Malam semakin larut, namun kantuk enggan menyapa Maya. Di kamar utama yang dingin karena embusan AC, Aris sudah mendengkur halus, seolah beban kata-kata tajam yang ia lontarkan tadi sore tidak membekas sedikit pun di benaknya.
Bagi Aris, menyakiti hati istri adalah rutinitas, sedangkan memuja keluarga besarnya adalah ibadah.
Maya berbaring di sisi tempat tidur yang paling pinggir, menjaga jarak agar kulitnya tidak bersentuhan dengan suaminya.
Ada rasa mual yang tiba-tiba muncul setiap kali ia menyadari bahwa pria yang sedang tidur dengan nyenyak ini adalah orang yang baru saja menghina ayahnya dan menomorduakan kesehatan anaknya.
Dafa mendengkur kecil di boks bayi di samping tempat tidur. Maya menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya melayang pada masa lima tahun lalu, saat ia masih menjadi sekretaris andalan di sebuah perusahaan logistik. Saat itu, ia adalah wanita yang penuh percaya diri. Rok pensil yang rapi, sepatu hak tinggi, dan kemampuan negosiasi yang disegani kawan maupun lawan.
Namun, semua itu terkikis habis sejak ia menerima pinangan Aris dan menyetujui permintaannya untuk berhenti bekerja.
"Cukup aku yang cari uang, May. Kamu tugasnya jaga rumah dan kehormatan kita. Aku tidak mau istriku kelelahan melayani bos lain,"
kata Aris saat itu dengan suara yang terdengar sangat protektif. Maya yang sedang jatuh cinta menganggap itu sebagai bentuk kasih sayang tertinggi. Ia tidak sadar bahwa itu adalah awal dari penjaranya.
Keesokan paginya, suasana rumah kembali seperti biasa—dingin dan kaku. Maya bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan yang diminta Aris: nasi uduk komplit tapi dengan anggaran yang sangat mepet. Ia harus memutar otak bagaimana sisa uang kemarin bisa menjadi hidangan yang tampak mewah di mata Aris, agar pria itu tidak punya alasan untuk mencaci-makinya lagi.
Saat Maya sedang menata piring, ponsel Aris yang diletakkan di atas meja makan bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup WhatsApp keluarga Baskoro. Karena layar ponsel itu tidak terkunci, Maya bisa membaca sekilas notifikasi yang muncul.
Siska: "Mas Aris, makasih ya uang semesterannya! Oh ya, Ibu bilang kulkas di rumah agak berisik, kayaknya sudah mau rusak. Ada promo di mall dekat sini, merek yang Mas Aris suka lagi diskon. Gimana?"
Beberapa detik kemudian, Aris muncul dari kamar, sudah rapi dengan kemeja oxford berwarna biru muda. Ia menyambar ponselnya, mengetikkan balasan dengan senyum kecil yang jarang ia tunjukkan pada Maya.
"Nanti siang saya transfer ke Ibu buat beli kulkas baru. Pilih saja yang paling besar," gumam Aris pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri, namun cukup keras untuk menyayat hati Maya.
Maya menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di tangannya saat menuangkan kopi. "Mas, tadi malam aku bilang... SPP Dafa..."
Suara kursi yang bergeser keras di lantai keramik membuat Maya terlonjak. Aris menatapnya dengan pandangan dingin yang seolah bisa membekukan darah.
"Lagi-lagi itu. Kamu ini tidak ada bosannya, ya? Saya baru saja bangun, sudah disuguhi keluhan," bentak Aris. Ia mengambil selembar roti bakar, lalu melemparkannya kembali ke piring. "Nasi uduknya kurang garam. Kamu benar-benar tidak bisa melakukan apa pun dengan benar, ya? Masak tidak becus, urus uang tidak bisa, cuma bisa menuntut!"
"Aku tidak menuntut untuk diriku sendiri, Mas! Ini untuk Dafa! Kalau tidak dibayar sekarang, dia tidak bisa ikut ujian akhir pekan ini. Apa kamu mau anakmu malu di depan teman-temannya karena ayahnya yang manajer tidak mampu bayar sekolah?" Maya akhirnya berani menaikkan nada bicaranya.
Aris berdiri, badannya yang tegap menjulang di depan Maya, memberikan tekanan psikologis yang kuat. Ia mencengkeram rahang Maya pelan, namun penuh ancaman.
"Jangan sekali-kali kamu meragukan kemampuan saya, Maya. Saya punya uang, tapi saya tidak suka uang saya dihambur-hamburkan oleh istri yang tidak tahu diri. Kamu pikir saya tidak tahu? Kamu pasti diam-diam kasih uang ke Bapakmu di desa, kan? Makanya uang belanja selalu kurang!"
"Demi Allah, Mas! Bapak tidak pernah minta satu rupiah pun! Bapak justru mengirimkan pisang dan beras setiap bulan supaya kita tidak kekurangan!" tangis Maya pecah.
"Halah! Beras busuk begitu saja dibanggakan. Sudah, diam! Saya berangkat kerja. Jangan berani-berani telepon saya hari ini kalau cuma mau bahas uang."
Aris menyambar tas kerjanya dan melenggang pergi. Suara raungan mesin mobil di garasi terdengar seperti ejekan bagi Maya. Ia terduduk di lantai dapur, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Di tengah isak tangisnya, ia teringat ayahnya. Ayah yang selalu bangga memiliki menantu seorang manajer, ayah yang selalu melarang Maya mengeluh karena takut mengganggu keharmonisan rumah tangganya.
Siang harinya, Maya mencoba menyibukkan diri dengan membersihkan gudang belakang rumah, sekadar untuk mengalihkan pikiran dari rasa lapar dan sesak di dada. Di antara tumpukan kardus tua, ia menemukan sebuah kardus yang sudah berdebu. Di dalamnya terdapat laptop lama miliknya dari zaman kuliah, serta beberapa sertifikat pelatihan manajemen dan sertifikasi bahasa Inggris yang dulu ia raih dengan susah payah.
Ia menyentuh layar laptop itu dengan ujung jarinya. Benda ini adalah saksi bisu betapa ia pernah menjadi wanita yang kompeten. Maya mencoba menyalakannya. Ajaib, setelah beberapa menit diisi daya, laptop itu kembali hidup meski lambat.
Sebuah ide mulai tumbuh di kepalanya—seperti tunas kecil di tengah padang pasir. Ia teringat temannya, Raka, yang dulu pernah bekerja satu divisi dengannya. Raka sekarang mengelola sebuah agensi pemasaran digital yang sukses. Beberapa bulan lalu, Raka sempat menghubunginya lewat LinkedIn, bertanya apakah Maya tertarik untuk mengambil proyek freelance sebagai admin atau penyusun konten karena Maya dikenal memiliki tulisan yang persuasif.
Saat itu, Maya menolak karena takut Aris marah. Tapi sekarang?
"Kalau Aris tidak mau memberikan nafkah yang layak, aku yang akan mencarinya sendiri," batin Maya.
Ia mulai membersihkan layar laptop itu dengan kain lap. Ada semangat baru yang mulai mengalir di nadinya. Ia tidak akan lagi menunggu belas kasihan dari kartu ATM Aris yang selalu dijaga ketat pemiliknya. Ia akan membangun jalannya sendiri, setapak demi setapak, tanpa perlu Aris tahu.
Sambil menggendong Dafa yang mulai merangkak di lantai, Maya mulai mengetik sebuah pesan di layar ponselnya yang retak. Sebuah pesan untuk Raka.
"Rak, apa lowongan admin konten itu masih ada? Aku butuh pekerjaan. Tapi tolong, jangan beritahu siapa pun, terutama Aris."
Maya tahu, ini adalah awal dari sebuah kebohongan besar dalam rumah tangganya. Namun baginya, berbohong demi memberi makan dan pendidikan anak jauh lebih mulia daripada jujur tapi harus merangkak di bawah kaki suami yang tidak punya nurani.
Di luar, matahari bersinar terik, seolah menyoroti tekad Maya yang baru saja lahir. Aris boleh saja merasa menjadi pahlawan bagi keluarganya, tapi ia tidak sadar bahwa istri yang ia anggap remeh kini sedang mempersiapkan diri untuk melepaskan belenggu yang selama ini mengikatnya.
Maya Safira tidak akan lagi menjadi bayangan. Ia akan menjadi badai yang suatu hari nanti akan meruntuhkan istana kesombongan Aris Baskoro.
Next post 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments