bab 2

Deg.

Suara itu keras.

Dan terlalu tiba-tiba.

Dan… terlalu dekat.

Keira membeku.

Tubuhnya yang tadi sudah tegang, kini terasa benar-benar kaku. Jantungnya yang sejak tadi berdegup cepat… sekarang seperti ingin melompat keluar dari dadanya.

Matanya membesar.

Pelan… ia menoleh ke arah sumber suara.

Di depan pintu—

beberapa orang berdiri.

Dua pria. Satu wanita. Dengan ekspresi yang sama—curiga… sekaligus yakin.

“Hayo!! Kalian ketahuan buat mesum di sini!”

Kalimat itu menggantung di udara.

Terlalu kasar. Terlalu tiba-tiba.

Dan… terlalu tidak masuk akal.

“Apa?” Keira reflek bersuara pelan, nyaris tidak terdengar.

Otaknya seperti butuh waktu untuk mencerna.

Mesum?

Dengan… siapa?

Ia bahkan baru saja bertemu pria di depannya ini.

Baru beberapa detik yang lalu.

Keira menoleh cepat ke arah pria itu—yang tadi menyalakan lampu.

Tatapan mereka kembali bertemu.

Sama-sama bingung.

Sama-sama… tidak siap dengan situasi ini.

Pria itu mengernyit pelan. Rahangnya mengeras sedikit, tapi ia tidak langsung bicara.

Sementara salah satu pria di depan pintu melangkah masuk.

Langkahnya cepat.

Penuh tekanan.

“Jangan pura-pura nggak tahu!” katanya dengan nada tinggi. “Kami udah lama ngawasin rumah ini! Dan sekarang malah dipakai begituan!”

Keira langsung menggelengkan kepalanya cepat. “Nggak! Bukan—bukan gitu!” suaranya keluar lebih panik dari yang ia kira.

Tangannya terangkat sedikit, seperti ingin menjelaskan… tapi tidak tahu harus mulai dari mana. “Aku cuma—”

“Kamu diem dulu!” Ucapan itu memotongnya.

Keira langsung terdiam.

Napasnya tercekat di tenggorokan.

Sementara wanita di belakang ikut melangkah masuk, matanya menyapu Keira dari atas sampai bawah.

Tatapan yang… menghakimi.

“Keliatan kok,” katanya sinis. “Masuk rumah kosong berduaan. Terus bilang bukan apa-apa?”

Keira menelan ludah.

Tangannya perlahan turun, dingin langsung melingkupinya. Ia ingin menjelaskan. Ingin sekali. Tapi semua terasa berantakan di kepalanya. Ia tidak tahu harus bilang apa dulu. Tentang hujan?

Tentang ia yang hanya ingin sembunyi?

Atau tentang… pria di depannya ini yang bahkan belum sempat ia kenal?

Sementara itu—

pria di sampingnya akhirnya bergerak.

Satu langkah ke depan.

Tenang.

Tidak terburu-buru.

Tapi cukup untuk menarik perhatian.

“Maaf,” suaranya keluar rendah, sangat terkontrol. “Sepertinya ada kesalahpahaman di sini.”

Nada bicaranya tidak tinggi.

Tidak juga memohon.

Tapi… cukup untuk membuat suasana sedikit mereda.

Sedikit saja.

“Kesalahpahaman apanya?” pria tadi menyahut cepat. “Kami lihat sendiri!”

“Lihat apa?” balasnya tenang.

Hening sejenak, hanya suara rintik hujan yang masih terdengar di sana.

Pria itu tampak kesal.

“Ya… kalian berdua di sini! Di rumah kosong!”

“Dan itu langsung berarti kami melakukan hal yang Anda tuduhkan?” Kalimat itu diucapkan tanpa emosi berlebih. Tapi justru itu yang membuatnya terasa… menekan.

Keira melirik pria itu diam-diam.

Ada sesuatu di cara bicaranya.

Tenang dan terlalu santai. Seolah ia terbiasa menghadapi situasi seperti ini.

Berbeda jauh dengan Keira yang bahkan masih berusaha mengatur napasnya.

Wanita tadi mendecih pelan.

“Sudahlah. Nggak usah muter-muter. Kalau nggak salah, kenapa kalian sembunyi di sini?”

Pertanyaan itu seperti menampar.

Keira terdiam lagi.

Salah satu tangannya tanpa sadar meremas ujung jaketnya. Ia ingin menjawab.

Tapi… lagi-lagi, kata-kata itu tidak mau keluar.

Karena kalau ia jujur— semuanya akan semakin rumit.

Pria di sampingnya menoleh sekilas ke arah Keira. Singkat tapi cukup.

Seolah membaca… bahwa gadis ini tidak akan mampu menjelaskan apa pun sekarang.

Ia kembali menghadap ke depan.

“Saya ke sini untuk survei rumah ini.”

Jawaban itu sederhana dan cukup jelas.

Dan… masuk akal.

Ketiga orang di depan tampak sedikit terdiam.

“Survei?” pria itu mengulang.

“Iya. Saya diminta teman saya untuk melihat kondisi rumah ini. Dia berencana membelinya.”

“Terus dia?” pria itu menunjuk ke arah Keira.

Keira langsung menegang lagi.

Semua mata kembali tertuju padanya.

Ia menelan ludah.

Pelan.

Sebelum sempat bicara—

pria di sampingnya menjawab lebih dulu.

“Saya juga tidak mengenalnya.”

Keira menoleh cepat.

Matanya membesar sedikit.

Ada sesuatu di dalam dadanya… yang ikut tersentak.

Tidak mengenal.

Kalimat itu benar.

Tapi tetap saja—

rasanya aneh mendengarnya diucapkan seperti itu.

Seolah mereka benar-benar… tidak ada hubungan apa-apa.

Dan memang tidak ada.

Harusnya.

“Dia tiba-tiba sudah ada di dalam saat saya masuk,” lanjutnya.

Semua kembali hening.

Penjelasan itu—

tidak sepenuhnya meredakan kecurigaan.

Tapi juga… tidak bisa langsung disalahkan.

Wanita tadi mengernyit.

“Jadi kalian nggak kenal?”

“Tidak.”

Jawaban itu cepat dan sangat tegas.

Keira menunduk sedikit.

Tangannya makin dingin.

Ia merasa seperti… seseorang yang sedang diadili.

Padahal ia hanya—

ingin berteduh. Hanya itu.

Pria di depan menghela napas kasar.

“Kalau gitu, tetap aja aneh. Cewek sendirian masuk rumah kosong. Terus ketemu laki-laki. Terus kebetulan banget?”

Nada suaranya masih penuh curiga.

Keira menggigit bibir bawahnya, terasa sakit.

Tapi ia tidak peduli.

Ia tahu… dari sudut pandang mereka, ini memang terlihat salah. Dan tidak ada penjelasan sederhana yang bisa memperbaikinya.

Hening lagi.

Lebih panjang.

Lebih berat.

Sampai akhirnya— pria di samping Keira kembali bicara.

Kali ini… sedikit lebih pelan.

“Tapi tetap saja, menuduh tanpa bukti juga bukan hal yang benar.”

Nada suaranya tidak berubah.

Tapi ada sesuatu yang lebih tegas di sana.

Seolah memberi batas.

Ketiga orang itu saling pandang. Namun salah satunya menggelengkan kepalanya seperti memberikan sebuah kode.

"Halah itu hanya alasan klise! Mana mungkin hal ini terjadi hanya sebuah kebetulan semata. Pasti kalian memang mau macam-macam di sini kan? Jangan mengelak lagi." Ucap wanita itu sambil terus menyudutkan.

Pria itu menghela nafasnya kasar. "Saya sudah katakan sebelumnya, kami memang tidak saling mengenal."

"Pembohong! Ayo, bawa mereka ke KUA, kita nikahkan saja mereka. Jangan sampai karena ulah kedua orang ini tempat tinggal sekitaran sini jadi sial." Ucap salah satu bapak-bapak itu, ia langsung melangkah masuk dan memegang tangan pria tadi.

Keira tersentak, ia memberontak saat seorang wanita menarik tangannya. "Bu, saya berani bersumpah, jika saya dan mas ini nggak melakukan apapun. Kami nggak bohong, kami memang ketemu pas di sini."

"Kalau sudah ketahuan memang semua pasti akan mengatakan itu. Kalau belum saja pasti melakukan hal terlarang! Sudah jangan banyak alasan, kamu harus nikah sekarang juga sama pria itu. Jangan bodoh dek, dia udah dapat enaknya, masa' kamu mau di buang begitu saja? Nanti kalau kamu hamil bagaimana dek?" Sang wanita itu malah ceramahin Keira.

"Tapi buk –"

Tidak memperdulikan permohonan Keira lagi, wanita itu langsung menarik tangan Keira pergi dari tempat itu...

Terpopuler

Comments

Titik Sofiah

Titik Sofiah

bagus crita a Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍

2026-05-02

1

Anonim

Anonim

😍😍😍🤭

2026-05-05

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 bab 2
3 bab 3 Sah!
4 bab 4
5 bab 5
6 bab 6
7 bab 7
8 bab 8 Ibu mertua
9 bab 9
10 bab 10
11 bab 11
12 bab 12
13 bab 13
14 bab 14
15 bab 15
16 bab 16
17 bab 17
18 bab 18
19 bab 19
20 bab 20
21 bab 21
22 bab 22 Perasaan itu ada karena ini...
23 bab 23
24 bab 24
25 bab 25
26 bab 26
27 bab 27
28 bab 28 Ning Afifa
29 bab 29
30 bab 30
31 bab 31
32 bab 32
33 bab 33
34 bab 34
35 bab 35
36 bab 36
37 bab 37
38 bab 38
39 bab 39 Talak!
40 bab 40
41 bab 41
42 bab 42
43 bab 43
44 bab 44
45 bab 45
46 bab 46
47 bab 47
48 bab 48
49 bab 49
50 bab 50
51 bab 51
52 bab 52
53 bab 53
54 bab 54
55 bab 55
56 bab 56
57 bab 57
58 bab 58
59 bab 59
60 bab 60
61 bab 61
62 bab 62
63 bab 63
64 bab 64
65 bab 65
66 bab 66
67 bab 67
68 bab 68
69 bab 69
70 bab 70
71 bab 71
72 bab 72
73 bab 73
74 bab 74
75 bab 75
76 bab 76
77 bab 77
78 bab 78
79 bab 79
80 bab 80
81 bab 81
82 bab 82
83 bab 83
84 bab 84
85 bab 85
86 bab 86
87 bab 37
88 bab 88
89 bab 89
90 bab 90
91 bab 91
92 bab 92
93 bab 93
94 bab 94
95 bab 95
96 bab 96
97 bab 97
98 bab 98
99 bab 99
100 bab 100
101 bab 101
102 bab 102
103 bab 103
104 bab 104
105 bab 105
106 bab 106
107 bab 107
108 bab 108
109 bab 109
110 bab 110
111 bab 111
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Bab 1
2
bab 2
3
bab 3 Sah!
4
bab 4
5
bab 5
6
bab 6
7
bab 7
8
bab 8 Ibu mertua
9
bab 9
10
bab 10
11
bab 11
12
bab 12
13
bab 13
14
bab 14
15
bab 15
16
bab 16
17
bab 17
18
bab 18
19
bab 19
20
bab 20
21
bab 21
22
bab 22 Perasaan itu ada karena ini...
23
bab 23
24
bab 24
25
bab 25
26
bab 26
27
bab 27
28
bab 28 Ning Afifa
29
bab 29
30
bab 30
31
bab 31
32
bab 32
33
bab 33
34
bab 34
35
bab 35
36
bab 36
37
bab 37
38
bab 38
39
bab 39 Talak!
40
bab 40
41
bab 41
42
bab 42
43
bab 43
44
bab 44
45
bab 45
46
bab 46
47
bab 47
48
bab 48
49
bab 49
50
bab 50
51
bab 51
52
bab 52
53
bab 53
54
bab 54
55
bab 55
56
bab 56
57
bab 57
58
bab 58
59
bab 59
60
bab 60
61
bab 61
62
bab 62
63
bab 63
64
bab 64
65
bab 65
66
bab 66
67
bab 67
68
bab 68
69
bab 69
70
bab 70
71
bab 71
72
bab 72
73
bab 73
74
bab 74
75
bab 75
76
bab 76
77
bab 77
78
bab 78
79
bab 79
80
bab 80
81
bab 81
82
bab 82
83
bab 83
84
bab 84
85
bab 85
86
bab 86
87
bab 37
88
bab 88
89
bab 89
90
bab 90
91
bab 91
92
bab 92
93
bab 93
94
bab 94
95
bab 95
96
bab 96
97
bab 97
98
bab 98
99
bab 99
100
bab 100
101
bab 101
102
bab 102
103
bab 103
104
bab 104
105
bab 105
106
bab 106
107
bab 107
108
bab 108
109
bab 109
110
bab 110
111
bab 111

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!