Bab 4

Sejak pagi hari, Zhang Yuze sama sekali tidak memerhatikan pelajaran di kelas. Pandangannya memang tertuju ke papan tulis, tetapi pikirannya melayang jauh, sepenuhnya dipenuhi satu hal: bagaimana cara mengumpulkan Energi Iman. Kata-kata guru yang menjelaskan materi terasa seperti angin lalu, masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.

Pelajaran pertama hari itu adalah Pendidikan Politik. Begitu bel tanda pergantian jam berbunyi, Chen Jialong yang duduk di bangku depan tiba-tiba menoleh ke belakang. Wajahnya dipenuhi senyum licik khas orang yang hendak meminta sesuatu. Ia menatap Zhang Yuze dengan mata berbinar, lalu berkata dengan nada memelas,

“Yuze, aku mau pinjam dua puluh yuan darimu. Kau tahu sendiri, akhir-akhir ini orang tuaku khawatir aku terlalu sering ke warnet, jadi mereka menghentikan uang sakuku. Padahal karakterku di game sudah hampir naik level. Kalau tidak main sekarang, rasanya seluruh badan ini gatal… Tolonglah.”

Begitu mendengar kata pinjam, raut wajah Zhang Yuze langsung menggelap. Anak ini sudah beberapa kali meminjam uang darinya—jumlahnya tidak besar, memang—tetapi satu yuan pun belum pernah kembali. Sifat pelit Zhang Yuze yang sudah terkenal seketika muncul. Ia hampir saja menolak mentah-mentah tanpa berpikir panjang.

Namun, tepat sebelum kata penolakan itu keluar dari mulutnya, sebuah pikiran melintas di benaknya seperti kilat. Poin Afeksi. Ingatan tentang sistem misterius itu membuat hatinya terguncang. Dalam sekejap, ekspresi dinginnya berubah total. Senyum cerah merekah di wajahnya, seolah-olah ia baru saja mendengar lelucon paling lucu di dunia.

Tanpa ragu sedikit pun, Zhang Yuze merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang dua puluh yuan, lalu menyerahkannya kepada Chen Jialong. Ia bahkan berpura-pura marah sambil berkata,

“Kita ini saudara. Kenapa harus pakai kata seburuk ‘pinjam’ segala?”

Chen Jialong menerima uang itu dengan wajah linglung. Ia menatap Zhang Yuze dengan ekspresi tak percaya, seakan-akan orang yang berdiri di depannya bukanlah Zhang Yuze yang selama ini ia kenal. Bukankah dia terkenal sebagai orang yang sangat perhitungan? Sejak kapan dia menjadi begitu murah hati?

“Yuze, terima kasih banyak!” ucap Chen Jialong dengan penuh rasa syukur sambil menepuk bahu Zhang Yuze dengan kuat.

Pada saat itulah, sebuah suara halus namun jelas terdengar di dalam benak Zhang Yuze—suara Roh Buku. Ia memberitahunya bahwa Energi Iman-nya telah meningkat sebesar tiga puluh poin. Jika digabungkan dengan yang sebelumnya, jumlahnya kini mencapai lima puluh.

Zhang Yuze terdiam sejenak. Jantungnya berdebar pelan. Ternyata benar—cara ini efektif.

Dalam satu minggu berikutnya, perubahan serupa sering terjadi di Kelas tiga tingkat akhir. Berbagai kejadian kecil bermunculan silih berganti. Ada kalanya Zhang Yuze membantu teman sekelas mengerjakan tugas, meminjamkan alat tulis, atau sekadar mendengarkan keluhan sepele. Semua itu adalah hal-hal yang dulu hampir tidak pernah ia lakukan.

Meski rasa tidak sabarnya semakin sulit ditahan, harus diakui bahwa popularitas Zhang Yuze yang semula menyedihkan kini membaik secara signifikan. Teman-teman sekelas yang dahulu bersikap acuh kini menyapanya dengan senyum ketika berpapasan. Beberapa bahkan dengan sukarela mengajaknya berbincang.

Tentu saja, tidak semua orang berubah.

Jika seseorang sudah membencimu sejak awal, sebaik apa pun perlakuanmu, semuanya akan sia-sia.

Sun Yuson jelas termasuk tipe orang seperti itu.

Sebagai siswa berprestasi dengan nilai akademik yang menonjol, Sun Yuson selalu memandang rendah Zhang Yuze. Di matanya, Zhang Yuze hanyalah siswa miskin dengan prestasi pas-pasan. Lebih dari itu, Sun Yuson sangat tidak senang karena Zhang Yuze duduk di sebelah Liu Mengting.

Liu Mengting adalah bunga kelas—cantik, lembut, dan pintar. Sun Yuson telah lama mengaguminya secara diam-diam. Namun, saat tempat duduk diatur berdasarkan tinggi badan, Liu Mengting kebetulan harus duduk di samping Zhang Yuze. Fakta ini membuat Sun Yuson geram.

Ia beberapa kali mencoba merebut tempat duduk itu, terutama saat belajar mandiri di malam hari. Namun, Zhang Yuze tidak pernah benar-benar menanggapinya dengan serius. Dari situlah permusuhan di antara mereka perlahan terbentuk.

“Zhang Yuze, bisakah kau bergeser sedikit?” Sebuah bayangan tinggi dan ramping berdiri di depan mejanya. Nada suaranya dingin. Sepasang mata tajam menatap wajah Zhang Yuze tanpa emosi.

“Kau sendiri tidak mengerjakan PR. Jangan mengganggu aku dan Mengting saat berdiskusi soal.”

Harus diakui, Sun Yuson memang tampan dan berwibawa. Tubuhnya yang tinggi dan posturnya yang tegap memberi tekanan psikologis tersendiri. Zhang Yuze merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Namun, ketidaksukaannya pada Sun Yuson sudah terlalu lama terpendam. Tidak mungkin ia membiarkan orang itu bersikap arogan di hadapannya.

“Sepertinya kursi ini milikku,” balas Zhang Yuze dingin. Ia menatap Sun Yuson tanpa gentar.

“Sebagai ketua kelas, meskipun aku siswa miskin, kau tidak bisa merampas hakku untuk duduk di tempatku sendiri, bukan?”

Sorot mata Sun Yuson berubah. Sekilas kebencian terpancar di sana. Kedua tangannya mengepal erat, seolah siap melayangkan pukulan kapan saja.

Sejujurnya, perbedaan fisik mereka cukup mencolok. Sun Yuson jauh lebih tinggi dan kekar. Tekanan itu nyata. Namun Zhang Yuze bukan tipe yang mudah mengalah. Ia membalas tatapan itu dengan tajam, tidak mau kalah sedikit pun.

“Cukup. Kalian berdua berhenti berdebat.”

Suara lembut namun tegas itu berasal dari Liu Mengting. Ia menghentikan kegiatannya mengerjakan soal latihan dan menatap mereka berdua. Wajah cantik dan manisnya kini memancarkan sedikit amarah.

“Ujian masuk perguruan tinggi sudah dekat. Lebih baik kalian belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak mengganggu orang lain.”

Melihat Liu Mengting marah, ekspresi Sun Yuson langsung berubah. Ia melirik Zhang Yuze dengan tatapan penuh ancaman sebelum akhirnya pergi. Dalam sorot matanya tersimpan kebencian yang begitu pekat. Hati Zhang Yuze menegang. Ia diam-diam meningkatkan kewaspadaannya.

Zhang Yuze menoleh ke samping. Liu Mengting kembali fokus pada soal-soalnya, tampak tenang dan serius. Melihat sosoknya yang lembut dan rajin, perasaan hangat muncul di dada Zhang Yuze. Meski ia sempat ikut dimarahi, secara tidak langsung Liu Mengting telah membantunya keluar dari situasi sulit.

Sun Yuson adalah ketua kelas. Jika konflik mereka membesar dan sampai ke telinga wali kelas, tidak diragukan lagi sang guru akan memihak Sun Yuson. Bagaimanapun juga, ia adalah siswa teladan.

Pukul sembilan lewat tiga puluh malam, sesi belajar mandiri akhirnya berakhir. Zhang Yuze melangkah keluar sekolah dengan langkah ringan. Setelah kerja keras selama seminggu penuh, Energi Iman-nya telah mencapai angka lima ratus dua puluh—cukup untuk mulai mengaktifkan kemampuan-kemampuan super itu.

Ia menaiki bus nomor sembilan. Namun begitu pintu tertutup, ia langsung menyadari kesalahannya. Bus itu penuh sesak. Penumpang berdiri berhimpitan, nyaris tanpa celah.

“Sial…” gumamnya pelan.

Di bawah tekanan lautan manusia, tubuhnya terdorong ke sana kemari hingga akhirnya terjepit di sebuah sudut. Napasnya terasa sesak. Tepat ketika ia mencoba menyesuaikan posisi—

“Liu Mengting!”

Nama itu terucap tanpa sadar dari bibirnya.

Terpopuler

Comments

Mamat Stone

Mamat Stone

🤩

2026-06-07

0

Mamat Stone

Mamat Stone

🥰

2026-06-07

0

Jack Strom

Jack Strom

Wow, rajin banget!!? 😁

2026-03-16

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Bab 145
146 Bab 146
147 Bab 147
148 Bab 148
149 Bab 149
150 Bab 150
151 Bab 151
152 Bab 152
153 Bab 153
154 Bab 154
155 Bab 155
156 Bab 156
157 Bab 157
158 Bab 158
159 Bab 159
160 Bab 160
161 Bab 161
162 Bab 162
163 Bab 163
164 Bab 164
165 Bab 165
166 Bab 166
167 Bab 167
168 Bab 168
169 Bab 169
170 Bab 170
171 Bab 171
172 Bab 172
173 Bab 173
174 Bab 174
175 Bab 175
176 Bab 176
177 Bab 177
178 Bab 178
179 Bab 179
180 Bab 180
181 Bab 181
182 Bab 182
183 Bab 183
184 Bab 184
185 Bab 185
186 Bab 186
187 Bab 187
188 Bab 188
189 Bab 189
190 Bab 190
191 Bab 191
192 Bab 192
193 Bab 193
194 Bab 194
195 Bab 195
196 Bab 196
197 Bab 197
198 Bab 198
199 Bab 199
200 Bab 200
201 Bab 201
202 Bab 202
203 Bab 203
204 Bab 204
205 Bab 205
206 Bab 206
207 Bab 207
208 Bab 208
209 Bab 209
210 Tamat Jilid 1
Episodes

Updated 210 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Bab 145
146
Bab 146
147
Bab 147
148
Bab 148
149
Bab 149
150
Bab 150
151
Bab 151
152
Bab 152
153
Bab 153
154
Bab 154
155
Bab 155
156
Bab 156
157
Bab 157
158
Bab 158
159
Bab 159
160
Bab 160
161
Bab 161
162
Bab 162
163
Bab 163
164
Bab 164
165
Bab 165
166
Bab 166
167
Bab 167
168
Bab 168
169
Bab 169
170
Bab 170
171
Bab 171
172
Bab 172
173
Bab 173
174
Bab 174
175
Bab 175
176
Bab 176
177
Bab 177
178
Bab 178
179
Bab 179
180
Bab 180
181
Bab 181
182
Bab 182
183
Bab 183
184
Bab 184
185
Bab 185
186
Bab 186
187
Bab 187
188
Bab 188
189
Bab 189
190
Bab 190
191
Bab 191
192
Bab 192
193
Bab 193
194
Bab 194
195
Bab 195
196
Bab 196
197
Bab 197
198
Bab 198
199
Bab 199
200
Bab 200
201
Bab 201
202
Bab 202
203
Bab 203
204
Bab 204
205
Bab 205
206
Bab 206
207
Bab 207
208
Bab 208
209
Bab 209
210
Tamat Jilid 1

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!