Suasana di meja makan kediaman Widjaja yang biasanya hanya diisi suara denting sendok dan obrolan politik, pagi ini mendadak berubah menjadi medan perang. Matahari baru saja naik, membiaskan cahaya ke ruang makan mewah itu, namun hawa di dalamnya terasa lebih panas dari oven dapur.
Aurora berdiri tegak di samping kursi makannya. Ia sudah rapi dengan blouse desainer dan riasan wajah yang sempurna untuk jadwal pemotretan pagi ini. Namun, raut wajahnya tidak menunjukkan profesionalisme seorang model; ia sedang dalam mode "anak keras kepala Anggara Widjaja".
"Aurora, duduk dan habiskan sarapanmu. Jangan mulai lagi," ucap Anggara tanpa mengalihkan pandangan dari koran paginya.
Aurora tidak bergerak. Ia justru melangkah mendekat ke arah kursi utama ayahnya, melipat tangan di dada, dan mengerutkan bibirnya dalam-dalam—sebuah gestur yang biasanya membuat Anggara luluh, namun kali ini mengandung ancaman serius.
"Aku nggak mau sarapan sebelum Papa dengerin aku," suara Aurora lantang, membuat Melati yang sedang menuang teh terhenti gerakannya. "Pokoknya aku mau nikah sama Mas Langit! Titik! Tanpa atau izin dari Papa! Papa harus setuju!"
Prang!
Anggara meletakkan cangkir kopinya dengan cukup keras ke atas piring porselen. Ia mendongak, menatap putrinya dengan mata yang menyipit tajam. "Aurora, kamu gila! Kamu tahu apa yang kamu bicarakan? Menikah? Dengan ajudan Papa sendiri? Kamu masih muda, kariermu sedang di puncak, dan kamu ingin membuang semuanya hanya untuk perasaan sesaat?"
"Nggak. Aku sadar sesadar-sadarnya, Pa!" balas Aurora, suaranya naik satu oktav. "Ini bukan perasaan sesaat. Aku udah kenal banyak laki-laki, dari yang pangkatnya jenderal sampai yang hartanya nggak habis tujuh turunan kayak si Roni itu. Tapi nggak ada yang bikin aku ngerasa aman dan berharga kayak Mas Langit."
"Dia itu bekerja untuk Papa, Aurora! Dia punya tugas, punya kode etik!" seru Anggara, kini ikut berdiri sehingga tinggi badannya mengintimidasi ruangan. "Papa yang bawa dia ke sini untuk menjaga…
Cegilnya Mas Ajudan
BAB 22
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 63 Episodes
Comments