Ch 2 — Terkejut

Qin Mu menahan napas. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya.

Ia tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.

Selama satu tahun penuh, dunianya saat bermeditasi mata hanyalah ruang kosong yang hitam dan dingin. Namun sekarang, segalanya berubah total.

Kegelapan setelah cahaya biru barusan itu kini dihiasi oleh bintik-bintik cahaya halus yang melayang di udara, berkilauan seperti kunang-kunang di tengah malam.

Itulah energi spiritual alam yang selama ini ia dengar dalam perkataan ayahnya dan perkataan orang-orang yang telah mencapai tingkatan dimana mereka bisa menyerap energi spiritual melalui jalur meridian utama mereka, namun tidak pernah bisa ia saksikan secara langsung.

"Inikah yang namanya energi alam... energi spiritual...? aku bisa melihatnya?!" batinnya berteriak dengan penuh gejolak emosi.

Qin Mu tersentak. Kelopak matanya terbuka lebar, dan hal pertama yang ia rasakan adalah silau cahaya matahari yang menusuk mata.

Cahaya itu menerobos melalui celah-celah dinding kayu kamarnya, menari-nari di atas lantai yang berdebu.

Ia tertegun, hangat dari sinar ini bukanlah kehangatan matahari pagi. Melainkan matahari siang hari?

Seingatnya, ia baru saja mulai bermeditasi sesaat setelah matahari terbenam. Itu berarti ia telah duduk dalam posisi yang sama selama lebih dari dua belas jam tanpa ia sadari. Namun, yang lebih mengejutkan bukanlah waktu yang berlalu, melainkan sensasi di dalam tubuhnya.

Biasanya, setelah berlatih fisik seharian, tubuhnya akan terasa berat dan nyeri di pagi hari. Meditasi hanyalah sebuah kegiatan untuk ketenangan dan merilekskan tubuhnya setiap malam hari setelah menyelesaikan latihannya.

Tapi sekarang?

Otot-ototnya terasa kenyal, kulitnya tampak lebih bersih, dan rasa lelah yang selama satu tahun ini menggelayuti pundaknya seolah menguap tanpa bekas.

Qin Mu mencoba menggerakkan bahunya, dan...

Krak!

Krak!

Suara persendian yang merenggang terdengar begitu memuaskan. Ia kemudian memejamkan mata, mencoba melakukan teknik pemeriksaan internal sederhana yang pernah diajarkan ayahnya.

Mata Qin Mu membelalak. Napasnya tertahan.

"Ini... Tidak mungkin... Kan?"

Di dalam tubuhnya, yang sebelumnya terasa seperti hamparan tanah kering yang retak, kini mengalir aliran hangat yang lembut.

9 jalur meridian utama yang membentang dari pangkal kepala, tangan, dada hingga ujung kaki, yang selama setahun ini membeku layaknya besi dingin, kini telah terbuka sepenuhnya. Tidak ada sumbatan maupun hambatan sama sekali.

Dengan terbukanya sembilan meridian utama, ia percaya, ia telah mencapai Tahap Kedua Pembentukan Fondasi. Yaitu tahap Pembukaan Meridian.

Qin Mu pun mencoba memeriksanya lagi.

Deg!

Bukan hanya satu atau dua meridian, tapi sembilan meridian utama sekaligus! Semua jalurnya terbuka?!

"Sembilan meridian utama... terbuka dalam satu malam?" Qin Mu bergumam tidak percaya. Tangannya gemetar hebat.

Dalam catatan sejarah Keluarga Qin, jenius terbaik sekalipun memerlukan waktu setidaknya satu bulan untuk membuka seluruh sembilan meridian utama setelah mereka berhasil menembus tahap penempaan tubuh...

Dan proses itu biasanya diiringi rasa sakit yang luar biasa, seolah-olah pembuluh darah ditusuk oleh ribuan jarum emas legendaris.

Namun Qin Mu?

Ia tidak merasakan sakit sedikit pun. Ia hanya mengingat kilatan cahaya biru misterius semalam yang membawanya melihat cahaya energi spiritual, dan setelah itu, segalanya terasa begitu alami, seolah-olah jalur-jalur itu memang seharusnya terbuka sejak lama.

Qin Mu bangkit dari tempat tidur dan mulai melancarkan beberapa gerakan tinju dasar.

Wush! Wush!

Angin yang dihasilkan oleh pukulannya kini terdengar lebih tajam dan bertenaga. Meskipun ia belum bisa menyerap energi spiritual karena belum memiliki sebuah manual kultivasi, sebuah tata cara agar dapat menyerap energi spiritual.

Kekuatan fisiknya kini telah berlipat ganda karena sirkulasi udara di dalam tubuhnya jauh lebih lancar melalui 9 meridian utama tersebut.

"Kenapa?" pikirnya sambil menatap telapak tangannya.

"Kilatan cahaya biru itu... apa itu semacam warisan yang terbangun? Atau bakat tersembunyi ku? Atau karena semua ramuan yang selama ini aku minum sebenarnya tidak hilang, melainkan tertimbun dan baru meledak semalam?"

Kepalanya saat ini memiliki banyak pertanyaan.

Ia teringat bagaimana energi obat selama setahun ini selalu menghilang entah kemana setiap kali ia telan.

Mungkinkah perutnya justru bertindak sebagai wadah penyimpanan tersembunyi yang menunggu pemicu yang tepat?

"Tidak mungkin..."

Apapun alasannya, semangat yang sempat padam di dalam diri Qin Mu kini berkobar lebih hebat dari sebelumnya.

"Bulan depan adalah Upacara Uji Spiritual," gumamnya dengan sorot mata yang kini penuh tekad.

"Jika aku hanya membawa kabar 'Qin Mu telah meraih Tahap Kedua Pembentukan Fondasi, Pembukaan Meridian' dan dapat menyerap energi dari alam, dewan tetua mungkin masih akan mencibir dan menganggap hal itu sebagai keberuntungan semata."

Qin Mu mengepalkan tinjunya erat-erat.

"Jika aku ingin benar-benar membungkam mulut orang-orang yang merendahkanku dan mengangkat martabat Ayah, aku tidak boleh berhenti di sini. Aku harus mencapai Tahap Pengumpulan Spiritual, atau bahkan lebih baik... Tahap Pembentukan Dantian!"

Target itu terdengar gila bagi orang biasa layaknya dirinya dahulu.

Melompati dua tahap dalam waktu satu bulan adalah hal mustahil kecuali kau seorang jenius, tapi Qin Mu merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya sekarang.

Entah itu suatu kepercayaan diri? atau apakah itu nafsu dari seorang remaja berusia 15 tahun karena pertama kali meraih pencapaian yang sulit diartikan?

Ia segera merapikan pakaiannya. Ia harus pergi ke perpustakaan keluarga. Untuk melangkah ke tahap ketiga, ia membutuhkan Manual Dasar Penyerapan Energi Spiritual.

Tanpa itu ia tidak akan tahu bagaimana menyerap energi alam dengan baik dan benar.

Selama ia hidup di keluarga ini ia dilarang walaupun sebatas menyentuhnya, karena hanya praktisi yang telah menggapai tahap kedua Pembentukan Fondasi yang di izinkan.

Namun sekarang, pintu menuju dunia kultivator yang sebenarnya telah terbuka lebar di hadapannya.

Qin Mu melangkah menuju pintu kamarnya dengan jantung yang masih berdebu karena kegembiraan. Namun, begitu daun pintu kayu itu berderit terbuka, langkahnya terhenti seketika.

Di koridor depan kamarnya, seorang pelayan pria berdiri kaku sambil memegang nampan makanan yang sudah mendingin.

Di sampingnya, berdiri sosok yang auranya memenuhi seluruh lorong, seorang pria paruh baya dengan bahu lebar dan tegak. Jubah kebesarannya yang berwarna biru tua dengan sulaman benang perak melambangkan otoritas tinggi.

Wajahnya yang tegas dan tampan menunjukkan sisa-sisa kejayaan masa muda, namun ada guratan kelelahan yang tersirat di sudut matanya.

Dia adalah Qin Feiyan, Patriark Keluarga Qin sekaligus ayah kandung Qin Mu.

"Ayah?" Qin Mu segera membungkuk hormat.

"Maafkan aku ayah, aku terlalu larut dalam meditasi hingga tidak menyadari kehadiran Ayah di luar."

Qin Feiyan tidak langsung menjawab.

'Meditasi?' batinnya Qin Feiyan.

Sepasang matanya yang tajam menatap Qin Mu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dahinya berkerut dalam, seolah sedang mencoba memecahkan teka-teki rumit.

Sebagai seorang kultivator Lautan Qi, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari putranya siang ini, semacam kejernihan yang tidak biasa, namun ia menepis pikiran itu, menganggapnya hanya sebagai efek dari istirahat yang cukup.

"Tinggalkan makanannya di sini. Kau boleh pergi," perintah Qin Feiyan kepada pelayan tersebut dengan suara berat yang berwibawa.

Setelah pelayan itu menghilang dari tikungan koridor, Qin Feiyan memberi isyarat kepada Qin Mu untuk kembali masuk ke dalam kamar.

Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi sangat berat.

Qin Feiyan berjalan mendekati jendela, membelakangi putranya.

"Mu’er... Ayah datang... untuk menyampaikan sesuatu yang sulit."

Terpopuler

Comments

Nanik S

Nanik S

Apa yang akan diucapkan Ayah kepada Anaknya begitu sulit

2026-05-31

1

Aden Astra Purbaya

Aden Astra Purbaya

sepertinya cerita ini menarik..

2026-08-11

0

Sufiyan Hadi

Sufiyan Hadi

sejauh ini masih menarik..💪

2026-08-19

0

lihat semua
Episodes
1 Ch 1 — Apakah ini Takdir? [Revisi]
2 Ch 2 — Terkejut
3 Ch 3 — Manual Kultivasi
4 Ch 4 — Pil Pengumpul Spiritual
5 Ch 5 — Topeng Tersembunyi
6 Ch 6 — Batangan Besi Meteor
7 Ch 7 — Pegunungan Tianlei
8 Ch 8 — Harta Pertama
9 Ch 9 — Tamu Misterius
10 Ch 10 — Upacara Uji Spiritual
11 Ch. 11 — Upacara Uji Spiritual bg. 2
12 Ch. 12 — Upacara Uji Spiritual bg. 3
13 Ch. 13 — Upacara Uji Spiritual bg. 4
14 Ch 14 — Upacara Uji Spiritual bg. 5
15 Ch 15 — Duel
16 Ch 16 — Di luar Perkiraan Qin Mu
17 Ch 17 — Hancurnya Masa Depan
18 Ch 18 — Gelombang Pertarungan
19 Ch 19 — Kembali Bertemu
20 Ch 20 — Romantisme
21 Ch 21 — Kenangan Masa Lalu
22 Ch 22 — Pembantaian
23 Ch 23 — Sesuai Dugaan Qin Mu
24 Ch 24 — Harga Diri dan Cinta
25 Ch 25 — Cahaya Harapan
26 Ch 26 — Kondisi Patriark Qin Feiyan
27 Ch 27 — Kondisi Patriark Qin Feiyan bg. 2
28 Ch 28 — Sedikit Lelucon Setelah Hari yang Panjang
29 Ch 29 — Sedikit Lelucon Setelah Hari yang Panjang bg. 2
30 Ch 30 — Pil Penghancur Meridian Sejati
31 Ch 31 — Tulang yang Keras
32 Ch 32 — Rune?
33 Ch 33 — Mata Biru Safir
34 Ch 34 — Tua Bangka Sialan
35 Ch 35 — Latihan Singkat
36 Ch 36 — Telapak Api
37 Ch 37 — Tanda Tanya
38 Ch 38 — Berlatih Alkimia
39 Ch 39 — Segera Meninggalkan Keluarga Qin
40 Ch. 40 — Tiba di Koloseum
41 Ch. 41 — Perselisihan Sepihak di Area Vip
42 Ch. 42 — Kompetisi Tahunan Kota Huzhou
43 Ch. 43 — Huzhou Meiji
44 Ch. 44 — Maaf Pak
45 Ch. 45 — Cahaya Merah Pada Monumen Batu
46 Ch. 46 — Kehebohan di Arena Koloseum
47 Ch. 47 — Pilihan Qin Mu
48 Ch. 48 — Meninggalkan Kompetisi Tahunan
49 Ch. 49 — Dunia yang Luas
50 Ch. 50 — Guru
51 Ch. 51 — Bertarung Melawan 5 Harimau Bumi
52 Ch. 52 — Predator bagi Hewan Buas
53 Ch. 53 — Formasi Alami
54 Ch. 54 — Teratai Seratus Kemurnian
55 Ch. 55 — Ular Bersisik Berlian
56 Ch. 56 — Formasi Tersembunyi Berlapis
57 Ch. 57 — Kitab Bumi Pusaran Roh
58 Ch. 58 — Menjadi Lebih Kuat
59 Ch. 59 — Kebencian dan Dendam
60 Ch. 60 — Petuah Seorang Guru
61 Ch. 61 — Perjalanan Panjang
62 Ch. 62 — Gerbang Megah Sekte Dishi
63 Ch. 63 — Instruktur Bu Yan
64 Ch. 64 — Instruktur Bu Yan bg. 2
65 Ch. 65 — Niat Pertarungan
66 Ch. 66 — Niat Pertarungan bg. 2
67 Ch. 67 — Niat Pertarungan bg. 3
68 Ch. 68 — Kehadiran yang Tidak Terduga
69 Ch. 69 — Puncak Utama, Gunung Dishi Pertama
70 Ch. 70 — Ketenangan
71 Ch. 71 — Ini Begitu Menjengkelkan!
72 Ch. 72 — Mengambil Misi
73 Ch. 73 — Ular Memburu Naga
74 Ch. 74 — Tidak Ada Apa-apanya
75 Ch. 75 — Kalian yang Memulai, Maka Jangan Salahkan Aku
76 Ch. 76 — Penerobosan
77 Ch. 77 — Dua Benih Pohon Spiritual
78 Ch. 78 — Salah Paham
79 Ch. 79 — Salah Paham bg. 2
80 Ch. 80 — Salah Paham bg. 3
81 Ch. 81 — Perburuan Harimau Bumi Tua
82 Ch. 82 — Penjaga Teratai Sepuluh Kemurnian
83 Ch. 83 — Penjaga Teratai Sepuluh Kemurnian bg. 2
84 Ch. 84 — Penjaga Teratai Sepuluh Kemurnian bg. 3
85 Ch. 85 — Akhir dari Sang Raja Hutan
86 Ch. 86 — Ada Hal yang Harus Kulakukan
87 Ch. 87 — Prasangka Tetua Luar Qiumei
88 Ch. 88 — Spekulasi Garis Keras Tetua Luar Qiumei
89 Ch. 89 — Membeli Informasi
90 Ch. 90 — Menuju Pavilun Harta
91 Ch. 91 — Qin Mu adalah Rivalku!
92 Ch. 92 — Bagaimana Kalau Kita Berlatih Tanding?
93 Ch. 93 — Panggung yang Tidak Terduga
94 Ch. 94 — Duel Niat Pertarungan Tingkat 1
95 Ch. 95 — Rivalitas dan Kerinduan
96 Ch. 96 — Pertaruhan Harta
97 Ch. 97 — Tawa yang Jarang
98 Ch. 98 — Beban dari Sebuah Ucapan
99 Ch. 99 — Metode Hantaman Jiwa
100 Ch. 100 — Tujuan yang Sama
101 Ch. 101 — Ini... Bagaimana Mungkin?!
102 Ch. 102 — Pria Raksasa di Alam Bawah Sadar
103 Ch. 103 — Pria Raksasa di Alam Bawah Sadar bg. 2
104 Ch. 104 — ​Pria Raksasa di Alam Bawah Sadar bg. 3
105 Ch. 105 — Meditasi Lautan Roh
106 Ch. 106 — Perbedaan Waktu
107 Ch. 107 — Persinggungan dan Persamaan Waktu
108 Ch. 108 — Menjadi Murid Dalam
109 Ch. 109 — Informasi dari Aoya
110 Ch. 110 — Aktivitas Sebelum Hari Seleksi
111 Ch. 111 — Pertarungan di Area Lapangan Utama, Dimulai!
112 Ch. 112 — Gelombang Pertarungan Seleksi Akbar
113 Ch. 113 — Gelombang Pertarungan Seleksi Akbar bg. 2
114 Ch. 114 — Gelombang Pertarungan Seleksi Akbar bg. 3
115 Ch. 115 — Gelombang Pertarungan Seleksi Akbar bg. 4
116 Ch. 116 — Rumor yang Kembali Teringat
117 Ch. 117 — Rumor yang Kembali Teringat bg. 2
118 Ch. 118 — Rumor yang Kembali Teringat bg. 3
119 Ch. 119 — Perhatian dari Seorang Permaisuri Pedang Hitam
120 Ch. 120 — Menuju Babak Ketiga Seleksi Akbar
121 Ch. 121 — Babak Ketiga Seleksi Akbar Dimulai!
122 Ch 122 — Babak Ketiga Seleksi Akbar
123 Ch. 123 — Babak Ketiga Seleksi Akbar bg. 2
124 Ch. 124 — Babak Ketiga Seleksi Akbar bg. 3
125 Ch. 125 — Turunnya Para Tetua
126 Ch. 126 — Ujian Sang Penguasa
127 Ch. 127 — Tiga Monster
128 Ch. 128— Kita Adalah Saudara
129 Ch. 129 — Dunia ini Sangatlah Luas
130 Ch. 130 — Misteri Tubuh Langka
131 Ch. 131 — Perintah Misi Rahasia
132 Ch. 132 — Tiga Kekuatan Besar
133 Ch. 133 — Terbukanya Alam Rahasia
134 Ch. 134 — Tidak ada Matahari
135 Ch. 135 — Dunia Kultivasi yang Sebenarnya
136 Ch. 136 — Bunga Iblis Penelan Lahar
137 Ch. 137 — Mencuri Herbal
138 Ch. 138 — Membantu Rekan Satu Faksi
139 Ch. 139 — Penerobosan Kultivasi
140 Ch. 140 — Perebutan Harta
141 Ch. 141 — Ini Hanyalah Pemanasan
142 Ch. 142 — Rencana Meminjam Pisau
143 Ch. 143 — Reuni Berdarah
144 Ch. 144 — Reuni Berdarah bg. 2
145 Ch. 145 — Reuni Berdarah bg. 3
146 Ch. 146 — Pertarungan Sengit
147 Ch. 147 — Dehidrasi Energi Spiritual
148 Ch. 148 — Pelajaran Nyata dari Kesombongan
149 Ch. 149 — Maniak Gila Pertarungan dan Pencerahan
150 Ch. 150 — Rencana Nie Zhisan
151 Ch. 151 — Meraih Ranah Lautan Spiritual
152 Ch. 152 — Istana Pangeran Api
153 Ch. 153 — Tiga Golem Magma
154 Ch. 154 — Buah Api Kuno Sejati
155 Ch. 155 — 100 Anak Tangga Tekanan Gravitasi
156 Ch. 156 — Kehancuran Dantian
157 Ch. 157 — Altar Pewarisan
158 Ch. 158 — Ujian Pangeran Api
159 Ch. 159 — Api Surgawi
160 Ch. 160 — Berakhirnya Penjelajahan Alam Rahasia Pangeran Api
161 Ch. 161 — Hancurnya Harga Diri
162 Ch. 162 — Bentrokan Dua Tetua
163 Ch. 163 — Hak Istimewa
164 Ch. 164 — Kebenaran Sang Pangeran Api
165 Ch. 165 — Api Surgawi Peringkat 9
166 Ch. 166 — Tinju Dua Monster
167 Ch. 167 — Sang Penguasa Baru
168 Ch.168 — Bukan Tubuh Langka, Melainkan...
169 Ch. 169 — Perbincangan di Gunung Dishi Pertama
170 Ch. 170 — Kondisi Meditasi Abadi
171 Ch. 171 — Kejutan untuk Sang Alkemis
172 Ch. 172 — Paviliun Perpustakaan Gorila Langit
173 Ch. 173 — Tiga Alam Kecil, Gunung Dishi Kedua
174 Ch. 174 — Pelatihan Tertutup
175 Ch. 175 — Pelatihan Tertutup bg. 2
176 Ch. 176 — Pelatihan Tertutup bg. 3
177 Ch. 177 — Hantaman Sang Tinju Penghancur
178 Ch. 178 — Latihan Dewa Kematian
179 Pengumuman Musim 1 Berakhir: Tetap Lanjut di Sini
180 S2. Ch. 1 — Langkah Pertama Qin Mu
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Ch 1 — Apakah ini Takdir? [Revisi]
2
Ch 2 — Terkejut
3
Ch 3 — Manual Kultivasi
4
Ch 4 — Pil Pengumpul Spiritual
5
Ch 5 — Topeng Tersembunyi
6
Ch 6 — Batangan Besi Meteor
7
Ch 7 — Pegunungan Tianlei
8
Ch 8 — Harta Pertama
9
Ch 9 — Tamu Misterius
10
Ch 10 — Upacara Uji Spiritual
11
Ch. 11 — Upacara Uji Spiritual bg. 2
12
Ch. 12 — Upacara Uji Spiritual bg. 3
13
Ch. 13 — Upacara Uji Spiritual bg. 4
14
Ch 14 — Upacara Uji Spiritual bg. 5
15
Ch 15 — Duel
16
Ch 16 — Di luar Perkiraan Qin Mu
17
Ch 17 — Hancurnya Masa Depan
18
Ch 18 — Gelombang Pertarungan
19
Ch 19 — Kembali Bertemu
20
Ch 20 — Romantisme
21
Ch 21 — Kenangan Masa Lalu
22
Ch 22 — Pembantaian
23
Ch 23 — Sesuai Dugaan Qin Mu
24
Ch 24 — Harga Diri dan Cinta
25
Ch 25 — Cahaya Harapan
26
Ch 26 — Kondisi Patriark Qin Feiyan
27
Ch 27 — Kondisi Patriark Qin Feiyan bg. 2
28
Ch 28 — Sedikit Lelucon Setelah Hari yang Panjang
29
Ch 29 — Sedikit Lelucon Setelah Hari yang Panjang bg. 2
30
Ch 30 — Pil Penghancur Meridian Sejati
31
Ch 31 — Tulang yang Keras
32
Ch 32 — Rune?
33
Ch 33 — Mata Biru Safir
34
Ch 34 — Tua Bangka Sialan
35
Ch 35 — Latihan Singkat
36
Ch 36 — Telapak Api
37
Ch 37 — Tanda Tanya
38
Ch 38 — Berlatih Alkimia
39
Ch 39 — Segera Meninggalkan Keluarga Qin
40
Ch. 40 — Tiba di Koloseum
41
Ch. 41 — Perselisihan Sepihak di Area Vip
42
Ch. 42 — Kompetisi Tahunan Kota Huzhou
43
Ch. 43 — Huzhou Meiji
44
Ch. 44 — Maaf Pak
45
Ch. 45 — Cahaya Merah Pada Monumen Batu
46
Ch. 46 — Kehebohan di Arena Koloseum
47
Ch. 47 — Pilihan Qin Mu
48
Ch. 48 — Meninggalkan Kompetisi Tahunan
49
Ch. 49 — Dunia yang Luas
50
Ch. 50 — Guru
51
Ch. 51 — Bertarung Melawan 5 Harimau Bumi
52
Ch. 52 — Predator bagi Hewan Buas
53
Ch. 53 — Formasi Alami
54
Ch. 54 — Teratai Seratus Kemurnian
55
Ch. 55 — Ular Bersisik Berlian
56
Ch. 56 — Formasi Tersembunyi Berlapis
57
Ch. 57 — Kitab Bumi Pusaran Roh
58
Ch. 58 — Menjadi Lebih Kuat
59
Ch. 59 — Kebencian dan Dendam
60
Ch. 60 — Petuah Seorang Guru
61
Ch. 61 — Perjalanan Panjang
62
Ch. 62 — Gerbang Megah Sekte Dishi
63
Ch. 63 — Instruktur Bu Yan
64
Ch. 64 — Instruktur Bu Yan bg. 2
65
Ch. 65 — Niat Pertarungan
66
Ch. 66 — Niat Pertarungan bg. 2
67
Ch. 67 — Niat Pertarungan bg. 3
68
Ch. 68 — Kehadiran yang Tidak Terduga
69
Ch. 69 — Puncak Utama, Gunung Dishi Pertama
70
Ch. 70 — Ketenangan
71
Ch. 71 — Ini Begitu Menjengkelkan!
72
Ch. 72 — Mengambil Misi
73
Ch. 73 — Ular Memburu Naga
74
Ch. 74 — Tidak Ada Apa-apanya
75
Ch. 75 — Kalian yang Memulai, Maka Jangan Salahkan Aku
76
Ch. 76 — Penerobosan
77
Ch. 77 — Dua Benih Pohon Spiritual
78
Ch. 78 — Salah Paham
79
Ch. 79 — Salah Paham bg. 2
80
Ch. 80 — Salah Paham bg. 3
81
Ch. 81 — Perburuan Harimau Bumi Tua
82
Ch. 82 — Penjaga Teratai Sepuluh Kemurnian
83
Ch. 83 — Penjaga Teratai Sepuluh Kemurnian bg. 2
84
Ch. 84 — Penjaga Teratai Sepuluh Kemurnian bg. 3
85
Ch. 85 — Akhir dari Sang Raja Hutan
86
Ch. 86 — Ada Hal yang Harus Kulakukan
87
Ch. 87 — Prasangka Tetua Luar Qiumei
88
Ch. 88 — Spekulasi Garis Keras Tetua Luar Qiumei
89
Ch. 89 — Membeli Informasi
90
Ch. 90 — Menuju Pavilun Harta
91
Ch. 91 — Qin Mu adalah Rivalku!
92
Ch. 92 — Bagaimana Kalau Kita Berlatih Tanding?
93
Ch. 93 — Panggung yang Tidak Terduga
94
Ch. 94 — Duel Niat Pertarungan Tingkat 1
95
Ch. 95 — Rivalitas dan Kerinduan
96
Ch. 96 — Pertaruhan Harta
97
Ch. 97 — Tawa yang Jarang
98
Ch. 98 — Beban dari Sebuah Ucapan
99
Ch. 99 — Metode Hantaman Jiwa
100
Ch. 100 — Tujuan yang Sama
101
Ch. 101 — Ini... Bagaimana Mungkin?!
102
Ch. 102 — Pria Raksasa di Alam Bawah Sadar
103
Ch. 103 — Pria Raksasa di Alam Bawah Sadar bg. 2
104
Ch. 104 — ​Pria Raksasa di Alam Bawah Sadar bg. 3
105
Ch. 105 — Meditasi Lautan Roh
106
Ch. 106 — Perbedaan Waktu
107
Ch. 107 — Persinggungan dan Persamaan Waktu
108
Ch. 108 — Menjadi Murid Dalam
109
Ch. 109 — Informasi dari Aoya
110
Ch. 110 — Aktivitas Sebelum Hari Seleksi
111
Ch. 111 — Pertarungan di Area Lapangan Utama, Dimulai!
112
Ch. 112 — Gelombang Pertarungan Seleksi Akbar
113
Ch. 113 — Gelombang Pertarungan Seleksi Akbar bg. 2
114
Ch. 114 — Gelombang Pertarungan Seleksi Akbar bg. 3
115
Ch. 115 — Gelombang Pertarungan Seleksi Akbar bg. 4
116
Ch. 116 — Rumor yang Kembali Teringat
117
Ch. 117 — Rumor yang Kembali Teringat bg. 2
118
Ch. 118 — Rumor yang Kembali Teringat bg. 3
119
Ch. 119 — Perhatian dari Seorang Permaisuri Pedang Hitam
120
Ch. 120 — Menuju Babak Ketiga Seleksi Akbar
121
Ch. 121 — Babak Ketiga Seleksi Akbar Dimulai!
122
Ch 122 — Babak Ketiga Seleksi Akbar
123
Ch. 123 — Babak Ketiga Seleksi Akbar bg. 2
124
Ch. 124 — Babak Ketiga Seleksi Akbar bg. 3
125
Ch. 125 — Turunnya Para Tetua
126
Ch. 126 — Ujian Sang Penguasa
127
Ch. 127 — Tiga Monster
128
Ch. 128— Kita Adalah Saudara
129
Ch. 129 — Dunia ini Sangatlah Luas
130
Ch. 130 — Misteri Tubuh Langka
131
Ch. 131 — Perintah Misi Rahasia
132
Ch. 132 — Tiga Kekuatan Besar
133
Ch. 133 — Terbukanya Alam Rahasia
134
Ch. 134 — Tidak ada Matahari
135
Ch. 135 — Dunia Kultivasi yang Sebenarnya
136
Ch. 136 — Bunga Iblis Penelan Lahar
137
Ch. 137 — Mencuri Herbal
138
Ch. 138 — Membantu Rekan Satu Faksi
139
Ch. 139 — Penerobosan Kultivasi
140
Ch. 140 — Perebutan Harta
141
Ch. 141 — Ini Hanyalah Pemanasan
142
Ch. 142 — Rencana Meminjam Pisau
143
Ch. 143 — Reuni Berdarah
144
Ch. 144 — Reuni Berdarah bg. 2
145
Ch. 145 — Reuni Berdarah bg. 3
146
Ch. 146 — Pertarungan Sengit
147
Ch. 147 — Dehidrasi Energi Spiritual
148
Ch. 148 — Pelajaran Nyata dari Kesombongan
149
Ch. 149 — Maniak Gila Pertarungan dan Pencerahan
150
Ch. 150 — Rencana Nie Zhisan
151
Ch. 151 — Meraih Ranah Lautan Spiritual
152
Ch. 152 — Istana Pangeran Api
153
Ch. 153 — Tiga Golem Magma
154
Ch. 154 — Buah Api Kuno Sejati
155
Ch. 155 — 100 Anak Tangga Tekanan Gravitasi
156
Ch. 156 — Kehancuran Dantian
157
Ch. 157 — Altar Pewarisan
158
Ch. 158 — Ujian Pangeran Api
159
Ch. 159 — Api Surgawi
160
Ch. 160 — Berakhirnya Penjelajahan Alam Rahasia Pangeran Api
161
Ch. 161 — Hancurnya Harga Diri
162
Ch. 162 — Bentrokan Dua Tetua
163
Ch. 163 — Hak Istimewa
164
Ch. 164 — Kebenaran Sang Pangeran Api
165
Ch. 165 — Api Surgawi Peringkat 9
166
Ch. 166 — Tinju Dua Monster
167
Ch. 167 — Sang Penguasa Baru
168
Ch.168 — Bukan Tubuh Langka, Melainkan...
169
Ch. 169 — Perbincangan di Gunung Dishi Pertama
170
Ch. 170 — Kondisi Meditasi Abadi
171
Ch. 171 — Kejutan untuk Sang Alkemis
172
Ch. 172 — Paviliun Perpustakaan Gorila Langit
173
Ch. 173 — Tiga Alam Kecil, Gunung Dishi Kedua
174
Ch. 174 — Pelatihan Tertutup
175
Ch. 175 — Pelatihan Tertutup bg. 2
176
Ch. 176 — Pelatihan Tertutup bg. 3
177
Ch. 177 — Hantaman Sang Tinju Penghancur
178
Ch. 178 — Latihan Dewa Kematian
179
Pengumuman Musim 1 Berakhir: Tetap Lanjut di Sini
180
S2. Ch. 1 — Langkah Pertama Qin Mu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!