Perjalanan pulang dari rumah Ibu Ratna terasa sangat panjang. Di dalam mobil Honda Civic yang dingin oleh AC, tak ada suara selain deru mesin dan napas teratur Dafa yang tertidur pulas di pangkuan Maya. Aris menyetir dengan raut wajah puas, sisa-sisa senyum kebanggaan setelah dipuji setinggi langit oleh ibu dan adik-adiknya masih membekas di bibirnya.
"Kamu lihat tadi? Ibu senang sekali pakai tas itu," buka Aris, memecah keheningan dengan nada sombong. "Siska juga, dia sampai mau peluk saya gara-gara uang semesterannya beres. Jadi laki-laki itu harus begini, May. Berguna buat keluarga."
Maya hanya menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalan yang kabur karena matanya mulai berair. "Bapak juga keluarga kita, Mas. Mata Bapak sudah hampir tidak bisa melihat karena katarak. Dokter bilang harus segera dioperasi."
*Ciiiitt!*
Aris menginjak rem mendadak tepat di depan gerbang rumah mereka, membuat tubuh Maya terdorong ke depan. Dafa terbangun dan mulai merengek ketakutan.
"Bisa tidak berhenti membahas keluarga kamu yang menyusahkan itu?" bentak Aris, matanya melotot tajam. "Keluarga saya itu tanggung jawab saya! Sementara keluarga kamu? Itu tanggung jawab saudara-saudara kamu yang malas itu. Jangan samakan saya dengan mereka!"
"Tapi aku istrimu, Mas! Uang yang kamu kasih ke Siska itu harusnya bisa buat DP operasi Bapak. Mas janji bulan lalu..."
"Janji bisa berubah tergantung keadaan, Maya! Sekarang turun!"
Maya turun dengan kaki gemetar, menggendong Dafa yang menangis sesenggukan. Begitu masuk ke rumah, Aris tidak langsung masuk ke kamar. Ia menuju meja makan, mengambil buku catatan kecil yang selalu tersimpan di laci.
"Sini," panggilnya dingin.
Maya menghampiri dengan perasaan waswas. Ia tahu apa yang akan terjadi. Ini adalah ritual 'Audit Neraka' yang dilakukan Aris setiap minggu.
"Mana struk belanja minggu ini? Saya hitung sisa uang dapur kemarin harusnya masih ada tujuh puluh lima ribu. Mana?" Aris menadahkan tangannya.
Maya merogoh saku dasternya, mengeluarkan beberapa lembar struk kusam dan uang receh. "Ini, Mas. Uangnya sisa dua puluh ribu. Lima puluh ribunya aku pakai buat beli obat penurun panas Dafa kemarin lusa. Dia sempat kejang karena demamnya tinggi..."
"Kejang?" Aris tertawa sinis sambil meneliti struk obat dari apotek. "Anak kecil demam itu biasa, dikasih kompres juga sembuh. Kamu saja yang manja, sedikit-sedikit lari ke apotek, buang-buang uang saya! Kamu tahu tidak, lima puluh ribu itu kalau dikumpulkan bisa buat beli bensin mobil ini?"
Maya terpaku. Nyawa dan kesehatan anaknya sendiri dinilai lebih rendah daripada harga bensin mobil suaminya.
"Mas... Dafa itu anakmu. Darah dagingmu sendiri," bisik Maya dengan suara parau.
"Makanya, didik dia jadi anak kuat! Jangan kayak kamu yang cuma tahu cara minta uang!" Aris melemparkan buku catatan itu ke atas meja. "Besok, saya tidak mau tahu, jatah makan kita harus cukup dengan seratus ribu buat tiga hari ke depan. Ibu bilang harga beras lagi turun, jangan alasan lagi."
Aris melenggang masuk ke kamar, membanting pintu dengan keras. Maya terduduk di kursi kayu ruang makan yang keras, memeluk Dafa yang sudah kembali tenang namun masih memegangi jemari ibunya erat-kali.
Di atas meja, kartu ATM yang tadi digunakan untuk mentransfer uang ke Siska tergeletak begitu saja. Maya menatap benda persegi itu. Di dalamnya ada puluhan juta rupiah, namun bagi Maya dan Dafa, benda itu tak lebih dari sekadar plastik tak berguna.
Maya mengusap air matanya dengan kasar. Ia menoleh ke arah tas kerja lamanya yang berdebu di pojok ruangan. Sebuah pikiran mulai terlintas di benaknya. Jika Aris menganggapnya beban karena ia tak berpenghasilan, maka ia harus menemukan cara untuk tidak lagi bergantung pada 'pahlawan' palsu itu.
Malam itu, di bawah temaram lampu ruang makan, Maya Safira bersumpah dalam hati: *Ini adalah terakhir kalinya ia menangis karena uang yang bukan miliknya.*
Next post 🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments