4. Sosok Afif

Lova baru saja turun dari ojek online. Namun kedatangannya itu sudah disambut oleh tatapan menusuk dari pemilik mata kelam dengan bingkai alis tebal, Afif.

Hufffttt! Hulk ngambek deh tuh, ijo-ijo deh tuh kulit, gumam Lova berbisik pada dirinya sendiri seraya berjalan cepat masuk ke dalam halaman dengan tatapan yang setengah takut setengah gugup.

"Assalamu'alaikum, ustadz..." Lova menunduk tak berani menatap langsung sorot mata Afif.

"Wa'alaikumsalam." Afif melirik arloji di balik pergelangan tangan kemeja panjangnya.

"Waktu saya ngga banyak Lova, kalau bukan karena ayah dan bundamu adalah teman orangtua saya, bukan orang yang sering membantu abi dan keluarga saya dulu...saya tak mau menjadi guru mengaji. Maka saya mohon, bekerja samalah..."

Jelas bukan uang yang dikejar Afif untuk mengajar Lova, mengingat profesi Afif adalah seorang dosen di salah satu universitas islam negri. Dan mata kuliah yang ia kuasai adalah Sejarah Peradaban Islam.

"Maaf ustadz..."

"Kalo gitu cepat masuk. Ganti bajumu, jangan biarkan mata kaum adam yang bukan mahram mu melihat auratmu...berkali-kali saya sudah bilang, Lova." Dengan segera Afif melengos masuk duluan.

Lova mengernyit, "dia juga kan kaum adam? Maksudnya kaum adam tuh dia bukan? Atau dia tuh cuma kaum oompa---loompa.." gadis itu melirik kanan kiri sebelum akhirnya masuk dan segera naik ke lantai dua dengan kebingungannya.

Afif sudah berdecak berkali-kali, bahkan kopi buatan mbak Astri sudah hampir habis diteguknya dalam kondisi yang sudah dingin.

Ia memijit tengkuk dimana garis rambut belakangnya segaris rapi di atas kerah kemeja koko. Nampak betul kedewasaan dalam balutan kepribadian yang senantiasa bersih nan rapi.

"Keterlaluan." Decaknya kesal, jengkel, jenuh bercampur menjadi satu. Untung saja siang ini, ia membawa serta tugas makalah anak didiknya kesini, setidaknya...waktunya tak terbuang percuma sambil nungguin murid kurang aj ar satu ini belajar ngaji. Dimana wesse nyamperin orang mau be rak? Sampe nungguin pula. (kiasan)

Ia masih bersila di bawah kursi, dengan kaos kaki hitam masih membalut kaki-kaki besarnya saat mbak Astri kembali menghampirinya dengan nampan kosong, "ngapunten mas ustadz, mau nambah lagi ta kopinya?" tawar mbak Astri menunjuk cangkir kopi Afif dengan jempolnya sopan.

"Oh, ngga usah mbak. Matur nuwun sanget nggih..." jawabnya, mungkin hanya dengan mbak Astri lah, Afif dapat bercengkrama bahasa tanah kelahiran di rumah ini, sebab keluarga Lova adalah penduduk asli Vrindafan, yang kadang kalo si gadis manja nan menyebalkan itu mengumpatinya dengan bahasa daerahnya ia tak begitu paham, padahal ia cukup lama tinggal di kota ini.

"Nggeh, kalo gitu ta tinggal dulu mas...monggo," pamitnya kembali.

Map berwarna-warni cukup rapi tersusun di samping kopi dan sebagiannya sudah ia periksa serta ia nilai.

Bahkan, sudah cukup bosan Afif meneliti seisi rumah om Agas, dimana pojok ruangan tamu yang sedang ia duduki ini terdapat guci setinggi pa hanya berisikan bunga kering hiasan. Lalu meja kayu jati yang diisi oleh tissue dan toples kecil permen. Tak ada foto keluarga yang ditampakan disini, mungkin om Agas hanya ingin menjaga privasi keluarganya untuk tamu, apalagi jika tamu itu tak begitu ia kenal.

Cukup dibuat jengkel oleh lamanya Lova bersiap, Afif hanya bisa melanjutkan pekerjaannya.

Namun di tengah kejengkelannya, suara langkah sandal rumah turun dengan tergesa menuruni anak tangga.

"Mbak, ayah sama bunda ada bilang mau pulang telat engga?" teriaknya seraya mencari-cari buku dan Al-Qur'an dari rak dengan membungkuk, "ihhh, mana sih?!" ujarnya kini berjongkok.

"Iya neng Lovee. Pulang sore, mau ketemu tamu penting dulu katanya, partner bisnisnya bapak kalo ngga salah denger..." Jawab mbak Astri tak kalah berteriak dari dapur.

Afif merotasi bola matanya, apakah penghuni disini pindahan penghuni hutan? Yang sukanya teriak-teriak? Tak bisakah mereka saling menghampiri terlebih dahulu? Suara keduanya bahkan terdengar dari Bandung ke ujung Sumatra.

Kini gadis yang tadi memakai seragam ketat itu datang sudah dengan kain penutup kepala, bahkan baju rumahan bermotif love-love kecil yang ia pakai cukup menutupi tangan dan kakinya. Namun----

"Bentar tadz, ini...jilbab aku belum bener..." hebohnya mencekal kedua ujung pashmina, lilit sana lilit sini, ujung-ujungnya ia buka kembali lalu pasang kembali dirasa belum pas.

Ia begitu hectic dan heboh memakai jilbab pashmina yang sepertinya baru ia tarik dari lemari sang ibu.

Afif menghela nafas berat, sabarnya mesti seluas samudra demi menghadapi Dealova, kalo di warung-warung atau minimarket sabar itu dijual, mungkin Afif sudah memborongnya.

Jelas Afif tak sedang menunggu Lova siap, buktinya ia sudah membuka kitab suci itu di halaman yang sebelumnya mereka pelajari.

"Sampai di ayat berapa kemarin?" tanya Afif, sementara Lova masih diribetkan dengan kerudungnya, ck! Pashmina bunda ngeselin banget, licin! Ini jilbab apa belut?!

Over all, ia menghentikan pemasangan itu dan membuka kitab miliknya, "ayat 35, tadz."

Alis Afif langsung mengangkat sebelah, "maunya kamu! Ayat 30 saja masih banyak salahnya."

Lova tertawa renyah, niatnya korupsi ayat ketahuan juga, "iya kah? Kok aku lupa ya, ustadz kaya alarm nih...pengingat!" pujinya dengan wajah seolah tanpa dosa, sementara Afif sudah hampir menjitak kepala gadis ini jika saja ia tak ingat itu adalah tindak kekerasan.

"Oke, a'udzu----" Lova sudah memulainya. Namun kini...justru Afif lah yang tak siap.

"Sebentar." Potong Afif membuat Lova mendongak, "kenapa, tadz?"

"Astagfirullah...Lova. Itu jilbabmu gimana?" tunjuk Afif kebingungan mencari alat untuk menunjuk helaian rambut yang keluar dari pinggiran garis wajahnya.

"Apanya?"

Afif menemukan penggaris milik Lova yang biasa dipakainya untuk menggebrak meja jikalau Lova keliru, kemudian ia menunjuk dimana titik-titik helaian rambut Lova yang mencuat keluar terutama di bagian poninya.

"Astagfirullah, kamu pakai tren apa itu?" datarnya galak. Lova yang tak terima keningnya di colok-colok dengan penggaris langsung menepisnya, bolong deh mukanya nanti! Ngga cantik lagi nanti! Lagipula, apa pula lelaki satu ini! Toh tak sedikit teman-temannya yang begitu, keliatan rambut dikit kan justru bikin manis!

"Apa sih, ahhh ustadz lebay! Ngga tau tren!" sergahnya praktis memancing decakan Afif.

"Tren apa? Tren boneka santet? Yang rambutnya semrawut?" tembak Afif lagi.

"Boneka santet?"

Lova justru tergelak dengan julukan ustadz Afif, yang benar saja...kalau ia boneka santet lantas ustadz Afif sendiri apa? Dukunnya?

Lova terdiam sejenak, wajah judes yang sedang kesal itu...mengingatkannya pada seseorang yang baru saja menorehkan luka di hati.

Mendadak Lova kembali terdiam murung, bahkan keceriaan yang baru saja ia tunjukan seketika sirna hanya karena melihat wajah Afif dengan mata hatinya.

Tuh kan! Sakit lagi!

"Lova!!!" bentakan itu menyentak kesadaran Lova yang kemudian kembali pada pelajaran mengaji hari ini bersama Afif.

/

Subhanallah, astagfirullah....berkali-kali mulut Afif sudah komat-kamit demi mendapati Lova yang hilang konsentrasi.

Berkali-kali Lova juga mengalami kekeliruan, entah itu makhraj hurufnya, ataukah hukum tajwidnya hingga membuat Afif hilang kesabaran.

Baru kali ini Afif dapati, Lova begini. Padahal biasanya Lova cukup bisa dianggap pintar.

"Stop."

Afif menyetop bacaan Lova yang menurutnya semakin ngaco, "kita lanjutkan saja di pertemuan selanjutnya. Sepertinya kamu sudah terlalu lelah. Atau justru sedang ada masalah?" kini sorot mata itu mendadak melembut.

Dan demi apapun, Lova hanya ingin segera menyudahi ini. Jujur saja, semakin kesini...kebersamaannya dan ustadz Afif hanya memperparah luka hatinya.

Entahlah! Melihat ustadz Afif itu seperti melihat----

"Engga."

"Ya udah, tadz. Kalo gitu Lova duluan ke atas...makasih buat hari ini." Tanpa berbasa basi seperti biasanya, Lova langsung melengos begitu saja membuat Afif dibuat keheranan, karena memang tak biasanya Lova seperti ini.

Afif membereskan barang-barangnya dan memasukan itu ke dalam mobil miliknya. Ia ingat hari ini memiliki jadwal mengantar umi kontrol ke rumah sakit di jam 4 sore.

Setelah pamit pada mbak Astri dan menitipkan salam untuk om Agas dan tante Desi, ia menatap sejenak ke atas rumah Lova, dimana jika tak salah....disitulah kamar Lova berada. Jendelanya tertutup rapat, begitupun tirai putih menerawangnya, sama sekali tak menunjukan kehidupan di dalamnya.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Ray Aza

Ray Aza

ini kalo di sosmed pasti udah ada yg ceramah neng. hrsnya ga boleh ustadz laki, hrsnya ini, hrsnya itu, bla blabla..... mendadak bermunculan ahli kitab. 😝😝😝😝

2026-04-20

1

sweet escape

sweet escape

Teh siiiin, aku jadi kebawa lagi ke kisah shania dan pak arka, wkkwkw awalny yg benci sama kesel banget dgn shania eh akhirny ngejar2. Nih afif kayaknya bakal butuh usaha kayak pak arka mungkin ya buat ambil hati lova😬😆

2026-04-22

1

ieda1195

ieda1195

byuuhhh, kaku amat pak ustadz kita yg satu ini, lemesin pak lemesinn, seloww selooww gitu, jgn nuik nukik gitu ah klo natap, kan aku jadi syukaaa 😍😍😍

2026-04-20

2

lihat semua
Episodes
1 1. Memujamu melebihi apapun
2 2.Runaway from An-Nur
3 3. Disappointed
4 4. Sosok Afif
5 5. Recovery
6 6. Kandidat
7 7. Ikhlas lillahita'ala
8 8. Ridho orangtua adalah ridho Allah
9 9. Dunia begitu sempit
10 10. Ketika Takdir Bicara
11 11. Semoga dan insyaallah
12 12. Ukuran dalam-an
13 13 Poin penting sebuah pernikahan
14 14. Ya Allah! Ngga kukuuu
15 15. Di kamar ada kingkong
16 16. Yakinkah?
17 Bab 17 Mas Afif... pake icon love dong!
18 Bab 18 Try so hard
19 Bab 19 Belajar mencintai
20 Bab 20 Aku ingin jadi teman nyamanmu
21 Bab 21 Selembar kertas sobek
22 Bab 22 Siap melepasnya, dan siap menyambutmu
23 Bab 23 See you, Habibi
24 Bab 24 Pacar halal
25 Bab 25 Perkara koper
26 Bab 26 Nyaris
27 Bab 27 Bentuk lain dari cemburu
28 Bab 28 Ingin jadi dokter hewan
29 Bab 29 Selipkan aku di do'a-do'amu
30 Bab 30 Perjalanan cinta
31 Bab 31 Puisi cinta karya anak SMA
32 Bab 32 Ta'aruf obat hati
33 Bab 33 Diam diam menghanyutkan
34 Bab 34 Nafkah Lain
35 Bab 35 Love is blind and make me crazy
36 Bab 36 Filosofi hidup
37 Bab 37 Insyaallah the one and only
38 Bab 38 Kamu yang selalu ada dalam bait lirihku
39 Bab 39 Cinta terbaik
40 Bab 40 Tanggung jawab
41 Bab 41 Godaan Long distance married
42 Bab 42 Langit kelabu, dunia runtuh
43 Bab 43 Dia obat sekaligus luka
44 Bab 44 Allahu Rahman ya Rahim
45 Bab 45 Hukuman untukku.
46 Bab 46 Don't Give up
47 Bab 47 Cobaan silih berganti
48 Bab 48 Suka berdua, duka bersama
49 Bab 49 Come back to me
50 Bab 50 Ci--i--o berkursi roda
51 Bab 51 Keep fighting
52 Bab 52 Kebaikan pakaian
53 Bab 53 Ternyata selama ini....
54 Bab 54 Harusnya aku yang disana
55 Bab 55 Khumaira diantara monokrom
56 Bab 56 Ikhlas dan do'akan
57 Bab 57 Assalamualaikum sayang
58 Bab 58 Cara melupakanmu
59 Bab 59 Kisah yang sudah kututup
60 Bab 60 As far as the eye can see
61 Bab 61 Difficult choice
62 Bab 62 Salah jurusan
63 Bab 63 Beyond limit
64 Bab 64 Si cantik tukang ngambek
65 Bab 65 Overthinking
66 Bab 66 Mood swing bumil
67 Bab 67 Dealova boutique
68 Bab 68 Ar-Rahman
69 Bab 69 Amal jariyah berkesinambungan
70 Bab 70 Hadiah untuk ayah--bunda
71 Bab 71 Istri kebangaan
72 Bab 72 Happy graduation ya habibati
73 Bab 73 Accept, FK obor kujang
74 Bab 74 Good luck for me and you
75 Bab 75 Who?
76 Bab 76 Should i ?
77 Bab 77 Birth metode
78 Bab 78 Menampik rasa
79 Bab 79 Maha Pengasih dan Penyayang
80 Bab 80 Allah, peliharalah kebahagiaanku
Episodes

Updated 80 Episodes

1
1. Memujamu melebihi apapun
2
2.Runaway from An-Nur
3
3. Disappointed
4
4. Sosok Afif
5
5. Recovery
6
6. Kandidat
7
7. Ikhlas lillahita'ala
8
8. Ridho orangtua adalah ridho Allah
9
9. Dunia begitu sempit
10
10. Ketika Takdir Bicara
11
11. Semoga dan insyaallah
12
12. Ukuran dalam-an
13
13 Poin penting sebuah pernikahan
14
14. Ya Allah! Ngga kukuuu
15
15. Di kamar ada kingkong
16
16. Yakinkah?
17
Bab 17 Mas Afif... pake icon love dong!
18
Bab 18 Try so hard
19
Bab 19 Belajar mencintai
20
Bab 20 Aku ingin jadi teman nyamanmu
21
Bab 21 Selembar kertas sobek
22
Bab 22 Siap melepasnya, dan siap menyambutmu
23
Bab 23 See you, Habibi
24
Bab 24 Pacar halal
25
Bab 25 Perkara koper
26
Bab 26 Nyaris
27
Bab 27 Bentuk lain dari cemburu
28
Bab 28 Ingin jadi dokter hewan
29
Bab 29 Selipkan aku di do'a-do'amu
30
Bab 30 Perjalanan cinta
31
Bab 31 Puisi cinta karya anak SMA
32
Bab 32 Ta'aruf obat hati
33
Bab 33 Diam diam menghanyutkan
34
Bab 34 Nafkah Lain
35
Bab 35 Love is blind and make me crazy
36
Bab 36 Filosofi hidup
37
Bab 37 Insyaallah the one and only
38
Bab 38 Kamu yang selalu ada dalam bait lirihku
39
Bab 39 Cinta terbaik
40
Bab 40 Tanggung jawab
41
Bab 41 Godaan Long distance married
42
Bab 42 Langit kelabu, dunia runtuh
43
Bab 43 Dia obat sekaligus luka
44
Bab 44 Allahu Rahman ya Rahim
45
Bab 45 Hukuman untukku.
46
Bab 46 Don't Give up
47
Bab 47 Cobaan silih berganti
48
Bab 48 Suka berdua, duka bersama
49
Bab 49 Come back to me
50
Bab 50 Ci--i--o berkursi roda
51
Bab 51 Keep fighting
52
Bab 52 Kebaikan pakaian
53
Bab 53 Ternyata selama ini....
54
Bab 54 Harusnya aku yang disana
55
Bab 55 Khumaira diantara monokrom
56
Bab 56 Ikhlas dan do'akan
57
Bab 57 Assalamualaikum sayang
58
Bab 58 Cara melupakanmu
59
Bab 59 Kisah yang sudah kututup
60
Bab 60 As far as the eye can see
61
Bab 61 Difficult choice
62
Bab 62 Salah jurusan
63
Bab 63 Beyond limit
64
Bab 64 Si cantik tukang ngambek
65
Bab 65 Overthinking
66
Bab 66 Mood swing bumil
67
Bab 67 Dealova boutique
68
Bab 68 Ar-Rahman
69
Bab 69 Amal jariyah berkesinambungan
70
Bab 70 Hadiah untuk ayah--bunda
71
Bab 71 Istri kebangaan
72
Bab 72 Happy graduation ya habibati
73
Bab 73 Accept, FK obor kujang
74
Bab 74 Good luck for me and you
75
Bab 75 Who?
76
Bab 76 Should i ?
77
Bab 77 Birth metode
78
Bab 78 Menampik rasa
79
Bab 79 Maha Pengasih dan Penyayang
80
Bab 80 Allah, peliharalah kebahagiaanku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!