Di dalam ruang utama pondok pesantren Al-Ikhsan, cahaya remang-remang dari lampu minyak tradisional menari lembut di dinding-dinding kayu yang usang. Deretan santri duduk bersila, rapi mengenakan sarung dan peci putih, bibir mereka bergerak serempak mengalunkan ayat-ayat suci Alquran. Suara mereka bersahutan, membentuk harmoni yang syahdu dan menenangkan, bergema ringan di antara atap bambu dan tirai kain tipis yang menggantung di jendela.Aroma khas kemenyan dan kertas tua menyelimuti ruangan, berpadu dengan udara malam yang sejuk masuk melalui celah-celah ventilasi. Terkadang, suara gemerisik daun di luar mengiringi lantunan, menambah kedalaman suasana khidmat yang terjaga dalam kesederhanaan pondok itu.
Di sebuah kamar yang ada di ndalem, seorang gadis mengerjapkan kedua matanya. Ia menyipitkan matanya saat melihat sinar lampu yang menyilaukan matanya itu.
Perlahan kelopak mata itu terbuka sempurna, ia langsung menoleh ke sekelilingnya.
"Eh aku dimana?" Ia bangkit dan menatap ke sana kemari.
Ia ada di sebuah kamar yang terlalu asing baginya. Kamar yang belum pernah ia datangi.
Kamar itu tampak rapi dengan setiap barang berada pada tempatnya. Meja kayu di sudut ruangan tertata bersih tanpa noda, dihiasi vas bunga kecil yang memancarkan aroma segar. Di atas ranjang, seprai berwarna pastel dilipat rapi tanpa kerutan, dan bantal-bantal tersusun simetris. Lemari pakaian tertutup rapat, sementara lantai berubin putih mengilap tanpa debu. Tirai tipis menutupi jendela, menyaring cahaya matahari yang masuk dengan lembut, menciptakan bayangan halus di dinding yang dicat warna krem. Suara sunyi memenuhi ruang, hanya sesekali terdengar detak jam dinding yang teratur.
Bahkan lebih rapi kamar Keira...
Keira menepuk pipinya berulangkali. "Ini gue lagi mimpi kan? Kok... Adoh sakit." Ia kesakitan saat pipinya di cubit kuat.
"Eh beneran nyata." Katanya sambil kembali menatap sekelilingnya dengan jantung yang berdegup kencang.
Kaget sangat jelas, ia tidak tau ia sedang berada dimana. Perasaan was-was selalu menghampirinya.
Keira mengingat kejadian ia sebelum pingsan terakhir kali. Saat setelah ia selesai ijab kabul.
"Ck, gue seriusan ini udah jadi istri orang?" Pekiknya dengan mata yang membola.
"Terus ini? Suami miskin gue yang tadi gue bilang?"
Rasanya tidak mungkin mengingat pria itu hanya menjadikan uang seratus ribu sebagai mahar. Kamar ini sangat bagus dan sangat indah jika di bilang miskin.
"Nggak,... Nggak... Kayaknya gue lagi menghayal. Sadar Kei, sadar..."
Ceklek
Saat ia sedang berperang dalam pikirannya, tiba-tiba pintu itu terbuka membuat Keira refleks mneoleh ke arah pintu sana.
Seorang gadis berpakaian agamis dan berhijab panjang berdiri sambil membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.
"ALHAMDULILLAH, kakak ipar sudah bangun." Ucap Azizah, adiknya Gus Zayn.
Gadis itu meletakkan nampan di atas meja nakas lalu menghampiri Keira yang mengernyitkan alisnya.
"Kamu siapa?" Tanya Keira, ia melihat wajah cantik nan lembut, ada kedamaian di sana.
Azizah tersenyum. "Perkenalkan aku Azizah. Aku adiknya bang Zayn. Kakak Keira kan? Kakak ipar aku?"
Keira tersentak, ia baru ingat suami yang ia nikahi itu bernama Zayn. Ia juga baru tau saat ijab kabul itu. "Eh- iya."
"Masya Allah, kakak cantik banget. Oiya bang Zayn berpesan, jika kakak sudah bangun, kakak di suruh makan dulu."
"Makan?"
"Iya kak. Ini sudah malam. Kakak jangan telat makan, nanti sakit."
Keira menurut, karena perutnya memang perih sekali, sebab ia belum makan apapun...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Cah Dangsambuh
alhamdulillah ketemu adik ipar yg baik di tunggu terus upnya kak👍🙏
2026-04-06
0
Yasinta Niken
lho kok sudah didalem Alhamdulillah semoga jodoh ya Gus
2026-06-20
0