorang dewa sejati. Selama kau mempelajari seluruh kemampuan yang tercatat di dalamnya dan memenuhi syarat hukum tertentu, kau akan mencapai keilahian.”

Jantung Zhang Yuze berdegup kencang.

Setiap kata itu terdengar terlalu fantastis, terlalu tidak masuk akal. Namun, kejadian yang tengah berlangsung di hadapannya membuatnya sulit untuk sepenuhnya menolak.

“Lalu… apa yang harus kulakukan?” tanyanya pelan, berusaha menekan kegembiraan yang mulai menyelinap ke dalam hatinya.

“Teteskan setetes darahmu ke tubuh pemuda dalam ilustrasi ini,” ujar Roh Buku. “Dengan begitu, kau akan menjadi muridnya. Hanya setelah itu kau dapat melihat isi sejati dari Cermin Pusaka.”

Zhang Yuze menatap ilustrasi di halaman pertama itu. Pemuda dalam gambar tampak tersenyum licik, seolah sedang mengejeknya.

Setelah ragu sejenak, ia mengangguk. Dengan gigi terkatup, ia menggigit ujung jarinya sendiri. Rasa perih menjalar, tetapi ia menahannya. Setetes darah segar jatuh dan menetes tepat di atas ilustrasi pemuda tersebut.

Dalam sekejap, darah itu terserap ke dalam halaman, seakan menghilang begitu saja.

Tiba-tiba, cahaya keemasan meledak keluar dari buku.

Cahayanya begitu menyilaukan hingga Zhang Yuze terpaksa memejamkan mata. Sinar hangat itu memenuhi seluruh ruang tamu, memantul di dinding dan langit-langit, menciptakan suasana yang nyaris sakral.

Beberapa saat kemudian, cahaya itu perlahan meredup dan akhirnya menghilang sepenuhnya.

Zhang Yuze membuka matanya.

Ia terkejut ketika mendapati bahwa halaman-halaman di balik halaman pertama kini dapat dibuka. Namun, rasa gembiranya hanya berlangsung sesaat. Saat ia mencoba membuka halaman kedua, buku itu kembali menolak.

Ia hanya bisa membuka halaman pertama.

“Apa yang terjadi?” tanyanya bingung. “Kenapa aku masih tidak bisa membukanya?”

“Itu karena tingkatmu saat ini masih terlalu rendah,” jawab Roh Buku dengan nada lembut. “Ketika energimu telah mencapai tingkat yang cukup untuk melihat isi di baliknya, halaman-halaman itu akan terbuka dengan sendirinya.”

“Energi?” Zhang Yuze mengernyit. “Energi apa?”

Roh Buku pun mulai menjelaskan secara rinci.

Sedikit demi sedikit, Zhang Yuze akhirnya memahami bahwa untuk mempelajari kemampuan supranatural dalam Cermin Pusaka Dewa, ia membutuhkan sesuatu yang disebut energi kepercayaan. Dan lebih jauh lagi, buku ini ternyata adalah kitab suci untuk menjadi Dewa Cinta.

Artinya, tugas utamanya adalah menaklukkan dan memikat berbagai wanita cantik, memperoleh kepercayaan, kekaguman, dan perasaan mereka sebagai sumber energi.

Zhang Yuze terdiam membeku.

Otaknya terasa seperti disambar petir.

Menjadi… Dewa Cinta?

Menaklukkan wanita sebagai kewajiban ilahi?

Segala yang baru saja ia dengar terlalu absurd, terlalu tidak masuk akal, hingga membuatnya benar-benar kehilangan kata-kata.

Namun jauh di lubuk hatinya, sebuah api kecil mulai menyala—api yang perlahan berubah menjadi harapan, kegembiraan, dan antisipasi yang sulit dijelaskan.

Tanpa ia sadari, hidupnya telah melangkah ke jalur yang sama sekali baru.

Dan sejak saat itu, takdir Zhang Yuze pun mulai berubah, selangkah demi selangkah, menuju jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Terpopuler

Comments

Mamat Stone

Mamat Stone

👻😈👻

2026-06-07

0

Mamat Stone

Mamat Stone

/Proud//Smile//Proud/

2026-06-07

0

Manusia Biasa

Manusia Biasa

wkwkw sewajarnya laki itu🗿

2026-03-08

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
181 Bab 181
182 Bab 182
183 Bab 183
184 Bab 184
185 Bab 185
186 Bab 186
187 Bab 187
188 Bab 188
189 Bab 189
190 Bab 190
191 Bab 191
192 Bab 192
193 Bab 193
194 Bab 194
195 Bab 195
196 Bab 196
197 Bab 197
198 Bab 198
199 Bab 199
200 Bab 200
201 Bab 201
202 Bab 202
203 Bab 203
204 Bab 204
205 Bab 205
206 Bab 206
207 Bab 207
208 Bab 208
209 Bab 209
210 Tamat Jilid 1
Episodes

Updated 210 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180
181
Bab 181
182
Bab 182
183
Bab 183
184
Bab 184
185
Bab 185
186
Bab 186
187
Bab 187
188
Bab 188
189
Bab 189
190
Bab 190
191
Bab 191
192
Bab 192
193
Bab 193
194
Bab 194
195
Bab 195
196
Bab 196
197
Bab 197
198
Bab 198
199
Bab 199
200
Bab 200
201
Bab 201
202
Bab 202
203
Bab 203
204
Bab 204
205
Bab 205
206
Bab 206
207
Bab 207
208
Bab 208
209
Bab 209
210
Tamat Jilid 1

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!