Dokter Meets Mafia
Suasana malam yang seharusnya tenang berubah menjadi neraka kecil di sudut kota pelabuhan itu. Langit hitam tanpa bintang diselimuti asap mesiu yang perlahan memenuhi udara. Suara tembakan saling bersahut-sahutan memecah keheningan, memantul di antara bangunan gudang tua dan kontainer-kontainer besar yang berjajar di area pelabuhan.
Dorr! Dorr! Dorr!
Percikan api keluar dari moncong senjata, disusul jeritan beberapa pria yang tumbang bersimbah darah. Lampu-lampu redup di sekitar lokasi berkedip tidak stabil, menambah suasana mencekam yang membuat siapa pun akan memilih kabur sejauh mungkin dari tempat itu.
Namun tidak bagi mereka.
Malam itu, dua kelompok besar sedang bertarung habis-habisan demi mempertahankan wilayah kekuasaan.
Kelompok Red Devil berdiri di sisi timur pelabuhan, sementara kelompok Black Venom menguasai jalur distribusi di sisi barat. Perselisihan yang awalnya hanya perebutan jalur pengiriman ilegal kini berubah menjadi perang terbuka yang menelan banyak korban.
Di tengah kekacauan itu, seorang pria berdiri tegak dengan tatapan dingin setajam pisau.
Dia adalah Enzo Bucelli, pemimpin kelompok Red Devil.
Pria bertubuh tinggi itu bergerak cepat di balik tumpukan kontainer merah berkarat. Wajahnya tetap tenang meski peluru beterbangan di sekelilingnya. Seolah suara tembakan dan darah bukan lagi sesuatu yang asing baginya.
Dengan gerakan terlatih, Enzo mengangkat pistol hitam di tangannya lalu menarik pelatuk tanpa ragu.
Dorr!
Satu pria di kejauhan langsung roboh sambil memegangi dadanya.
Belum sempat musuh lain bereaksi, Enzo kembali menembakkan pelurunya.
Dorr! Dorr!
Dua orang sekaligus jatuh tersungkur ke tanah basah. Nafas mereka terputus dalam hitungan detik.
“Bos! Mereka masuk dari jalur utara!” teriak salah satu anak buahnya dari balik mobil pickup yang penuh lubang bekas peluru.
Enzo menoleh sekilas. Tatapannya tajam dan penuh tekanan.
“Jangan biarkan mereka mendekat ke gudang utama!” perintahnya tegas.
“Siap bos!”
Beberapa anggota Red Devil langsung bergerak berpencar mengikuti instruksi. Suara langkah kaki beradu dengan dentingan peluru yang menghantam besi kontainer.
Enzo kembali mengisi pelurunya dengan cepat. Jemarinya bergerak cekatan, menunjukkan betapa terbiasanya pria itu hidup di dunia penuh kekerasan.
Tatapan matanya kemudian mengarah pada seorang pria besar bertato ular hitam di leher yang berdiri di atas mobil jeep sambil memberondong tembakan ke arah anak buahnya.
Sudut bibir Enzo terangkat tipis.
“Akhirnya keluar juga,” gumamnya pelan.
Tanpa membuang waktu, Enzo melompat keluar dari persembunyian. Tubuhnya bergerak cepat menerobos hujan peluru. Salah satu musuh mencoba menembaknya dari samping, tetapi Enzo lebih dulu menarik pelatuk.
Dorr!
Pria itu langsung terjungkal.
“Kejar dia! Jangan biarkan Enzo lolos!” teriak seseorang.
Beberapa pria Black Venom langsung mengejar sambil menembak brutal. Peluru menghantam aspal di sekitar kaki Enzo, memercikkan debu dan serpihan batu. Namun pria itu tidak terlihat panik sedikit pun.
Dengan napas stabil, Enzo berlindung di balik drum besi lalu menembak balik tanpa banyak gerakan sia-sia.
Dorr!
Satu kepala tertembus.
Dorr!
Satu lagi jatuh sambil menjerit kesakitan.
Anak buah Red Devil yang melihat itu sampai bergidik sendiri. Mereka sudah lama mengenal Enzo sebagai pemimpin yang dingin dan kejam, tetapi setiap kali melihatnya bertarung secara langsung, rasa takut tetap muncul.
Enzo terlalu berbahaya.
Tatapan matanya bahkan tidak berubah ketika melihat orang mati di depan matanya.
“Bos! Mereka makin banyak!” seru salah satu anak buahnya dengan wajah panik.
Enzo mendecakkan lidah pelan.
“Kirim tim belakang, putar lewat dermaga. Kepung mereka dari kanan.”
“Tapi jumlah mereka—”
“Aku tidak suka mengulang perintah.”
Kalimat itu langsung membuat pria tadi diam dan buru-buru pergi menjalankan instruksi.
Sementara itu, dari kejauhan Rico tertawa keras sambil menembak membabi buta.
“Enzooo!” teriaknya lantang. “Wilayah ini mulai malam ini jadi milik Black Venom!”
Enzo keluar dari balik persembunyian. Tatapan matanya lurus menatap pria itu.
“Asal kamu tahu,” ucapnya dingin, “orang yang mencoba merebut wilayahku biasanya tidak hidup sampai pagi.”
Rico menyeringai penuh ejekan. “Kalau begitu kita lihat siapa yang mati duluan!”
Brukk!
Tiba-tiba ledakan keras mengguncang salah satu gudang di sisi timur. Api membumbung tinggi ke udara, membuat semua orang refleks menoleh.
“Bos! Gudang senjata kita dibakar!” teriak anak buah Red Devil panik.
Tatapan Enzo langsung berubah gelap. Urat di rahangnya menegang. Membuat emosinya semakin terusik.
Rico tertawa puas melihat reaksi tersebut.
“Bagaimana? Kehilangan markas rasanya menyakitkan, kan?”
Namun bukannya marah membabi buta, Enzo justru tersenyum tipis. Senyum yang membuat beberapa anak buah Black Venom mendadak merinding.
Karena mereka tahu… Senyum itu jauh lebih mengerikan daripada amarah.
Enzo perlahan mengangkat pistolnya, mengarah tepat ke kepala Rico dari jarak cukup jauh.
Angin malam berhembus membawa aroma darah dan asap mesiu.
Semua terasa hening selama beberapa detik.
Dorr!!!
“Shitt—!”
Belum sempat Enzo menembak Rico, sebuah peluru melesat dari arah samping dan menghantam lengan kirinya dengan keras. Tubuh Enzo sedikit terdorong ke belakang. Rasa panas menjalar cepat di sepanjang lengannya, disusul darah yang langsung mengalir deras membasahi kemeja hitamnya.
Pistol di tangannya terlepas lalu jatuh menghantam aspal.
Ting!
Suara logam itu terdengar jelas di tengah kekacauan.
“Bos Enzo!”
Namun Enzo tidak sempat memedulikan teriakan anak buahnya. Tatapan tajamnya langsung bergerak mencari arah tembakan tadi. Di atas salah satu kontainer, seorang sniper Black Venom masih membidik ke arahnya menggunakan senapan laras panjang.
Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.
Sniper itu menyeringai tipis sebelum kembali menarik pelatuk.
Dorr!
Peluru kedua melesat cepat membelah udara.
Namun refleks Enzo jauh lebih cepat. Pria itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke samping, berguling di atas aspal kasar sebelum berlindung di balik mobil pickup rusak. Peluru tadi hanya menghantam badan mobil hingga menimbulkan percikan api kecil.
Rico tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Habisi dia!” teriaknya keras sambil mengangkat pistol.
Dorr! Dorr! Dorr!
Rentetan peluru ditembakkan ke arah persembunyian Enzo tanpa ampun. Kaca mobil pickup pecah berhamburan. Besi mobil berlubang ditembus peluru dari berbagai sisi.
Salah satu anak buah Enzo mencoba mendekat membantu.
“Bos, Anda terluka—”
Dorr!
Kalimat pria itu terputus ketika sebuah peluru menembus kepalanya tepat di depan Enzo. Tubuhnya jatuh begitu saja dengan mata masih terbuka.
Enzo mengepalkan rahangnya kuat-kuat. Tatapan matanya berubah semakin dingin. Dia mencengkeram luka di lengannya sebentar, menahan rasa nyeri yang menusuk. Darah terus menetes dari sela jarinya, tetapi ekspresi wajahnya nyaris tidak berubah.
“Sniper di atas kontainer biru,” ucap Enzo dingin melalui earpiece kecil di telinganya. “Turunkan dia.”
“Siap, bos!” Sahut Joe salah satu orang kepercayaan Enzo.
Tak lama kemudian, salah satu anggota Red Devil yang berada di sisi timur langsung membalas tembakan ke arah sniper tersebut.
Dorr! Dorr!
Sniper Black Venom buru-buru berpindah posisi sambil mengumpat kesal.
Kesempatan kecil itu dimanfaatkan Enzo untuk bergerak.
Dengan satu tangan menekan luka tembaknya, Enzo berlari cepat melewati celah antar kontainer. Gerakannya tetap lincah meski darah terus mengalir dari lengannya.
Rico yang melihat itu langsung menggeram kasar.
“Sial! Kejar dia!”
Empat orang anak buahnya segera mengejar Enzo masuk ke area kontainer yang gelap dan sempit.
Suasana di sana jauh lebih sunyi dibanding area utama baku tembak. Hanya suara langkah kaki dan tetesan darah Enzo yang terdengar samar di atas aspal lembab.
Salah satu pria Black Venom berjalan perlahan sambil mengarahkan senjatanya ke depan.
“Hati-hati. Dia masih berbahaya.”
“Cuma tinggal tunggu dia kehabisan darah,” sahut yang lain sambil tertawa kecil.
Namun detik berikutnya—
Brukk!
Seseorang tiba-tiba menarik salah satu pria masuk ke balik kontainer.
“AARGHH!”
Jeritannya hanya berlangsung sesaat sebelum mendadak sunyi.
Ketiga pria lainnya langsung panik.
“Di mana dia?!”
Belum sempat mereka menemukan jawaban, Enzo muncul dari balik bayangan dengan wajah penuh darah. Di tangannya sudah ada pisau lipat milik musuh yang tadi dia habisi.
Duar!
Satu pria mencoba menembak, tetapi Enzo menendang tangannya hingga arah tembakan meleset. Dalam gerakan cepat, pisau itu langsung ditancapkan ke leher lawannya.
“Ukh—!”
Darah menyembur keluar. Enzo mencabut pisaunya tanpa ekspresi.
Dua pria lainnya mulai mundur ngeri. Mereka tahu Enzo berbahaya. Tetapi melihatnya bertarung sedekat ini terasa seperti menghadapi monster.
Pria itu bergerak terlalu cepat, terlalu tenang. Dan terlalu kejam.
“Brengsek... dia bukan manusia...” gumam salah satu dari mereka dengan suara gemetar.
Enzo menatap mereka tajam. Nafasnya mulai berat akibat kehilangan darah, tetapi aura mengerikan itu masih terasa kuat.
“Giliran kalian,” ucapnya dingin.
Kedua pria itu langsung menembak bersamaan.
Dorr! Dorr! Dorr!
Enzo berlari menerobos sempitnya lorong kontainer sambil menghindari peluru yang beterbangan. Salah satu peluru sempat menggores pipinya hingga menimbulkan luka tipis.
Namun beberapa detik kemudian—
Dorr!
Satu pria jatuh tertembak tepat di dadanya.
Ternyata Enzo berhasil merebut pistol dari lawannya yang sudah meninggal.
Pria terakhir langsung panik dan berbalik ingin kabur. Tetapi lagi-lagi suara tembakan meluncur begitu saja.
Dorr!
Peluru Enzo menembus punggungnya. Tubuh pria itu roboh tak bergerak.
Suasana kembali hening.
Enzo berdiri diam beberapa detik sambil mengatur napasnya. Darah dari lengannya kini menetes semakin banyak hingga membentuk genangan kecil di bawah kakinya.
Namun sebelum dia sempat bergerak, suara tepuk tangan terdengar dari ujung lorong kontainer.
Enzo perlahan mengangkat wajahnya.
Di sana, Rico berdiri sambil tersenyum sinis. Pistol di tangannya masih mengepul.
“Hebat,” ejeknya pelan. “Tapi kamu kelihatan mulai lemah, Enzo.”
Tatapan Enzo menajam.
Sedangkan Rico perlahan mengangkat pistolnya lurus ke arah kepala pemimpin Red Devil itu.
“Permainan selesai.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Atik Marwati
gabung thor🥰🥰🥰
2026-03-12
1