Bab 3: Selamat Pagi, Papa, Mama!

[POV: Vaya]

10 Tahun Kemudian...

"M-ma, mm—"

Vaya merasakan tangan kecil yang lembut menepuk-nepuk pipinya. Matanya yang terasa sangat berat perlahan terbuka. Sinar matahari yang masuk melalui jendela besar sangat terang, berbeda dengan lampu redup di kamarnya semalam.

"Ugh... pusing..." Vaya memegang kepalanya.

"Papa, Papa--dadada!" suara mungil itu kembali terdengar.

Pandangan Vaya yang buram perlahan fokus. Dia terbelalak. Di atas perutnya, seorang bayi perempuan cantik berusia sekitar dua tahun sedang duduk sambil tertawa, tangannya kini beralih menepuk-nepuk pria yang tidur di sebelah Vaya.

"Nenen!" si kecil itu menepuk dada pria itu dengan kuat.

Pria itu bergerak, mengerang pelan sebelum membuka matanya. Vaya menahan napas. Pria itu adalah Narev. Tapi dia tampak lebih dewasa, bahunya lebih lebar, dan rahangnya jauh lebih tegas.

"Sakit..." Narev mengucek matanya, satu tangannya masih melingkar protektif di pinggang Vaya. Dia melihat bayi itu, lalu melihat Vaya yang sedang melongo kaget. "Hah? Dari mana datangnya si kecil ini?"

Mereka berdua saling menatap, ekspresi mereka sama-sama bingung dan ketakutan. Sementara itu, bayi di samping mereka mulai menangis keras karena merasa diabaikan.

"Narev... kenapa kamu jadi tua?!" teriakku histeris. Suaraku melengking tinggi, memantul di dinding kamar yang luas dan mewah ini.

​Narev, yang biasanya selalu punya jawaban ketus, hanya bisa melongo. Dia menatap tangannya sendiri, lalu meraba rahangnya yang kini ditumbuhi bayangan jenggot tipis yang rapi. "Tua? Apa maksudmu, Cebol? Aku baru saja—"

​Kalimatnya terhenti saat dia menatap bayangannya di cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Dia terkesiap, melompat turun dari tempat tidur hingga hampir terjungkal. "Sial! Ini... ini bukan wajahku! Kenapa aku terlihat seperti pria berumur dua puluh delapan tahun?!"

​"Papa! Huaaa! Papa!"

​Bayi perempuan di atas tempat tidur itu mulai menangis kencang. Wajahnya memerah, air mata mulai mengalir di pipi tembamnya yang beraroma susu. Dia merangkak ke arahku, menarik-narik piyamaku yang berbahan sutra mahal—tunggu, sutra? Sejak kapan aku punya piyama begini?

​"Narev, bayinya nangis! Lakukan sesuatu!" seruku panik, menjauhkan diri seolah bayi itu adalah bom yang siap meledak.

​"Kenapa aku?! Aku tidak kenal dia!" Narev membalas, suaranya kini jauh lebih berat dan dalam, terdengar sangat maskulin hingga membuatku merinding meski dalam keadaan kacau.

​"Dia panggil kamu 'Papa'! Kamu pasti sudah melakukan sesuatu di masa depan ini!" aku menudingnya dengan telunjuk gemetar.

​"Jangan konyol! Semalam aku baru saja mengangkatmu dari sofa karena kau mabuk seperti babi! Bagaimana mungkin aku punya anak sebesar ini dalam semalam?!"

​Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dua kali. Seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi masuk sambil tersenyum lebar.

​"Selamat pagi, Tuan Narev, Nyonya Vaya. Oh, tampaknya Non Miciella sudah bangun duluan ya?" wanita itu menghampiri tempat tidur dan dengan luwes menggendong bayi itu. "Cup, cup, sayang... Mama dan Papa baru bangun ya? Mari, Bi Inah siapkan sarapannya di bawah."

​Aku dan Narev membeku. Kami saling pandang dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya.

​"Nyo-nyona?" aku terbata, menunjuk diriku sendiri. "Bi... Bi Inah? Saya... saya Nyonya di sini?"

​Bi Inah tertawa kecil, menganggap pertanyaanku sebagai lelucon pagi hari. "Nyonya Vaya ini ada-ada saja. Sudah tiga tahun menikah kok masih nanya. Oh iya, Tuan Narev, tadi sekretaris Tuan menelepon, katanya ada rapat penting jam sembilan di kantor pusat."

​Setelah Bi Inah keluar membawa bayi—yang katanya bernama Miciella—suasana kamar menjadi sunyi senyap. Hanya ada deru napas kami yang memburu.

​Aku segera berlari ke arah cermin yang tadi dilihat Narev. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Di depan sana, berdiri seorang wanita dewasa yang cantik. Rambutku yang biasanya dikuncir kuda asal-asalan, kini tergerai indah dengan gelombang yang teratur. Wajahku terlihat lebih matang, lebih anggun, dan di jari manisku... ada sebuah cincin berlian yang berkilau mewah.

​"Narev..." suaraku bergetar, hampir menangis. "Ini benar-benar sepuluh tahun ke depan. Kita... kita menikah?"

​Narev berjalan mendekat. Dia berdiri di belakangku, dan perbedaan tinggi kami masih tetap sama—dia masih seperti raksasa bagiku. Namun, tatapannya saat melihatku di cermin berubah. Ada binar aneh yang tidak pernah kulihat di masa SMA.

​"Cincin itu..." Narev meraih tanganku, jemarinya yang besar dan hangat melingkari tanganku dengan pas. "Itu marga Elvaro. Kau benar-benar istriku di sini."

​"Tapi bagaimana bisa?! Kita kan musuh! Aku benci kamu, Narev! Kamu selalu ngatur aku, panggil aku cebol, dan—"

​"Dan aku menjagamu dari semua cowok di sekolah," potong Narev. Dia memutar tubuhku agar menghadapnya. Tangannya kini berada di bahuku, terasa sangat posesif. "Vaya, dengerin aku. Kalau ini benar masa depan, berarti semua yang aku inginkan... sudah jadi nyata."

​Aku mengernyit, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa maksudmu 'semua yang kamu inginkan'?"

​Narev terdiam, rahangnya mengeras seolah dia baru saja membocorkan rahasia besar. Dia melepaskan bahuku dan berjalan ke arah jendela, melihat pemandangan kota dari lantai atas apartemen mewah ini.

​"Lupakan," gumamnya. "Yang penting sekarang, kita harus tahu bagaimana cara bertindak sebagai 'suami-istri' di depan orang-orang sebelum kita menemukan jalan pulang. Atau... kau memang ingin pulang ke masa di mana kau harus belajar untuk ujian masuk universitas lagi?"

​Aku tertegun. Benar juga. Di sini aku kaya, punya suami tampan (meski menyebalkan), dan seorang bayi yang menggemaskan. Tapi, pria di depanku ini adalah Narev yang kasar dari masa SMA, bukan Narev dewasa yang mencintaiku.

​"Kita harus cari cara buat balik, Narev! Aku belum siap jadi Ibu!"

​Narev berbalik, sebuah senyum tipis—hampir seperti seringai—muncul di wajah dewasanya yang sangat tampan. "Kita lihat saja nanti, Vaya. Tapi sebelum itu... kurasa kau harus ganti baju. Karena Bi Inah bilang, mertuamu—maksudku ibuku—akan datang berkunjung siang ini."

​"APA?!"

Episodes
1 Bab 1: Menara Pengawas Berjalan
2 Bab 2: Malam Kelulusan dan Insiden
3 Bab 3: Selamat Pagi, Papa, Mama!
4 Bab 4: Sandiwara Papa dan Mama
5 Bab 5: Rahasia di Balik Ruang Kerja
6 Bab 6: Antara Benci dan Kagum
7 Bab 7: Aroma Cemburu Si Raksasa
8 Bab 8: Pelabuhan di Tengah Badai
9 Bab 9: Kecerobohan dan Perhatian yang Menjalar
10 Bab 10: Bayang-Bayang dari Masa Lalu
11 Bab 11: Cinta dalam Kesendirian
12 Bab 12: Labirin Abu-Abu
13 Bab 13: Senyum Mici dan Jejak yang Tersembunyi
14 Bab 14: Pertemuan di Balik Bayang-Bayang
15 Bab 15: Amarah di Balik Kemudi
16 Bab 16: Bisikan dari Hati Kecil
17 Bab 17: Ketakutan dalam Kedinginan
18 Bab 18: Cookies dan Maaf yang Terlambat
19 Bab 19: Pelabuhan Terakhir
20 Bab 20: Sinar Pagi yang Berbeda
21 Bab 21: Pilihan di Ujung Jari
22 Bab 22: Dingin yang Menikam
23 Bab 23: Malaikat Kecil Penjaga Damai
24 Bab 24: Cermin Masa Lalu yang Retak
25 Bab 25: Ujian Kepercayaan di Meja Makan
26 Bab 26: Bayang-Bayang Malam Kelulusan
27 Bab 27: Belajar Melepaskan Genggaman
28 Bab 28: Tamu yang Tak Diundang
29 Bab 29: Runtuhnya Istana Pasir
30 Bab 30: Menyerah pada Cinta
31 Bab 31: Suara yang Hilang di Tengah Badai
32 Bab 32: Hujan, Luka, dan Penyerahan Diri
33 Bab 33: Janji di Balik Cermin
34 Bab 34: Kartu Mati dan Amarah Raksasa
35 Bab 35: Pelabuhan di Balik Dekapan Posesif
36 Bab 36: Jerat Hangat Sang Raksasa
37 Bab 37: Balon, Es Krim, dan Pengawasan Raksasa
38 Bab 38: Sisa Badai di Balik Pintu Tertutup
39 Bab 39: Kebenaran yang Terkunci
40 Bab 40: Fragmen yang Pecah
41 Bab 41: Benang Merah Magdalena
42 Bab 42: Pertemuan dengan Sang Arsitek Kebencian
43 Bab 43: Takhta yang Berdarah
44 Bab 44: Benih di Malam yang Tenang
45 Bab 45: Aroma Kopi dan Rahasia Kecil
46 Bab 46: Prahara Mangga Muda di Pukul Dua
47 Bab 47: Raksasa dan Kostum Penuh Warna
48 Bab 48: Kekacauan di Dapur Raksasa
49 Bab 49: Penjaga yang Terluka di Depan Nisan
50 Bab 50: Tamu dari Celah Waktu
51 Bab 51: Cahaya di Perayaan Tujuh Bulan
52 Bab 52: Taruhan Nyawa di Ruang Persalinan
53 Bab 53: Kepulangan Sang Pangeran Kecil
54 Bab 54: CEO dan Gendongan Bayi
55 Bab 55: Peragaan Busana dan Posesif yang Tak Berubah
56 Bab 56: Mall dalam Genggaman Sang Raksasa
57 Bab 57: Paris, Mode, dan Posesif Lintas Benua
58 Bab 58: Langit Paris dan Aturan Narev
59 Bab 59: Selamat Datang di "Wilayah" Narev
60 Bab 60: Sangkar Emas di Plaza Athénée
61 Bab 61: Perjamuan di Atas Bara
62 Bab 62: Mahakarya di Atas Catwalk
63 Bab 63: Sisi Lain Menara Eiffel
64 Bab 64: Jejak Terakhir di Kota Cahaya
65 Bab 65: Singgasana di Ketinggian 40.000 Kaki
66 Bab 66: Labirin Pikiran Sang Raksasa
67 Bab 67: Labuh di Tanah Air
68 Bab 68: Sangkar di Tengah Kota
69 Bab 69: Singgasana Baru di Anvaya Atelier
70 Bab 70: Delapan Jam dalam Pantauan
71 Bab 71: Benang-Benang Kendali
72 Bab 72: Ambang Pintu Kebebasan
73 Bab 73: Delapan Jam dalam Pantauan Bayangan
74 Bab 74: Jamuan dalam Pengawasan
75 Bab 75: Batas Waktu Sang Raksasa
76 Bab 76: Labirin Pelukan Sang Raksasa
77 Bab 77: Segel di Balik Pintu Jati
78 Bab 78: Sketsa di Balik Terali Emas
79 Bab 79: Dilema di Ruang Tengah
80 Bab 80: Labirin Sutra di Sayap Timur
81 Bab 81: Hari Pertama di Balik Gerbang Elvaro
82 Bab 82: Monitor Ketiga
83 Bab 83: Invasi Sang Pemilik
84 Bab 84: Jamuan di Balik Tirai Besi
85 Bab 85: Akses Tanpa Batas
86 Bab 86: Bayangan di Ambang Pintu
87 Bab 87: Filter Sang Penguasa
88 Bab 88: Kompromi Sang Diktator
89 Bab 89: Wawancara di Bawah Bayang-Bayang
90 Bab 90: Gema di Ruang Kedap
91 Bab 91: Fondasi di Atas Obsesi
92 Bab 92: Tanah Milik Sang Penguasa
93 Bab 93: Gema di Lahan Kosong
94 Bab 94: Labirin di Dalam Dinding
95 Bab 95: Sangkar Tanpa Jendela
96 Bab 96: Estetika Sang Pemilik
97 Bab 97: Sensor Sang Raksasa
98 Bab 98: Gema di Menara Gading
99 Bab 99: Malam Terakhir di Sayap Timur
100 Bab 100: Takhta di Atas Awan (Final)
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1: Menara Pengawas Berjalan
2
Bab 2: Malam Kelulusan dan Insiden
3
Bab 3: Selamat Pagi, Papa, Mama!
4
Bab 4: Sandiwara Papa dan Mama
5
Bab 5: Rahasia di Balik Ruang Kerja
6
Bab 6: Antara Benci dan Kagum
7
Bab 7: Aroma Cemburu Si Raksasa
8
Bab 8: Pelabuhan di Tengah Badai
9
Bab 9: Kecerobohan dan Perhatian yang Menjalar
10
Bab 10: Bayang-Bayang dari Masa Lalu
11
Bab 11: Cinta dalam Kesendirian
12
Bab 12: Labirin Abu-Abu
13
Bab 13: Senyum Mici dan Jejak yang Tersembunyi
14
Bab 14: Pertemuan di Balik Bayang-Bayang
15
Bab 15: Amarah di Balik Kemudi
16
Bab 16: Bisikan dari Hati Kecil
17
Bab 17: Ketakutan dalam Kedinginan
18
Bab 18: Cookies dan Maaf yang Terlambat
19
Bab 19: Pelabuhan Terakhir
20
Bab 20: Sinar Pagi yang Berbeda
21
Bab 21: Pilihan di Ujung Jari
22
Bab 22: Dingin yang Menikam
23
Bab 23: Malaikat Kecil Penjaga Damai
24
Bab 24: Cermin Masa Lalu yang Retak
25
Bab 25: Ujian Kepercayaan di Meja Makan
26
Bab 26: Bayang-Bayang Malam Kelulusan
27
Bab 27: Belajar Melepaskan Genggaman
28
Bab 28: Tamu yang Tak Diundang
29
Bab 29: Runtuhnya Istana Pasir
30
Bab 30: Menyerah pada Cinta
31
Bab 31: Suara yang Hilang di Tengah Badai
32
Bab 32: Hujan, Luka, dan Penyerahan Diri
33
Bab 33: Janji di Balik Cermin
34
Bab 34: Kartu Mati dan Amarah Raksasa
35
Bab 35: Pelabuhan di Balik Dekapan Posesif
36
Bab 36: Jerat Hangat Sang Raksasa
37
Bab 37: Balon, Es Krim, dan Pengawasan Raksasa
38
Bab 38: Sisa Badai di Balik Pintu Tertutup
39
Bab 39: Kebenaran yang Terkunci
40
Bab 40: Fragmen yang Pecah
41
Bab 41: Benang Merah Magdalena
42
Bab 42: Pertemuan dengan Sang Arsitek Kebencian
43
Bab 43: Takhta yang Berdarah
44
Bab 44: Benih di Malam yang Tenang
45
Bab 45: Aroma Kopi dan Rahasia Kecil
46
Bab 46: Prahara Mangga Muda di Pukul Dua
47
Bab 47: Raksasa dan Kostum Penuh Warna
48
Bab 48: Kekacauan di Dapur Raksasa
49
Bab 49: Penjaga yang Terluka di Depan Nisan
50
Bab 50: Tamu dari Celah Waktu
51
Bab 51: Cahaya di Perayaan Tujuh Bulan
52
Bab 52: Taruhan Nyawa di Ruang Persalinan
53
Bab 53: Kepulangan Sang Pangeran Kecil
54
Bab 54: CEO dan Gendongan Bayi
55
Bab 55: Peragaan Busana dan Posesif yang Tak Berubah
56
Bab 56: Mall dalam Genggaman Sang Raksasa
57
Bab 57: Paris, Mode, dan Posesif Lintas Benua
58
Bab 58: Langit Paris dan Aturan Narev
59
Bab 59: Selamat Datang di "Wilayah" Narev
60
Bab 60: Sangkar Emas di Plaza Athénée
61
Bab 61: Perjamuan di Atas Bara
62
Bab 62: Mahakarya di Atas Catwalk
63
Bab 63: Sisi Lain Menara Eiffel
64
Bab 64: Jejak Terakhir di Kota Cahaya
65
Bab 65: Singgasana di Ketinggian 40.000 Kaki
66
Bab 66: Labirin Pikiran Sang Raksasa
67
Bab 67: Labuh di Tanah Air
68
Bab 68: Sangkar di Tengah Kota
69
Bab 69: Singgasana Baru di Anvaya Atelier
70
Bab 70: Delapan Jam dalam Pantauan
71
Bab 71: Benang-Benang Kendali
72
Bab 72: Ambang Pintu Kebebasan
73
Bab 73: Delapan Jam dalam Pantauan Bayangan
74
Bab 74: Jamuan dalam Pengawasan
75
Bab 75: Batas Waktu Sang Raksasa
76
Bab 76: Labirin Pelukan Sang Raksasa
77
Bab 77: Segel di Balik Pintu Jati
78
Bab 78: Sketsa di Balik Terali Emas
79
Bab 79: Dilema di Ruang Tengah
80
Bab 80: Labirin Sutra di Sayap Timur
81
Bab 81: Hari Pertama di Balik Gerbang Elvaro
82
Bab 82: Monitor Ketiga
83
Bab 83: Invasi Sang Pemilik
84
Bab 84: Jamuan di Balik Tirai Besi
85
Bab 85: Akses Tanpa Batas
86
Bab 86: Bayangan di Ambang Pintu
87
Bab 87: Filter Sang Penguasa
88
Bab 88: Kompromi Sang Diktator
89
Bab 89: Wawancara di Bawah Bayang-Bayang
90
Bab 90: Gema di Ruang Kedap
91
Bab 91: Fondasi di Atas Obsesi
92
Bab 92: Tanah Milik Sang Penguasa
93
Bab 93: Gema di Lahan Kosong
94
Bab 94: Labirin di Dalam Dinding
95
Bab 95: Sangkar Tanpa Jendela
96
Bab 96: Estetika Sang Pemilik
97
Bab 97: Sensor Sang Raksasa
98
Bab 98: Gema di Menara Gading
99
Bab 99: Malam Terakhir di Sayap Timur
100
Bab 100: Takhta di Atas Awan (Final)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!