Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

SARAPAN MENCEKAM DI DAPUR BERSAMA

“SINTING! SINTA SINTING! LU LIHAT APA YANG LU PERBUAT?!”

Suara bariton yang melengking itu memecah keheningan apartemen lantai 12 di pagi buta. Jingga berdiri di depan meja makan kayu minimalis dengan wajah yang lebih merah dari matahari terbit. Telunjuknya mengarah gemetar pada permukaan meja yang—menurutnya—adalah tempat kejadian perkara sebuah tindak kriminal tingkat tinggi.

Sinta, yang masih mengenakan daster satin warna navy dan handuk melilit di kepala, muncul dari balik pintu kamar mandi dengan wajah bantal yang sangat tidak bersahabat.

“Apaan sih, Jing?! Pagi-pagi udah teriak kayak anjing kejepit pintu! Berisik!” balas Sinta, tak kalah nyaring.

“Lu lihat ini!” Jingga menunjuk remah-remah roti gandum yang berceceran di atas meja. Tak hanya itu, ada tetesan selai kacang yang mulai mengering tepat di atas taplak meja mahal pemberian ibunda Jingga. “Gue udah bilang berapa kali? Makan itu pakai piring! Jangan langsung di atas meja kayak ayam lagi dipatokin!”

Sinta memutar bola matanya malas. Dia melangkah maju, merebut pisau selai yang masih tergeletak di sana, lalu sengaja menjatuhkan sisa remah roti di tangannya ke lantai. “Cuma remah roti, Jingga. Remah. Roti. Tinggal dilap pakai tisu juga hilang. Lu nggak usah lebay, deh. Kayak nggak pernah makan aja.”

“Ini bukan masalah makannya, ini masalah prinsip! Gue yang bayar iuran kebersihan apartemen ini lebih banyak, jadi gue punya hak buat rumah ini tetap steril dari remah-remah setan ini!”

“Iuran lebih banyak karena lu pakai listrik buat main game sampai jam tiga pagi!” Sinta berkacak pinggang, napasnya memburu. “Lagian, siapa yang suruh kita nikah, hah? Kalau bukan karena kakek lu yang maksa, gue juga ogah serumah sama cowok OCD kayak lu!”

Jingga mendengus, tawa sinis keluar dari mulutnya yang rapi. “Oh, jadi sekarang bawa-bawa kakek? Hebat. Lu pikir gue mau? Nikah sama cewek yang kalau tidur ngoroknya ngalahin suara traktor?”

“GUE NGGAK NGOROK, JING!”

“Tuh kan, lu manggil gue apa tadi?!”

“JINGGA! Maksud gue Jingga! Tapi kalau lu mau ngerasa terpanggil sebagai ‘Anjing’, ya silakan!” Sinta menyeringai puas melihat urat leher Jingga menonjol.

Pertengkaran pagi itu adalah rutinitas wajib. Sejak tiga bulan lalu, ketika surat nikah merah dan hijau itu terpaksa mereka tanda tangani di bawah ancaman pencabutan warisan, hidup mereka berubah menjadi medan perang. Di kantor, mereka adalah rekan divisi pemasaran yang saling bersaing. Di rumah, mereka adalah dua orang asing yang dipaksa berbagi oksigen.

Jingga melirik jam di dinding. Pukul 07.15 WIB. Matanya mendelik. “Kamar mandi! Gue harus mandi sekarang! Ada rapat penting sama klien jam delapan!”

Sinta yang menyadari hal yang sama, langsung melesat bagai anak panah. “Nggak bisa! Gue duluan! Rambut gue masih penuh sampo tadi!”

“Woi! Gue udah telanjang dada, Sin! Minggir!”

“Bodo amat! Siapa suruh lambat!”

BRAKK!

Pintu kamar mandi tertutup tepat di depan hidung Jingga. Dia bisa mendengar suara kunci diputar dari dalam.

“SINTA! Buka nggak?! Gue ada presentasi pagi ini! Kalau gue telat, bos Adrian bakal maki-maki gue!” teriak Jingga sambil menggedor pintu sekuat tenaga.

Dari dalam, Sinta tertawa jahat di bawah kucuran shower. “Biarin! Biar pacar gue makin benci sama lu! Lagian, enak aja lu mau mandi duluan. Gue ini istri lu secara hukum, hormati dikit kek!”

“Istri hukum, tapi hati lu buat Adrian, kan? Dasar istri durhaka! Cepetan, Sin! Gue hitung sampai tiga! Satu... dua...”

“Tiga! Tetep nggak bakal gue buka!”

Jingga mengerang frustrasi. Dia bersandar di pintu kamar mandi sambil memegangi handuknya yang hampir merosot. Di apartemen ini hanya ada satu kamar mandi di kamar utama yang bisa digunakan karena kamar mandi tamu sedang dalam perbaikan pipa. Benar-benar sebuah konspirasi alam semesta untuk menyatukan mereka dalam penderitaan.

Dua puluh menit berlalu dengan penuh sumpah serapah. Ketika pintu akhirnya terbuka, uap panas keluar bersamaan dengan sosok Sinta yang sudah terlihat segar dengan bathrobe-nya.

“Minggir, rakyat jelata,” ucap Sinta sombong sambil menepuk pipi Jingga dengan ujung jarinya yang basah.

Jingga tidak membalas. Dia langsung masuk, tapi sedetik kemudian teriakan lebih dahsyat terdengar.

“SINTA!!! KENAPA LU HABISIN SABUN MUKA GUE?!”

“Opsi darurat, Jing! Sabun muka gue habis!” teriak Sinta dari kejauhan, diiringi suara tawa yang sangat menyebalkan.

Pagi yang seharusnya tenang menjadi ajang balapan dengan waktu. Jingga mandi secepat kilat (bahkan mungkin ada bagian yang terlewat sabun), sementara Sinta sibuk menyetrika kemeja kerjanya dengan terburu-buru.

Saat mereka berdua berdiri di depan cermin besar di lorong, suasananya sangat canggung. Sinta sedang memasang anting, sementara Jingga sedang menyimpul dasi dengan gerakan kasar.

“Inget,” desis Jingga sambil menatap bayangan Sinta di cermin. “Turun di halte depan. Jangan sampai kita turun di lobi kantor barengan.”

“Lu pikir gue mau ketahuan nikah sama lu?” Sinta memoleskan lipstik merah menyala. “Adrian bisa mutusin gue kalau dia tahu gue satu atap sama saingan terberatnya.”

“Bagus kalau gitu. Gue juga nggak mau Luna tahu kalau cowok ganteng kayak gue udah punya 'beban' kayak lu di rumah.”

“Beban?!” Sinta berbalik, menatap Jingga tajam. “Lu yang beban! Lu nggak pernah buang sampah kalau nggak disuruh!”

“Sudah, diam! Ayo jalan!” Jingga menyambar kunci mobilnya. “Gue anter sampai halte. Cepat!”

Mereka keluar apartemen dengan jarak satu meter, seolah-olah tidak saling kenal. Di dalam lift, ada tetangga lantai sebelah, seorang ibu paruh baya bernama Bu RT yang selalu curiga.

“Lho, Mas Jingga sama Mbak Sinta berangkat bareng lagi?” tanya Bu RT dengan mata menyelidik.

Sinta langsung memasang senyum palsu paling manis sedunia. “Eh, Ibu. Iya nih, kebetulan tadi ketemu di depan lift. Searah kantornya, Bu, jadi lumayan hemat ongkos ojek online.”

Jingga hanya mengangguk kaku, hampir menyerupai gerakan robot. “Iya Bu, bantu sesama warga.”

Begitu pintu lift terbuka di lobi, senyum Sinta langsung hilang, digantikan oleh wajah datar. Mereka berjalan menuju parkiran basement dengan langkah lebar-lebar.

“Akting lu bagus juga, Sin. Cocok jadi pemain sinetron 'Istri yang Terzalimi Remah Roti',” sindir Jingga saat mereka masuk ke dalam mobil.

“Diem lu, Anjing!”

“Nama gue Jingga, Sinting!”

Mobil sedan hitam itu melesat membelah jalanan Jakarta yang mulai macet. Di dalam mobil, perang dingin berlanjut. Sinta sibuk membalas pesan WhatsApp dari Adrian dengan senyum-senyum sendiri, membuat telinga Jingga panas.

“Kenapa lu senyum-senyum gitu? Jijik gue lihatnya,” komentar Jingga ketus.

“Adrian bilang mau bawain gue sarapan nanti di kantor. Romantis banget, kan? Nggak kayak lu, pagi-pagi udah kasih sarapan remah roti sama omelan,” balas Sinta tanpa menoleh.

Jingga mencengkeram setir lebih kuat. “Cih, paling juga bubur ayam depan kantor. Luna malah mau ajak gue makan malam di restoran fine dining nanti malam. Kita bakal ngerayain proyek gue yang lebih sukses dari lu.”

“Jangan mimpi lu! Proyek itu bakal jatuh ke tangan gue!”

Begitu sampai di halte yang berjarak 500 meter dari kantor, Jingga menginjak rem dengan mendadak. CIIIITT!

“Turun,” perintah Jingga singkat.

“Nggak usah pakai ngerem kayak mau bunuh diri juga kali!” Sinta membuka pintu mobil, tapi sebelum turun, dia berbalik. “Eh, Jing. Inget, jemuran tadi pagi... lu yang angkat nanti malam kalau hujan. Jangan sampai daster gue basah lagi!”

“Angkat sendiri! Gue bukan babu lu!”

Sinta menutup pintu mobil dengan dentuman keras yang hampir membuat kaca mobil pecah. Jingga mengumpat pelan, lalu tancap gas menuju parkiran kantor.

Dia tidak tahu, bahwa hari ini bukan hanya soal remah roti atau rebutan kamar mandi. Di kantor nanti, sebuah kejutan besar sudah menanti mereka yang akan membuat pernikahan rahasia ini berada di ujung tanduk.

Jingga merapikan kerah kemejanya, menarik napas panjang, dan bergumam pada bayangan di spion tengah.

“Oke, Jingga. Saatnya pura-pura jadi jomblo berkualitas lagi.”

Episodes
1 SARAPAN MENCEKAM DI DAPUR BERSAMA
2 JEMURAN SUMPAH SERAPAH
3 TATAPAN ANEH DI KANTOR
4 KENCAN GANDA TAK TERDUGA
5 RAHASIA DALAM KOTAK MAKAN
6 ALARM PALSU KELUARGA
7 PROYEK DADAKAN SEPASANG SUAMI ISTRI
8 KECELAKAAN MINUMAN KOPI
9 TIKET KONSER BERPASANGAN
10 TRIK CIUMAN PAKSAAN
11 INSPEKSI DAPUR TAK TERDUGA
12 PERTANYAAN ANEH LUNA
13 CINCIN YANG TERTINGGAL
14 KUNCI RUMAH GANDA
15 MEMBANTU DALAM KESULITAN
16 TELEPON IBU DARI MEJA KERJA
17 Piknik Kantor dan Musuh Bersama
18 Tatapan Mencurigakan
19 Kecanggungan Pasca-Piknik
20 Tumpangan yang Memancing Cemburu
21 Tanggung Jawab Rumah Tangga
22 Mencicipi Karya Sinta
23 Peran Barista Pribadi
24 Obrolan Dapur Tengah Malam
25 Panggilan Orang Tua Bersama
26 Mati Lampu (Lagi)
27 Kisah Masa Kecil
28 Rumor Kantor
29 Pulpen Kesukaan
30 Tatapan Terjebak
31 Piring Kenangan Pecah
32 Upaya Memperbaiki Kesalahan
33 Permintaan Maaf Canggung
34 Perhatian Kecil Jingga
35 Meja Bersih Mendadak
36 Ulang Tahun Sinta yang Glamor
37 Pesta Kejutan di Kantor
38 Ayah Sinta Mengunjungi
39 Tidur di Lantai
40 Kebohongan demi Ayah
41 Lift Mati: Detik-detik Panik
42 Sisi Manusiawi
43 Keretakan Hubungan Jingga-Luna
44 Perubahan Sikap Sinta
45 Curiga di Balik Senyum
46 Makan Malam Keluarga Adrian
47 Pertengkaran di Balkon
48 Sinta Tumbang
49 Jingga Merawat Sinta
50 Bisikan Nama dalam Igauan
51 Liburan Palsu yang Dipaksakan
52 Pertemuan Tak Terduga
53 Perjalanan Mendaki
54 Luna Membuntuti
55 Saksi Tak Terduga
56 Bencana Kencan Ganda
57 Ujian Persahabatan
58 Konfrontasi di Kantor
59 Surat Pembatalan
60 Menghadap Orang Tua (Lagi)
61 Cerita Lama Terungkap
62 Persiapan Resepsi Nyata
63 Janji di Bawah Bintang
Episodes

Updated 63 Episodes

1
SARAPAN MENCEKAM DI DAPUR BERSAMA
2
JEMURAN SUMPAH SERAPAH
3
TATAPAN ANEH DI KANTOR
4
KENCAN GANDA TAK TERDUGA
5
RAHASIA DALAM KOTAK MAKAN
6
ALARM PALSU KELUARGA
7
PROYEK DADAKAN SEPASANG SUAMI ISTRI
8
KECELAKAAN MINUMAN KOPI
9
TIKET KONSER BERPASANGAN
10
TRIK CIUMAN PAKSAAN
11
INSPEKSI DAPUR TAK TERDUGA
12
PERTANYAAN ANEH LUNA
13
CINCIN YANG TERTINGGAL
14
KUNCI RUMAH GANDA
15
MEMBANTU DALAM KESULITAN
16
TELEPON IBU DARI MEJA KERJA
17
Piknik Kantor dan Musuh Bersama
18
Tatapan Mencurigakan
19
Kecanggungan Pasca-Piknik
20
Tumpangan yang Memancing Cemburu
21
Tanggung Jawab Rumah Tangga
22
Mencicipi Karya Sinta
23
Peran Barista Pribadi
24
Obrolan Dapur Tengah Malam
25
Panggilan Orang Tua Bersama
26
Mati Lampu (Lagi)
27
Kisah Masa Kecil
28
Rumor Kantor
29
Pulpen Kesukaan
30
Tatapan Terjebak
31
Piring Kenangan Pecah
32
Upaya Memperbaiki Kesalahan
33
Permintaan Maaf Canggung
34
Perhatian Kecil Jingga
35
Meja Bersih Mendadak
36
Ulang Tahun Sinta yang Glamor
37
Pesta Kejutan di Kantor
38
Ayah Sinta Mengunjungi
39
Tidur di Lantai
40
Kebohongan demi Ayah
41
Lift Mati: Detik-detik Panik
42
Sisi Manusiawi
43
Keretakan Hubungan Jingga-Luna
44
Perubahan Sikap Sinta
45
Curiga di Balik Senyum
46
Makan Malam Keluarga Adrian
47
Pertengkaran di Balkon
48
Sinta Tumbang
49
Jingga Merawat Sinta
50
Bisikan Nama dalam Igauan
51
Liburan Palsu yang Dipaksakan
52
Pertemuan Tak Terduga
53
Perjalanan Mendaki
54
Luna Membuntuti
55
Saksi Tak Terduga
56
Bencana Kencan Ganda
57
Ujian Persahabatan
58
Konfrontasi di Kantor
59
Surat Pembatalan
60
Menghadap Orang Tua (Lagi)
61
Cerita Lama Terungkap
62
Persiapan Resepsi Nyata
63
Janji di Bawah Bintang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!