Bab 5: Rahasia di Balik Ruang Kerja

[POV: Vaya]

Setelah Mama Dewi pulang dan Miciella sudah tidur siang di kamarnya yang penuh dengan mainan mewah, suasana apartemen menjadi sunyi. Narev sedang berada di kamar mandi, dan aku menggunakan kesempatan ini untuk menjelajahi sudut rumah yang sedari tadi membuatku penasaran: Ruang Kerja Narev.

Pintu kayunya yang berat terasa dingin saat kusentuh. Dengan jantung berdebar, aku memutar knop pintu. Cklek. Ruangan itu beraroma maskulin, perpaduan kayu cendana dan kertas baru. Di dindingnya terdapat rak buku yang menjulang tinggi, namun mataku tertuju pada sebuah brankas kecil yang pintunya sedikit terbuka—seolah pemiliknya terburu-buru hingga lupa menguncinya.

"Narev nggak biasanya seceroboh ini," gumamku.

Aku mendekat dan menarik laci di dalam brankas itu. Isinya bukan tumpukan uang atau emas, melainkan sebuah kotak kayu tua yang sangat familiar. Itu adalah kotak tempatku menyimpan surat-surat dan barang kenangan saat SMA.

"Kenapa ini ada di dia?"

Aku membukanya. Di dalamnya terdapat tumpukan foto. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat isi foto-foto itu. Bukan foto pernikahan kami, melainkan foto-fotonya yang diambil secara diam-diam.

Ada foto saat aku sedang makan bakso di kantin, foto saat aku tertidur di perpustakaan, bahkan foto saat aku sedang menangis di belakang sekolah karena nilai matematikaku jelek. Di balik setiap foto, ada tulisan tangan Narev yang rapi namun tajam:

’Milikku. Jangan sampai ada yang menyentuhnya.’

’12 April: Dia tersenyum pada si bodoh Rian. Harus kupastikan itu tidak terjadi lagi.’

"Ini... ini gila," bisikku, tanganku gemetar hebat.

Aku menggali lebih dalam dan menemukan sebuah buku agenda tebal berwarna hitam. Saat aku membukanya, aku menemukan daftar panjang. Nama-nama pria yang pernah dekat denganku di masa sekolah hingga kuliah. Di samping nama mereka, ada catatan kecil seperti: ’Sudah diurus’, ‘Pindah sekolah’, ‘Beasiswa dibatalkan’.

"Vaya."

Aku terlonjak hingga buku itu terjatuh ke lantai. Narev berdiri di ambang pintu. Dia hanya mengenakan celana panjang hitam dan kaos oblong putih yang pas di tubuhnya. Rambutnya masih sedikit basah, tapi tatapan matanya... tatapan itu bukan milik Narev yang menyebalkan di SMA. Itu adalah tatapan seorang pria yang baru saja tertangkap basah menyimpan obsesi gelap.

"Narev... apa-apaan ini?" aku menunjuk tumpukan foto dan buku agenda itu. "Kenapa kamu punya foto-foto rahasiaku? Dan catatan ini... apa maksudnya 'sudah diurus'?"

Narev melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan suara klik yang mengintimidasi. Dia berjalan mendekat, setiap langkahnya membuatku merasa semakin kecil. Dia tidak tampak menyesal. Malah, dia memungut buku agenda itu dengan tenang.

"Kamu seharusnya tidak masuk ke sini tanpa izin, Sayang," ucapnya, suaranya rendah dan serak.

"Jangan panggil aku sayang! Kamu... kamu memata-matai aku selama sepuluh tahun ini? Kamu mengatur siapa saja yang boleh berteman denganku?!" suaraku meninggi, bercampur antara takut dan marah.

Narev meletakkan buku itu di meja, lalu dia tiba-tiba mencengkeram kedua bahuku, mendorongku pelan hingga aku terdesak ke meja kerjanya. Dia menunduk, wajahnya sangat dekat hingga aku bisa merasakan deru napasnya yang memburu.

"Memangnya kamu pikir kenapa tidak ada satu pun cowok yang berani menembakmu setelah lulus SMA, Anvaya?" tanyanya dengan nada dingin yang membuatku merinding. "Kamu pikir itu karena mereka tidak tertarik? Tidak. Itu karena aku memastikan mereka semua tahu bahwa menyentuhmu berarti berurusan dengan neraka."

"Kamu psikopat, Narev!" air mata mulai menggenang di mataku. "Kita menikah karena kamu menjebakku? Kamu memanipulasi hidupku?!"

Narev tertawa kecil, tawa yang terdengar getir. "Aku mencintaimu, Vaya. Dengan cara yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh otak kecilmu itu. Aku menjagamu dari dunia yang kotor. Aku memberimu segalanya—rumah ini, Mici, kenyamanan. Apa itu belum cukup?"

"Ini bukan cinta! Ini obsesi!" aku mencoba mendorongnya, tapi dia justru menangkap kedua pergelangan tanganku dan menguncinya di atas meja.

"Sebut sesukamu," bisik Narev tepat di depan bibirku. "Tapi kenyataannya sekarang kita di sini. Kamu adalah Nyonya Elvaro. Ibu dari Miciella. Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu kembali ke masa lalu hanya untuk menghapus apa yang sudah susah payah aku bangun."

"Narev, lepasin! Mici bisa bangun kalau dengar kita berantem!"

Mendengar nama anaknya, Narev sedikit melunakkan cengkeramannya, tapi dia tidak melepaskanku. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup aromaku dalam-dalam.

"Mici butuh Papanya. Dan aku butuh Mamanya," gumamnya parau. "Jangan mencoba mencari jalan pulang, Vaya. Karena di masa lalu pun, aku tetap akan melakukan hal yang sama untuk memilikimu. Kamu tidak punya pilihan selain tetap di sini. Bersamaku."

Aku terisak pelan. Di satu sisi, aku sangat takut pada pria dewasa yang ada di depanku ini. Tapi di sisi lain, ada bagian dari diriku yang merasa... terlindungi dengan cara yang salah.

"Pa... Papa? Mama?"

Suara mungil itu terdengar dari arah pintu yang sedikit terbuka. Miciella berdiri di sana sambil memeluk boneka kelincinya, matanya yang bulat tampak mengantuk.

Seketika, aura gelap Narev menghilang. Dia melepaskan tanganku dan segera menghampiri Mici, menggendongnya dengan gerakan yang sangat lembut—seolah dia bukan pria yang baru saja mengancamku.

"Eh, anak Papa sudah bangun? Sini sayang," Narev mencium pipi Mici, lalu menoleh padaku dengan tatapan yang kembali tenang, namun penuh peringatan. "Ayo Mama, kita temani Mici main di taman bawah. Jangan bahas hal-hal membosankan di ruang kerja lagi, ya?"

Aku berdiri mematung di tengah ruangan. Aku menatap punggung Narev yang menggendong Mici keluar. Pria itu adalah raksasa yang sama, tapi kini dia memiliki penjara emas yang sangat indah untuk mengurungku.

...****************...

Terpopuler

Comments

awesome moment

awesome moment

smg vaya membalas cinta nares dgn sm besar

2026-03-15

1

Nadira ST

Nadira ST

lanjut thor💪💪💪💪💪💪

2026-03-15

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Menara Pengawas Berjalan
2 Bab 2: Malam Kelulusan dan Insiden
3 Bab 3: Selamat Pagi, Papa, Mama!
4 Bab 4: Sandiwara Papa dan Mama
5 Bab 5: Rahasia di Balik Ruang Kerja
6 Bab 6: Antara Benci dan Kagum
7 Bab 7: Aroma Cemburu Si Raksasa
8 Bab 8: Pelabuhan di Tengah Badai
9 Bab 9: Kecerobohan dan Perhatian yang Menjalar
10 Bab 10: Bayang-Bayang dari Masa Lalu
11 Bab 11: Cinta dalam Kesendirian
12 Bab 12: Labirin Abu-Abu
13 Bab 13: Senyum Mici dan Jejak yang Tersembunyi
14 Bab 14: Pertemuan di Balik Bayang-Bayang
15 Bab 15: Amarah di Balik Kemudi
16 Bab 16: Bisikan dari Hati Kecil
17 Bab 17: Ketakutan dalam Kedinginan
18 Bab 18: Cookies dan Maaf yang Terlambat
19 Bab 19: Pelabuhan Terakhir
20 Bab 20: Sinar Pagi yang Berbeda
21 Bab 21: Pilihan di Ujung Jari
22 Bab 22: Dingin yang Menikam
23 Bab 23: Malaikat Kecil Penjaga Damai
24 Bab 24: Cermin Masa Lalu yang Retak
25 Bab 25: Ujian Kepercayaan di Meja Makan
26 Bab 26: Bayang-Bayang Malam Kelulusan
27 Bab 27: Belajar Melepaskan Genggaman
28 Bab 28: Tamu yang Tak Diundang
29 Bab 29: Runtuhnya Istana Pasir
30 Bab 30: Menyerah pada Cinta
31 Bab 31: Suara yang Hilang di Tengah Badai
32 Bab 32: Hujan, Luka, dan Penyerahan Diri
33 Bab 33: Janji di Balik Cermin
34 Bab 34: Kartu Mati dan Amarah Raksasa
35 Bab 35: Pelabuhan di Balik Dekapan Posesif
36 Bab 36: Jerat Hangat Sang Raksasa
37 Bab 37: Balon, Es Krim, dan Pengawasan Raksasa
38 Bab 38: Sisa Badai di Balik Pintu Tertutup
39 Bab 39: Kebenaran yang Terkunci
40 Bab 40: Fragmen yang Pecah
41 Bab 41: Benang Merah Magdalena
42 Bab 42: Pertemuan dengan Sang Arsitek Kebencian
43 Bab 43: Takhta yang Berdarah
44 Bab 44: Benih di Malam yang Tenang
45 Bab 45: Aroma Kopi dan Rahasia Kecil
46 Bab 46: Prahara Mangga Muda di Pukul Dua
47 Bab 47: Raksasa dan Kostum Penuh Warna
48 Bab 48: Kekacauan di Dapur Raksasa
49 Bab 49: Penjaga yang Terluka di Depan Nisan
50 Bab 50: Tamu dari Celah Waktu
51 Bab 51: Cahaya di Perayaan Tujuh Bulan
52 Bab 52: Taruhan Nyawa di Ruang Persalinan
53 Bab 53: Kepulangan Sang Pangeran Kecil
54 Bab 54: CEO dan Gendongan Bayi
55 Bab 55: Peragaan Busana dan Posesif yang Tak Berubah
56 Bab 56: Mall dalam Genggaman Sang Raksasa
57 Bab 57: Paris, Mode, dan Posesif Lintas Benua
58 Bab 58: Langit Paris dan Aturan Narev
59 Bab 59: Selamat Datang di "Wilayah" Narev
60 Bab 60: Sangkar Emas di Plaza Athénée
61 Bab 61: Perjamuan di Atas Bara
62 Bab 62: Mahakarya di Atas Catwalk
63 Bab 63: Sisi Lain Menara Eiffel
64 Bab 64: Jejak Terakhir di Kota Cahaya
65 Bab 65: Singgasana di Ketinggian 40.000 Kaki
66 Bab 66: Labirin Pikiran Sang Raksasa
67 Bab 67: Labuh di Tanah Air
68 Bab 68: Sangkar di Tengah Kota
69 Bab 69: Singgasana Baru di Anvaya Atelier
70 Bab 70: Delapan Jam dalam Pantauan
71 Bab 71: Benang-Benang Kendali
72 Bab 72: Ambang Pintu Kebebasan
73 Bab 73: Delapan Jam dalam Pantauan Bayangan
74 Bab 74: Jamuan dalam Pengawasan
75 Bab 75: Batas Waktu Sang Raksasa
76 Bab 76: Labirin Pelukan Sang Raksasa
77 Bab 77: Segel di Balik Pintu Jati
78 Bab 78: Sketsa di Balik Terali Emas
79 Bab 79: Dilema di Ruang Tengah
80 Bab 80: Labirin Sutra di Sayap Timur
81 Bab 81: Hari Pertama di Balik Gerbang Elvaro
82 Bab 82: Monitor Ketiga
83 Bab 83: Invasi Sang Pemilik
84 Bab 84: Jamuan di Balik Tirai Besi
85 Bab 85: Akses Tanpa Batas
86 Bab 86: Bayangan di Ambang Pintu
87 Bab 87: Filter Sang Penguasa
88 Bab 88: Kompromi Sang Diktator
89 Bab 89: Wawancara di Bawah Bayang-Bayang
90 Bab 90: Gema di Ruang Kedap
91 Bab 91: Fondasi di Atas Obsesi
92 Bab 92: Tanah Milik Sang Penguasa
93 Bab 93: Gema di Lahan Kosong
94 Bab 94: Labirin di Dalam Dinding
95 Bab 95: Sangkar Tanpa Jendela
96 Bab 96: Estetika Sang Pemilik
97 Bab 97: Sensor Sang Raksasa
98 Bab 98: Gema di Menara Gading
99 Bab 99: Malam Terakhir di Sayap Timur
100 Bab 100: Takhta di Atas Awan (Final)
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1: Menara Pengawas Berjalan
2
Bab 2: Malam Kelulusan dan Insiden
3
Bab 3: Selamat Pagi, Papa, Mama!
4
Bab 4: Sandiwara Papa dan Mama
5
Bab 5: Rahasia di Balik Ruang Kerja
6
Bab 6: Antara Benci dan Kagum
7
Bab 7: Aroma Cemburu Si Raksasa
8
Bab 8: Pelabuhan di Tengah Badai
9
Bab 9: Kecerobohan dan Perhatian yang Menjalar
10
Bab 10: Bayang-Bayang dari Masa Lalu
11
Bab 11: Cinta dalam Kesendirian
12
Bab 12: Labirin Abu-Abu
13
Bab 13: Senyum Mici dan Jejak yang Tersembunyi
14
Bab 14: Pertemuan di Balik Bayang-Bayang
15
Bab 15: Amarah di Balik Kemudi
16
Bab 16: Bisikan dari Hati Kecil
17
Bab 17: Ketakutan dalam Kedinginan
18
Bab 18: Cookies dan Maaf yang Terlambat
19
Bab 19: Pelabuhan Terakhir
20
Bab 20: Sinar Pagi yang Berbeda
21
Bab 21: Pilihan di Ujung Jari
22
Bab 22: Dingin yang Menikam
23
Bab 23: Malaikat Kecil Penjaga Damai
24
Bab 24: Cermin Masa Lalu yang Retak
25
Bab 25: Ujian Kepercayaan di Meja Makan
26
Bab 26: Bayang-Bayang Malam Kelulusan
27
Bab 27: Belajar Melepaskan Genggaman
28
Bab 28: Tamu yang Tak Diundang
29
Bab 29: Runtuhnya Istana Pasir
30
Bab 30: Menyerah pada Cinta
31
Bab 31: Suara yang Hilang di Tengah Badai
32
Bab 32: Hujan, Luka, dan Penyerahan Diri
33
Bab 33: Janji di Balik Cermin
34
Bab 34: Kartu Mati dan Amarah Raksasa
35
Bab 35: Pelabuhan di Balik Dekapan Posesif
36
Bab 36: Jerat Hangat Sang Raksasa
37
Bab 37: Balon, Es Krim, dan Pengawasan Raksasa
38
Bab 38: Sisa Badai di Balik Pintu Tertutup
39
Bab 39: Kebenaran yang Terkunci
40
Bab 40: Fragmen yang Pecah
41
Bab 41: Benang Merah Magdalena
42
Bab 42: Pertemuan dengan Sang Arsitek Kebencian
43
Bab 43: Takhta yang Berdarah
44
Bab 44: Benih di Malam yang Tenang
45
Bab 45: Aroma Kopi dan Rahasia Kecil
46
Bab 46: Prahara Mangga Muda di Pukul Dua
47
Bab 47: Raksasa dan Kostum Penuh Warna
48
Bab 48: Kekacauan di Dapur Raksasa
49
Bab 49: Penjaga yang Terluka di Depan Nisan
50
Bab 50: Tamu dari Celah Waktu
51
Bab 51: Cahaya di Perayaan Tujuh Bulan
52
Bab 52: Taruhan Nyawa di Ruang Persalinan
53
Bab 53: Kepulangan Sang Pangeran Kecil
54
Bab 54: CEO dan Gendongan Bayi
55
Bab 55: Peragaan Busana dan Posesif yang Tak Berubah
56
Bab 56: Mall dalam Genggaman Sang Raksasa
57
Bab 57: Paris, Mode, dan Posesif Lintas Benua
58
Bab 58: Langit Paris dan Aturan Narev
59
Bab 59: Selamat Datang di "Wilayah" Narev
60
Bab 60: Sangkar Emas di Plaza Athénée
61
Bab 61: Perjamuan di Atas Bara
62
Bab 62: Mahakarya di Atas Catwalk
63
Bab 63: Sisi Lain Menara Eiffel
64
Bab 64: Jejak Terakhir di Kota Cahaya
65
Bab 65: Singgasana di Ketinggian 40.000 Kaki
66
Bab 66: Labirin Pikiran Sang Raksasa
67
Bab 67: Labuh di Tanah Air
68
Bab 68: Sangkar di Tengah Kota
69
Bab 69: Singgasana Baru di Anvaya Atelier
70
Bab 70: Delapan Jam dalam Pantauan
71
Bab 71: Benang-Benang Kendali
72
Bab 72: Ambang Pintu Kebebasan
73
Bab 73: Delapan Jam dalam Pantauan Bayangan
74
Bab 74: Jamuan dalam Pengawasan
75
Bab 75: Batas Waktu Sang Raksasa
76
Bab 76: Labirin Pelukan Sang Raksasa
77
Bab 77: Segel di Balik Pintu Jati
78
Bab 78: Sketsa di Balik Terali Emas
79
Bab 79: Dilema di Ruang Tengah
80
Bab 80: Labirin Sutra di Sayap Timur
81
Bab 81: Hari Pertama di Balik Gerbang Elvaro
82
Bab 82: Monitor Ketiga
83
Bab 83: Invasi Sang Pemilik
84
Bab 84: Jamuan di Balik Tirai Besi
85
Bab 85: Akses Tanpa Batas
86
Bab 86: Bayangan di Ambang Pintu
87
Bab 87: Filter Sang Penguasa
88
Bab 88: Kompromi Sang Diktator
89
Bab 89: Wawancara di Bawah Bayang-Bayang
90
Bab 90: Gema di Ruang Kedap
91
Bab 91: Fondasi di Atas Obsesi
92
Bab 92: Tanah Milik Sang Penguasa
93
Bab 93: Gema di Lahan Kosong
94
Bab 94: Labirin di Dalam Dinding
95
Bab 95: Sangkar Tanpa Jendela
96
Bab 96: Estetika Sang Pemilik
97
Bab 97: Sensor Sang Raksasa
98
Bab 98: Gema di Menara Gading
99
Bab 99: Malam Terakhir di Sayap Timur
100
Bab 100: Takhta di Atas Awan (Final)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!